
Pagi harinya gabrian sudah berdandan rapi di depan meja riasnya. Dengan setelan jas berwarna dark brown membuat dirinya sangat tampan dan hot. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaan petugas yang sedang membenahi kaca yang ia rusak tadi malam.
Dengan segenap rasa ceria di dalam hati Gabrian berjalan tanpa meminta arav mengikuti dirinya. Hari ini dia akan bertemu lagi dengan gadis itu, semangat nya tidak pernah pudar sepanjang jalan. Senyuman merekah di bibirnya tersungging. Sungguh makhluk ciptaan Tuhan ini sangatlah sempurna.
Tak lupa pria itu berhenti sejenak di kedai bunga yang lumayan besar untuk membeli bunga untuk gadis nya.
''Selamat datang tuan di toko bunga kami,'' Sapa mereka
''Saya ingin mencarikan bunga untuk gadis yang spesial di hidup saya.'' Ucapnya
''Kira-kira bunga apa tuan yang cocok dengan kepribadian gadis itu? kalau boleh tau beritahu kami, agar kami bisa memilih bunga yang cocok dengan gadis anda itu.'' Pinta seorang wanita tua
''Dia adalah gadis yang lembut dan juga selalu bahagia. Aku sangat mencintai dirinya.'' Ungkap Gabrian
''Bunga mawar merah melambangkan cinta dan keinginan, sementara mawar pink melambangkan kebahagiaan dan kelembutan. Bagaimana tuan apakah anda ingin kedua bunga tersebut dirangkai menjadi satu?'' Good idea
''Baiklah, silahkan. Saya akan menunggu di mobil''
''Baik tuan, nanti saya hantarkan ke dalam mobil anda.''
Gabrian membayar dan setelah itu masuk ke dalam mobilnya. Membayangkan bagaimana reaksi gadis itu saat menerima bunga dari dirinya. Apakah senang atau malah akan dibuang?, biarlah yang terpenting adalah dia sudah memberikan bunga itu penuh dengan cinta.
Setelah membeli bunga mawar di kedai bunga tadi Gabrian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mengingat masih pagi hari kemungkinan jalanan tidaklah macet seperti biasa.
''Apakah dia sudah bangun?'' Gumamnya
Selang beberapa menit akhirnya Gabrian sampai di depan kediaman Ainsley. Ada dua penjaga di luar gerbang, mungkin mengantisipasi kedatangan dirinya.
''Tuan, bolehkah saya tahu nama anda?'' Tanya salah satu penjaga was-was
Gabrian mengerutkan keningnya. Oho.. ternyata penjaga ini tidak tahu wajah Gabrian saat diminta untuk menjaga di depan dan menjaga agar tidak boleh masuk dengan paksaan ataupun tanpa paksaan.
''Saya Liel, Teman lea'' Jawab Gabrian mengunakan nama tengahnya
''Oh baiklah tuan,'' Kemudian penjaga itu membukakan pintu gerbang untuk di aksesnya masuk
Gabrian diam-diam tersenyum smirk.
Ting tong.. Ting tong..
Suara bel pintu berbunyi, seperti ada tamu tetapi hanya ada Arelea yang di rumah. Kedua orang tuanya sedang berada di kediaman nenek nya dan kakaknya Delin sedang berada di resto miliknya. Sedangkan Arelea sedang berada di kamar mengerjakan surat-surat tanah untuk pembangunan resto miliknya nanti.
__ADS_1
Arelea yang sedang mengetik sesuatu di keyboard nya mengerutkan keningnya. Siapa pagi-pagi buta begini datang bertamu, tidak sopan. Begitu kira kira pikirnya
Tak ingin lama berfikir, Arelea segera turun ke bawah dan membukakan pintu.
''Sia-- pa.... kak ian?''
Gadis itu menghamburkan pelukan kepada Gabrian. Sangat rindu, semalam benar-benar dia ingin bersama dengan pria itu tetapi apalah daya saat kakaknya menarik tangan nya untuk pulang. Untungnya sekarang semuanya sedang tidak berada di rumah, hanya dirinya seorang dan beberapa penjaga dan pembantu.
''Kakak membawa apa?'' Tanya Arelea penasaran karena tangan Gabrian berada di belakang punggungnya
Lalu muncullah satu buket bunga mawar merah dan mawar pink di depan Arelea.
Wajah gadis itu seketika memerah, dia tak menyangka bahwa Gabrian bisa seromantis ini saat sudah lama tidak bertemu.
''Wahh cantik sekali,'' Ucap Arelea, ''Dan sangat harum.''
''Benarkah? tetapi meskipun bunga ini cantik tetaplah wanita paling cantik adalah kamu, lea'' Puji Gabrian tersenyum penuh goda
Pria ini... benar-benar tidak bisa diprediksi.
''Sayang... kakak hanya ingin kamu tetap menjadi gadis milikku untuk sekarang dan selamanya. Dua hari lagi aku akan kemari untuk melamar mu di depan orang tua mu, dan aku juga sudah mengabari kedua orang tuaku untuk kemari nanti siang. Aku akan mempersiapkan semuanya dengan baik. Daddy sudah merencanakan sesuatu untuk pertunangan kita nanti. Kakak harap kamu juga mengikuti rencana kami, agar semua berjalan sesuai dengan rencana. Bagaimana?'' Tanya Gabrian memegang tangan Arelea dan juga terkadang mencium pucuk kepalanya
''Baiklah, apa rencananya kak?''
Gabrian membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga Arelea. Kata demi kata dia rangkai seindah mungkin untuk mendapatkan gadis impiannya. Dia terlalu cinta dan sayang terhadap gadis itu, mungkin ini cara terbaik untuknya dan Arelea bersatu.
''Bagaimana? Apakah siap?'' Tanya Gabrian
Mereka berbicara dengan berbisik-bisik dikarenakan, setiap sudut mansion ini terdiri puluhan kamera pengawas dan juga perekam suara. Jadi, walaupun dirinya dan Arelea bertemu, hanya terdengar kata rindu yang terucap.
''Kalau begitu kakak pergi dulu, Nanti kakak akan mengabarimu''
''Oh iya bagaimana caraku menghubungi mu nanti?'' Tanya Gabrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Arelea dengan cepat meminta handphone Gabrian dan mengetik nomornya dan menyimpannya. Arelea sedikit malu saat melihat wallpaper layar handphone Gabrian adalah dirinya dan Gabrian saat foto di kolam renang dahulu, mungkin jika bukan kenangan dia tak akan mengingat nya. Karena itu sungguh memalukan, di masa dia masih polos dan diminta memakai pakaian bikini hanya menurut saja.
''Bye kak, Be careful on the way, ok''
''Siap sayang, muaaah'' Ucap Gabrian mengecup kening Arelea dan emm mengecup singkat bibir manis Arelea
Tak lama setelah itu mobil Gabrian keluar gerbang dan Arelea masih di depan pintu memegang buket bunga mawar itu dengan senyuman yang merekah.
__ADS_1
''Harum.'' Ucapnya lirih
Sedari tadi Arelea hanya tersenyum bahkan saat Delin sudah pulang gadis itu tetap tersenyum manis. Delin hanya menggelengkan kepalanya, entah apa yang merasuki adiknya itu hingga senyumannya tak pernah luntur sedari tadi.
''Heii!! dapat apa kamu hari ini? seperti nya bahagia sekali hmm?'' Tanya Delin mengapit hidung Arelea gemas
Arelea hanya senyum tersipu.
''Tidak ada apa-apa kok,'' Jawab Arelea tak sinkron dengan pertanyaan Delin
Delin mengerutkan keningnya. Ada yang tidak beres dari adiknya ini.
''Baiklah-baiklah kakak akan ke atas dulu,''
Setelah Delin pergi ke atas. Gadis itu tersenyum lebar, seraya melanjutkan apa yang dia kerjakan tadi.
Delin yang sudah diatas menyipitkan matanya, Buket bunga? dari siapa? kenapa ada dikamar adiknya?. Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya, ingin dirinya bertanya kepada sang adik tetapi sangat tidak baik jika begitu, terlalu mencampuri urusan orang lain.
Tak ingin berlama berdiri di ambang pintu adiknya dengan segera dirinya masuk ke kamar nya sendiri dan membuka laptop. Mencari cctv yang berada di pintu depan.
Right. Pria itu benar-benar datang.
Bunga yang ia lihat tadi juga dari pria itu. Dan yang Delin lihat hanya Gabrian berpelukan dan juga saling bertukar rindu di depan pintu utama, juga Gabrian menyerahkan bunga mawar itu. Tidak ada kegiatan aktifitas lain yang terekam.
''Pria itu hanya merindukan lea?'' Gumam nya ragu
Akhirnya Delin hanya menghela nafas nya sejenak. Pria itu semoga tidak membawa adiknya ke jalan yang salah. Aslinya dia juga tidak mengapa jika adik nya bahagia bersama pria itu, tetapi kedua orang tuanya sedikit tidak setuju. Di karenakan pria itu sedikit lebih sombong dan arogan, mereka memutuskan untuk tidak mengizinkan anak gadis nya bertemu dengan pria itu dahulu.
Gadis itu sudah dewasa sekarang. Tidak perlu seketat itu penjagaannya. Walaupun semua dijaga sangat ketat namun Arelea sedikit pengecualian, gadis itu dijaga lebih dari sepuluh bodyguard baik dari kegelapan (kejauhan) maupun terlihat (berada disampingnya setiap saat).
''Pasangan yang unik,'' Gumam Delin segera menutup laptopnya dan kemudian membersihkan badannya.
.
.
.
Bersambung...
IG:@_fikria.ns
__ADS_1