
Ameera masuk kedalam kamarnya sambil gendap-endap melihat situasi kamar yang nyatanya sepi saat itu. Ameera melangkah masuk dengan pelan namun pasti, ia mengira Rumi tengah berada di toilet saat itu, namun ternyata kosong.
“Pasti sedang diruang kerjanya..” Pikir Ameera lalu ia membuka lemarinya.
Ameera meraih pakaian yang sudah ia siapkan, tak hanya itu, ia juga meraih parfumnya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.
“Untung saja baju ini tidak pernah aku pake sejak awal menikah, jadi Mas Rumi pasti mengria ini pakaian baru..” Kata Ameera sambil memakai lotion, body mist, parfum dan sentuhan tipis lipgloss agar nampak lebih fresh.
Ameera kemudian keluar kamar, ia sedikit terkejut saat suaminya sudah berbaring di atas kasur memakai piyama tidur.
Ameera terlihat gugup tak percaya diri dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. Namun ucapan Faiz kali ini terngiang di telinganya seakan membuat Ameera melupakan sedikit tentang rasa malunya.
Ameera menuju tempat tidurnya, ia naik ke atas kasur lalu mendekati Rumi dan melingkarkan tangannya di atas perut Rumi.
“Mas.. masih marah?” kata Ameera sambil jemarinya menari di atas dada bidang Rumi.
Sudah mulai nakal rupanya – kata Rumi dalam hati.
“Mas jangan diam saja, nanti aku sedih loh..” kata Ameera mengecup pipi Rumi.
Ameera yang sudah tidak memakai pelindung dada membuat jiwa inginnya bertambah.
Dia sudah berani sekali- Batin Rumi.
Rumi mengelua lembut tangan Ameera.. lalu berkata bahwa ia sudah tidak marah, terlebih jika Ameera malam ini akan membuatnya lemas taj berdaya.
Ameera sempat pesimis akan harapan Rumi, namun ia mencobanya sebisa ia mengeksplore ilmu dari Faiz.
Saat mereka saling membelai, dering ponsel Rumi menganggu proses pemanasan kedunya, mau tidak mau meski dengan kesal Rumi harus menerima panggilan itu dari Victor.
Ku potong gajimu, Victor.. – Rumi membatin kesal.
Victor memberi laporan terkait Risca, seketika kekesalan Rumi berubah singkat menjadi rasa penasaran.
“Risca? Apa infonya” Kata Rumi mengundang perhatian yang sangat serius pada Ameera.
Ah tapi biar saja! Aku harus fokus menggoda Mas Rumi.. - Batin Ameera.
Pikirannya mengingat tentang ajaran Faiz, membelai tubuh suaminya memberi kecupan manja di area telinga hingga leher.
Rumi benar-benar tidak dapat konsentrasi dengan ucapan Victor.
"Ahh" suara Rumi mendesah membuat Victor terdiam.
Apa Den Rumi sedang melakukannya..? - Batin Victor.
Sementara Ameera juga nampak terkejut mendengar itu, ia menatap suaminya yang sepertinya sudah mulai di mabuk kepayang oleh sentuhan menggoda Ameera.
"Den, lebih baik saya bicarakan nanti" ucap Victor lalu langsung saja ia mematikan sambungan telfon itu.
Rumi nampak tidak sabaran, jiwa pemimpinnya kini memacu hasratnya juga untuk memutar posisi kepemimpinan.
"Mas aku kan mau presentasi" kata Ameera saat Rumi sudah berada di atas tubuhnya.
__ADS_1
"Aku tau, aku hanya ingin menghangatkan tubuhmu" ucapnya lalu Rumi mengecup bibir Ameera sambil **********.
Keduanya sudah saling terlena, hawa nafsu sudah merasuk.. namun lagi-lagi ketukan pintu kamar itu membuat kegiatan keduanya terhenti.
"Kakak ipar, aku ingin minta face mask.. punya ku habis.. kakak ipar.. apa kamu sudah tidur" kata Rima terdengar jelas oleh Rumi juga Ameera.
"Arghh.. ada-ada saja sih!" Kata Rumi kesal.
"Bagaimana mas? Bajuku begini.." kata Ameera membuat Rumi menatap tubuh indah isteriny dalam keadaan penuh kesadaran.
"Jangan membuat aku semakin tidak tahan" kata Rumi.
"Kakak iparrr.. Kak Rummm" suara Rima kembali terdengar tegas.
"Mas gimana ini?" Tanya Ameera panik dengan pakaian yang transpart itu.
"Selimuti tubuhmu, aku akan bilang kamu sudah tidur.." kata Rumi kesal.
Ameera mengikuti saran Rumi, saat Rumi beranjak Ameera bergegas masuk kedalam selimut menurupi seluruh tubuhnya.
"Menganggu saja! Ameera sudsh tidur!" Kata Rumi sangat ketus pada Rima.
"Ahh masa si jam segini sudah tidur? Aku mau minta face mask, punyaku habis.." kata Rima dengan santai nya.
"Dia capek, aku tidak tau dimana Ameera meletakkan face mask itu, besok saja lah! Tidak pakai face mask, tidak akan berubah jadi biru kan wajahmu itu?" Kata Rumi dengan konyolnya.
Ameera merasa ucapan Rumi begitu lucu hingga ia tertawa pelan agar tidak di dengar oleh Rima.
Rima pun mengalah, dan pergi meninggalkan kamar Rumi.
"Bangunkan lagi" perintahnya sambil melirik ke arah sensitive nya.
"Serba menganggu, tadi Victor lalu Rima, habis ini siapa lagi?" Rumi menggerutu mengundang tawa Ameera.
"Kamu malah ketawa, belum basah yaa" kata Rumi membuat Ameera malu.
"Sudah.." ucapnya singkat.
"Cepat sekali.." Respon Rumi.
Ameera memulai lagi dengan menjalanlan jemari lentiknya di atas dada bidang suaminya, sambil ia berbisik dengan hembusan nafas yang menambah kesan sensual.
Rumi seperti hewan buas yang sudah tidak sabar melihat mangsanya, bergegas ia mengambil alih permainan itu sebelum Ameera mempresentasikan hasil pembelajarannya dengan Faiz.
"Mas katanya aku" kata Ameera
"Aku dulu" ucapnya lalu Rumi bergegas membuka underwear yang tengah Ameera kenakan.
Penuh dengan semanagat dan jiwa kejantanannya yang memuncak. Seolah tak sabar dengan permainan Ameera yang sangat lembut dan begitu lamban baginya.
"Meera..." Rumi terdiam sejenak sambil berdebar jantungnya.
"Iya?" Bingung Ameera melihat wajah suaminya.
__ADS_1
"Kamu datang bulan???" Ucap Rumi dengan wajah terkejut melihat bercak darah yang membuatnya seketika kehilangan semangat.
Ameera menahan tawa namun terselip rasa kasihan pada suaminya.
"Becek itu toh" ucap Ameera dengan polos.
"Arrghhh Ameeraaaaaa bagaimana nasibkuuuuu" Rumi nampak frustasi, ia menutup wajahnya dengan bantal sambil meringkuk dan berteriak.
Ameera benar- benar ingin sekali tertawa namun nampaknya itu akan membuat Rumi semakin marah.
"Maaf mas, aku gak tahu.. dari kemarin sakit perut ternyta aku mau datang bulan" kata Ameera beranjak dari kasur lalu beranjak menuju toilet.
"Cobaan paling berat" ucap Rumi kesal.
"Kenapa dia ga turun-turun" protes Rumi pada adik kecilnya.
Ameera menyalahkan air washtafel sambil tertawa melihat ekspresi suaminya yang begitu kecewa.
Tak seberapa lama, Ameera keluar kamar mandi, namun ia lupa mengganti pakaiannya. Masih menggunakan pakaian dinas itu semakin membuat Rumi stres dibuatnya.
"Ameera.. ganti bajumuuuu" pinta Rumi.
"Astaga aku lupa mas, maaf" Ameera kembali menuju toilet untuk mengganti piyama tidurnya.
Tak lama Rumi yang kesulitan menurunkan hasrat adik kecilny pun memilih mandi.
"Mas apa harus dengan mandi?" Kata Ameera yang khawatir mengingat hari sudah malam.
"Tidak juga, ada cara lain" kata Rumi.
"Apa?" Tanya Ameera serius.
Rumi mendekat lalu berbisik, mata Ameera membulat mendengar ucapan Rumi.
"Apa tidak ad acara lain? Aku membayangkannya saja sudah pusing" kata Ameera seolah ingin menolak.
"Tenang, aku hanya mengetes saja. Itu juga tidak baik .." ucapnya nampak putus asa sambil masuk kedalam kamar mandi.
Suara gemericik air showers menjadi penutup kegagalan presentasi Ameera malam itu. Terselip rasa iba pada Rumi, namun begitu lucu melihat wajah kecewa Rumi dan usahanya untuk menurunkan ketegangan diri malam itu dengan mandi.
*
*
*
Gagal guys.. siapa yang pernah? 😅🤣
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
Mei 🥰
__ADS_1
Karena ada kegitan RLku yang tidak bisa aku tinggalkan, maka Selama 8-10 hari kedepan, aku akan up GPLP setiap hari 1 chapter di jam 17.00 WIB.
Jangan lupa tinggalkan jejak kesetiaan kamu yaa, aku akan pilih 3 orang untuk dapat GA dariku.. ♥️