Gadis Milikku

Gadis Milikku
Episode 8. Perhatian tulus


__ADS_3

...🌹🌹 HAPPY READING 🌹🌹...


Saat ini Arelea masih didalam ruang cek up untuk mengecek apakah ada bagian tubuh yang terluka dalam ataupun parah.


Gabrian sedang menunggu Arelea di kursi tunggu pasien sambil mengeluarkan air mata dengan tatapan kosong kearah lantai,


''Semoga kau baik baik saja, sayang!'' gumamnya


Ia sudah menunggu hampir satu jam lamanya tetapi belum ada dokter yang keluar dari ruangan. Ia menunggu diluar ruangan bersama Arav dan dua orang pengawal pribadinya, Ia sedari tadi


melamun dan terus memikirkan gadis nya. Pikiran aneh mulai menjalar namun ia selalu menepisnya dengan berdoa kepada Tuhan agar Arelea baik-baik saja.


''Arav apakah kau sudah mengetahui siapa yang menabrak nona mu tadi?''


''Orang itu harus diberi pelajaran!! dia menaiki motor seperti seorang pembalap tetapi tidak ditempat area balap malah menyebabkan gadisku kecelakaan'' Geramnya setelah mendengar cerita dari arav yang diberitahu salah satu lelaki pemilik warung dekat tempat kejadian.


''Belum tuan''


''Iya tuan, sepertinya orang itu sengaja atau malah dia sedang pulang kerja dan dalam kondisi gawat. Kemungkinan juga orang itu memiliki kejiwaan yang berat!'' Arav beropini dan berkata demikian kepada gabrian membuat tuan muda nya itu berpikir keras.


Gabrian mendengar jawaban Arav menundukkan kepalanya kembali, Tak selang beberapa lama salah satu suster yang menangani Arelea keluar dengan wajah biasa yang artinya pasti pasien dalam kondisi baik-baik saja. Gabrian lega.


Gabrian yang melihat itu langsung sumringah dan menghampiri,


''Bagaimana keadaan gadis ku, apakah ada luka parah?'' tanya nya dengan berderet


'' Syukurlah tuan, nona tidak apa apa dia hanya syok dan juga karena benturan sedikit keras menjadi pingsan, mungkin sebentar lagi akan bangun. Sekarang nona sedang terpengaruh obat bius dan obat tidur.'' Jelas suster tadi dengan membawa satu catatan ditangannya


'' Syukurlah, lalu kenapa mukanya berlumuran darah tadi?'' tanya nya mulai dengan nada dingin.


'' Itu tadi terjadi akibat benturan di pelipisnya, tetapi sudah kami menjahit luka itu tuan!Mungkin hanya dalam waktu tiga sampai empat hari sudah mengering,'' jawabnya dengan senyum ramah nya


''Baiklah terimakasih sus!'' bukan Gabrian yang menjawab melainkan Arav sang asisten yang masih setia berada didekatnya


Suster itu hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan keempat manusia yang sedang dengan pikiran masing masing.


''Arav apakah kita boleh masuk kedalam ruangan ini?'' tanya nya dengan dingin


Ceklek~


Ruangan kembali terbuka, Dokter perempuan yang menangani Arelea keluar dan memberikan salam kepada Gabrian dan Arav.


''Mari tuan-tuan,'' Salam dokter itu lalu pergi ke ruangannya


''Sepertinya boleh tuan'' jawab Arav lalu Gabrian masuk kedalam ruangan VVIP yang ia pesan dengan Arav, dan dua pengawal lainnya menjaga di pintu masuk ruangan.


Gabrian berjalan mendekat kearah gadisnya sedang berbaring dengan memejamkan mata nya akibat disuntikkan obat tidur dan bius agar saat menjahit luka nya tidak sakit juga tidak terasa.


''Arelea cepat sembuh aku sudah sangat ingin mendengar suara mu bukan melihat diam mu seperti ini,'' Keluhnya lirih sembari mengecup kening Arelea dengan lembut


''Arav siapkan baju ku dan bawalah kesini aku akan menemani Arelea sampai boleh dibawa pulang ke rumah''


''Baik Tuan'' jawab Arav lalu pergi keluar ruangan


Gabrian duduk di sofa agak luas di ruangan itu agar bisa mengerjakan tugas perusahaan yang sempat ia tunda itu dengan teliti.

__ADS_1


.


.


.


Sudah pukul tujuh malam Arelea mulai mengerjapkan mata nya dengan perlahan, Ia mulai menyesuaikan netra nya yang terlihat cahaya terang, mata gadis ini masih sedikit buram dan ia melenguh panjang


'uugghhh..'


Gabrian menoleh ke asal suara dan ia langsung bangkit dari tempat duduknya menuju ke ranjang pasien (Brankar).


''Bagaimana apakah masih ada yang sakit hmm?'' ucap Gabrian lembut


''Eemm tidak bos, lalu aku ada dimana?'' tanyanya setelah menyesuaikan pencahayaan nya dengan suara lemah


''Kamu sedang berada di rumah sakit, kamu tadi tertabrak motor yang sedang melaju sangat cepat''


''Kamh tadi mau kemana sore sore bukannya dirumah beristirahat malah berkeliling, kan jadi begini. Untung saja tadi aku lewat daerah tempat tinggalmu'' omelnya para Arelea dengan nada khawatir


''Hehe maaf bos aku tadi sangat lapar dan mau membeli makanan diseberang jalan, aku juga tidak tau akan terjadi seperti ini.'' jawab Arelea dengan cengengesan memperlihatkan gigi putih nya


Gabrian menghela nafasnya setelah mendengar jawaban Arelea yang menurutnya sangat aneh, kenapa dia tidak memasak sendiri pikirnya. Jawabannya karena Arelea tak memiliki bahan masakan dirumah.


''Lalu kenapa kau tidak memasak sendiri emm?''


''Aku sebenarnya bisa memasak, tapi aku tidak punya uang lebih untuk membeli sayuran dan daging, paling jika aku beli kan hanya 1.20 Euro saja bos!'' jawab Arelea mencari alasan yang tepat


Gabrian melengos ke arah samping agar wajahnya tidak terlihat menyendu mendengar jawab an Arelea, ''Baiklah, sekarang kamu ingin makan apa?''


''Aku mau makan apa saja bos,'' jawabnya


Gabrian mengelus sebentar pucuk rambut Arelea setelah nya berjalan keluar ruangan menemui dua pengawal yang sedang berdiri didepan ruangan Arelea.


''Tuan muda, ada yang bisa kami bantu?'' Tanya salah satu pengawal setelah membungkuk hormat


''Tolong belikan makanan untuk calon istriku'!'' Perintah Gabrian dengan nada dingin nya


''Baik tuan'' Jawab mereka berdua lalu salah satunya membeli dan salah satunya masih berjaga


'' Alex Nanti jika Arav datang langsung suruh dia masuk'' Ucap Gabrian dingin


''Baik tuan''Jawab pengawal bernama Alex itu


Lalu Gabrian pergi masuk kedalam ruangan meninggalkan Alex yang sedang berjaga diluar ruangan. Kemudian ia duduk di kursi samping ranjang inap Arelea.


''Ada apa bos?'' tanya Arelea menatap kedua mata Gabrian yang sedang menatapnya juga tanpa berkedip


Gabrian tergagap mendengar suara Arelea itu,'' E-eh a-apa, tidka ada apa apa'' jawabnya gugup


Suara didalam ruangan kembali hening tanpa ada yang berbicara sampai pintu ruangan terbuka,


''Permisi tuan muda,''


''Tuan ini makanan yang anda pesan tadi!'' kata pengawal itu sambil menyerahkan paper bag ke Gabrian dan Gabrian langsung diambil dari tangannya

__ADS_1


Gabrian yang melihat pengawal itu melihat lekat ke arah gadisnya, Darahnya mendidih karena terbakar api cemburu


'' TIDAK ADA YANG BOLEH MELIHAT GADISKU LEBIH DARI LIMA DETIK, JIKA ADA AKAN KU CONGKEL MATA MU ITU!!'' ucap Gabrian pelan tapi penuh penekanan di setiap katanya, tentunya hanya bisa didengar dirinya dan pengawal itu saja.


''M-ma-af t-tuan''


''Kalau begitu saya berjaga lagi tuan muda, permisi.'' ucap pengawal itu lalu membungkuk dan pergi keluar ruangan daripada kena amuk tuan muda nya itu


''huuhh... menyusahkan saja'' ucapnya lalu memijit pelipisnya yang agak sedikit sakit


Kemudian ia duduk mengambil piring kosong di laci meja yang lengkap dengan peralatan makan dan meletakkan semua makanan pesanannya itu didalam piring.


''Duduk lah, akan ku suapi'' perintah Gabrian dengan nada lembutnya


''Baiklah.. tapi apa tidak merepotkan bos?''


''kurasa aku bisa sendiri'' jawab Arelea segan


''Duduklah turuti perintah ku'' ucap Gabrian dingin karena merasa tersinggung, ia merasa bahwa Arelea tak nyaman dengannya karena lain hal


Arelea yang mendengar suara dingin pria disampingnya itu langsung duduk dan menerima suapan Gabrian dengan agak takut


Gabrian dengan telaten menyuapi Arelea dan membantu nya untuk minum air karena tangan nya masih di infus. Ia mengambilkan obat Arelea dan juga membantu meminum obatnya agar besok lebih membaik dan juga luka di pelipis nya segera mengering.


''Tidurlah jika kamu mengantuk! Aku akan mengerjakan dua proposal lagi, nanti aku akan menemanimu'' ucap Gabrian dan Arelea mengangguk lucu membuat Gabrian ingin mencubit pipi Arelea


''aww.. lepaskan bos itu sakit'' ucap Arelea sambil mengelus-elus pipinya yang baru saja dicubit Gabrian dengan gemas


''Haha... apakah itu menyakiti mu?... maaf'' ucap nya masih terbahak-bahak melihat Arelea yang sedang mengerucutkan bibirnya


''Hnngg'' hanya itu yang keluar dari mulut Arelea yang masih mengerucutkan bibirnya


''Baiklah.. Baiklah aku minta maaf'' ucap maaf Gabrian sambil mengelus-elus pipi Arelea dengan gemas


Arelea kembali memejamkan matanya mengantuk karena efek obat yang ia minum tadi. Gabrian yang baru saja keluar dari kamar mandi pun langsung mengangkat selimut untuk menutupi sampai dada agar tidak sesak.


Gabrian kembali mengerjakan tugas perusahaan yang ia abadikan tadi sambil meminum coffee yang ia pesan tadi


Sudah pukul satu dini hari ia masih sibuk dengan memperhatikan layar laptop yang ia bawa. Kemudian barulah sepuluh menit setelah nya ia selesai mengerjakan tugasnya lalu tidur bersama di ranjang pasien yang besar karena ruangan ini khusus VVIP.


...*****...


...'Being with someone we love is the most beautiful gift that God has given us, so don't waste it together because we don't know when we can't be with we again.'...


...(Bersama seseorang yang kita cintai adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada kita, jadi jangan sia-siakan kebersamaan karena kita tidak tahu kapan kita tidak bisa bersama kita lagi.)...


Jangan Lupa untuk rate bintang 5


🌹LIKE


🌹VOTE


🌹COMMENT


🌹FAVORIT

__ADS_1


IG\= @_fikria.ns


...🔥 SELAMAT MEMBACA 🔥...


__ADS_2