
Rumi memeluk isterinya erat saat tubuhnya seketika bergetar dan jantung yang berdebar cepat.
Rumi membuka cerita terkait foto yang menampakkan sosok misterius di sudut ballroom hotel acara kemarin.
“Aku janji, aku janji akan menjaga kamu” ucap Rumi mendekap isterinya erat.
“Beberapa petugas khusus sudah tiba dirumah, Den” Ucap Victor memberi laporan.
“Baik, kita pulang sekarang..” kata Rumi mengajak isterinya pulang.
“Mas..” terselip keraguan pada diri Ameera.
“Tenang, percayakan pada ku.. ada papa juga yang akan melindungi kita” kata Rumi kembali meyakinkan Ameera.
Perjalanan nampak sangat cepat, rasa cemas Ameera kian memuncaat saat ia akan tiba dirumahnya.
“Mas.. aku takut” ucap Ameera memeluk suaminya tanpa ragu.
“Hussshhh, tenang.. apa yang kamu takutkan? Ada aku, Victor, papa, dan ada banyak petugas profesional disana” kata Rumi menenangkan Ameera.
“Tapi itu bukan bom rakit kan? Aku takut” ucap Ameera yang mendengar praduga seorang satpam pada Victor di sebuah pesan suara yang Victor putar di hadapan Ameera dan Rumi.
“Intinya, kamu tidak boleh jauh dariku. Ya?” Kata Rumi tegas.
Setibanya Di Rumah..
Ameera turun dari mobil dan menuju halaman samping kediaman dimana terbentang halaman luas yang jarang di gunakan untuk bersantai karena kesibukan anggota keluarga.
Terlihat beberapa petugas dengan pakaian khusus, Pak Rudi nampak hadir dengan harapan besar akan terkuaknya sosok tersebut.!
Rumi berbincang senjenak berdua bersama Pak Rudi, tak lama berselang Rumi menyelesaikan diskusi singkatnya lalu ia mengegam tangan Ameera sambil memberi senyum semangatnya untuk sang isteri.
“Buka..” Kata Rumi memberi perintah.
Paket itu di buka oleh petugas yang telah di hubungi oleh Victor sejak tadi, saat itu Pak Rudi juga ikut menyaksikan. Sambil di hantui rasa takut, Ameera berlindung di dalam dekapan suaminya.
Seluruh anggota keluarga kini nampak tegang meski mereka melihat dari jarak lima meter jauhnya.
Paket satu terbuka, isinya adalah sebuah surat yang kemudian di serahkan oleh Victor untuk ia buka.
“Kamu tidak akan tenang..”
__ADS_1
Ameera semakin di hantu rasa takut, ia tidak merasa memiliki seorang musuh kecuali mungkin Risca, Yaa.. saat ini semua memang tengah mencurigai Risca sebagai pelaku utama yang melakukan aksi terror, namun dugaan itu masih ambang bagi Victor.
Mereka mencoba pasrah karena belum memiliki sebuah bukti yang kuat.
Dua, tiga dan empat paket berisikan tulisan yang sama, namu terdapat perbedaan jelas di paket ke lima hingga ke tujuh, paket terlihat lebih berat dan besar.
“Jangan takut, sayang.. ada aku” Ucap Rumi berulang kali sambil memeluk Ameera dengan erat.
“Apa maksud dari ini semua?” Kata Ameera dalam pelukkan suaminya.
Sebuah paket besar itu akhirnya terbuka dan cukup mengejutkan isinya, sebuah foto Ameera di dalam figura yang sudah pecah, paket berikutnya juga demikian, terdapat foto Rumi dalam sebuah Figura yang sudah pecah.
“Usut sampai tuntas!” Kata Pak Rudi.
“Rumi bawa masuk Ameera” Tambah nya memerintah Rumi sambil memasang wajah marahnya.
“Papa juga masuk yuk, istirahat..”Rima merangkul sang Ayah yang dengan kondisi yang tak baik saat itu.
Sore itu menjadi sore yang paling menakutkan bagi ameera setelah kejadian menyakitkan berangsur membaik.
“Apa ini perbuatan Risca?” Tanya Ameera saat keduanya tengah berada di dalam kamarnya.
“Mungkin, tapi aku tau bagaimana Risca, ia tidak memiliki banyak uang tanpa aku untuk menjalankan rencana ini, sedangkan menurut Victor, cukup mahal emmbayar orang suruhan.. apalagi kita lawannya.. tentu tidak sembarangan dia menyuruh orang..” Kata Rumi sambil menejlaskan hasil perbincangannya dengan Victor.
“Banyak kemungkinan, aku dan Victor lebih mengira itu adalah perbuatan pesaing bisnis, saat ini aku dan kamu mulai go public maka semua bisa terjadi.. maka kamu harus mendengarkan apa kataku, semua harus dengan izinku atau izin Victor..”
“Iya aku paham…” kata Ameera pasrah.
“Yaudah.. istirahat. Bagaimana perutmu? Sudah enakan?” Kata Rumi mendekati Ameera sambil memegang perut Ameera.
“Hah .. aku bahkan lupa kalo tadi aku sakit perut” ucap Ameera usai menghela nafasnya.
“Maaf ya jika aku belum bisa membawa perasaanmu kedalam sebuah rasa tenang..” kata Rumi memeluk erat tubuh Ameera.
Suara ketukkan pintu membuat keduanya saling menatap lalu mereka saling melepas tawa kecil mereka.
“Penganggu.. padahal aku ingin memulainnya..” kata Rumi sambil melepas tubuh Ameera dari pelukkannya lalu ia berjalan hendak membuka pintu.
Ameera tersipu malu mendengar ucapan suaminya itu.
Lalu ia mencoba mendekati pintu sambil mendengarkan apa yang victor dan Rumi bicarakan.
__ADS_1
“Ada yang ingin saya bicaraan” ucap Victor sedikit berbisik.
“Baiklah.. tunggu saja di sebelah” kata Rumi. Lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ameera.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan Victor..” kata Rumi lalu Ameera melepas senyum menggodanya.
"Apa aku gak boleh ikut?" Kata Ameera penuh harapan.
"Hem.. untuk apa? Ini pembahasan laki-laki loh" kata Rumi menahan keinginan Ameera.
"Yaudah aku mandi saja" kata Ameera menjauhi posisi Rumi.
"Nah.. lalu siap-siap, ya?" Kata Rumi dengan ucapan ambigunya.
"Tentu.. siap-siap tidur" kata Ameera sambul masuk ke dalam toilet.
Benar- benar menggemaskan.. - Batin Rumi sambil terkekeh .
*
Di dalam Ruang Kerja Rumi.
“Den, baru saja Argha menghubungi saya menanyakan Mbak Ameera, dari suaranya terdengar suara seseorang yang tengah panik” kata Victor tentu mengundang tanya Rumi.
“Ada perlu apa? Gigih sekali usahanya padahal sudah aku block” ucap Rumi tertawa jahat.
"Tunggu dulu, dia menanyakan Ameera? Apa dia tau kejadiaan yang baru saja terjadi? " kata Rumi penuh kecurigaan.
"Mungkin dari sahabatnya, Keyla" kata Victor menerka.
"Keyla sedang berada di Bandung, dan Keyla nampaknya sudah malas untuk meladeni Argha... jadi janggal bagi ku kalau sampe Argha menanyakan Ameea." Ucap Rumi dalam hatinya ia menyimpan kecurigaan mendalam.
"Baik jika memang begitu, saya akan selidiki.." kata Victor mengambil tindakan khusus untuk mengintai Argha.
"Yaa kerjakan serapih mungkin, untuk saat ini kurangi meeting di luar, lakukan saja via online, aku juga harus menjaga Ameera.." kata Rumi mengambil sikap .
"Baik Den.." ucap Victor kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu untuk menjalanlan tugasnya.
*
*
__ADS_1
*