
Ameera terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara gemericik air samar, nampaknya Rumi sudah mandi pukul lima pagi.
Tumben sekali, jam lima pagi Mas Rumi sudah bergegas mandi, apa dia akan pergi pagi-pagi sekali? - Ameera menyadari.
Ameera juga baru menyadari kalo dirinya berada di atas kasur empuknya. Ameera merasakan getar di area kepalanya ternyta itu getar dari ponsel Rumi yang berada di antra bantalnya juga bantal Rumi.
Entah mengapa, Ameera ingin sekali melihatnya. Matanya menajam memahami isi pesan yang hanya terlihat sepenggal karena ia melihatnya hanya dari wajah depan ponsel.
Rumi.. mama harap kamu bisa memaafkan mama.. mama ingin pergi dengan tenang, mama hanya ingin kamu, kamu tidak perlu membayar semuanya, itu tak berguna rasanya..
Jantung Ameera berdegup kencang membaca pesan singkat itu.. Apa yang tengah terjadi? Rasanya Mas Rumi memang menyembunyikan sesutu dariku.. terkait ibunya! Apa aku harus tanyakan langsung padanya?
Ameera merasakan pergerakan Rumi yang sudah menyelesaikan mandinya, Ameera berpura-pura untuk tidur, ia ingin melihat apa yang suaminya akan lakukan, pergi tanpa pamit atau akan membangunkan Ameera.
Ameera mengintip dari celah matanya, ia nampak bingung saat melihat suaminya meraih kain sarung dan sajadah. Ameera ingin menangis melihat suaminya beribadah, ini adalah kali pertama Ameera melihat itu, apa yang membuatnya senang dan bahagia hingga air matanya menetes.
Setelah menyelesaikan sholat dan merapihkannya dengan sangat rapih, Rumi tidak langsung menbangunkan Ameera, ia membuka ponselnya lalu membaca pesan singkat yang sebelumnya di baca oleh Ameera.
Di waktu yang masih sangat pagi itu, Rumi berusaha melepas bayang sang ibu, ia mencoba membangunkan Ameera sambil bergegas memakai pakaian yang ia ambil dari lemari.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ameera.
"Kantor sayang.." jawab Rumi seakan ia tengah menghindar dari Ameera.
"Sepagi ini? Bahkan kamu tidak menungguku menyiapkan pakaian kerjamu" kata Ameera nampak sendu, Rumi yang sedang mengancingkan bajunya sempat terhenti sejenak, Astaga.. aku lupa.. Batin Rumi.
"Aku buru-buru.. kamu juga harus bangun dan sholat, kan?" Ucap Rumi mencari pembenaran diri.
"Oh begitu ya pikiranmu, mas" kata Ameera lalu Rumi hanya membalasnya dengan senyumannya singkatnya.
Ameera mencoba mengabaikan Rumi, ia beranjak ke kamar mandi untuk mensucikan diri.
Ameera keluar kamar mandi, dan yaa Rumi sudah rapih meski waktu masih menujukkan pukul lima lewat dua puluh menit.
"Aku berangkat ya?" Kata Rumi.
Ameera hanya mengangguk cuek,.
"I love You, aku tidak ingin membatalkan wudhumu.. aku berangkat yaa" kata Rumi meninggalkan Ameera begitu saja.
Tatapan Ameera kini mengandung bendungan air di matanya, dan yaa mengalir air mata itu karena kekecewaan Ameera.
Ameera melanjutkan sholatnya meski tak tenang pikiran juga hatinya saat ini untuk menerima sikap Rumi saat itu.
__ADS_1
Sejak kemarin kamu sudah cuek, dan hari ini kamu pergi begitu saja seolah menghindar dariku..
*
Ameera merasa jenuh berada di kediaman mewah itu seorang diri, Ameera akhirnya memutuskan diri untuk pergi ke kampus pagi itu.
"Duh Non, apa Non Meera sudah izin dengan Den Rumi atau Komandan Victor?" Ucap Satpam kediaman mewah itu.
"Sudah" kata Ameera singkat.
"Tapi Non, dari Komandan dan Den Rumi tidak ada Yang konfrmasi kepada kami.." jawabnya penuh rasa takut.
"Kalian tau kan? Victor sibuk mengurus ibunya dan disana susah sinyal kabarnya..lalu Mas Rumi, dia kan sedang sibuk, kalian liat kan sepagi apa suamiku meninggalkan Rumah.." kata Ameera mencoba menyakinkan satpam itu.
"Baiklah Non, kalo bgitu Non Ameera harus pergi dengan supir" kata security itu.
"Iya baiklah.." kata Ameera menyetujuinya.
Ameera pun akhirnya bisa keluar rumah meski harus dengan pengawasan supir pribadinya. Di tengah jalan, Ameera merasa lapar dan ingin sekali membeli kopi juga roti manis kesukaannya.
Ameera berhenti di sebuah outlet kesukaannya, meski bukan outlet mewah namun ia cukup menyukainya.
Ameera terkejut saat tangannya di genggam seseorang..
"Astaga kak Argha.." Ameera terkejut sambil berusaha ia melepas genggaman tangan Argha.
"Aku sedang memesan cake disana" kata Rumi memberikan penjelasan.
"Oh begitu.." kata Ameera singkat.
"Meer, boleh kita ngobrol?" Pinta Argha.
Ameera nampak ragu, jelas terlihat dari wajahnya.
"Please.. aku ingin berbincang soal Keyla" ucap Argha memohon.
Ameera menyimpan rasa penasarannya terhadap perasaan Argha kepada Keyla, namun untuk berbincang bersama tentu akan mengundang amarah Rumi jika ia mengetahui nya.
"Please Meer, jika perlu di saksikan oleh supirmu, gapapa.." kata Argha nampaknya sudah sangat stres dengan keadaan saat ini.
Ameera mendengar itu merasa iba dan akhirnya ia pun menerima tawaran itu, mereka duduk di cafe tersebut, dan Ameera meminta supirnya untuk menjadi saksi perbincangan keduanya.
"Aku merasa kehilangan Meer, banyak hal yang biasa aku dan Keyla lakukan berdua.. tapi aku merasa Keyla spontan menjauhiku.." jelas dari wajah Argha betapa ia tersiksa jauh dari sosok Keyla.
__ADS_1
"Kak Argha, jangan membuat sahabatku menangis meski aku pernah menyakitimu, aku minta maaf tapi jangan kamu menyakiti Keyla.." kata Ameera seakan memohon pada Argha.
"Menyakiti? Aku menyakiti Keyla? Terkait apa? Aku justru bingung dengan sikapnya, tiba-tiba dia mengundurkan diri dan memblokir nomer ponselku, sudah dua minggu aku tidak bertemu dengannya, Ameera.." kata Argha begitu meyakinkan.
Disaat obrolan itu berlangsung ponsel Ameera berdering, ternyata itu adalah Rumi.
Ameera memilih untuk menerima panggilan itu terlebih dahulu.
Rumi tidak banyak berkata-kata hanya ia meminta Ameera untuk segera pulang!
Ameera nampak ketakutan, meski ia sedang kecewa dengan sikap Rumi nanun ia tetap memiliki rasa takut pada Rumi terlebih saat dirinya tengah marah.
"Maaf Argha, aku harus pulang.." kata Ameera yang belum sempat menjelaskan perasaan Keyla terhadapnya.
"Tunggu Meer.." Argha menahan Ameera memegang pergelangan tangan Ameera, dengan cepat Ameera melepaskannya.
"Kamu belum menjelaskan ada apa dengan Keyla? Apa salahku?" Ucap Argha menuntut penjelasan Ameera.
"Peka terhadap perasaan Kak, kamu ini jangan menutup hatimu karena kekecewaan mu terhadapku.. percayalah aku memang bukan takdir mu, dan belajarlah peka pada hatimu.. hatimu yang tahu, aku yakin kamu sangat tersiksa tidak mendapat kabar dari Keyla, maka tanya hatimu.." kata Ameera tegas.
"Aku permisi" tambah Ameera beranjak pergi meninggalkan cafe itu.
Selama perjalanan pulang, tentu Jantung Ameera berdebar kencang, pikirannya melayang.
"Pak.. apa bapak bilang Mas Rumi kalo kita ke caffe tadi?" Tanya Ameera.
"Saya lapor komandan Victor, Non.." ucapnya.
Pantas saja.. - Batin Ameera merasa akan ada masalah yang akan menimpahnya.
*
*
*
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
Mei 🥰
♥️♥️
__ADS_1
Karena ada kegitan RLku yang tidak bisa aku tinggalkan, maka Selama 8-10 hari kedepan, aku akan up GPLP setiap hari 1 chapter di jam 17.00 WIB.
Jangan lupa tinggalkan jejak kesetiaan kamu yaa, aku akan pilih 3 orang untuk dapat GA dariku.. ♥️