
...Happy Reading...
Setelah selesai membersihkan diri, gadis itu melangkahkan kakinya menuju kasur dimana ada satu telfon rumah yang sengaja di pasang dalam semua ruangan, agar memudahkan saat kita membutuhkan sesuatu.
Sudah panggilan ketiga namun kakaknya sama sekali tidak menjawab, akhirnya gadis itu memutuskan untuk menelpon kakaknya menggunakan ponsel pintarnya.
Nahh... akhirnya tersambung.
''Selamat sore, dengan siapa?''
Tanya Delin dengan suara seraknya, Baru enak-enak tertidur dengan menikmati angin sore di balkon namun dengan hebohnya terdengar suara telpon dari headphone nya. Bahkan sekarang telinganya masih berdengung kencang.
''Kak?''
''Ah ya? Kenapa lea?''
''Aku ingin bertemu denganmu, apakah kamu bisa membukakan pintu untukku?'' Pinta Arelea
''Baiklah sebentar, biarkan aku mengumpulkan seluruh nyawaku dulu.'' Ucapnya konyol
''Baiklah,''
Arelea mematikan telpon.
Gadis itu keluar kamar dengan membawa dua buku novel bergenre berbeda, Horor dan juga Romansa modern. Pasti kakaknya sangat suka, maka dari itu dia ingin memamerkan barang itu.
Ceklek.
Pintu Delin terbuka dengan lebar, menampilkan seorang gadis dengan mata sayu karena masih mengantuk dan juga headphone yang terpasang di lehernya, karena sudah dia lepas.
''Ayo masuk,''
Arelea sangat sering tidur berdua dengan Delin. Karena memiliki kesamaan dalam beberapa bidang membuatnya nyaman dan juga menyenangkan.
''Oh iya, bunda belum mau memasak kan?''
Sudah sejak dahulu mereka memasak bersama. Karena memang menyukai hal-hal yang berbau masakan.
''Belum kak,''
''Kak, aku punya sesuatu.''
''Apa itu?'' Tanya Delin penasaran
''Tadaaa, ini aku tadi pinjam di perpustakaan kampus. Aku tidak menyangka akan ada buku seperti ini loh'' Ucapnya penuh takjub
Mata Delin melebar, kampus nya itu sangat tidak adil. Saat dirinya masih berkuliah kemana saja buku itu dan kenapa baru sekarang ada disaat sudah lulus.
''Ck, kenapa saat aku sudah lulus buku itu ada. Sangat menyebalkan'' Decak Delin sebal
''Haha, aku hanya bisa meminjam dua saja untuk buku ini kak.''
''Dua buku tapi kalau tebal seperti ini kamu sudah seperti membaca kitab, lea'' Ujar Delin
Delin tak habis pikir dengan adiknya itu, bagaimana bisa adiknya itu membaca buku yang tebalnya melebihi kitab. Bahkan kalau hanya boleh meminjam banyak pun dia tak akan meminjam satupun.
''Apa kamu tidak akan minus? ini bagaimana caramu membaca?'' Tanya Delin
''Tidak akan, aku hanya akan membaca sampai satu season saja kok. Karena hanya season satu yang endingnya happy bukan sad.'' Ujar Arelea dengan tampang polos nya
''Astaga!'' Delin mengusap wajahnya kasar. Adiknya ini terlalu.. hhh.
.
.
__ADS_1
Setelah sesi pamer buku selesai sekarang giliran Delin yang curhat tentang seseorang yang baru ditemui nya di dalam restoran nya.
''Kamu tahu lea? dia sangat tampan dan juga sangat baik tetapi wajahnya sangat menyeramkan, seperti iblis. Aku sudah menyuruh asisten papa untuk menyelidiki siapa pria tampan tadi, semoga cepat ada informasi nya.''
''Apakah kakak yakin dia baik?'' Tanya Arelea ragu
''Iya, dia sangat baik. Tadi saja saat aku ingin terjatuh dia menolongku.''
''Apaa! Kakak jatuh dimana?'' Tanya Arelea
''Ah tidak apa-apa, kaki kakak hanya sedikit memar karena tidak sengaja mengenai kursi.'' Jelas nya
''Syukurlah,''
''Oh iya, mungkin malam nanti asisten papa akan memberi tahu pria tadi. Huhh, aku sudah tidak sabar dengan pria itu. Kan seru jika aku bisa membuat pria itu bucin akut denganku.'' Ucap Delin mengkhayal
''Apa itu bucin?'' Tanya Arelea kurang mengerti
''Aishh anak kecil mana tahu!''
''Aku sudah dua puluh tahun tahu kak! Aku sudah dewasa,'' Ucap cemberut Arelea
''Baiklah-baiklah adik ku yang sudah dewasa ini, bucin itu budak cinta. Yang artinya seseorang yang rela berkorban dalam bentuk apa saja untuk pasangan yang dicintainya, baik harta, jiwa, dan raga. Nah sampai sini paham belum?'' Tanya Delin
Pikiran Arelea menjerumus ke arah Pria yang kurang lebih sudah tiga tahun ia tinggalkan di negara lain. Dia ingat, pria itu juga mengorbankan harta dan juga jiwa dan raganya untuk dirinya seorang. Namun dia sekarang sudah tidak tahu kabar dari pria itu.
Sedih? Itu pasti.
''Hei! Lea?'' Delin melambaikan tangannya di depan wajah adiknya saat melihat gadis itu melamun.
''Kak? apakah kak Ian masih ingat denganku atau sudah memiliki tunangan baru ya?'' Tanya Arelea dengan mata berkaca-kaca
''Mungkin pria itu sudah menikah dan mempunyai seorang anak.'' Ucap Delin asal
Padahal Delin tahu bagaimana kehidupan pria adiknya itu selama tiga tahun terakhir ini. Juga pria itu masih menunggu adiknya bahkan sampai rela gila kerja agar tidak mengingat Arelea terus menerus sampai dia terpuruk.
''Hiks.. hikss hikss..'' Bukannya menenangkan adiknya malah Delin membuat adiknya itu menangis bahkan sampai sesegukan.
''Eehh, maaf bukan maksud kakak begitu. Kakak juga tida tahu tentang pria mu itu sekarang,'' Ucap Delin berbohong seraya menenangkan adiknya dengan pelukan
''Kalau itu benar hikss.. bagaimana hikss..'' Tanya Arelea masih dengan Isak tangis nya
''Biarkan saja, berarti dia tidak tulus mencintai mu.''
Dirasanya sudah tenang, Delin melepaskan pelukan dari sang adik. Ditatapnya dalam mata adiknya yang sama seperti dirinya itu.
''Jika kalian berjodoh, pasti akan bertemu. Namun jika kalian belum jodoh pasti tuhan akan mentakdirkan kamu mendapatkan yang lebih baik dari dia dan begitu juga sebaliknya, dia juga akan mendapatkan yang lebih baik dari dirimu.'' Kata Delin
''Hikkss.. hikss Iyya,''
.
.
.
Bunda Tasya, Delin dan Arelea sudah berada di dapur. Mereka memasak bersama seperti biasanya.
''Wahh bidadari surga ku sedang berkumpul,'' Ucap papa Andreas memeluk istrinya dari belakang
''Haha, papa kalau mau bermesraan dengan bunda jangan di hadapan kita yang masih jomblo dong.'' Ucap Alfred menyindir Delin dengan menatap penuh kejahilan kearah adiknya
''Kenapa kamu melihatku begitu? emangnya kamu sudah tidak jomblo lagi ha? dasar presedir kurang ajar!'' Umpat Delin
''Eittss... Aku walaupun presedir kurang ajar tetap tampan dan banyak yang suka!'' Sombong Alfred menepuk dadanya berulang kali
__ADS_1
''Hahaha''
Mereka tertawa bersama. Beban yang tadi mereka rasakan saat bekerja dan lelah seakan hilang begitu saja saat mendengar suara tertawa dari seluruh keluarga nya.
Bahagiaku bersama istri dan anakku selamanya, selamanya. Ucap papa Andreas dalam hati
Setelah selesai bercanda dan juga memasak. Mereka makan dengan anteng di meja dan juga sangat menikmati. Sensasi masakan itu selalu berbeda, walaupun yang masak adalah orang yang sama setiap harinya.
.
.
Asisten papa Andreas benar-benar memberikan informasi tentang pria yang dimaksud Delin itu malam ini. Dan dengan detail yang sangat lengkap.
''Permisi nona muda,''
''Saya ingin memberikan informasi yang anda minta tadi siang.'' Ucapnya
Delin yang kebetulan sedang menonton drama di televisi digital nya dengan Arelea menoleh dan juga tersenyum.
''Baiklah, terimakasih paman asisten'' Ucap mereka berdua
''Sama-sama nona muda, Hanya informasi itu saja yang bisa saya dapatkan nona, mohon tidak kecewa.''
''Kalau begitu saya permisi ke paviliun, selamat malam nona muda.'' Ucapnya sopan
Mereka mengangguk.
Selepas perginya asisten itu, Delin dan Arelea begitu penasaran. Siapa pria itu. Segera mereka membukanya, Arelea terkejut. Pria ini sangat dikenalnya.
''What! aku kenal pria itu kak?'' Ucap Arelea
''Apa? yang benar saja?''
''Dia adalah tuan El, pria yang dulu pernah berseteru dengan kak ian karena aku pernah hilang di pantai'' Ucap Arelea
''Benarkah?'' Tanya Delin antusias
''Benar kak, dia adalah tuan Samuel Braxton. Aku mengenal nya saat masih bekerja di perpustakaan kak Ian dulu.'' Jelas Arelea
''Apakah orang nya baik?''
''Tentu saja, dia sangat baik. Hanya saja wajahnya yang tampan itu agak menyeramkan, haha'' Arelea juga memujinya, padahal baru tadi ia meragukan pria ini
''Wah, semoga aku bertemu dengannya lagi kapan-kapan.'' Ucap Delin
''Apakah kamu mempunyai nomor ponsel nya?'' Tanya Delin
''Kalau di-ponsel ku yang dulu memang ada, tetapi sekarang sudah tidak punya lagi. Aku juga ganti nomor negara jadi ya berbeda.'' Ujar Arelea
''Yah!'' Delin kecewa
Dalam informasi itu hanya di cantumkan nama perusahaan dan pekerjaan Samuel. Bahkan nomor telpon saja asisten itu tidak bisa melacaknya. Informasi yang rumit.
Belum tahu saja Delin tentang Samuel. Pria itu bukan baik namun psikopat yang haus akan darah. Bahkan paman dan bibi nya saja dia yang membunuh dengan cara yang sangat sadis. Sungguh bukan hal yang harus dibanggakan.
''Semoga saja dia jodohku'' Gumam Delin dalam hati
Kemudian Delin dan Arelea memutuskan untuk beristirahat agar keesokan paginya bisa fresh seperti biasanya. Malam ini kakaknya (Alfred) dan kedua orang tuanya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Alfred harus banyak mengerjakan banyak tumpukan berkas yang ada di mejanya. Karena tanggung jawabnya sebagai seorang presedir yang notabene nya adalah presedir muda.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
IG:@_fikria.ns