
Ameera bangun sudah cukup siang kala itu, ini adalah hari sabtu dimana aktivitasnya di kampus libur. Ameera membuka gorden kamarnya, ia melihat jalan yang basah akibat hujan yang baru saja reda. Ia memejamkan matanya sejenak, entah mengapa pagi ini ia sangat merindukan kedua orang tuanya, suasana yanhg hening dan dingin mengingatkannya pada pelukan penuh kasih seorang ibu. Ia menghentikan lamunannya, tak ingin ia bersedih kala ini, banyak hal memang yang harus ia pikirkan untuk keberlangsungan hidupnya. Ameera memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhnya sambil menyalahkan laptopnya, mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.
Dua jam berlalu, suara ketukan pintu membuat Ameera terkejut dan bergegas ia beranjak untuk duduk dan mempersilakan seseorang di balik pintu untuk masuk kedalam kamarnya.
“Non.. sudah bangun?” Tanya pekerja rumah tangga di kediaman itu.
“Sudah… ada apa Bi?” Tanya Ameera.
“Apa non Meera mau makan?”Atau mau makan sesuatu biar saya siapkan..”Ucap seorang pelayan paruh baya itu.
“Aku belum lapar, Bi… tapi sepertinya sayur asam dan sambal terasi enak yaa..” Ucap Ameera membayangkan.
“Non mau?” Tanya bibi, kemudian Ameera mengangguk.
“Baik akan bibi siapkan, Non”
Allhamdulillah, setidaknya masih ada orang yang peduli denganku meski aku tau bibi dan Victor peduli, baik denganku karena mereka bekerja dengan suamiku. – Ameera membatin sambil memandang langit kamarnya.
Ameera melewatkan jam makan paginya, di siang hari ia yang baru saja mandi merasa lapar dan bergegas turun menuju dapur.
“Wihhh” matanya berbinar, Sayur asam yang masih panas, ayam goreng, ikan asin, sambal dan tahu tempe, tersedia di atas meja.. Ameera memang menyukai masakan rumahan, ia pasti akan sangat lahap menikmati masakan tersebut.
“ayok bi, makan..” Ucapnya mengusap-usap perut.
“Non sudah laper ya? Tunggu di meja makan aja ya, biar bibi siapkan..” Kata Bibi.
“Sudah tidak usah..” Ameera menuju laci penyimpanan piring, lalu meraih satu piring.
Ameera mengambil nasi, ayam goreng, sambal tahu dan tempe, tak lupa sayur yang ia pisahkan di mangkuk putih. Dua asisten rumah tangga terkejut saat Ameera duduk di lantai melt\=etakan piringnya.
__ADS_1
“Sini mana mangkuk sayurku? Nikmat sekali makan begini..” Ucap Ameera dengan kesederhanaanya.
“Non, gak salah non makan duduk di lantai begini? Kalo tuan tau mungkin beliau bisa memarahi kami..” Kata salah satu pekerja.
“Kalian tidak menyuruhku, ini kemauanku.. kenapa harus takut di marahi? Sudah cepat ambil makanan kalian dan temani aku makan..” Kata Ameer.
Melihat kesederhanaan dan sikap rendah hati Ameera membuat dua pelayan itu tak segan untuk duduk berdampingan, makan Bersama dengan Ameera di lantai dapur kala itu. Selepas makan siang, Ameera merasa bosan.. ia duduk di ruang televisi menonton beberapa tayangan televisi hingga akhirnya ia terlelap pulas id atas sofa.
Waktu hampir menujukan waktu magrib, Ameera akhirnya terbangun dari tidurnya, ia merasa cukup fresh kala itu bisa beristirahat dengan nyaman dan nyenyak meski hanya di atas sofa kala itu. Victor menyadari kini Ameera sudah terbangun dari tidurnya, bergegas ia menghampiri Ameera.
“Mbak.. sejak tadi ponsel mbak Meera berbunyi, dan saya melihat sekilas tadi Pak Rudi yang menghubungi..” Ucap Victor.
“Oh iya kah? Maaf Victor, aku tidak mendengarnya.. benar-benar nyenyak tidurku..” Kata Ameera dengan senangnya.
“Oh iya Victor, kemana Mas Rumi? Ini kan hari sabtu, apa dia masih bekerja juga?” Tanya Ameera yang tidak melihat Rumi sejak kemarin.
“hemm Den Rumi sedang ada perjalanan bisnis, Mbak.. apa ada keperluan dengan Den Rumi? Bisa sampaikan dengan saya kok.” Kata Victor kala itu.
“Lima sampai tujuh hari..” Jawab singkat Victor.
“Kalau begitu, bolehkah aku menginap di rumah Keyla? Atau Keyla dan Faiz yang menginap disini.. tolong tanyakan itu padanya, ya?” Ucap Ameera smabil berdiri.
“Baik Mbak..”
“Kalau begitu, aku mau ke kamarku, aku akan menghubungi Papa di kamar saja..” Kata Ameera sambil beranjak pergi meninggalkan Victor kala itu.
Di kamarnya, Ameera menyambungkan telfonya dengan Pak Rudi, banyak hal yang terpaksa Ameera tutupi dari Pak Rudi termaksud sikap Rumi terhadapnya.
Aku berdosa sekali, berbohong menutupi sikap buruk Mas Rumi terhadapku.. tapi aku juga tidak ingin memiliki urusan yang akan membuatku nantinya akan membuatku pusing.. Tuhan, maafkan aku yaa, semoga Pak Rudi bisa tahu masalah ini dengan sendirinya saja.. – Ameera membatin usai ia melakukan panggilan telfon Bersama mertuanya.
__ADS_1
*
“Baik Pah, Rumi mengerti.. Ini perjalanan bisnis pertama Rumi tanpa Victor, maka dari itu Rumi sengaja dating lebih dulu agar semua bisa di persiapkan dengan matang disini tanpa tergesah-gesah..” ucap Rumi dalam sebuah panggilan telfon bersama Pak Rudi.
Setelah panggilan telfon itu berlangsung, seorang Wanita berambut panjang keluar dari kamar mandi, memakai handuk kimono putih tebal namun sexy Risca berjalan mendekati posiis Rumi yang tengah duduk di atas kursi.
“Singkirkan saja kelinci itu, aku tidak suka akhir-akhir ini kamu jadi tidak sebebas dulu.. seolah-olah kamu takut dengannya” Kesal Risca sampil duduk di atas meja menghadap persis di hadapan Rumi. Gaya duduknya cukup menggoda, iajuga melingkarkan kedua tangannya di area leher rumi dan berbicara cukup dekat menggunakan hembusan nafasnya.
“Jangan, ini masih dalam level aman.. aku masih bisa mengatasinya asal kamu bisa mnegerti kapan aku membutuhkanmu..” Ucap Rumi pada kekasihnya Risca.
Risca beranjak dari posisinya, berjalan menuju ranjang dan duduk dengan manjanya.
“Apa tidak bisa aku menuntut dirimu untuk menjadi milikku seutuhnya..” Ucap Risca dengan manjanya sambil bersikap seolah merajuk manja pada Rumi.
“Sabar, akan ada waktunya.. intinya jangan membuatku pusing memikirkan cara itu, saat ini aku harus meraih tujuan utamaku menikahi isteriku.. ku harap kamu bisa memahaminya..” Ucap Rumi dengan ketegasannya.
“Bagaimana dengan Victor? Aku tahu dia tidak suka denganku..” Ucap Risca memasang raut wajah sendunya.
“Aku tahu itu, maka dari itu aku memintanya kini mengawasi Ameera, jika dia terus bersamakau tentu dia akan terus mengangguku dan semakin tidak menyukaimu..” Ucap Rumi.
“Oke..oke.. Aku terima alasanmu sekarang, tapi percayalah suatu saat aku pasti akan menuntut hak aku untuk menjadi pendampingmu..” Ucap Risca memberi sebuah peringatan pada Rumi. Rumi hanya terdiam, sambil melakukan aksinya terhadap Risca yang sejak tadi sudah menganggu pikirannya.
*
*
*
Haii.. apa kabar? Bagaimnaa kabar kalian di jumat yang berkah ini?
__ADS_1
Jangan lupa yaa, tinggalkan jejak positive kalian usai membaca, like komen sesuai chapter dan Vote atau satu dua tangkai mawar, bisa juga satu dua cangkir kopi hehe apapun itu aku ucapkan terimakasih yaa..
Salam Cintaku, Mei..