
...HAPPY READING...
Alfred Alexandre anak sulung dari keluarga Ainsley, Pria keturunan Amerika dan Kanada ini sudah mempunyai siasat bahwa keluarga yang membawa adiknya itu merencanakan semuanya. Ya, Dia sudah mengetahui sang adik bungsunya berada namun ia tak mau gegabah untuk menemuinya. Jika yang menyembunyikan adiknya menggunakan akal licik harus juga dibalas dengan kelicikan yang sama.
''Aku harus lebih cepat bertindak, pria tengik itu terus menutupi seluruh informasi tentang adikku. Bahkan dengan cara memberikan informasi berbeda di setiap pencarian dan penemuan papa. Hhh... Awas saja kau pria tengik, sudah menyembunyikan adikku maka jika sudah berada di kediaman kami tak akan melepaskannya begitu saja kepadamu!'' Gertak Alfred mencurahkan semua emosinya kepada para anak buah nya
Brak..
Meja di depannya sampai di gebrak begitu kencang membuat semua anak buahnya terkejut dan setengah mati menahan aura dingin yang alfred keluarkan. Habis sudah mereka, jika tuan mudanya sudah marah pasti imbasnya mereka.
''Kalian semua harus tetap mengawasi nona muda, dari jarak dekat maupun jarak jauh. Jangan sampai dia dicelakai oleh pria tengik itu, Walaupun begitu kalian jangan sampai ketahuan.'' Ucap Alfred dengan nada mengintimidasi dan menatap semua bawahannya
''Baik tuan muda,''
''Setiap informasi yang kalian ketahui segera laporkan padaku!'' Dingin nya lalu pergi keluar dari ruangan
Mereka semua menunduk memberikan hormat. Setelah kepergian Alfred semua menarik nafas lega, mereka bersyukur tuan muda nya tidak melampiaskan kemarahannya kepada mereka. Karena biasanya jika tuan mudanya marah pasti mereka akan berikan pekerjaan yang lebih banyak daripada biasanya dan juga diberikan pelatihan lebih berat.
...✨✨✨...
''Bagaimana son, apakah kamu sudah memerintah para penjaga bayangan itu untuk mengawasi dan menjaga adikmu?''
Tanya Andreas pada Alfred yang baru saja datang dan duduk di sebelah istrinya
''Sudah pa'' Jawab singkat Alfred.
Emosinya sedang naik turun sekarang.
''Apa papa tidak mendapatkan informasi lain tentang si bungsu?'' Tanya Delin dengan mengunyah cemilan
''Sudah papa cari tetapi seakan identitas nya sangat disembunyikan rapat-rapat.'' Jelas papa Andreas dengan raut wajah susah ditebak
''Aku sudah mendapatkan separuh informasi nya tetapi kita jangan gegabah!'' Tegas Alfred
Mata mereka membola sempurna dan tak lama mereka memberikan selusin pertanyaan kepada Alfred.
''Apakah adik baik-baik saja kak? Apa dia hidup dengan layak? Dimana dia sekarang? Aku ingin melihatnya!'' Delin dengan semangat empat lima menanyakan adiknya
''Kamu kalau lagi makan jangan bertanya seperti itu sayang, nanti kalau tersedak bisa jadi jakun loh.'' Ucap Bunda dengan bercanda
''Ish bunda, kakak jawab pertanyaan delinn!'' Delin mengoyang-goyangkan tangan Alfred dengan merengek
''Dia baik-baik saja. Untuk dimana dia sekarang kakak belum bisa memberi tahu mu karena kakak sedang mempunyai rencana dan kalau kamu tau pasti akan direcoki. Kamu diam dan kerjakan tugas kuliahmu jangan campuri urusan kakak dan papa!'' Jawab Alfred menarik hidung mancung adiknya
''Mmm, oh iya kak...''
''Apa?'' Tanya Alfred penasaran
''Apa kakak pernah melihat orang yang menyembunyikan si bungsu? Aku hanya takut jika yang menyembunyikan nya itu adalah orang yang berniat jahat.'' Delin rupanya sedang sangat khawatir terhadap adik kecilnya itu
''Tenanglah orang itu dapat dipercaya bisa menjaga si bungsu, namun setelah kita mendapatkan bungsu kembali jangan harap orang itu bisa memilikinya lagi.'' Ucap Alfred malah membocorkan siasat licik nya
''APAA!!''
Seketika Papa dan Bunda yang sedari tadi menyimak obrolan anaknya itu berteriak kaget, tak menyangka bahwa anaknya sangat pendendam seperti ini. Delin tak kalah terkejut, ia juga bingung kenapa kakaknya jadi sangat pendendam seperti ini .
''M-ma-af p-pa, bu-bun.'' Gagap Alfred saat menyadari ada yang salah dengan ucapannya barusan
''Kamu kan sudah sering bunda nasihati, jangan pernah jadi pendendam, jadilah pemaaf. Karena dendam tidak baik untuk diri kita maupun untuk orang lain.'' Ungkap bunda Tasya mengelus lengan Alfred dengan sabar
Dibalik sikap bar-bar dan seenaknya saja bunda Tasya tetaplah ibu rumah tangga yang mempunyai kewajiban menasehati anak-anaknya bila salah dan juga melayani suami dengan sepatutnya.
''Maaf Bun..'' Ucap Alfred menunduk takut
''Kakak juga kenapa sih tidak sekalian melenyapkan orang itu?'' Gumam Delin memberikan rencana jahat lain
Mata mereka membelalak lebar... Ck ck rupanya dibalik akal jahat masih ada akal jahat lainnya. Anak-anak ini entah kenapa selalu mempunyai cara dalam pelajaran maupun berpendapat.
''Sayang, tidak boleh seperti itu!'' Peringat dari papa Andreas jika anak perempuan nya ini mulai bicara kurang ajar
''Maaf papa ku yang tampan,'' Bujuk Delin dengan memasang tampang polos nya. Sungguh raut wajahnya ini sangat mirip dan tak bisa dibedakan sama sekali jika di sejajarkan dengan Arelea ketika sedang berpikir dengan wajah blank nya.
Papa Andreas hanya mendengus dan bunda Tasya hanya menahan tawa melihat cara anaknya membujuk suaminya ketika sedang marah.
__ADS_1
''Papa, maafin Delin tadi Delin cuman bercanda... maaf ya paa...bunda tolong minta papa maafin Delin, kalau Delin gak di maafin nanti malam bunda tidur sama delin...''Hehe papa, akal ku ini benar ampuh pastinya. Delin merengek kepada bundanya dengan mengancam papanya
''Ehh mana bisa begitu! bunda itu milik papa, seenaknya saja kamu.. Iya-iya papa maafin'' Setiap malam saja ia selalu tidur di pelukan istrinya mana bisa dipisahkan begitu.
''Dasar pak tua pengennya di kekepin mulu.'' Gumam Delin masih didengar oleh bunda
''Ya sudah ayo masuk ke kamar masing-masing dan mandi. Nanti bunda panggil kalau makan siang sudah siap'' Ujar bunda
''Siap Bu bos,'' Dua anak nya ini terlihat sangat manis ketika sedang dalam mode rumahan. Jia sudah diluar sudah jangan ditanyakan lagi, pasti akan sangat datar dan juga cuek terhadap sekitar.
Setelah perbincangan keluarga tersebut mereka semua membubarkan diri ke kamar masing-masing tentunya.
...***...
Mari kita lihat kemesraan satu pasangan muda yang tengah bersantai di ruang tengah seraya berpelukan mesra tanpa memperdulikan sekitar. Padahal bukan hanya mereka berdua saja yang berada di sana, karena arav baru saja membahas beberapa proyek bersama gabrian namun setelah Arelea datang membuat Gabrian mengalihkan pandangannya dan juga perhatian nya kepada sang kekasih pujaan hati.
Arav hanya menghela nafas panjang, sungguh sebenarnya ia tak sanggup berada di antara pasangan yang sedang mabuk asmara seperti ini. Dia sudah membatin meminta gadis datar bermulut pedas itu datang kemari untuk menemani nya, entah mengapa pikirannya selalu tertuju pada gadis itu. Huh!
''Sayang nanti malam mau tidak ikut aku pergi ke suatu tempat?'' Seraya memilin anak rambut Arelea
''Kemana kak?'' Tanya Arelea penasaran
''You can't know, it's a secret.'' Jawab Gabrian
''Baiklah,''
Entah apa yang akan Gabrian tunjukkan kepada Arelea nanti malam, kita menunggu saja.
Lancarkan lah ya tuhan..
Gabrian mengamati secara intens seluruh wajah Arelea yang nampak cantik seperti jelmaan bidadari surga, ia tak mengetahui bagaimana lagi cara mengungkapkan seberapa besar aura cantik yang Arelea keluarkan. Bahkan arav pun sempat tersepona eh terpesona dengan aura Arelea saat pertama bertemu dahulu.
''Jangan tatap wajah gadisku dalam waktu lebih dari lima detik atau mata kalian akan aku ambil dan ku gantikan dengan mata hewan!''
Begitulah kira-kira ancaman yang Gabrian ucapkan ketika para penjaga lelaki dan arav memandang wajah Arelea. Sebenarnya bukan karena ia takut Arelea akan di ambil oleh mereka namun ia sangat tak ingin wajah cantik nya itu dinikmati oleh banyak orang.
''Siang ini kakak mau makan dengan apa?'' Tanya Arelea
''Emm apa saja deh, semua masakan kamu sama-sama enaknya'' Jawab Gabrian membuat kedua pipi Arelea bersemu kemerahan
Gabrian seketika memiliki ide cemerlang,'' Kalau aku peluk bagaimana? kan sama hangat nya?'' Hmm my idea is not bad, hahaha, Tawar Gabrian
Memang sepertinya lelaki suka yang enak saja.
''Kalau begitu aku masak sekarang ya kak,'' Ucap Arelea ingin melepaskan diri dari gabrian
''Nanti saja, atau kamu perintah para pelayan untuk memasak siang ini.'' Pinta Gabrian enggan melepaskan diri
''Tidak kak, mereka sudah bekerja membersihkan satu mansion ini pasti sedang lelah, biarkan mereka semua beristirahat terlebih dahulu. Mereka kan juga manusia bukan robot yang bisa kita perintah setiap saat, kita kan punya rasa hati nurani. '' Ujar Arelea memberi nasihat kepada Gabrian
Gabrian dan Arav tertegun sejenak, bahkan mereka sampai terdiam.
Hatimu bagaikan samudera, sangat luas.
Bagitu selesai berbicara Arelea menyadari bahwa Gabrian hanya terdiam dan pelukannya meregang membuatnya menggunakan kesempatan ini untuk melepas dirinya dari jeratan Gabrian.
''Aku masak dulu ya kak, '' Ucap Arelea kemudian meninggalkan dua pria di ruang tengah yang sedang terdiam
Gabrian langsung tersadar dari lamunannya, ia berdecak. Bisa-bisanya ia dibohongi oleh Arelea.
''Tuan muda, apakah bisa kita lanjutkan pembahasan nya?'' Tanya Arav hati-hati,
Tuan muda nya sekarang badmood pasti diajak bicara pun akan melengos dan tak menanggapi. Ia harus ekstra hati-hati dalam mengajak tuan muda nya itu kembali ke good mod nya, Yang pasti Arelea penyebab dan pengembali mood nya itu.
''Ck, sudahlah kamu pergi saja sana.'' Betul kan baru saja ia pikirkan sudah terjadi saja.
''Baik tuan,'' Setelah mendapat jawaban ketus dari tuan mudanya, arav membereskan beberapa berkas yang berceceran di meja juga membawa laptop nya pergi ke atas, ke ruangan kerja mereka pastinya.
...------...
Apakah memasak lebih penting dari pada dirinya, pikir Gabrian. Daripada memikirkan hal yang tak kunjung membuatnya puas, ia membuat kesibukan.
Gabrian memutuskan untuk bermain game online di laptop nya. Ia tak perduli kalau Arelea akan marah padanya nanti, ia ingin mencoba seperti apa jika Arelea marah. Karena selama bersama Arelea ia belum pernah melihat kemarahan dari gadis kecilnya itu, malahan tak pernah marah.
__ADS_1
Ia mengambil headphone gaming bluetooth nya dan segera memainkan game online seraya menunggu amarah sang kekasih. Kalau kita pasti akan menghindari kemarahan dari orang tua ataupun kekasih namun Gabrian adalah pengecualian, ia ingin sekali rasanya dimarahi entah kenapa.
''Damn, Dia bermain kenapa sangat lelet apakah skin yang dia gunakan sudah habis?'' Kesal Gabrian dengan menekan-nekan tombol di keyboard nya
''Don't go there, it's dangerous. Let me go!'' Pekik Gabrian saat teman mainnya malah menuju tempat yang berbahaya karena lawan biasanya menyerang dari balik semak.
''Sorry bro, I'll be behind you. '' suara seorang lelaki dari balik headphone
''follow me!'' Ucap Gabrian berhasil membidik lawan dengan benar
Belum sempat menyelesaikan tugas game nya Gabrian sudah dipanggil Arelea dengan suara tertahan dari samping telinganya. Ia bahkan sampai tidak menyadari kehadiran sang kekasih.
Arelea gemas karena Gabrian tetap bilang tunggu sebentar dan itu berlangsung selama beberapa menit. Ia menarik headphone yang terpasang ditelinga Gabrian dan menjewer telinga pria itu.
Rasakan kemarahan kekasihmu gab. Siapa suruh meminta macan tidur mengamuk, apalagi hari ini adalah pertama periode Arelea datang. Hmmm mari kita bayangkan betapa tersiksanya Gabrian.
''Aw aw.. sakit sayang,,'' Keluh Gabrian mengusap telinga nya yang memerah
Arelea mempelototi Gabrian yang mana bukan membuat Gabrian takut malahan jatuhnya ke menggemaskan. Namun ia tak berani membantah.
''iya-iya aku akan mematikan, sebentar.'' Gabrian tergesa-gesa mematikan game di laptop nya tanpa memperdulikan teman nya yang sedang kesusahan mencari jalan agar bisa mengalahkan lawan.
***
Seperti anak kucing yang takut karena induknya marah, Gabrian duduk di kursi meja makan dengan mendudukkan kepalanya. Ia tak berani menatap Arelea, ia pun tak faham kenapa arelea jadi galak seperti sekarang ini.
Walaupun Arelea mood nya sedang naik-turun tetapi ia tetap mengambilkan makanan ke piring Gabrian.
''Tuan arav silahkan menikmati makanannya,'' Sapa Arelea
Arav merasa segan karena sering kali dipanggil 'Tuan' oleh nona mudanya.
''Panggil Arav saja nona, bawahan ini sangat segan.'' Ucap Arav sopan
''Baik Kak arav, tidak sopan memanggil yang lebih tua dengan namanya saja. Dan tolong jangan panggil aku nyonya karena aku belum tua,'' Gabrian berdecak tak suka. Kenapa panggilan nya dengan arav sama 'Kak' apa tidak ada yang lebih istimewa begitu.
''Baik nona.''
Drama kecil di meja makan itu membuat sedikit rasa kesal Gabrian kepada Arav bertambah.
***
''Panggil aku dengan sebutan skattie,'' Ucal Gabrian tak mau disamakan
Sebenarnya Arelea itu tau kalau dia tak mau panggilannya disamakan dengan pria lain. Namun ia diam.
''Skattie,'' Panggil Arelea mendayu
Damn it, jangan menggoda ku sayang.
''Hug me, Jangan dilepaskan.''
Gabrian sedang menahan godaan yang berada didepannya dengan cara menyembunyikan wajah merahnya di dada Arelea
''Baiklah...''
Mereka menghabiskan waktu bersama di dalam kamar dengan bermesraan seperti biasa. Gabrian sudah menghubungi seseorang untuk acaranya nanti malam. Tinggal duduk manis didalam kamar saja dirinya.
...***...
...'*When love feels like magic, you call it destiny, when destiny has a sense of humor, you call it serendipity.'...
...''Ketika cinta terasa seperti sihir, kamu menyebutnya takdir, saat takdir berubah menjadi sebuah humor, kamu menyebutnya kejutan yang menyenangkan*'...
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
IG: @_fikria.ns