Gadis Milikku

Gadis Milikku
Chapter 48. Siasat licik pria tampan


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah menghantarkan Arelea pulang dari pusat perbelanjaan Gabrian pergi meninggalkan mansion. Ia pergi ke perusahaan nya bersama sang asisten, ia dan sang asisten sudah merencanakan sesuatu yang menarik.


''Rav, jangan lupa minta Alex untuk memasang kamera pengawas di sekitaran sana.'' Perintah Gabrian dengan dingin


''Baik tuan,'' Jawab arav


Sesampainya di G'A Groups Gabrian langsung masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan para karyawan yang menyapa nya, tentunya diikuti oleh asisten setia nya.


Ting~


Pintu lift terbuka, Gabrian berjalan seraya membuka satu tab kerja miliknya membaca seluruh statistik harga pemasaran buku yang perusahaan nya produksi.


''Bagaimana rav? sudah kamu hubungi alex?'' Tanya Gabrian tanpa mengalihkan perhatian nya dari tab


''Sudah tuan,''


Arav membukakan pintu ruangan untuk Gabrian masuk.


Gabrian segera duduk di kursi kebesaran nya. Ia meletakkan tab dan membuka laptop nya, Gabrian mengetikkan sesuatu di keyboard hingga muncul salah satu video rekaman dan ia tersenyum smirk.


''Lihatlah mereka mulai beraksi.'' Ucap Gabrian


''......'' Arav hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Gabrian karena ia sedang mengamati video di laptop Gabrian.


Selang beberapa waktu Gabrian tersenyum kecil. Bahkan ia berulang kali berdecak meremehkan seseorang.


''Sudah berapa lama mereka mencari? Cih baru sekarang menemukannya. Mau sampai kapanpun tidak akan ku lepaskan dia untuk kalian semua. Dia sudah bahagia bersama ku. Ck ck ck...'' Decih lelaki itu


''Cih menyusahkan saja, kalau tidak akan menjadi mertua ku maka tak akan pernah ku biarkan informasi rahasia itu jatuh ke tangannya walupun sedikit saja.'' Ujar nya lagi


''Apa perlu saya hapus semua informasi kamera pengawas yang akan menjadi bukti itu tuan muda?'' Tanya sang asisten


''Tidak usah, aku ingin cepat-cepat keluarga itu menemukan gadis ku dan aku hanya ingin meminta restu untuk menikahinya. Gadisku~ ahh jadi merindukan nya.'' Ucap pria yang ternyata Gabrian itu dengan tersenyum penuh kerinduan


''Kamu kerjakan sisa-sisa berkas itu. Aku akan pulang sekarang.'' Titah pria yang berprofesi sebagai CEO tersebut.


''Baik tuan muda.'' Jawab sang asisten dengan patuh.


Setelah mendengarkan ucapan sang asisten, Pria itu pergi meninggalkan ruangan dan pergi menuju parkiran. Pria itu membelah jalanan yang penuh salju dengan kencang nya.


***


Arelea berada di dalam ruangan dimana ia dapat melihat berbagai buku-buku tersusun rapi. Ruangan ini tidak begitu mencolok, hanya beberapa saja yang mengetahui letaknya. Termasuk Arelea.


Tadinya Arelea ingin menghabiskan waktu dengan berbenah di sekitar kamar Gabrian, namun siapa sangka ia malah menemukan hal tak terduga.


''Wah buku disini banyak sekali! Apa ini perpustakaan milik kak Ian ya?'' Gumamnya menelisik seluruh rak


''Kira-kira disini ada buku masakan tidak ya?'' Tanya nya dalam hati


Beberapa rak hanya tersusun buku yang sama cover nya namun dengan judul yang berbeda-beda. Ia yang membawa kemoceng di tangannya mulai membersihkan debu-debu yang menempel di buku juga seraya mencari buku masakan


''Ternyata disini bukunya sangat lengkap. Aku saja tidak mengira bahwa disini ada buku novel seperti ini, haha. Hmm buku memasak!---- nahh itu dia.'' Pekiknya


Ia sedikit kesulitan dalam mengambil buku itu karena memang buku masakan itu terletak di rak yang paling atas.


''Kenapa buku nya tinggi sekali sih!'' Gerutu nya sebal


''Disini kursi sangat panjang dan besar tidak ada yang kecil satu gitu?'' Gumamnya bertanya sambil menatap kursi panjang dan juga sofa yang berjejer rapi


Arelea kembali mencoba mengambilnya, namun usahanya sia-sia karena memang tinggi nya tak sampai. Biarlah nanti ia meminta Gabrian untuk mengambilkannya, siapa yang mengira bahwa Gabrian berada dibelakang dirinya dan mengambil kan buku itu.


''Mau buku ini hmm?'' Gabrian menenteng buku masakan ditangannya seraya tersenyum lembut


Gadis itu terkejut, Arelea mengelus dadanya yang kembang-kempis menahan keterkejutan nya.


''Astaga kak Ian, aku kira siapa!'' Gumam Arelea setelah menormalkan keterkejutan nya


''Kamu sedang apa disini?'' Tanya Gabrian


Setahunya perpustakaan mini nya ini tidak banyak diketahui apalagi Arelea belum sama sekali ia beritahu. Ia sedikit heran dengan kemampuan Arelea yang selalu dapat menemukan sesuatu yang sangat susah orang lain temukan.


''Aku tadi sangat ingin berbenah di sekitaran kamar kak Ian, tapi aku tak sengaja melihat pintu ini jadi aku masuk ke dalam.'' Jelas Arelea

__ADS_1


''Kenapa kamu yakin kalau ini pintu? Padahal aku sudah memasangnya serapi mungkin agar tak ada yang mengetahuinya,'' Beber Gabrian, karena pintu ini seiras dengan cat dinding yang mana membuat mata siapapun susah melihat apakah ada ruangan lain atau tidak.


''Sebenarnya kalau kak Ian ingin menyembunyikan sesuatu itu harus lebih teliti, disini ada sedikit bercak cat yang berbeda juga tersisa. Aku jadi sedikit paham tentang kakak, hehe'' Arelea tersenyum seraya keluar dan menunjuk bercak cat yang tersisa di dekat tombol masuk dan keluar


Sebenarnya sesampainya Gabrian di mansion ia bergegas menuju ke arah kamarnya untuk mencari Arelea. Setelah sampai dikamar ia dikejutkan dengan ruangan yang kosong dan juga kamar mandi kosong. Artinya Arelea tak berada dikamar.


Gabrian kemudian keluar kamar dan menutup pintu besar itu dengan remote control. Ia segera mengambil tab kamera pengawas dari laci luar kamar.


''Wah, kamu mengetahui ruangan itu ya?'' Gumamnya lalu meletakkan kembali tab nya dan berjalan menuju ruangan khusus untuk hobi nya yaitu perpustakaan untuk membaca.


Begitu sampai di depan pintu itu ia segera menutupnya kembali dan diam-diam berjalan seperti angin tanpa derap langkah kaki berirama. Dan Gabrian berada dibelakang Arelea segera mengambil kan buku itu.


''Mau buku ini hmm?'' Gabrian menenteng buku masakan ditangannya seraya tersenyum lembut


...✨✨✨...


Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Gabrian tak henti-hentinya tersenyum manis membuat buku kuduk Arelea berdiri, ia heran kenapa pria disampingnya itu tersenyum lebar seperti itu. Firasatnya mengatakan bahwa Gabrian pasti akan meminta sesuatu darinya.


''Kenapa kak?'' Tanya Arelea


''I want kisses and hugs from you,'' Pinta Gabrian dengan tatapan mata kucing nya


Arelea menatap mata Gabrian yang berwarna green dengan tatapan susah diartikan. Ia menuruti keinginan Gabrian tanpa menjawab ucapan pria itu.


Setelah ci*man terlepas Arelea merentangkan kedua tangannya meminta Gabrian masuk kedalam pelukan hangatnya.(Enak ya dingin-dingin dipeluk ah author jadi pengen, haha).


''Hmm jangan dilepaskan, aku sangat lelah hari ini jadi beri aku pelukan lama.'' Aku sangat lelah memikirkan siasat untuk mengelabuhi orang tua dan suruhannya, sayang. lanjut nya dalam batin dengan menyeringai tipis


''Baiklah.'' Jawab Arelea.


Ia tak membantah ataupun mengelak dari semua ucapan Gabrian.


Setelah beberapa saat gabrian tak kunjung melepaskan pelukan nya dan juga terdengar suara deru nafas ringan dari gabrian. Arelea segera melihat ke arah bawah dimana Gabrian tertidur dengan dada nya menjadi bantal, ck ck sungguh mencari kesempatan dalam kesempitan.


Arelea segera merebahkan tubuh besar Gabrian ke arah kasur, ia sedikit kesusahan karena Gabrian terus memeluknya erat. Seakan tak ada hari esok untuk memeluknya.


Tak ingin membangunkan Gabrian, ia juga ikut merebahkan diri di sebelah Gabrian dengan memeluk tubuh kekar Gabrian. Sebenarnya ia sedikit risih karena terus-menerus kepala pria itu menduselkan di dada nya. Namun lama-kelamaan ia ikut terlelap ke dalam mimpi menyusul sang kekasih yang sudah memasuki alam mimpi.


***


''Masih sama,''


Gumam Arelea menyadari bahwa setiap ia bangun terlebih dahulu pasti Gabrian dari awal tidur sampai bangun pun posisinya tidak akan berubah, apalagi jika dipeluk oleh nya. Seakan menjadi guling namun hidup dan bernapas.


Ia bingung bagaimana caranya melepaskan diri dari pelukan Gabrian yang begitu erat ini. Terpaksa ia harus membangunkan kekasihnya itu karena langit sudah mulai menggelap dan ia harus menyiapkan makan malam tentunya.


''Kak Ian...'' Gumam Arelea menepuk-nepuk pipi Gabrian dengan lembut


''Sayang...'' Tanpa sadar Arelea memanggil Gabrian dengan begitu mesra


''Ya? tolong ulangi panggilan tadi,'' Jawab Gabrian dengan mata terbuka


Ternyata Gabrian sudah terlebih dahulu bangun tetapi dia mencuri kesempatan untuk memeluk tubuh Arelea yang semakin berisi dari pertemuan pertama mereka dulu.


Arelea ingin berbicara lagi namun lidahnya seakan kelu, ia malu karena ke spontan-nan nya membuat Gabrian semakin melonjak meminta lebih. Mulutku kenapa tak bisa dikontrol sama sekali Argh, Pikirnya.


''Kak ian?'' ucap Arelea


Gabrian tersenyum smirk, ia menyadari bahwa gadisnya itu sedang dilanda kegugupan yang maksimal. Ia jadi ingin terus menggodanya.


''Sayang, ulang kata itu'' Rengek Gabrian menunjukkan puppy eyes nya


''Sayang..'' Lirih Arelea


''lebih keras aku tidak mendengarnya.''


Dasar pria modus kamu kak!. batin Arelea kesal, ia serasa dipermainkan oleh pria didepannya ini.


''Jangan mengumpat ku!'' Ucap Gabrian melirik Arelea dengan tatapan tajamnya


''Iya iya sayang,'' Ujar Arelea tanpa malu-malu lagi


''Aku akan menyiapkan air hangat untuk kakak mandi dahulu, dan setelah itu aku akan memasak.'' Kata Arelea seraya berjalan menuju kamar mandi


''Good girl,'' Gumam Gabrian

__ADS_1


...∆∆∆...


Arelea memasak berbagai jenis makanan, dari makanan berat hingga pencuci mulut. Gabrian sudah mengizinkan dirinya mengakses dapur pribadi, jadi ia tak perlu meminta izin lagi. Ia memekik pelan saat ada seseorang yang memeluk pinggang nya dari belakang.


''Masak apa sayang?'' Tanya Gabrian terdengar seperti gumaman


''Aku sedang membuat makanan pencuci mulut kak ,'' Jawab Arelea tanpa keberatan sama sekali di peluk oleh pria itu, malah dirinya suka dan tersenyum lembut.


''Mau aku bantu hmm?'' Gabrian menawarkan dirinya.


''Kakak sekarang duduk di kursi dan ayo segera cicipi masakan-ku...'' Jawab Arelea membawa beberapa makanan pencuci mulut seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Gabrian


''Baiklah,'' Jawab Gabrian


Mereka menikmati makanan dengan suka-cita dan segera mereka makan makanan pencuci mulut. Bukan sisa namun kelebihan pembuatan makanan Arelea yang memang sengaja ingin ia berikan kepada para maid dan para penjaga, sungguh mereka bersyukur karena selalu mendapat tuan dan nyonya yang baik seperti pasangan ini.


***


Selepas mandi dan juga makan malam pasangan ini dengan mesranya menonton sebuah film anak-anak, lebih tepatnya Arelea yang menonton dikarenakan Gabrian hanya sibuk memandangi wajah Arelea yang kadang tertawa kadang juga menitikkan air mata karena terlalu banyak tertawa.


''Begitu sukanya kamu melihat film kartun itu ya?'' Tanya Gabrian seraya memainkan anak rambut Arelea


''Mereka sangat lucu kak,'' Jawab Arelea singkat. Ia sedang fokus dalam melihat film itu jadi sangat susah untuk diganggu konsentrasi nya.


Gabrian berdecak kemudian mematikan salurab televisi.


''Yah kenapa dimatikan kak?'' Tanya Arelea dengan raut wajah kecewa nya


''Kamu mengabaikan diriku ini, apakah kamu lebih menyayangi film kartun yang ada di televisi itu? Sungguh malang sekali nasibku ini..'' Ucap Gabrian mendramatisir keadaan


''Bukan mengabaikan kak, tapi aku sedang fokus.'' Jawab Arelea


''Dan juga aku tetap saja menyayangi kakak sepenuh hatiku, kakak sedari dulu selalu membuatku nyaman dan juga merasakan apa itu cinta dan kasih sayang. Masa iya aku lebih menyayangi film kartun yang tidak ada didunia nyata ini?'' Ungkap Arelea


''Apa kakak cemburu dengan film imut itu ya?'' Goda Arelea


''Ck.. kalau iya kenapa? Give me a hug.'' Gabrian merentangkan kedua tangannya


Arelea dengan patuh menuruti perintah itu, ia sangat menyayangi Gabrian juga sebaliknya. Ia sangat mencintai pria itu, entah sejak kapan rasa itu muncul dihatinya. Tak pernah sama sekali terbesit niat di dalam hatinya untuk mencintai Gabrian namun takdir mengatakan hal lain.


Ia sangat bersyukur karena diberikan pria yang sangat-sangat tulus kepadanya menyayangi dirinya dan juga orang tua pria itu sangat mendukung keberadaan nya.


''I love you kak ian.''


Gumam Arelea masih bisa didengar oleh Gabrian, ia memeluk erat kekasihnya itu.


''I love you to sayang,'' Balas Gabrian seraya mempererat pelukannya.


.


.


.


.


.


...----------------...


...*Love... a very beautiful word when heard. Very romantic words when spoken. A word that has a million meanings. And the words that everyone wants to hear are spoken from the lips of their loved ones....


...But when you expect love to come, it's not as easy as you think. And it's not as difficult as you think, because sometimes love can come unexpectedly or planned, it just flows without permission*....


(Cinta... kata yang sangat indah ketika didengar. Kata yang sangat romantis ketika diucapkan. Kata yang memiliki sejuta makna. Dan kata yang setiap orang ingin dengarkan terucap dari bibir orang yang dicintainya.)


(Namun ketika kamu mengharapkan cinta datang, itu tak semudah yang kamu bayangkan. Dan tidak sesulit yang kamu pikirkan, karena terkadang cinta bisa datang tanpa diduga atau direncana, dia mengalir begitu saja tanpa permisi.)


...----------------...


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


IG:@_fikria.ns


__ADS_2