
Victor mengetuk perlahan pintu ruang kerja Rumi yang tidak tertutup rapat.
“Permisi Den..” Ucap Victor Pelan.
“Ada apa? Masuk saja” Kata Rumi dengan nada datarnya.
Victorpun masuk dan berdiri di hadapan meja Rumi.
“Den.. Tuan jatuh sakit, kemarin Tuan terkena serangan jantung ringan..” Ucap Victor menjelaskan keadaan Pak Rudi kala itu.
“Sudah bawa ke rumah sakit?” Tanya Rumi masih dengan nada yang sangat dartar tanpa semangat.
“Tuan menolak di bawa ke rumah sakit, dia hanya ingin di periksa oleh dokter Arnold..” Kata Victor.
Rumi menghela nafasnya kasar, lalu ia berdiri ke arah jendela ruang kerjanya. Rumi menatap pepohonan yang tengah bergoyang karena hebusan angin di siang hari itu.
“Aku harus apa? Aku sudah tidak sanggup lagi rasanya untuk selalu mengikuti keinginannya.. aku merasa ini bukan diriku lagi.. “Kata Rumi berkeluh kesah.
“Maksud Den Rumi apa? Tidak sanggup yang bagaimana? Bukankah Tuan sudah sangat berbaik hati memberikan semuanya untuk Den Rumi?” Tanya Victor.
“Semua yang ia berikan tidak tulus, aku harus menikah dan harus mencintai Ameera, sementara aku tidak bisa.. Ameera juga tidak menyukaiku..” Kata Rumi berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Tapi Den, jika memang perpisahan adalah jalannya.. maka harus ada waktu yang tepat untuk membicarakannya pada tuan..” Ucap Victor seolah memperingati Rumi.
*
Sementara itu, Ameera tengah bercerita banyak tentang kehidupannya sebelum mengenal Rumi kepada Rima. Rima juga ikut menitihkan airmatanya, ia merasa sangat sedih dan sakit hatinya mendengar cerita dari Ameera kala itu.
“Aku semakin membenci kakakku sendiri.. aku pikir dia tulus menyayangimu, ternyata dia bermain gila dengan perempuan yang gak kalah gilanya..” Ucap Rima merasakan kekesalan yang mendalam terhadap Rumi.
Andai kamu juga tahu kalau kakamu juga bersikap kasar, Rim.. – batin Ameera dengan batin sendunya.
Pintu kamar Ameera terketuk, lalu bibi masuk dan menyampaikan sebuah pesan..
“Den Rumi, Non Meera dan Non Rima di panggil Tuan di kamarnya sekarang..”
__ADS_1
Ameera dan Rima saling menatap beradu pandang.
“Aku takut..aku tau papa sangat kecewa denganku..” Ucap Ameera memegang tangan Rima denganerat.
“Tidak usah takut, papa bukan type orang yang gemar marah-marah seperti kak Rumi..” Ucap Rima menenangkan.
Ameera terus mengengam tangan Rima karena takut, terlebih ia melihat wajah Rumi.. seketika pikirannya mulai mengingat kejadian subuh tadi, dimana Rumi terlihat tak berdaya dengan wajah memerahnya. Tak dapat ia pungkiri, rumi memang tampan, gagah dan pasti menjadi idola banyak wanita, namun semua kelebihan Rumi seketika di tepis karena sikap kasar dan arogan Rumi terhadap Ameera.
"Sudah kumpul semua ya? Baiklah papa langsung saja pada intinya yaa"
"Rumi… “ Panggil Pak Rudi.
“Iya, Pah..” sahut Rumi..
“Utarakan saja inginmu, maka papa akan menangapi sesuai dengan keinginan papa..”Ucap Pak Rudi.
“Pah, sudahlah, jangan di bahas dulu.. pikirkan kondisi papa yang jauh lebih penting..” Ucap Rumi yang sesungguhnya tengah bimbang dalam hatinya kini.
“Tidak, katakan saja apa keinginan kamu? Dan juga Ameera..” Ucap Pak Rudi.
“Rumi pasrah saja pada keputusan Ameera, pah..” Ucap Rumi kemudia, Ameera akhirnya terkejut karena Rumi melempar jawaban itu pada Ameera.
“Nak.. silahkan jawab.. atau ceritakan saja apa keluh kesahmu..” Kata Pak Rudi.
Rima tersenyum pada Ameera yang memandangnya.
“Maaf pah, nampaknya aku sulit untuk mempertahankan semuanya.. jika Mas Rumi tidak bisa menerima takdir ini maka jangan di paksakan, karena seterusnya nanti akan menjadi duri dalam rumah tangga ini, maka harapanku sebagi seorang perempuan, dan demi kehormatan kita Bersama maka yaa sudahi saja pah..” Ucap Ameera dengan suara gemetar.
“Astaga, Ameera.. apa kamu yakin?” Ucap Rima nampak sangat sedih.
“Aku tidak ingin punya kakak ipar seperti Kekasihmu kak, bisa tercoreng nama baik keluarga kita..” Ucap Rima kesal pada Rumi.
“Kamu sudah mendengar ucapan Ameera, apa tanggapanmu?” Tanya Pak Rudi pada Rumi.
“Aku tidak tahu..” Ucap Rumi cepat.
__ADS_1
“Kamu ini laki-laki kak, harusnya kamu bisa memilih kamu bisa dong menilai mana yang sekiranya baik dan mana yang sekitanya buruk? kamu bilang membenci sebuah pengkhianatan tapi kamu malah mengkianati kita semua.. dimana sih nurani kamu?” Kesal Rima yang dengan lantang berani berbicara segala isi hatinya di hadapan Rumi.
“Meera, please jangan mau kalah dengan perempuan itu dong, kamu punya hak untuk mempertahankan rumah tanggamu ini..” Ucap Rima sibuk mempersatukan kakaknya dengan Ameera.
“Pah.. ambilah keputusan yang bijak..” Rengek Rima pada ayahnya.
“Aku bisa saja mempertahankan, namun tidak ada cinta dihatiku, untuk Ameera..” Ameera merasa sedikit sakit hatinya mendengar ucapan rumi, meski ia juga sebenarnya belum memiliki sebuah rasa untuk Rumi secara khusus.
“Cinta bisa hadir kalo kalian bisa bersikap manis, saling perhatian satu sama lain, percayalah di tempatku berkuliah semua mengatakan cinta tumbuh karena kebersamaan..” Ucap Rima.
“Rima.. biar papa bicara dulu..Papa sudah memiliki sebuah keputusan sebelum mendengar ucapaan kalian..” Ucap Pak Rudi sambil mengusap-usap dadanya.
“Kalian tidak bisa bercerai selama kamu bisa memberikan saya minimal satu orang cucu… setelah satu cucu kamu lahirkan dari rahimmu, dan itu adalah anak dari Rumi, maka saya akan menyerahkan semuanya pada kalian jika peceraian adalah akhir..” Ucap Pak Rudi.
Ameera terkejut dengan keputusan yang di buat oleh mertuanya, ia kembali mengingat kondisi dirinya yang akan sangat sulit mendapatkan anak karena kondisinya yang sudah tak sempurna lagi. Ameera terdiam, seketika tubuhnya lemas membayangkan betapa sulit ia harus bertahan dengan Rumi.
“Astaga pah, apa tidak ada yang lain? Jika kami bercerai saat ada ana kapa tidak kaishan dnegan anak kami?” Ucap Rumi dengan nuraninya.
“Dan bagaimana jika Ameera di takdirkan lama memiliki keturunan? Kapan kami bercerai..” Ucap Rumi tanpa ia mengetahui keadaan Ameera, namun ucapan Rumi sontak mengejutkan Ameera.
“papa beri waktu enam bulan, jika belum berhasil juga maka silahkan berpisah sesuia dengan keinginan kalian, tapi jangan jalian anggap aku sebagai papà kalian" Tambah Pak Rudi lalu ia meminta ketiga anaknya keluar dari kamarnya, ia menghela nafasnya yang berat penuh dengan beban.
Tuhan, aku harus apa? Bagaimana aku bisa hamil? Untuk jujurpun aku takut.. - Ameera nembatin penuhi rasa takut san bingung.
*
*
Hai semua.. apa kabar?
Terimakasih sudah membaca, terimakasih sudah support saya denga gift kalian, like, komen serta rate..
semoga kalian senantiasa bahagia dalam lindungan Tuhan, Aamiin ..
Salam cintaku, mei 😁
__ADS_1