
Pagi ini Ameera sudah bersiap untuk segera berangkat menuju kampusnya. Dengan cuek ia meraih satu lembar roti untuk ia makan dalam perjalanan dan meneguk satu gelas susu.
Kenapa Mbak Meera sangat berani sekali dengan Mas Rumi? Apa dia tidak takut di ceraikan atau bahkan di perlakukan kasar? - batin Victor melihat sikap Ameera yang sangat acuh pada Rumi.
"Victor, ayok berangkat.." ucap Ameera setelah menghabiskan satu gelas susu yang tersedia untuknya.
"Tunggu" Tahan Rumi yang terpaksa harus menghentikan makannya sejenak.
Ameera sangat malas meladeni ucapan Rumi kala itu, ingin sekali ia beranjak pergi meninggalkannya.
"Papa akan kembali ke Indonesia dan akan tiba sore ini.." ucap Rumi cukup mengejutkan Ameera dan juga Victor, mereka saling menatap.
"Hm oh begitu.." respon cuek Ameera.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Katakan? Bicaralah agar aku bisa mengimbanginya" kata Rumi dengan suara tegas, ia berbicara tanpa menatap siapapun, pandangannya fokus ke arah depan tanpa menoleh ke arah Ameera.
"Aku ingin mengakhiri semunya.." ucap Ameera cukup mengejutkan Victor dan juga Rumi.
Setelah terdiam sejenak..
"Bagaimana menurutmu Victor?” Tanya Rumi.
“Hmm.. sya tidak memiliki hak untuk berbicara, Den.. hanya saja saya lebih memikirkan kondisi Tuan, terutama pada jantungnya..” Ucap Victor.
Ameera menghela nafasnya.. “Aku ada kuis, harus segera pergi sekarang.. kita bisa bicarakan lagi nanti..” Ucap Ameera melangkah pergi, dengan begitu Victorpun mengikuti Langkah Ameera.
Rumi terdiam seorang diri, ia tidak menyangka jika ada di dunia ini Wanita sedingin Ameera bahkan selama ia hidup tidak ada Wanita yang menolaknya apalagi mengabaikannya.
“Apa maksudnya mengabaikan ku?” Kesal Rumi kala itu.
“Bagaimana aku bisa mempertahankan dia, sementara papa belum sepenuhnya memberikan semua ini padaku..” Ucap Rumi kala itu dengan perasaan yang tak tenang. Rumi memutuskan untuk pergi menuju kantornya segera agar tidak sedikitnya terlupa persoalan sikap Ameera yang dingin.
Di dalam perjalanan menuju kampusnya, Ameera terdiam menatap kea rah jalan sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan saat esok bertemu dengan Pak Rudi.
“Apa yang mbak Meera pikirkan?” Tanya Victor, hingga terkejut Ameera karena pertanyaan pria tiga puluh lima taun itu.
“Aku hmm.. aku hanya memikirkan kondisi papa saat aku jujur padanya kalau aku tidak bisa melanjutkan rumah tangga ini..” Kata Ameera dengan perasaan bimbangnya.
Victor hanya terdiam kala itu, ia juga mengkhawatirkan kondisi Tuannya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.
Ameera menjalani perkuliahannya seperti biasa sampai jam kuliah telah selesai. Siang itu Ameera dan kedua sahabatnya berniat untuk pergi makan siang Bersama, Langkah ketiganya beriiringan sebelum Ameera menerima sebuah pesan singkat dari Pak Rudi yang baru ia buka.
“Astagaa… kok jadi gini..” Ucap Ameera dengan suara yang mengejutkan Faiz dan Keyla.
“Dih apaan si Meer?” Tanya heran Keyla.
__ADS_1
“Kesambet setan ape lo..?” Ucap Faiz dengan logat betawinya.
“Baca deh..” Ameera memberikan ponselnya.
“Selamat siang menantuku, sayang .. papa akan bertolak ke bali Bersama Rima adik iparmu, papa sudah siapkan tiket untukmu dan juga Rumi.. papa tunggu kamu malam ini yaa?” Faiz membacakan pesan singkat itu.
“WOW… EMEJINGG BEBIIHHHH” Ucap Faiz melanjutkan ucapannya.
“Biasa aja dong Iz, lo ngomong, pake shower? Muncraattt!!” Kata Keyla sambil mengusap lenganya dengan tissue.
“Semangat gue ini ada yang mau family Gathering..” Ledek Faiz.
“Kita padahal mau ya kalo boleh..” Kata Keyla nyeletuk.
“Bukan Kalo boleh, tapi kalau di biayai.. hahah” Goda Faiz dan Keyla sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kalian ini bikin makin pusing aja sih..” Kesal Ameera.
“Meer lo pake bikini yaa, lo goda tuh suami lo, bikin dia kelepek-kelepek seperti ikan di daratan..”
“Dih.. sorry yaa, gak akan itu terjadi…” ucap Ameera .
“Halah yakin? Lo lihat deh, itu wajah tampan rumi.. belum lagi tubuhnya yang tinggi putih..”
“Kaya panjat pinang dong … putih tinggi hahaha” Asal Faiz nyeletuk.
“Enak ga Meer?” Tambahnya Faiz semakin membuat Ameera merasa Risih, ia pun melangkah meninggalkan dua sahabatnya itu.
“Haha ngambek dia..” Kata Faiz terkekeh.
“Ngambek apa lagi nebayangin..” Goda Keyla..
"Gila aku lama - lama meladeni kalian" ucap Ameera
*
“Mbak, sudah membaca pesan singkat dari Tuan?” Kata Victor.
“Sudah, dan aku bingung menolaknya..” Kata Ameera jujur.
“Jangan menolak, karena Den Rumi sudah menyetujuinya..” Kata Victor sambil megendarai mobil.
“Apa? Dia menyetujuinya? Apa maksudnya yaa?” Tanya nya kesal.
“Jarang Den Rumi bisa menolak Tuan Rudi, Mbak.. kecuali Den Rumi sedang mabuk..” Ucap Victor berkata jujur.
__ADS_1
“Mabuk? Dia suka mabuk?” Tanya Ameera dengan nada ilfeelnya.
“Yaa.. seperti itulah, kamu ingatkan permintaan Tuan Rudi terhadapmu? Dia ingin kamu membantunya merubah Den Rumi menjadi lebih baik lagi, karena hanya Den Rumi yang di harapkan bisa meneruskan semua ini, selain dari pada itu Den Rumi berubah menjadi keras, egois dan penuh emosional sejak lima belas tahun yang lalu..” Ucap Victor sedikit membuka pembahasan baru.
“Ada apa lima belas puluh tahun lalu? Berarti saat dia berusia tiga belas tahun?” Kata Ameera yang begitu tertarik dengan pembahasan kali ini.
“Yaa.. kurang dan lebihnya begitu.. “ Ucap singkat Victor.
“Ada kejadian apa?” Tanya Ameera penuh rasa penasaran.
“Tuan dan Nyonya berpisah.. saat itu Den Rumi mengalami kekecewaan yang mendalam dan ia membenci Nyonya hingga saat ini..” Kata Victor.
“Membenci? Ada apa?” Tanya Ameera heran.
“Hmm.. untuk hal itu tidak bisa saya jelaskan, intinya dulu saya mengenal Den Rumi sebagai teman yang baik.. dan dia tidak sombong oenuh dengan toleransi..” Ucap Victor.
“Teman? Maksudnya bagaimnaa?” Tanya Ameera semakin bingung.
“Ibu saya dulu bekerja disini sebagai asisten rumah tangga, ayah saya meninggal saat bertugas di perusahaan pertama Tuan, saat itu ayah saya adalah security, Tuan yang usahanya baru memuncak di serang oleh beberapa orang suruhan lawan memporak-porandakan kantor, ayah saya terkena luka tusuk sehingga tidak bisa di selamatkan… dari situ saya di sekolahkan dan di biayai segala Pendidikan saya oleh Tuan, saat ini ibu saya terbaring sakit, dan keluarga inilah yang membiayai… Den Rumi dan saya sejak kecil sering bermain Bersama, usia kita yang terpaut Sembilan tahun menjadikan jiwa saya seolah memiliki adik tampan seperti Rumi…” Singkat Victor bercerita hingga Ameera merasa lebih memiliki simpatik pada sosok Victor yang penuh kedewasaan.
“Kapan aku bisa menjenguk ibumu, Victor?” Tanya Ameera antusias.
“Maksud mbak?” Tanya Victor yang terkejut dengan respon Ameera kala itu.
“Ya aku ingin menjenguk ibumu, apa tidak boleh?” Tanya Ameera.
“Boleh, tentu saja… akan saya ajak suatu hari nanti..” jawab Victor.
Kamu memang Wanita baik hati Ameera, sayang sekali jika Den Rumi tidak bisa mengehargai kamu dengan indah, parasmu bahkan hati kecilmu sangat tulus, begitu baik Tuhan menghadirkan Ameera dalam hidupmu, Rumi – Batin Victor.
*
*
*
Yuhuuu... Tiga Chapther yaa..
Kopi hangatnyaaa ..
Sebucket mawarnya..
Hihihii
Thanks supportnya ❤️
__ADS_1
BTW, kalian bayangin deh gimana kalo mereka benar-benar jadi ke bali? Ngapain kira-kira? Hehee
Salam cintaku, Mei ❤️