Gadis Milikku

Gadis Milikku
Chapter 52. Usaha yang membuahkan hasil


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah melacak beberapa akses yang kira-kira ia tahu di komputer pribadinya, ia segera melakukan tindakan. Tanpa menyewa hacker ataupun meminta anak buahnya untuk membantu dirinya, ia tak ingin orang lain tahu terlebih dahulu.


''Akhirnya dapat.'' Pekik lelaki itu saat mendapatkan nomor telepon pribadi seseorang


''Apakah pagi-pagi begini dia sudah bangun ya?'' Pikirnya bertanya


''Ah masa bodo lah,'' Secepat kilat ia menekan tombol bergambar telpon di ponselnya


Lima kali sudah panggilan tidak terhubung, ia tak menyerah. Saat sudah ingin putus asa tidak melanjutkan panggilannya, tiba-tiba saja diangkat dengan suara seorang gadis.


''Hallo,'' Suara gadis dari seberang ketika panggilannya diangkat


Ia diam membisu, mulutnya seakan tak bisa berbicara dan juga dada nya terasa sesak. Entah apa yang dia rasakan, ini pertama kalinya ia mengetahui suara adiknya yang sudah lama menghilang.


Bahkan panggilan pun ia abaikan.


''Maaf dengan siapa ya?'' suara gadis itu terdengar kembali


Ia masih tidak menyangka. Dengan konyolnya ia mencubit pipinya sendiri, dengan bergumam apakah ini nyata.


Namun ucapan terakhir gadis itu membuyarkan lamunannya.


''Maaf kalau tidak ada keperluan saya matikan, terimakasih.'' Sopan gadis itu


Secepat nya ia menormalkan tekanan di dalam relung hati nya dan menjawab dengan suara normal.


''Tunggu- jangan dimatikan!'' perintah pria ini


Gadis itu terdiam, tak kunjung menjawab ataupun bertanya lebih.


''Maaf siapa ya kalau boleh saya tau?'' Tanya Gadis diseberang


''Apakah kamu bernama Arelea?'' Tanya pria ini dengan hati-hati


Dengan keraguan gadis itu menjawab,'' Iya''


Pria ini menghela nafas panjang dan juga sedikit nada bahagia itu meminta sesuatu kepada gadis kecil yang ia tunggu-tunggu itu.


''Tolong simpan nomor ini dengan nama kak Alf dan jangan sampai hilang.'' Titah nya kemudian menutup panggilan sepihak


Semua nya butuh proses. Dan proses ini sebentar lagi akan menjadi kunci kebahagiaan untuk bunda dan papa.


Ya, pemuda itu tadi adalah Alfred Alexandre Ainsley. Kakak dari Arelea yang sedang mencari keberadaan adiknya.


***


Dengan cepat Alfred mendinginkan badannya dibawah guyuran air yang mana membuat tubuhnya menjadi lebih rileks Dau sebelumnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian Alfred turun ke bawah untuk menginformasikan apa yang ia dapatkan dari telpon tadi. Sungguh ini kabar yang membahagiakan untuk semuanya.


''Pagi pa, bunn.'' Sapa Alfred mengabaikan adiknya


''Pagi juga,''


''Aku kenapa tidak disapa?'' Tanya Delin cemberut


''Memangnya kamu siapa?'' Alfred balik bertanya


''Aku kan adik kesayanganmu kak.'' Rengek Delin membuat Alfred terkekeh pelan


Alfred kemudian mengelus surai rambut adik kesayangannya ini.


''Pagi adik cantikku,'' Sapa nya mengecup kening adiknya


''Pagi juga kakak,'' Dengan sedikit manja Delin


''Dingin sudah makanannya nanti,'' Ujar Bunda Tasya


''Iya Bun,'' Jawab serentak dari anak-anak nya


***


Selepas makan pagi mereka semua tidak sibuk bekerja ataupun bermain dikamar masing-masing tetapi semua kumpul diruang keluarga yang berada di lantai dua.


''Pa, Bun.'' Panggil Alfred serius


Seperti sekarang sudah saat nya memberi tahu mereka.


''Kenapa Al?'' Tanya bunda juga ikut serius


Melihat wajah putranya yang begitu membuat dirinya berpikiran yang tidak-tidak.

__ADS_1


''Sebenarnya aku sudah mengetahui nomor telpon Arelea.'' Ucap Alfred


''Benarkah?'' Bunda terharu, ia ingin sekali mendengar suara anaknya itu.


''Apakah bunda boleh menelpon nya sekarang? ingin rasanya bunda mendengarkan suaranya.'' Pinta bunda Tasya


''Kakak dapat nomor adik dari mana?'' Tanya Delin penasaran, ia sebenarnya sangat ingin melihat dan mendengar suara adik kecilnya


''Sebentar aku ambil ponselku dikamar.'' Kemudian Alfred pergi ke kamarnya dan mengambil ponsel miliknya


Mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Sampai Alfred datang dengan membawa laptop nya.


''Maaf Bun handphone Al kehabisan daya, pakai laptop saja tidak apa-apa ya?'' Ucap Alfred meletakkan laptop didepan bundanya


''Iya tidak apa-apa,''


''Nomornya yang mana al? kenapa disini banyak sekali nama gadis?'' Tamat sudah riwayatmu Al, kenapa bisa seceroboh ini kamu tidak menyembunyikan dan menghapus nomor gadis-gadis yang selalu menelpon dirinya.


''A-anu Bun, itu nomor siapa aku juga tidak tau.. biasanya selalu menelpon seperti itu.'' padahal selalu aku angkat. Lanjutnya dalam hati


Sungguh Al kamu adalah lelaki buaya yang diam-diam namun menyimpan banyak misteri yang menghanyutkan.


''Cih, bisa-bisanya membohongi bunda.'' Lirih Delin di dekat kakaknya


''Diam kamu!'' Sentak Alfred lirih kepada adiknya yang tak berhenti menghujatnya itu


Bunda Tasya hanya memperhatikan foto profil l**e milik Arelea yang memperhatikan wajah imutnya dengan bunga ditangannya.


Sungguh.. jika memang benar kamu yang bunda temui di mall, bunda akan sangat bahagia.


Adikku sangat lucu dan kecil, pasti akan cocok bila aku ajak ke Timezone.. tapi sayang sekali dia sudah dewasa. batin Delin sedih namun juga bahagia


''Bolehkah bunda menelpon adik kalian sekarang? bunda sangat tidak sabar mendengar suaranya!'' Tanya bunda dengan wajah memelas


Bunda memasang tampang yang menyedihkan.


Dia juga ingin mendengarkan suara anaknya.


Sangat disayangkan jika tak kesampaian kan. Sekarang suaminya sedang meeting dadakan di kamar maka ia tidak bisa memakai suaminya itu untuk meluluhkan hati anak-anak nya.


Akhirnya Alfred membolehkan dan Delin mengangguk menanggapi bundanya.


''Baiklah, tapi kita chat dulu siapa tau dia sedang sibuk.'' Ucap Alfred mengusulkan


Arelea


(read)


Arelea sedang typing dan rupanya gadis itu sedang dalam kondisi tidak sibuk karena sedang diperbolehkan dengan Gabrian memakai handphone jadinya ia membuka beberapa situs yang bisa untuknya membaca. Tetapi siapa sangka malah mendapatkan chat dari orang aneh yang tadi pagi menelpon nya dengan singkat.


Aku sedang tidak sibuk kak Alf


Tak butuh waktu lama Alfred segera menghubungkan panggilan. Kemudian terdengar suara gadis itu.


''Hallo kak Alf,'' Sapa nya


''Ada perlu apa lagi ya?'' Tanya Arelea


Bunda menitikkan air mata nya. Begitu senang dirinya walau hanya mendengarkan suara anaknya itu.


''Hallo?'' Sedari tadi hanya hening saat Arelea memanggil.


''Halo juga Arelea, hai kenalkan aku Delin adiknya kak Alf. Maaf aku menganggu mu, aku hanya ingin mengajakmu bertemu. Apakah kamu mau?'' Tanya Delin to the point, ia tak kuasa mendengar suara bunda nya menangis walaupun itu haru sekalipun


''Hai juga kak Delin, kalau sekarang aku sedang berada di jauh dari kota. Bagaimana kalau tiga sampai lima hari lagi?'' Tanya Arelea balik, ia sempat di beri tahu bahwa mereka semua akan berada di pesiar selama dua hari dan selebihnya mereka akan traveling ke area salju untuk bersenang- senang menikmati liburan bersama keluarga besar Gabrian.


Delin diam sejenak. Ia menoleh ke kakaknya dan bundanya seakan bertanya bagaimana.


Mereka berdua mengangguk.


''Baiklah, aku akan memberikan alamat nya saat kamu sudah berada di kota ya.'' Ucap Delin


''Kalau begitu kakak putus sambungan nya, terimakasih. Sampai berjumpa besok,''


Delin memutus panggilan. Ia masih menormalkan detak jantung nya yang begitu berdesir bukan karena suka namun ini perdana baginya mendengarkan suara adiknya yang hilang bak ditelan bumi dari lahir, dirinya bahkan belum sempat menemui adiknya saat itu tetapi para musuh papa nya mengusik ketenangan keluarga ini dan mengambil adiknya dengan paksa.


Haru menyelimuti keluarga Ainsley.


.


.


.

__ADS_1


.


Arelea yang baru saja menyelesaikan makan pagi bersama tetua keluarga Gabrian pun langsung di minta untuk beristirahat lagi karena nanti sore mereka akan berangkat ke pusat kota untuk melakukan suatu kegiatan.


Pria nya itu sedang merajuk karena Arelea tak mau mencium dirinya, dan memilih dikamar Nathan seraya mengerjakan beberapa berkas di laptopnya.


''Aku sangat bosan...'' Gumamnya


Ia meraih handphone nya dinakas dan mencari website yang bisa menghilangkan kejenuhan nya. Tak disangka nomor yang tadi pagi menelpon dirinya kembali men-chat dirinya.


*Arelea


Sedang sibuk tidak*?


Pesan dari nomor itu masuk.


Arelea yang sedang tidak melakukan kegiatan apapun pun menjawab. Ia belum memberi tahu Gabrian adanya seorang pria yang meminta dirinya menyimpan nomor telpon dan suka mengubungi nya.


Aku sedang tidak sibuk kak Alf


(read)


Tiba-tiba saja panggilan tersambung, Arelea tetap mengangkat nya.


''Hallo kak Alf,'' Sapa Arelea


''Ada perlu apa lagi ya?''


Hening...


''Hallo?'' Sedari tadi hanya terdengar suara sesegukan namun sangat lirih saat Arelea memanggil.


''Halo juga Arelea, hai kenalkan aku Delin adiknya kak Alf. Maaf aku menganggu mu, aku hanya ingin mengajakmu bertemu. Apakah kamu mau?'' Tanya seorang perempuan dari seberang to the point,


''Hai juga kak Delin, kalau sekarang aku sedang berada di jauh dari kota. Bagaimana kalau tiga sampai lima hari lagi?'' Tanya Arelea balik, ia sempat di beri tahu bahwa mereka semua akan berada di pesiar selama dua hari dan selebihnya mereka akan traveling ke area salju untuk bersenang- senang menikmati liburan bersama keluarga besar Gabrian.


Delin diam sejenak. Sepertinya sedang berpikir, batin Arelea.


''Baiklah, aku akan memberikan alamat nya saat kamu sudah berada di kota ya.'' Ucap Delin


''Kalau begitu kakak putus sambungan nya, terimakasih. Sampai berjumpa besok,''


Setelah panggilan terputus Arelea memilih untuk menyibukkan diri dengan merapihkan kamar itu agar menjadi rapi seperti semula.


Tanpa merasa curiga sama sekali Arelea mengabaikan panggilan tadi.


Sekarang ia harus membujuk pria nya itu.


''Kak Ian kira-kira ada dikamar yang mana ya?'' Tanya Arelea dalam batin ketika melihat beberapa pintu berjejer rapi


Mungkin lupa menghidupkan kedap suara dikamar nya, ucapan demi ucapan dari kamar paling ujung dapat didengar Arelea dengan jelas. Entah apa yang dibicarakan namun itu mampu membuat Arelea penasaran.


''Apa yang sedang mereka bahas?'' Gumam Arelea


Tak tahan dengan rasa penasaran nya, gadis ini mencoba mengetuk pintu kamar itu.


Tok tok tok


Dibukalah pintu kamar itu oleh seorang pria tampan, rupanya Nathan.


''Eyoo kakak ipar?'' Sapa nya


Gabrian yang semula memunggungi pintu seketika berbalik. Ia harap ucapan Nathan tadi tidak didengar oleh Arelea, batinnya lega karena kamar ini dipasangi alat kedap suara.


''Ada apa kamu kemari?'' ketus Gabrian, ia kan sedang merajuk.


''Kak ayo ikut aku ke kamar, aku tunjukkan sesuatu kepadamu.'' ucap Arelea dengan wajah panik, padahal itu hanya akal-akalan nya agar tidak menganggu Nathan.


Gabrian jadi ikutan panik sendiri.


''Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan mu?'' tanya Gabrian khawatir


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


IG:@_fikria.ns


__ADS_2