
Rumi turun dari lantai dua villa tersebut, ia terlihat sangat kesal atas perlakuan Ameera terhadapnya, namun dengan cuek Ameera berlagak seperti yang tidak memiliki kesalahan apapun terhdap Rumi kala itu.
Rumi memicingkan pandangannya melirik ke arah Ameera dan juga Rima adiknya.
“Kalian mau kemana?” Tanya Rumi melihat adik dan Ameera sudah berpakaian santai namun rapih.
“Kepantai dong, cuci mata..” Ucap Rima menjawab sambil mengunyah makanan.
“Papa ikut?” Tanya Rumi pada Pak Rudi.
“Tidak, papa ada meeting nanti, kamu saja jaga adik dan isterimu yaa..” Kata Pak Rudi.
Rumi tengah sibuk dengan ponselnya, ia tengah asik berbalas pesan singkat dengan kekasihnya Risca.. Namun di tengah Chating mesra itu berlangsung, Rima menghampiri Rumi..
“Kita sudah siap, ayo berangkat sebelum siang pasti penuh tempatnya..” Rima merengek membuat Rumi segera mengunci ponselnya dalam keadaan panik kala itu.
“Iya.. baiklah ayo..” Ucap Rumi yang memang snagat menyayangi adiknya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Ameera dan Rima menuju sebuah resto dengan suasana yang sangat Indah kerana berada di tepi pantai.
Rumi memilih sibuk dengan ponsel dan ipadnya, sementara Rima dan Ameera asik berbincang membahas banyak hal, sesekali Rumi mendengar pembahasan mereka, namun ia harus kembali focus pada pekerjaanya.
Dua jam berlalu, ponsel Rumi berdering, Ameera santai saja tidak pernah mencurigai apapun itu yang terjadi pada Rumi, hanya saja gelagat Rumi kali ini membuat perhatian Ameera dan Rima mengarah ke Arah Rumi.
“Kakak angkat panggilan masuk dulu ..” Ucap Rumi beranjak menjauh dari posisi awalnya.
“Siapa yang menelfon ya,Meer? Kenapa harus menjauh pula?” Tanya Rima pada Ameera.
“Mana aku tahu, mungkin dia gak mau menganggu perbincangan kita..” Ucap Ameera mencoba menenangkan Rima yang terlihat mencurigai gelagat Rumi.
Aku tau, pasti telfon dari sundel bolong..- Batin Ameera.
“Aku ingin ke toilet dulu ya kaka iparku, Ameera..” Ucap Rumi sambil menggoda Ameera yang enggan di panggil kaka apalagi di panggil dengan sebutan kakak ipar.
Ameera tinggal seorang diri, ia memilih memainkan ponselnya sejenak, mengambil beberapa foto selfie nya lalu menguploadnya ke bebrapa akun media sosial miliknya.
Sementara itu, Rima yang tengah berjalan menuju toilet harus mengubah langkahnya karena focus dan niatnya saat ini berubah seratus delapan puluh derajat.
“Kak Rumi? Ngapain dia ke arah pintu keluar? Ada apay a?” Kata Ruma yang kembali memastikan itu adalah kakanya, ia berjalan mendekati Rumi.
__ADS_1
Langkahnya semakin ia percepat saat ia hampir saja kehingan jejak Rumi saat itu.
“Ah itu dia..” Ucapnya saat matanya kembali membidik sosok Rumi.
Rumi terlihat seperti orang yang penuh rasa khawatir, ia menoleh ke kanan dan kiri. It membuat Rima menjadi ikut mengendap – endap agar tidak terlihat oleh sosok Rumi.
Mata bulat cokelat Rima melebar sempurna saat ia melihat Rumi kakaknya tengah menghampiri seorang wanita berambut pirang dengan pakaian sexy yang memeluk lalu mencium kedua pipi Rumi.
“Kurang ajar, siapa sih wanita itu?” Kata Rima kesal, jantungnya berdebar kencang melihat kejadian itu.
Rima seolah tak tahan melihat sikap agresif wanita itu yang terus melingkarkan kedua tangannya di leher Rumi sambil bermanja.
“Siapa dia? Kenapa manja sekali pada Kak Rumi.. ini sudah tdak bisa di biarkan lagi..” Ucap Rima mengepal kedua tangannya.
Menggunakan Langkah lebar dan cepat, Rima mneghampiri Rumi di area parkir restoran tersebut.
“Apa-apaan ini..!” Teriak Rima menghampiri Rumi.
Rumi terkejut dan langsung mendorong kuat tubuh Risca.
Hmm yaa Risca datang ke Bali menghampiri Rumi, entah apa maksud dan tujuannya yang jelas Rumi juga nampaknya terkejut atas kedatangan Rima.
“Siapa Dia, Sayang…?” Ucap Manja Risca, ucapan itu membuat Rima semakin terbakar emosinya.
“Heh, apa you bilang tadi? Sayang?” Kesal Rima dengan tatapan sisnisnya.
“Rima, sabar ini gak seperti yang kamu bayangkan loh..” Ucap Rumi mencoba menenangkan Rima.
Sementara Risca merasa kesal dengan ucapan lembut Rumi pada Rima, seolah mengacuhkan Risca kala itu.
“Mas, kamu ini apa-apaan sih? Kemarin kamu menikah dengan bocah ingusan secara mendadak, dan sekarang kamu ke bali tanpa sepengetahuan aku ternyata kamu Bersama wanita bar-bar ini..”
Ucap Risca semakin membuat kesal Rima dan membuat Rumi semakin yakin bahwa dirinya akan emndapat masalah besar.
“What? Lo bilang gue bar-bar? Mulut lo tipis banget yaa kaya baju yang lo pake, pengen gue sobek rasanya..” Kesal Rima yang sudah maju hendak meberi serangan fisik terhadap Risca.
“Rima.. sudah, cukup..!” Rumi mencoba menahan Rima.
“Kakak.. aku tunggu di Villa.. kamu harus mempertangung jawabkan urusan ini..!!” Ucap Rima dengan tegas.
__ADS_1
“Tunggu, kakak bisa jelaskan..” Ucap Rumi berusaha menahan Rima.
Rima berjalan cepat kembali masuk ke dalam restorant tersebut demi menjemput Ameera dan mengajaknya kembali ke Villa.
Rima terdiam sejenak, saat ia mendengar panggilan kakak yang di ucapkan Rima kepada Rumi.
“Dasar bodoh!!” Kesal Rumi pada Rima.
“Aku hanya berusaha menyenangkan kamu, sejak semalam kamu bilang rindu padaku kan? Lalu kamu menghilang.. aku pikir kamu marah, maka aku flight pagi-pagi sekali..” Ucap Risca berusaha menejlaskan. Rumi nampak enggan mendengar penjelasan itu, tatapannya sangat sinis penuh amarah.
“Bisa tidak kamu itu mendengar ucapanku? Tunggu aku kembali ke Jakarta! Dan Bisa tidak kamu bersikap lebih manis tidak selalu bermanja dengan aku apalagi di tempat umum seperti ini.. memalukan!!” Rumi membentak Risca kala itu, ia langsung meninggalkan Risca dan menghampiri Rima juga Ameera.
Wajah bingung Ameera nampak terlihat jelas, dimana dirinya tengah asik berbalas pesan dengan kedua sahabatnya secara tiba-tiba datang Rima dengan wajah penuh amarah, menarik tangannya dan berkata agar mereka harus segera kembai ke villa.
Ia semakin bingung saat Rumi datang dengan nafas yang terengah-engah, memohon pada Rima agar dapat mendengar penjelasannya.
“Jelaskan di villa di hadapan papa, aku benar-benar kecewa padamu..!” Kesal Rima menarik paksa tubuh Ameera.
Ada ap aini? Apa ketahuan yaa kalau Mas Rumi baru saja melakukan panggilan telfon dengan Sundel Bolong itu? – Ameera membatin.
Mereka menggunakan taxi untuk segera tiba di villa, wajah kesal Rima sangat terlihat jelas kala itu.
“Ada apa sebenarnya, Rima? Boleh aku tahu?” Kata Amera dengan pelan dan lembut.
“Apa kakakku menyakitimu?” Tanya Rima, Seketika Ameera terdiam, wajahnya pucat seketika debar jantungnya berdetak lebih cepat.
Kenapa Rima bisa bicara seperti itu? Apa yang sudah terjadi tadi? Apa Rima benar-benar mengetahui apa yang terjadi? Tapi, tahu dari mana?? – Ameera membatin, telapak tangan Ameera mendadak dingin, lidahnya ikut kelu karena tidak tahu harus berkata apa pada Rima kala itu, ia takut salah berbicara.
*
*
*
Nah kan .. nakal banget si Risca, enaknya di apain? Hehe
Like Komen dan Rate ya..
salam cintaku, Mei❤️
__ADS_1