GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Nasib Victor


__ADS_3

“Aku hanya memintamu untuk membuka bajumu, BUKAAA!!” Ameera berteriak di akhir ucapannya.


“Tidak berani?” Ucap sinsi Ameera..


“Buka.. aku ingin melihat luka di bahumu..dan tentu tanda lahir di bahumu itu.” Ucap Ameera lagi dengan snagat berani.


Rumi terdiam tanpa ada pergerakan apapun kala itu, jantungnya kini berdebar dan Nampak wajahnya terlihat panik.


“HAHA” Ameera tertawa dalam tangisnya saat itu.


“Kamu.. Kamu kan yang melakukan hal bejat pda malam itu? KAMU KAANN??” Ameera benar-benar tidak memiliki rasa takut pada Rumi saat itu, ia benar-benar di rasuki keberanian untuk memperjuangkan harga dirinya.


“Iya.. aku yang melakukannya!” Ucap Rumi pelan.


Ameera memukul dada bidang Rumi sambil emnangis histeris.


“BRengsek kamu, Mas! Kamu yang ternyata merenggut kesucianku, kamu yang menghancurkan segala mimpiku!! Kamu keterlaluan! KAMU.. KAMU benar-benar Iblis!!” Ucap Ameera, ia meraih ponsel dan tas mininya. Rela Ameera meninggalka pakaiannya lalu ia pergi meninggalkan Rumi yang tengah diam mematung.


Menyadari kepergian Ameera, Rumi berusaha mengejarnya dan mengahadangnya di lantai bawah kediamannya itu.


“kamu tidak bisa seenaknya saja pergi dari rumah ini..!” Ucapnya tegas pada Ameera.


“Kenapa? Setelah apa yang kamu perbuat terhadap saya? Kamu merengut semua kebahagaiaan saya? Hanya karena kamu pikir saya Wanita penggila uang??” Ameera berteriak hingga suaranya cukup menggema kala itu.


“Saya?? Lihat saya! Saya Wanita tiga milar yang kau rendahkan, tapi kamu juga yang merengut paksa kesuciaannya!! Bejat..!!” Ucap Ameera kesal sambil menujuk wajah Rumi dengan telujuknya.


“Kamu tau? Kamu seperti laki-laki yang tidak bermoral…!! NOL!!” Ucapnya, merasa kesal dengan ucapan Ameera, rumi melayangkan tamparannya yang cukup keras karena emosinya sudah emmuncak.


PLAAK… tubuh Ameera tersungkur ke lantai, keningnya membentur ujung meja hingga sangat sakit terasa, hingga Nampak luka yang mengeluarkan darah kala itu.


“Jangan bicara sembarangan tentangku!!” Kesal Rumi membentak Ameera.


“Dimana letak ucapanku yang kau anggap sembarangan? DIMANA??” kesal Ameera sambil merasakan sakit pada keningnya.

__ADS_1


“Berani kamu keluar dari rumah ini, aku tidak segan membuat hidupmu semakin hancur beratakan!” ANcam Rumi tanpa memiliki rasa kemanusiaan ia pergi meninggalkan Ameera, rumi melangkah pergi menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Ameera masih tersungkur menangis histers kala itu sambil merasakan sakit pada keningnya.


Sejak tadi, Victor melihat menyaksikan pertikaian keduanya, rasa ingin mengehntikan sikap Rumi Tadi nampaknya akan sia-sia.. ia lebih cepat menampar Ameera kala itu. Setelah tidak melihat bayang Rumi, Victor mencoba untuk menghampiri Ameera.


“Saya bantu, Mbak..” Ucap Victor membantu Ameera bangkit dari posisinya.


“Duduk, saya ambilkan minum..” Ucap Victor membantu Ameera duduk lalu mengambilkannya minum.


Ameera meneguknya sedikit, tangannya masih saja gemetar dan ia masih terus menangis.


“Saya tidak bisa melakukan apapun, mbak.. saya juga tidak tahu masalah apa yang tengah terjadi antara mbak Meera dan Mas Rumi..” Ucap Meera.


“Tidak apa, terimakasih… tapi Victor, sepatu yang aku lempar tadi benar milik Mas Rumi kan?” Tanya Ameera.


“Iya benar, itu sepatu yang di belikan Ibunya Den Argha.. biasa di kenakan untuk golf..” Ucap Victor, jawaban Victor menambah luka dalam hati Ameera kala itu.


“Maaf kenapa Mbak malah semakin isak? Ada apa dengan sepatu itu?” Tanya bingung Victor.


“Adakah kamar tamu yang bisa aku jadikan kamar sementaraku? Aku butuh tenang seorang diri..” Ucap Ameera, Victor mengangguk.


Victor membawa Ameera menempati sebuah kamar tamu yang langsung tembus ke arah taman samping, taman yang di isi dnegan banyak tanaman hijau, bunga – bunga yang bermekaran, saying hari sudah cukup gelap kala itu.


“Tinggalkan aku sendiri, Victor..” Ucap Ameera, Victorpun menuruti permintaan Ameera.


Ameera mengunci kamar itu, tak lupa pula ia mematikan ponselnya, Ameera benar-benar berada dalam keadaan down, hanya kesunyian yang kali ini ia inginkan.


Sementara itu Victor menghampiri Rumi yang tengah duduk terdiam di ruang kerjanya.


“Den..” Rumi mengabaikan sapaan Victor.


“Mbak Meera berada di kamar tamu, dia sangat sedih dan nampaknya banyak sekali beban dalam dirinya.. Sebenarnya ada masalah apa, Den?” Tanya Victor mencoba mencari tahu masalah yang terjadi.


“Aku memperkosa Ameera, sebelum pernikahan kami.. dan Ameera baru mengetahuinya..” Ucap Rumi tanpa menatap Victor, tatapan Rumi kini kosong menghadap kea rah jendela.

__ADS_1


“Apa?” Victor terkejut atas pengakuan Rumi kala itu.


“Mengapa Den Rumi melakukan hal itu? Tubuh Mbak Meera sangat dingin dan tangannya terus bergetar …” Ucap Victor pada Rumi.


“Entahlah.. jangan tanyaka itu sekarang… tapi suruhlah dia bersikap santai, toh dia saat ini sudah menjadi isteriku kan? Apa yang harus ia sesali dan khawatirkan?” Ucap Rumi Masih meninggikan egonya.


“Dia disini juga hidup enak, penuh kecukupan dan terjamin adanya..” Ucap Sombong Rumi.


“Wanita itu memiliki nilai sensitive yang berbeda pada perasaannya, Biasa saja bagi kita, namun akan menjadi sesuatu yang luar biasa bagi kaum Wanita..” Ucap Victor mengungkapkan pendapatnya.


“Halah, apa yang kamu tahu soal Wanita? Punya kekasihpun tidak kan?” UCap sinis Rumi.


“tapi saya bisa melihat ketulusan hati Mbak Meera, dia juga sangat baik dan patuh pada segala perintahmu…kalau saja Den Rumi mangatakan itu pada Risca mungkin Risca bisa menerimanya, tapi tidak dengan Ameera, Kamu melecehkan dia sebagai Wanita baik dan suci, dan Ameera baru mengetahui hal ini sekarang.. apa Den Rumi mengerti perasaan Mbak Meera saat itu? Masalah betubi-tubi datang di tambah perlakuan Den Rumi itu..” Ucap Victor yang sudah tidak tahan menjaga ucapannya.


“Asal Den Rumi tahu, Netizenpun sampai berkomentar menyarankan Ameera untuk bunuh diri saja.. dimana Perasaan Den Rumi? Bagaimana jika hal bodoh itu terjadi? Siapa yang mau bertangung jawab? Netizen? Atau Den Rumi?? Atau mungkin Author?? Kesal Victor sambil mengingat komentar Netizen kala itu.


Rumi Terdiam sejenak, kepalanya semakin pening di tambah tubuhnya yang terasa sangat Lelah kala itu karena perjalanan bisnis plus-plusnya.


“Pergilah, aku ingin tidur..” Ucap Rumi cukup santai tanpa ada sikap emosional yang ia berikan pada Victor. Tanpa perkataan apapun Victor meninggalakan Rumi seorang diri di ruangannya.


Mereka yang berumah tangga, aku yang pusing.. padahal merasakan membina rumah tangga saja aku belum pernah.. sungguh miris nasibku ini.. – Ucap Kesal Victor sambil berjalan melangkah menuruni anak tangga.


*


*


*


Huhhhhhhh Lega ga? Heheh jangan lupa jejak bacanya yaa ..


Terimakasih yaa, Salam Cintaku..


Mei..❤️

__ADS_1


__ADS_2