
Ameera terbangun karena mencium aroma wewangian yang sangat menyengat di indra penciumannya. Matanya perlahan terbuka memperhatikan sekitar.
Ia melihat sosok Rumi tengah bersiap, sementara jam masih menujukkan pukul empat dini hari. Ameera berusaha duduk di tengah rasa kantuk yang membuat berat matanya.
“Sepagi ini kah kamu berangkat?” Tanya Ameera.
“Iya..” Kata Rumi singkat. Ia kemudia mendekati Ameera sambil meraih dompetnya di kantung celana bagin belakang.
“Pakailah untuk kebutuhanmu berlibur bersama teman-temanmu..” Kata rumi menyodorkan satu ATM berwarna hitam.
“Tidak mau, aku tidak ingin nantinya menjadi hutang..” Ucap Ameera mengembalikan kartu itu.
“Tidak, apa yang kamu pakai disitu tidak akan membuatku miskin..” Kata Rumi dengan sombongnya. Ameera pasrah mengambil atm itu.
“Berapa PIN nya?” Tanya Ameera.
Dasar wanita , di awal saja menolak dan berpura-pura tidak mau.. padahal sudah sangat bersemangat menghabiskannya- Batin Rumi kala itu.
“Sembilan Belas, lima belas, nol delapan..” Ucap Rumi.
“aku pergi..” Rumi langsug saja menarik kopernya dan segera meninggalkan kamarnya.
"Take care.." ucap Ameera pelan namun Rumi tidak mendengarnya.
Ameera terdiam sejenak, ia merasakan kini Rumi sudah semakin menghargainya. Ameera berlari menuju balkon, entah mengapa hatinya membawanya pada keinginannya melihat Rumi meninggalkan kediaman tersebut.
Ameera tidak menyadari dirinya tengah tersenyum beriringan dengan laju mobil yang di tumpangi Rumi berjalan meninggalakan kediamannya.
“Yes.. aku bebas..” UCapnya merasa senang.
Ameera kembali berjalan menuju kasurnya, menarik selimutnya dan melajutkan tidurnya.
*
Pada pukul sepuluh, Ameera bersiap pergi berlibur bersama adik ipar dan juga dua sahabatnya. Sementara itu Pak Rudi sudah meminta Victor dan satu anak buahnya untuk menjaga mereka selama berlibur di sebuah kota wisata yang tak jauh dari kota Jakarta.
“Kita mampir dulu membeli beberapa kebtuhan..” Kata Ameera.
“Oke setuju, gue juga lupa membawa lipbalm..” Kata Faiz dengan gemulainya.
__ADS_1
“Aduh .. berat yaa perlengkapan lo” Kata Rima yang sejak kedatangan Faiz tak henti tertawa karena ulahnya.
“Baru lipbalm belum liptin dan sejenisnya yang anti luntur..” Ledek Keyla.
Gelak tawa tak genti mereka ciptakan demi selayaknya seorang sahabat yang tengah berbincang penuh keceriaan.
Mereka melakukan perjalanan menuju swalayan terlebih dahulu, ke empatnya turun dan masuk secara bersamaan .
“Supaya cepat, kita bagi tugas aja yuk.. “ Kata Keyla yang memprediksi jika hari semakin siang maka jalan akan semakin macet..
Mereka saling membagi tugas satu sama lain, kala itu Ameera langsung tertuju pada tugas utamanya yaitu menuju rak makanan instan. Ameera tengah focus mengecek beberpa produk sebelum ia membelinya. Karena cukup lama, suara memanggil Ameera terdengar sehingga ia bergegas berlari kecil menuju kasir. Langkah cepat Ameera itu ternyata di manfaatkan seseorang yang sejak tadi mengawasinya.
“Aduhhh..” Keluh Ameera yang jatuh tersungkur dan beberapa barang bawaanya jatuh berserahan dari ranjang. Faiz, Keyla dan Rima meninggalkan kasir dan berusaha mencari sumber suara yang jelas mereka dengan karena keadaan swalayan itu tengah sepi pengujung.
“Opss, sorry darling.. aku tak sengaja..” Ucapnya dengan penuh sikap arogan. SEmentara Ameera merasakan sakit pada lututnya juga pingang sampingnya.
Risca? Astaga Risca ada disini? Berarti Mas Rumi tidak pergi bersamanya? Yaa Tuhan ampuni segala prasangka burukku- Batin Ameera sambil mebahan sakit pada beberapa angota tubuhnya.
“Meera..” Teriak Keyla dan Rima saat melihat Ameera tengah tersungkur di lantai.
“Wah ada sundel..” Ucap Faiz saat melihat sosok Risca yang masih memakai pakaian santai rumahan.
Astaga, dia.. aku sampai lupa kalo dia tinggal di apartemen sebelah.. tidak menyangka juga bisa bertemu dia disini.. – Batin Rima yang sudah mengetahui banyak tentang Risca.
“Ini pasti sengaja.." kesal Rima membentak ke Arah Risca.
"Tentu tidak sengaja, mana mungkin aku sengaja, toh dia sedang lelah juga bisa makanya tersungkur jatuh"
Sudah panggil saja kepala toko atau manager? Kita buka cctv sekalian..” Kata Rima menantang Risca, sementara Faiz dan Keyla focus pada keadaan Ameera. Mereka kini mulai jadi bahan tontonan beberapa pengunjung disana.
“Sayang.. kamu ini anak gadis yang terhormat, jangan bicara kencang-kencang yaa..” Ucap Rima tanpa rasa bersalahnya.
Risca tentu tidak tinggal diam kala itu.
“Tentu aku gadis terhormat, jauh sekali denganmu yang jauh dari kata terhormat.. bersikap manis pada suami orang malu tuh sama lipstick lo..!” Kesal Rima sambil bertolak pingang dan sesekali ia menujuk ke arah Risca.
“Rima sudah, jangan merugikan diri kita.. biar saja, toh aku gapapa..” Kata Ameera menarik lengan Rima.
“Dasar sundel bolong gatel, harusnya lo beli tuh kaca yang gede.. lo liat nih diri lo sudah sejauh mana lebih baik dari Ameera. Temen bobo saja kok banganya selangit” Kesal Faiz.
__ADS_1
Rima nampaknya juga sudah ingin sekali memberi pukulan pada Risca yang memasang wajah nyeleneh seolah tak bersalah.
Saat bersamaan itu,Victor datang, salah seorang petugas keamanan juga datang menghampiri.
“Non, sudah biarkan saja..” Kata Voctor pada Rima, namun tatapannya sangat tajam menatap ke arah Risca.
Mereka memilih untuk meninggalakan Risca seorang diri, Victorpun mengambil alih proses pembayaran dan membiarkan ke empatnya masuk kedalam mobil.
Rica masih saja memperhatikan ke empat gadis itu dari dalam swalayan.Nampaknya mereka akan berpergian, tidak mungkin mereka beli cemilan sebanyak itu. – Batin Risca.
“Jangan ganggu ketenangan mereka, atau kamu akan berurusan langsung denganku, sebelum samapai tercoreng namamu di hadapan Rumi..” Ucap Victor dengan tataapan sinis penuh dengan kebencian pada Risca, dan itu telihat jelas dari wajah sangar Victor.
Dalam perjalanan menuju sebuah villa, mereka menjaikan Risca sebagai topik awal pembahasan, kronologi yang Ameera jelaskan juga semakin membuat Ketiganya geram mendengranya.
“Gak tahu malu, dia pasti tidak tahu ya kalau disana ada aku” Ucap Rima terkekeh.
“Orang sepertinya mana punya malu.. “ Sahut Keyla.
“Malu-maluin mungkin.” Tambah Faiz mnegundang tawa.
Karena tidak bisa tidur dalam perjalanan, sementara Tiga sejoli tengah terlelepa dalam tidurnya, Rima tak sengaja melihat lutut Ameera yang merah itu.
Dengan ide cemerlangnya, Rima dengan sengaja mengambil foto lutut Ameera yang nampak merah itu, ia mengirimkannya pada Rumi sebagai bukti kekejaman Risca pada Ameera.
Bahaka Apa yang di lakukan Risca saat itu tentu saja tanpa sepengetahuan Ameera siapapun, dan entah apa motifnya.
Di tempat yang jauh disana, Rumi yang baru saja tiba di lokasi membuka pesan dari adiknya, ia membaca pesan itu beberapa kali agar kembali meyakinkan dirinya, foto yang dikirimkan oleh Rima juga beberapa kali ia zoom agar jelas terlihat
*Apa- apaan Risca ini, kenapa dia sangat frontal sekali mencelakai Ameera?* Apa dia tidak ingat kalo Rima adalah adikku.. bodohnya dia melakukan ini. _ Batin rumi cukup kesal dengan kelakuan Risca.
*
*
*
Terimakasih ya sudah mendukung aku, aku tunggu like, komentar positif dan rate bintang 5 nya.
Dukungan itu bisa kalin berikan secara gratis.
__ADS_1
🥳🥰