
Ameera pagi ini bersiap untuk menuju kampusnya, pagi tadi Rumi sudah memberikan hadiah pada Ameera sebuah laptop keluaran terbaru untuknya, dan hal yang membuat Ameera senang adalah data-datang yang tentu saja masih bisa di selamatkan.
Ameera masih berada di kedimannya sambil menunggu Rima bersiap karena ia merasa jenuh berada di rumah seorang diri.
Pikiran Ameera masih tertuju pada Keyla dan juga Argha, apakah ada hubungan khusus antara mereka berdua? Lalu bagaimana dengan dokter Naya?
“Hei.. bengong saja” kata Rima mengejutkan Ameera yang tengah duduk di sofa ruang kelurga.
“Hah...! buatku kaget saja” kata Ameera sambil mengusap dadanya.
“Kenapa melamun? Rindu ya dengan kakaku” ledek Rima sambil menaik turunkan alisnya.
“Huh , mana ada? Baru satu jam berpisah masa sudah rindu saja..” kata Ameera mengelak.
“Terus, apa yang kamu pikirkan?” Tanya Rima penuh rasa penasaran.
“Aku hanya sedang memikirkan Kak Argha dan Keyla.. mereka sepertinya saling suka..” kata Ameera membuka pembahasan.
“Hemm aku malah menilai Keyla yang jatuh hati pada Argha, aku melihat Argha biasa saja.. bahkan bagiku Argha itu pria lemah, tidak bisa bersikap… dia mau sama siapa ? Dokter Naya atau Keyla? Haha aneh sekali” ucapnya dalam tawa kesal karena sikap Argha.
“Loh memang kamu melihatnya bagimana Rim?” Tanya Ameera panasaran.
“Yaa Argha tidak ingin adanya perjodohan antara dirinya dan juga Dokter itu, lalu kenapa disaat tante SonSon (panggilan kesayangannya) memintanya untuk menjemput atau mengntar Dokter itu, si Argha mau?? Kan PHP namanya…” kesal Rima.
“Oh begitu.. lalu dengan Keyla? Bagaimana? Apa kamu tau sesuatu?” Kata Ameera bertanya.
“Kalo soal itu, aku melihat keyla yang menyimpan rasa pada Argha, namun yaa seperti laki-laki yang sok jual Mahal, Argha ini tidak tegas sama sekali.. dia seolah bersikap biasa saja sampai aku lihat Keyla yang berusaha untuk dekat, membuat alur yang justru buat dia sakit nantinya..” kesal Rima menjelaskan.
Ameera tak bergeming, hatinya terasa sakit jika sahabatnya harus merasakan kekecewaan..
“Ameera, Hellowwww” Rima menyadarkan lamunan Ameera.
“Oh iya, Sorry.. aku hanya memikirkan bagaikana jika benar Keyla jatuh hati pada Kak Argha namun kak Argha tidak menaru perasaan apapun untuknya” ucap Ameera dengan wajah murung.
“Sudah, jangan di pikirkan.. biar nanti aku yang akan ospek Kak Argha.. kalian tenang saja” kata Rima sambil berharap Ameera tidak memikirkan hal itu.
Perjalanan mereka tempuh selama empat puluh menit, Ameera mendatangi dosennya sementara Rima tengah menunggu kehadiran Faiz di kantin universitas tersebut.
Tak lama Faiz datang dengan kehebohan dan pakaian nyentriknya.
“Buset..! Terang banget baju lo kaya lampu bajaj” kata Rima melihat Faiz memakai baju orange menyalah.
“Sembarangan, lampu disco ini tuh..” kata nya membalas lelucon itu.
Keduanya tertawa sambil berbincang, hingga pembahasan juga akhirnya menuju kea rah Keyla.
“Dia happy meski Argha tidak memikirkan perasaanya yang penting Argha membalas chatnya, menelfonya dan sekarang, bisa berair tuh mata Keyla ngeliat Argha tiap hari, binitan juga bisa tuh ..” kata Faiz mengungkapkan penilaiannya dengan asal.
“HAHAHA” tawa lepas Rima tidak peduli dengan khalayak ramai.
“Dih ketawa lo Rima, bergetar gini perut gue..” celetuk Faiz sambil tertawa.
“Disko cacing lo? Hahaha” keduanya terus tertawa hingga menjadi pusat perhatian banyak mahasiswa lain.
__ADS_1
Setelah lelah tertawa mereka sejenak melepas rasa lapar dan haus dengan memesan makanan.
“Rim, lo gak mules makan disini? Kaki lima gini” kata Faiz.
“Sama aja, jangankan kaki lima, kaki tiga juga enak bikin lega tengorokan” tambah Rima dengan leluconnya yang lagi-lagi mengundang tawa.
Di tengah mereka menyantap seporsi soto ayam dan nasi, Ameera datang dengan wajah sumringah.
“Yeay.. gak banyak revisi” ucapnya senang.
“Pasti lo sogok ya?” Ledek Faiz.
“Sembarangan! Emangnya lo..” kata Ameera menepuk lengan Faiz dengan berkas tebal yang tengah ia pegang.
“Aww sakit, lemah loh aku..” ucapnya membuat guyon.
“Bukan lemah, tapi lunak lo itu ” sahut Rima.
“Haahaha, ayam 5 jam di ungkep kali ah” kata Faiz membuat ketiganya tertawa.
“Eh Hmm gue kangen Keyla, gak bisa apa kita lunch bareng?” Kata Ameera penuh harap.
“Ah elah.. ini soto udah mau abis malah ngajak lunch bareng.. mau bikin inces melar yaa”
Kata Faiz membuat kesal Rima.
“Yasalam.. inces apa lo?? Ngeces tuh iya!” Jawab Rima menimpali sambil mengelap bibir Faiz dengan tisu bekas ia mengelap cairan hidungnya.
“Bekas elap ****** ***** penuh rasa” kata Rima semakin menambah gelak tawa .
“Dih permen Nona-Nona Kali ah, manis asem asin penuh rasa..” kata Faiz menimpali.
“Sudah – sudah.. kalian ini ampun yaa selalu saja mengundang air mata tawa ini keluar..” kata Ameera sambil mengusap air mata tawanya.
“Lo juga ngapain bahas Keyla, dia paling makan bareng Aa Argha Cuyung..” kata Faiz sambil memoyongkan bibirnya.
“Minta di sundut tuh bibir” kesal Rima.
“Memang mereka sedekat apa? Yakin sudah cuyung – cuyungan?”
Kata Ameera mengikuti gaya Faiz.
“Dih udah pandai monyong ya? Hayo belajar dari mana? Kok monyongnya bisa bulet gitu? Seperti sedang……. Hahahahaha” Faiz dan Rima tertawa lagi, ada saja yang membuat tiap menit mereka tertawa .
“Apa sih Faiz ini, lagi bahas Keyla lohh” ucap Ameera masih tak paham maksud Faiz.
(Kalo Readers paham kah maksud Faiz? Hahaha)
“Haha okelah, skip.. dia masih baru dan malu-malu.. nanti lama lama jadi mau – mau..” kata Rima meledek iparnya sendiri.
“Setelah mau – mau jadiii? Lagi – lagi, Enak – Enak..” tambah Faiz dengan suara mendesah dan wajah pasrah seorang wanita.
Rima benar- benar tertawa lepas terbahak-bahak. Sementar Ameera masih belum sepenuhnya memahami hanya saja feelingnya pasti kuat, Faiz dan Keyla tengah membahas hal-hal berbau permainan dewasa.
__ADS_1
“Oke .. oke, mulai bete dia..” kata Rima mengatur nafasnya. Sambil menujuk kea rah Ameera.
“Back to Keyla..” tambah Rima.
“Jadi saran gue, kita bagi tugas.. kalian tanya, introgasi langsung si Keyla.. bagaimana perasaanya ke Argha.. Nah gue, gue yang akan tanya ke si Argha.. oke?” Rima memaparkan rencana itu.
“Boleh, kapan dan dimana?” Tanya Faiz.
“Bagaimana kalo besok saja, kita bertemu di jam makan siang..” Kata Ameera.
“Oke boleh juga..” sahut Faiz sementara Rima hanya mendengarkan saja keduanya ber transaksi.
“Oh iya, mana oleh-oleh liburan lo?” Tanya Faiz pda Ameera.
“Gak ada kita ga beli apapun” kata Ameera.
“Mas Rumi malas mampir-mampir..” kata Ameera menjelaskan keadaan sesungguhnya.
“Lo mampir di tempat yang ada hotelnya.. pasti dia mau” kata Faiz meledek.
“Sudah kami memang mampir di hotel..”
Jawaban Ameera mengundang sebuah tawa pelan sambil meledek Ameera.
“Lo di bawa ke hotel? Di apain aja Meer?” Tanya Faiz dengan suara pelan .
“Gak di apa-apain” jawab polos Ameera.
“Kalian engga? Ehem ehem?” Tanya Rima.
“Iya lo ngapain aja di hotel?” Tanya Faiz.
“Yaa tidur aja sih” kata Ameera sambil mengingat.
“Tidur? Di tidurinnya dimana?” Pertanyaan cepat Rima.
“Hemm di tidurin? Hmm Di villa, pas hujan-hujan” ucap polos Ameera langsung saja ia menutup mulutnya karena merasa keceplosan. Tawa lepas Rima dan Faiz sangat kencang, keduanya puas tertawa karena melihat ekspresi Ameera yang menutup mulutnya sambil membulatkan matanya.
“Astaga keanapa aku bisa keceplosan gini siihh.. “ kata Ameera menepuk pelan bibirnya berulang kali..
Faiz dan Rima puas menertawakan Ameera yang merasa malu karena salah berbicara.
*
*
*
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
Mei 🥰
__ADS_1