
Kali ini Gabrian tak akan melepaskan Arelea untuk kedua kalinya. Mulai hari ini di jam ini detik ini juga Arelea akan selalu 24/7 dalam pantauan nya, walaupun dari jarak jauh.
Setidaknya Gabrian sudah mengetahui dimana Arelea tinggal dan juga seperti apa Arelea sekarang. Jika Arelea baik-baik saja maka itu adalah hal yang patut dia syukuri karena bagaimanapun dia merasa bersalah.
''Sungguh sayang, kali ini kedua kalinya keluarga mu memisahkan kita. Tidak akan aku biarkan lagi ini terjadi untuk ketiga kalinya.'' Gumam nya melajukan mobil kencang menuju hotel tempatnya menginap
Setelah sampai di lobi hotel, Gabrian langsung masuk lift menuju room nya berada. Diikuti arav yang tiba-tiba saja muncul di depan lift dengan wajah penuh peluh juga nafas memburu.
''Selamat malam tuan muda.. hosh hosh'' Ucap Arav menormalkan nafasnya
Gabrian tak menjawab melainkan melempar jas dan dasinya ke arav lalu menuju kamarnya.
Braaakk..
Pintu di tutup keras oleh Gabrian membuat arav tercengang kaget melihat sifat tuan mudanya itu. Sepertinya dia harus mengabari nyonya besarnya. Sebelum mengabari nyonya besarnya, arav menelpon petugas keamanan hotel agar bisa membuka pintu kamar yang Gabrian pakai. Dia takut tuan mudanya berbuat hal yang diluar batas.
Iya, dia harus mengabari nyonya besarnya.
Begitu panggilan terhubung arav segera menyapa.
''Selamat malam tuan dan nyonya besar'' Sapa arav berjalan masuk ke kamar nya sendiri
''Iya rav, ada apa? kenapa tiba-tiba menelpon saya? apakah Ian mengalami masalah dalam pekerjaan nya?'' Tanya Kimberly khawatir terhadap putra satu-satunya
''Iya nyonya, tuan muda tadi mengamuk dan sekarang sedang mengurung dirinya dikamar.'' Ungkap Arav
''APAA!! kenapa bisa terjadi?'' Tanya Kimberly berteriak meminta penjelasan
''Tadi tuan muda tidak sengaja bertemu dengan nona muda Arelea di club', sepertinya nona muda baru saja menghadiri acara prom night yang diadakan di club' itu. Nona muda juga bersama dengan saudara perempuan, Nona Delin. Dan saya bisa melihat bahwa tuan memeluk erat tubuh nona muda, namun beberapa menit kemudian mereka berbincang. Setelah itu nona Delin menarik tangan nona Arelea hingga terlepas dari tuan muda. Dan membawanya pergi.''
''Nona Delin berbicara sesuatu yang mungkin menyinggung perasaan tuan muda sehingga mereka kebut-kebutan di jalanan. Dan saat sampai di mansion nona muda, tuan muda berteriak memaki nona Delin karena berani memisahkan nya dengan nona muda. Setelah pulang dari sana tuan muda marah-marah tidak jelas dan juga membanting pintu dengan sangat keras. Dan setelah itu saya tidak mendengar suara apa-apa lagi nyonya.'' Lanjutnya
''Saya hanya khawatir jika tuan muda melakukan hal-hal yang membahayakan nyawanya.'' Ucap Arav menghela nafasnya khawatir
''Kenapa bisa begitu!! cepat kamu panggil petugas keamanan hotel agar membukakan pintu kamar Ian, aku jadi ikut khawatir dengan keadaan nya. Cepat rav!!'' Titah Kimberly
''Saya sudah menghubungi pihak keamanan hotel nyonya. Sebentar lagi akan segera sampai di lantai atas.''
''Tuan arav, ini kunci kamar yang tuan muda pakai. Saya sudah mengecek jika memang benar ini kuncinya.'' ucap petugas keamanan hotel tiba-tiba dan tentu mengagetkan arav
''Baik terimakasih.''
''Kalau begitu saya permisi tuan. Selamat malam'' Ucapnya lalu pergi
__ADS_1
''Nyonya besar, kunci cadangan kamar tuan muda Gabrian sudah berada ditangan saya. Saya akan menutup panggilan nya terlebih dahulu. Setelah mengecek keadaan tuan muda, saya akan mengabari anda lagi.''
''Iya rav, lakukan sekarang.''
Tut Tut Tut...
Setelah Kimberly mematikan sambungan panggilan nya arav segera menancapkan kunci itu dan memutarnya.
Cleckk.
Terbuka, saat pintu itu arav dorong bisa terlihat ruangan yang sudah tak terbentuk lagi.
Kaca rias pecah, lampu pecah, kasur tak beraturan, juga kamar mandi yang berantakan terbuka. Arav juga melihat Gabrian tengah tertunduk diam menatap luar di tepi ranjang.
''Tuan muda?'' Panggil Arav
Gabrian seperti orang tuli. Pria itu sama sekali tidak menoleh ataupun menjawab panggilan dari asisten nya itu. Membuat sang empunya kebingungan. Tak ada cara lain, dia kembali menghubungi nyonya besarnya. Bukan melakukan panggilan suara melainkan panggilan video.
Tersambung.
''Ya tuhan sayang, kamu kenapa??'' Teriak Kimberly histeris
''Tenang mom, dia hanya sedang kalap. Nanti juga sadar sendiri.'' Ucap Drax menenangkan istrinya
''Tuan nyonya besar, tuan muda sama sekali tidak merespon panggilan saya, bagaimana ini?'' Tanya arav ikutan panik
Dulu saat perginya Arelea dibawa oleh Alfred, dirinya lah yang menenangkan anaknya hingga satu Minggu setelahnya dirinya juga disampingnya sampai mengabaikan sang suami. Dan sekarang anaknya itu kehilangan kekasihnya yang kedua kali, bukan kehilangan tetapi tidak di ijinkan bertemu lagi.
Dirinya juga tahu membuat Gabrian mengalihkan fokusnya ke pekerjaan itu sangatlah sulit. Apalagi soal makan, putranya itu harus diberi obat dan juga di semangat-kan dengan kata-kata yang membuat hatinya nyaman. Sudah seperti orang terkenal penyakit mental, tetapi itulah yang Gabrian rasakan saat itu.
Sakitnya seorang ibu adalah ketika anaknya menderita dan dirinya tidak berada di samping anaknya yang sedang menderita itu. Hatinya sangat terkoyak melihat penampilan anaknya yang sangat kacau seperti saat dahulu. Sungguh ini tidak boleh terjadi sekali lagi. Cukup waktu itu saja.
''Dad, perintahkan anak buah mu untuk mencari nomor ponsel gadis itu, aku tak ingin putra kita mempunyai penyakit mental gara-gara tidak bisa menemui kekasihnya. Hatiku sakit dad.. hikss.. hikss'' Gumam Kimberly menangis
''Iya sayang, sebentar. Rav kalau begitu saya matikan telepon nya. Jangan lupa kabari saya setelah dokternya sampai!''
Tut Tut Tut...
Setelah sambungan terputus dengan segera arav menekan nomor dokter yang ia ketahui di negara ini dan juga di kota ini. Dirinya sangat panik karena tuan mudanya itu sama sekali tidak bergerak dan hanya kadang menghela nafas berat seraya menatap nanar luar jendela.
''Tuan muda, dokter sudah akan sampai disini. Mohon respon pembicaraan saya.'' Pinta Arav dengan nada khawatir
Gabrian tetap tak bergeming dari tempatnya. Juga tak bersuara sama sekali.
__ADS_1
''Tuan mu-''
Tok tok tok..
''Tuan dokternya sudah datang,'' ucap arav lalu berlari ke arah pintu
''Silahkan masuk dokter.'' saat membuka pintu
''Siapa yang sakit tuan? dan kenapa kamar ini sangat berantakan? apa terjadi bunuh diri?'' Tanya dokter itu panik
Semuanya panik, yang menulis pun ikutan panik.
''Tidak dokter. Disini tidak ada yang melakukan bunuh diri. Tetapi tuan muda saya sedari tadi tidak merespon pembicaraan saya dan juga ibundanya, saya khawatir terjadi sesuatu terhadapnya. Tolong periksa dok,'' Ungkap Arav khawatir
''Baik tuan, silahkan menunggu sebentar.'' Ucapnya
Saat diperiksa dokter itu Gabrian hanya bergerak sedikit. Tanpa memperdulikan dokter itu Gabrian keluar kearah balkon kamar hotel itu dan duduk di kursi luar lalu menatap bintang-bintang yang bertebaran di langit.
Arelea milikku. Selamanya milikku. Tak ada yang boleh memiliki nya selain diriku. Aku ingin egois sekali ini tuhan. Berikan dia untukku dan selamanya untukku!.
Dokter yang memeriksa Gabrian itu menggeleng pertanda bahwa Gabrian baik-baik saja.
''Dia baik-baik saja tuan, hanya saja sedikit merenungi sesuatu hal dan itu membuat dirinya tak merespon ucapan siapapun. Tetapi anda tenang saja, itu hanya akan terjadi beberapa waktu dan tidak akan beresiko terhadap nyawanya.'' Ungkap Dokter lelaki itu
''Baik dok, terimakasih. Ini sebagai tip karena cepat datang kesini. Dan saya mohon dokter jangan pergi ke rumah sakit dahulu, saya masih membutuhkan dokter sewaktu-waktu.'' Pinta Arav menyerahkan satu bungkus amplop emas yang berisi 100.000$ dollar Amerika
''Terimakasih tuan, saya akan menginap di lantai bawah kamar ini. Nanti jika butuh bantuan lagi bisa hubungi saya.'' Ucapnya sopan lalu di-angguki arav
Selepas dokter itu pergi arav menghela nafas lega. Segera ia menelpon nyonya besar nya untuk mengabarkan bahwa tuan muda nya baik-baik saja. Namun sedang mendiamkan diri untuk menenangkan pikiran nya.
Arav : Tuan besar, nyonya besar. Setelah diperiksa oleh dokter, tuan muda tidak apa-apa. Hanya saja tuan muda sedang menenangkan pikirannya yang entah terbang ke mana. Jadi tidak usah panik, tuan muda akan saya jaga. Terimakasih
Nyonya besar Kimberly: Jaga dia terus rav, temukan dia dengan Lea. Buat orang tua Arelea merestui hubungan mereka.
Arav : Baik nyonya, bawahan ini akan melaksanakan nya.
Setelah selesai mengabari nyonya besar, ibunda Gabrian. Arav menelpon Housekeeping atau tata graha hotel untuk membersihkan kekacauan yang Gabrian buat di kamarnya.
Gabrian masih merenung di balkon kamarnya. Dengan memejamkan mata nya sejenak, menghilangkan rasa penat di dalam tubuhnya. Besok pagi-pagi sekali dirinya harus sudah berada di kediaman Arelea, Agar bisa bertemu dengan gadis nya itu.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
IG:@_fikria.ns