
Bisikkan Untuk Kita:
Jangan pernah segan untuk berbagi cerita, bahagia, bahkan ilmu sekalipun. Tapi ingat, jika kamu punya seribu, gengam setengahnya atau kamu akan di tusuk olehnya.
Rima mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup kencang menuju Rumah sakit, sementara Rumi dan Victor memutuskan untuk langsung menuju rumah sakit menemui mereka.
Faiz dan Keyala berusaha membasuh darah yang masih mengalir maupun yang sudah mongering di beberapa luka goresan.
“Empat goresan, nanti gue buat tujuh belas goresan di depan dan belakang tubuh si mak lampir.”Kesal Faiz penuh emosi.
“ini yang dua ini agak dalam lukanya, benar-benar gak punya hati iblis itu..”Kata Keyla sambil melihat dengan dekat luka di pipi Ameera.
“Dia tidak akan hidup tenang, apalagi kak Rumi bisa melihat perlakuan dia nanti..”Kata Rima penuh kebencian.
“Tapi Rim, tadi aku lihat tidak ada cctv di dalam toiet.. “Kata Keyla dengan polosnya.
“Di depan tolet kan ada, kita bisa melakukan Visum, lalu pasti terrekam saat Risca memberi tulisan toilet rusak, dan keluar masuknya dia kedalam toilet.
“Oh iya ya? Benar juga” Tmabah Keyla menanggapi.
Tak lama mereka tiba di IGD rumah sakit, Rumi langsung saja bergerak cepat dengan membuka pintu penumpang mobil dan melihat wajah sembab dan luka di pipi Ameera.
Tidak banyak bicara, Rumi memeluk Ameera saat ia turun dari mobil.
“Maaf ya? Harusnya tadi aku melarangmu pergi... Tapi tenang, Aku akan buat perhitungan dengannya..” Kata Rumi mendekap isterinya sambil menunduk melihat luka di pipi Ameera.
“Kita masuk dulu, Den semua sudah siap..” Ucap Victor.
Ameera melangkah maju bersamaan dengan langkah kaki Rumi.. Rumi mendekapnya mendampingi beberapa proses yang akan di lakukan oleh Ameera sesuai dengan permintaan Rumi.
Dua jam lamanya Ameera melakukan pemeriksaan dari ruang satu hingga ruangan lainnya.
“kita pulang kerumahku, jangan membantah untuk kali ini, ya” Kata Rumi cukup tegas.
Rima, Faiz dan Keyla sudah berpamitan sejak tadi, karena Rima akan menemui Risca di apartemennya.
“Mas… Laptopku dimana? Banyak sekali data-data penting..” Ucap Ameera dengan plaster di pipinya yang menutupi lukanya.
“Jangan pikirkan itu dulu, nanti Victor yang akan urus..”Ucap Rumi.
Ameera memilih diam sambil ia merasakan kantuk dan terlelap di dalam pelukkan Rumi.
Pandangan Rumi mengarah ke wajah Ameera yang tengah terlelap saat itu.
Kenapa hatiku sakit sekali saat Ameera di perlakukan seperti ini oleh Risca? Apakah ini adalah sebuah tanda kalo aku sudah jatuh cinta pada sosok gadis yang sempat aku perlakukan kasar dan semena-mena.
__ADS_1
Setibanya dirumah, Ameera berjalan pelan dengan genggaman yang erat Rumi. Langsung ke kamar saja, aku juga mau melanjutkan pekerjaanku di kamar.
“Mas, bajuku tidak ada disini..” Ucap Ameera menyadari seluruh pakaiannya sudah ia bawa ke toko roti.
Nanti akan Rima belikan yang bau..”Kata Rumi dengan santainya.
“memang Rima kemana?” Tanya Ameera.
“Ada urusan, sudah kamu istirahat saja, ya?” Kata Rumi tidak ingin ia memberi tahukan keadan yang sebenarnya.
Sementara itu di tempat lain, Rima Faiz dan Keyla benar-benar kehilangan jejak Risca kala itu, namun mereka tidak berkecil hati, Rima masih menunggu kabar dari bebrapa anak buah Victor.
“kita nunggu siapa disini?” Tanya Faiz..
“Nunggu Victor, sudah santai saja dulu kita disini..” Kata Rima sambil sibuk memainkan ponselnya.
*
Hari sudah mulai gelap saat itu, Amera merasa ada yang mengusa kelapna perlahan, terdengar juga suara Rumi tengah berbicara.
Astaga, mas Rumi masih bekerja? Sambil berada disisiku gini? Ucap Ameera yang baru saja membuka matanya melihat Rumi duduk di atas kasur persis di sampingnya sambil menyender, satu tangannya terus mengusap kening hingga pucuk kepala Ameera.
Oh dia nampaknya sedang meeting ya? Aku dengarkan saja lah.. – ucap Ameera sudah terlalu nyaman dengan sentuhan lembut Rumi.
“Besok kalian bisa serahkan ke Novi, besok saya tidak masuk karena isteri saya sedang sakit..” Ucap Rumi yang di dengar secara jelas oleh Ameera.
Mendengar hal itu tentu menghantarkan rasa senang dalam hati Ameera.
Apa Mas Rumi sudah mengagapku ada, ya? Aku tidak meyangka dia bicara begitu pada beberapa karyawannya. – Batin Ameera bersorak kegirangan.
Rumi nampaknya sudah menyelesaikan meetingnya di hari yang sudah memasuki waktu magrib itu.
Rumi merebahkan tubuhnya persis di samping Ameera, dan menghadap ke arah Ameera, ia melingkarkan tangannya di pingang Ameera, merasa takut akan terjadi sesuatu, Ameera seegra membuka matanya.
“Loh jadi terbangun, ya?” ucap Rumi yang juga terkejut, hingga Ia merasa salah tingkah kala itu.
“Iyaa, aku haus..” Ucap Ameera yang memang sejak tadi sudah menahan rasa haus.
“Oke-oke, aku ambilkan ya? Kamu diam disini aja..”kata Rumi bergegas cepat menuruni tempat tidur menuju tempat air mineral di sudut kamarnya.
Ameera menghabiskan satu gelas penuh Ait yang di berikan oleh Rumi.
“Masih sakit?” Tanya Rumi.
“Sedikt sih, terasa perihnya saja..” Kata Ameera jujur sambil meraba perlaan perban dan plester di wajahnya.
__ADS_1
“Sabar yaa, kata dokter kalo sudah kering nanti, akan hilang rasa sakitnya, yaa dua atau tiga hati ini..” Kata Rumi menjelaskan sambil mengusap pelan pipi Ameera.
Ameera bagai terbuai oleh sikap-sikap manis Rumi yang mampu menghipnotisnya.
“Hemm.. dimana Rima dan teman- temanku? Kenpa mereka tidak menemaniku diisni..” Kata Ameera heran.
“Tidak perlu, kan ada aku.. apa kehadiran masih membuatmu kurang merasa aman?” Kata Rumi.
“Bukan begitu, tapi mereka menghilang begitu saja, apa jangan-jangan kamu mengusirnya ya?” kata Ameera memicingkan matanya menatap Rumi.
“Tidak.. aku menyuruh mereka membelikan baju baru untukmu..”Kata Rumi.
“Ohh begitu, padahal bisa saja mereka mengambil bajuku di toko Roti, kan lebih hemat uang, hemat waktu juga..” Kata Ameera dengan polosnya.
“Hemm.. kamu bawel sekali sih, coba pikirkan dulu kondisi kamu deh jangan kamu berfikr banyak hal dulu.. semua biar aku yang atur..” Ucap Rumi merasa Ameera begitu memikirkan banyak hal yang tidak semestinya.
“Kamu yang atur? Apa Risca juga bisa kamu atur?” Kata Ameera membuka pembahasan terkait Risca.
“Hemm.. aku tidak tahu harus memulai sebuah penjelasan ini dari mana, ya?” Kata Rumi, lalu ia meraih kedua tangan Ameera, dan mengengamnya.
“Mas. Rica sangat marah padaku, dia mengira aku yang sudah banyak berbicara hingga kamu menjauhinya.” Kata Ameera dengan jujur.
“Sudah aku tebak, aku tidak hanya menjauhinya, tapi aku juga memutuskan semua yang berhbungan dengannya, bahkan apartemen yang ia pakai saat ini akan aku Tarik Kembali dari nya..” Ucap Rumi menjelaskan.
Hemm jadi benar ya kalo mas Rumi memutuskan hubungannya dengan Risca.. tapia pa alasannya? Bukannya mereka saling mencintai? – Ameera membatin dalam hatinya.
“Ya tapi dia sangat menyeramkan, aku ga habis pikir dia bisa melakukan itu padaku..” Ucap ameera membayangkan betapa kejamnya sikap Risca.
Rumi tersenyum..”mulai sekarang, percayakan pada ku, dan kamu harus mendengar semua perkataanku, apapun itu yang aku perintahkan semata-mata untuk menjagamu.. paham?” Kata Rumi lalu Ameera hanya megangguk, tak mampu Ameera berkata-kata, ia cukup terpanah oleh ucapan Rumi.
Ahh.. kenapa aku seperti Terpanah Asmara... hemm Tapi apa iya ini sebuah rasa? - Ameera terdiam sambil membatin dalam hatinya.
*
*
*
Hai semua, Terimakasih yang sudah membaca dan setia menanti up. Mohon maaf ada sedikit kendala karena aku lg kurang sehat, mungkin efek pancaroba kali yaa😔
Mulai up tipis tipis yuk sampai end hehe
Info pemennang GA di akhir chapter novel ini yaa guys 🥰
jangan lupa jejaknya usai membaca ♥️
__ADS_1