GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Si Pembuat Roti Cinta


__ADS_3

Bisikkan Untuk Kita:


Jika dari sebuah perspekif zaman mengatakan bahwa Fisik lebih penting dan sering di agungkan, lantas mengapa Jiwa di angkat sampai ke langit sementara Fisik dibiarkan membusuk begitu saja?


*


Malam itu, hujan turun sangat lebat hingga membuat kemacetan dan beberapa pohon tumbang di daerah Jakarta. Rumi dan Victor masih berada di jalan karena terjebak oleh kemacetan. Mereka melewati sebuah halte dimana Victor yang duduk di kursi kemudi dengan jelas melihat sosok Ameera yang tengah berdiri sambil memeluk tubuhnya sendiri.


“Den.. Itu Mbak Meera kan?” Kata Victor langsung membuat Rumi yang tengah bersandar karena lelah langsung melirik ke arah yang Victor tunjuk.


“Iya sepertinya itu Ameera..” Ucap Rumi yang juga meyakini itu adalah Ameera.


“Dia nampaknya tengah menunggu angkutan umum untuk pulang..” Kata Victor.


“bagaimana Den? Kasihan Mbak Meera pasti kedinginan” Kata Victor berusaha memunculkan rasa iba pada diri Rumi terhadap Ameera.


“Aku akan menghampirinya, Ada payung?” Tanya Rumi.


“Ada den Di kursi paling belakang..”


Rumi langsung mengeceknya dan bergegas mengambilnya.


Rumi membuka Pintu mobil sambil membuka payung dan ia berjalan melewati genangan air menuju halte.


“Meera..” sapa Rumi.


“Mas Rumi..??” Denyut jantung Ameera berdetak kencang tak beraturan saat itu.


Astaga, apakah aku ini tengah bermimpi? Apa tidak salah yaa, ini Mas Rumi kah? Turun dari Khayangan, eh maksudku dari mobil..- Ameera nampak gugup kala itu


“Masuk ke mobil..” Ucap Rumi yang nampakknya juga gugup kala itu.


“Tidak mau, biar saja aku menunggu hujan Reda..” kata Ameera masih dengan pendiriannya.


“Untuk saat ini buang dulu egomu, di depan ada pohon tumbang dan genangan air cukup tinggi, mau sampai kapan kamu menunggu angkutan umum?” Kata Rumi, Ameera juga sudah merasakan dingin angin yang menembus hingga ke tulangnya.


“Tenang saja, aku akan mengantarmu kerumah..” Ucap Rumi, Ameera kemudian menyetujui hal itu.


Dibawah Payung yang tak seberapa besar, Rumi reflek mendekap Tubuh Ameera, karena angin yang membawa juga rintikan hujan membasahi Sebagian Tubuh Rumi juga Ameera, keadaan saat itu tentu membuat Ameera juga langsung mendekap ke arah Rumi.


Keduanya sudah masuk kedalam mobil, Rumi langsung memberikan satu buah handuk untuk Ameera, Rumi juga mengambil jas kerjanya di belakang untuk Ameera kenakan agar tubuhnya dapat terasa hangat.


Victor menyaksikan sendiri gerak gerik pasangan itu yang secara natural tanpa mereka sadari mereka sling memberi perhatian kecil.


Ameera memberikan handuk pada Rumi, Rumi memberikan jasnya pada Ameera begitu hal kecil yang terjadi secara natural tanpa mereka sadari Victor tengah memantau gerak gerik mereka dari pantulan kaca tengah.


Ameera nampaknya lebih dulu sadar, ia menatap Victor penuh malu, maka ia langsung saja membuang pandangannya.

__ADS_1


Sepertinya Mbak Meera malu tertangkap basah melakukan hal yang memang sewajarnya ia lakukan. - Victor membatin.


“Mbak Meera apa kabar?” Sapa Victor menambah gugup Ameera.


Kenapa harus menyapaku?? Astaga aku malu sekali kalo victor sejak tadi memperhatikan sikapku pada Mas Rumi.. - Ameera membatin.


“Baik.. kamu sendiri apa kabar? Bagaimana kabar ibumu?” Tanya Ameera.


Kenapa Ameera menanyakan keadaan Ibunya Victor? Apa dia tau keadaan sesungguhnya yang tengah di alami oleh Ibunya Victor? Se dekat itu kah mereka di belakangku? - Rumi membatin.


“Kabar saya baik, dan kabar ibu saya juga baik..” Kat Victor menjawab pertanyaan Ameera.


“Victor, perempatan depan ambil kanan saja, kita antar Ameera dulu..” Ucap Rumi memotong pembicaraan.


“Baik Den..”


Selama perjalanan nampaknya terjadi keheningan di dalam mobil tersebut, Ameera merasa kantuk akibat cuaca dingin dan jalan yang sangat padat di penuhi kendaraan.


Ameera akhirnya terlelap, Rumi pun menyadarinya.


Dasar puteri tidur, mudah sekali sih dia untuk tertidur dimana pun itu tempatnya.. – Ucap Batin rumi kala itu.


Setelah satu jam tiga puluh menit, mereka tiba di depan toko roti yang menjadi tempat tinggal ameera saat ini. Rumi akhirnya membangunkan Ameera.


“Ini kok gelap sekali ya?” Kata Victor usai merubah mode lampu mobilnya.


“Apa tidak sebaiknya, Mbak menginap dulu di rumah utama.. kan ada Non Rima..” Kata Victor memberi saran.


“Tidak.. Aku ada lilin di dalam, tidak masalah kok.” Ucap Ameera dengan yakin ia turun dari mobil.


“Den.. bersikaplah sedikit, kasihan loh Mbak Meera jika harus bermalam gelap-gelapan seorang diri..” Kata Victor yang tengah membuat keadan seolah menyeramakan bagi Ameera seorang diri.


“Aku harus apa?” Bingung Rumi harus melakuakan apa saat itu.


“Yaa simplenya temani saja Mbak Meera, saya akan bantu mencari lilin atau lampu emergency..” Kata Victor.


Rumi memutuskan mengikuti Ameera membuka pintu dan membantu Ameera menerangi sekitar dengan Flash ponselnya.


“Kamu ngapain disini? Itu kenapa Voctor pergi?” Tanya Ameera heran.


“Dia mau mencari Lilin atau lampu penerang tanpa listrik.. sudah aku bisa menemanimu disini dulu..” Kata Rumi sambil berjalan pelan mengekor di belakang ameera.


Di tengah kegelapan, Suara petir mengejutkan keduanya hingga Ameera reflek berlindung kedalam pelukan Rumi sambil berteriak.


"Duh.. tenang, jangan mengagetkan aku.." keluh Rumi yang juga terpingkal karena terkejut .


"Aku kaget!" Kesal Ameera membela diri.

__ADS_1


“Sudah, kita masuk saja…” ucap Rumi sambil kembali ia menutup pintu dan mendekap Ameera.


Dug dug dug.. suara detak jantung Rumi terdengar jelas oleh telinga Ameera yang menempel di dada bidang Rumi.


“Dimana lilinnya kamu simpan? Ponselku juga tidak memiliki banyak daya..” kata Rumi .


“Atau aku suruh Victor segera Kembali ya? Kita kerumahku saja, paling tidak disana ada genset kalo memang terjadi pemdaman listrik..” Kata Ameera.


"Sana, kamu saja pulang aku akan tetap disini" kata Ameera yang tengah mencari lilin di laci penyimpanan.


Dasar wanita, kadang di sarankan hal yang baik malah memilih hal-hal yang menyulitkannya sendiri.. - Rumi membatin sambil memberi penerangan lewat ponselnya.


"Korek mu mana, mas? Nyalahkan lilinnya" kata Ameera, Rumi merogoh kantung celananya lalu ia meraih korek dan menyalahkannya ke arah sumbu lilin.


"Mandilah, tubuhmu tadi basah.. nanti kamu sakit" ucap Rumi.


"Aku mau masak air panas dulu" ucap Ameera menuju dapur.


Dari penglihatannya, Rumi melihat beberapa peralatan baking dan beberapa bahan di atas meja. Insting Rumi kini bermain dengan cepat.


Apa mungkin Ameera membuat Roti? Apa roti yang aku makan sejak kemarin itu adalah roti buatan Ameera? Dan Rima menyebutnya Roti Cinta???? - Rumi membatin dengan beberapa tebakan yang terlintas di pikirannya.


"Ameera, apa kemarin Rima datang kesini?" Tanya Rumi lalu Ameera menjawab dengan sebuah kejujuran yang mengejutkan Rumi.


"Iya, dia membeli beberapa roti untuk temannya yang sedang hamil, ngidam gitu deh.."


Rumi menghela nafasnya, benar dugaanku.. batinnya sambil merasa kesal atas alasan yang di buat oleh Rima.


Awas kamu Rima, tega-teganya kamu menyamakan kakakmu dengan wanita hamil yang tengah ngidam... Keterlaluan!!


HAHAHA


*


*


*


HAI HAI HAI..


Next Chapter kita masuk ke kisah romantis uwuw uwuw yuk, sebelum masuk lagi ke melow melow menusuk jantung hehehe


Anggap saja sedang naik roller coaster yaa hihi


sssttt jangan lupa jejek nya yah, Rate, like, komen dan jika berkenan boleh mawar dan atau kopinya yaa 🥰


Salam Cintaku,

__ADS_1


Mei..


__ADS_2