GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Gemas


__ADS_3

Bisikkan untuk Kita:


Perang paling membahayakan adalah perang dengan dirimu sendiri, tidak bersikrras memaksakan diri -


“Mas.. kita mau kemana? Kok arahnya seperti mau masuk Tol?” Kata Ameera bingung usai keduanya mengambil beberapa buku di Toko Roti.


Saat itu, Rumi memilih tidak memakai supir, ia duduk di kursi kemudi dan Ameera berada di sampingnya.


“Jalan-jalan.. seperti yang aku katakana pagi tadi dirumah..” Kata Rumi membuat Ameera merasa senang.


“Jalan-jalan? Kemana?” Kata Ameera dengan penuh antusias.


“Ke Bandung, ada villa papa disana.. kita akan menginap disana..” Kata Rumi.


“Jakarta Bandung itu empat jam loh mas, apa kamu sangup nyetir sendirian?” Kata Ameera seolah meragukan kekuatan Rumi.


“Sudah, diam saja yaa.. nanti kita akan mampir di rest area untuk makan..” Kata Rumi, saat ia masuk pintu tol, sudah ada beberapa motor dan mobil patroli, ternyata Rumi sengja menggunakan pengawalan khusus di jalan Tol agar terbebas dari kemacetan.


Ameera cukup tegang dengan kecepatan tinggi, enatah sudah sepanjang apa doa yang Ameera panjatkan demi keselamatannya.


Berulang Rumi menyuruh Ameera tidur, namun Jangankan untuk tidur, ingin berkedippun nampaknya ia takut.


“kamu kenapa?” Rumi nampak terkekeh melihat wajah tegang Ameera.


“mas ini kencang banget sih, aku takut,,” Jujur Ameera dalam berkata.


“Percayakan saja kepadaku, ya?” Kata Rumi yang semakin menekan pedal gasnya mengikuti laju mobil patrol di hadapannya.


Tak alma berselang, Rumi memutuskan menunda makan siang mereka dan melanjutkan terus perjaanan mereka menuju Kota Bandung..


Selama hampir tiga jam, Ameera tak dapat bernafas secara lega,rasa ingin buang air kecilpun ia tahan, kantuk pun sirnah seketika saat ia harus tetap terjaga dan focus pada setiap jalan yang tengah mereka tempuh..


“Allhamdulillah..” Ucapnya saat mereka keluar tol dan melanjutkan perjalanan tanpa sebuah pengawalan apapun.


“Cari toilet mas, aku gak tahan ingin buang air kecil..” Ucap Ameera dengan tingkah lucunya.


“Toilet? Dimana?” bingung Rumi yang nampaknya tidak terbiasa menggunakan toilet umum di setiap rest area atau spbu terdekat.


“yaa dimana kek Mas, spbu kek ..” Emosi Ameera menanggapi Rumi atas pertanyaanya.


“Yakin?” Tanya Rumi semakin mengundang amarah Ameera.


“Heuh.. banyak sekali pertanyaanmu Mas, kamu mau aku ngompol disini, ya?” Tanya Ameera sambil membulatkan matanya menatap Rumi.

__ADS_1


“oke-oke, di depan ada Spbu..” Kata Rumi mempercepat laju mobilnya.


“Saat tiba, Ameera langsung saja membuka pintu mobil dan berlari menuju toilet..”


“Haha..” Tawa Rumi seorang diri di dalam mobilnya.


“Dia seperti anak kecil yang selalu menggemaskan..” Tambahnya sambil menggelengkan kepalanya.


Tak lama Ameera kembali dengan wajah menahan tawa seorang diri.


“Mas.. hahaha bagi uang dua ribu..” Ucap Ameera dari kaca yang terbuka, sambil tangannya menjulur menadah seperti meminta.


“Dua ribu, untuk apa?” Bingung Rumi, sambil berfikir sejak kapan dompetnya di huni uang lembaran dengan nominal dua ribu rupiah.


“haha untuk bayar, aku cek kantongku tidak ada uang.. malu sekali rasanya” Ucap Ameera terkekeh menahan malu.


Rumi lalu mengeluarkan uang pecahan paling kecil di dompetnya..


“Besar sekali sih… aku juga ada kalo lima pulh ribu di dompet..” Ucap Ameera.


“Sudah biar saja, kasih saja.. cepat aku sudah laperrr..” Kata Rumi sehingga membuat Ameera bergegas cepat menuju penjaga toilet spbu itu.


“Haiahhh.. seram juga kalo melawan macan yang sedang kalaparan..” Kata Ameera sambil ia berjalan cepat.


Tiga puluh menit mereka melanjutkan perjalanan, tiba mereka dis ebuah restorant yang cukup mewah.


“Kalo kamu bawel aku yang akan makan kamu, ya?” Ucap Rumi membuat Ameera menyungingkan bibirnya.


ANeh-aneh sekali memang menanggapi macan buas yang kelaparan.. – batin Ameera.


Mereka melepas Lelah sejenak disana hingga dua jam lamanya. Lelah sedikit berkurang dengan perut kenyang terisi.


“Masih jauh ya?” kata Ameera bertanya sambil berjalan menuju mobil.


“Satu jam lagi, kamu sudah capek? Kalo kamu capek kita menginap saja di hotel dekat sini..” Kata Rumi.


“aku ingin membuka plester ini, mau aku ganti yang baru..” Ucap Ameera merasa tak nyaman dnegan plesternya saat ini.


“Yasudah, hari ini kita menginap di hotel dekat sini baru besok kita melanjutkan perjalanan.. Victor sudah rewel juga ingin membahas pekerjaan sebentar..” Kata Rumi mengambil keputusan yang di setujui oleh Ameera.


Rumi memilih hotel dengan kamar terbaik di kelasnya, ia begitu memanjakan Ameera beberapa hal yang mampu ia berikan saat ini demi melihat senyum manis Ameera.


Menggunakan plester bening Ameera mengganti plester lamanya, Rumi membantunya perlahan.. membasuh luka yang sudah hampir kering dengan beberapa obat cair yang di berikan dokter.

__ADS_1


“Sepertinya besok sudah bisa lepas plester” kata Rumi melihat kondisi luka yang jauh membaaik.


“Ngaco kamu..” Protes Ameera.


“Ini masih belum kering loh..” Kata Ameera menujuk lukanya, Rumoi terkekeh lalu dengan cepat ia mengecup pipi di bagian luka yang hampir mongering itu.


Tiga kali Rumi mengecup Ameera..


“Muach..Muach.. Muach…Besok sembuhh..” katanya dengan senyum melebar.


Ameera ikut tersenyum melebar dan tersipu malu, sambil ia menepuk lengan Rumi.


“Jahil sekali kamuuuu” Kata Ameera.


“Kok jahil sih? Waktu aku kecil, dan saat aku terjatuh lalu luka pasti papa atau mamaku mengecup Lukaku lalu meniupnya dan berkata besok sembuh..” Ucap Rumi terkekeh.


“So.. kamu anggap aku anak kecil?” Ucap Ameera menimpali.


“Iya kamu gemesiiinnnnnnnnnnn” Rumi nampaknya sangat gemas terhadap isterinya, ia memeluk Ameera mendekapnya dngan kencang..


“Astaga, gak bisa nafas loh aku..” Ucap Ameera sambil berusaha mendorong tubuh Rumi.


“hehe.. maaaf..” Ucap Rumi terkekeh.


“Aku telfon Victor sebentar ya? Kamu istirahat saja, kalo laper atau mau beli cemilan tinggal telfon ke bawah, menunya ada di samping telfon sana” Kata Rumi menujuk ke sebuah nakas.


Ameera mengangguk paham. Rumi kemudian menjauh sedikit namun suara dan tubuhnya masih dapat terdengar dan terlihat oleh Ameera.


Ameera memilih beristirahat di kasur sambil menonton lanjutan film korea di ponselnya. Seperti biasa, sudah menjadi hal yang nampaknya cukup iconic bagi sosok Ameera, iya tertidur begitu mudahnya meski ponselnya tengah memutar film kesukaannya.


Rumi jyang baru saja menutup sambungan telfonnya dengan Victor di buat heran dengan tingkah isterinya yang super menggemaskan, bahkan Rumi baru menyadari bahwa gaya tidur Ameera juga menggemaskan.


Rumi naik perlahan ke atas ranjang, ia mengatur posisi dengan sangat dekat pada Ameera, di samping isterinya, dengan hembusan nafas Ameera begitu terasa di pipinya.


Rumi meligkarkan tangannya ke pingang Ameera sambil berusaha ikut memejamkan matanya.


*


*


*


Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..

__ADS_1


Terimakasih, salam cintaku..


Mei 🥰


__ADS_2