GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Janji Rumi


__ADS_3

Malam itu mereka tengah makan malam dengan konsep sederhana sesuai permintaan Ameera.


Makan malam di pinggir kolam renang sambil duduk santai di atas Beanbag menambah kesan sederhana namun tetap kental rasa kebersamaan mereka.


“Mas, kita jangan lama-lama loh.. aku ingin bimbingan skripsi..” kata Ameera merengek sambil menggulung mie instan di piringnya dengan garpu.


“Satu malam lagi, ya?” Kata Rumi berusah menciptakan waktu lebih lama dengan Ameera.


“Hmm baiklah.. tapi janji yaa?” Kata Ameera .


“Iya aku janji, lagi pula aku akan ada tamu dari jepang…dan papa minta aku yang handle” kata Rumi yang mulai memahami arti sebuah tangung jawab.


“Oke deh..” jawabnya.


“Oh iya Mas… Keyla memberiku kabar, akhir pekan ini Argha mengundang kita untuk datang ke acara peresmian kantor barunya, apa kamu di undang?” Tanya Ameera.


“Oh iya, aku di undang.. tapi aku malas untuk datang..” kata Rumi santai.


“Loh kenapa? Kan kamu sepupunya, kamu bisa datang bersamaku, nanti aku bisa menemani keyla juga Faiz..” kata Ameera dengan harapannya.


“Hmm kita lihat saja nanti..” kata Rumi malas menanggapi.


“Aku berharap bisa ikut hadir karena ingin sekali menemani Keyla..” Kata Ameera.


“Memang Keyla datang sendiri? Kan tidak toh..” Kata Rumi.


“Yaa iya sih.. hmm yasudahlah kamu ini kadang susah mengerti ke inginan orang lain..” Kata Ameera kesal dengan Rumi.


Rumi Nampak cuek saja, tidak mungkin juga bagi seorang Rumi mengatakan bahwa dirinya tengah berada pada rasa cemburu saat itu.


Karena mereka sudah puas tidur saat sore tadi, Ameera dan Rumi memilih untuk menonton film Bersama di ruang theater khusus.


Ameera Nampak takjub saat mengetahui villa itu memiliki ruang menonton khusus, bagai bioskop mini.


Mereka duduk di sebuah sofa yang sangat nyaman dengan ukuran yang juga cukup besar, Rumi mendekap Ameera dalam pelukannya saat itu sambil memakan beberapa chips kentang kesukaan keduannya.


“Film Romantis semua yang kamu pilih? Aku lebih suka film action..” kata Rumi yang sebenarnya malas untuk meonton film genre romantic itu.

__ADS_1


“Ih kasihan kalo action loh, di tonjok , di tendang, bahkan tak segan membunuh..” Kata Ameera.


“Hmm sama kan? Romantis itu mainnya dari dalam, menyakiti dari hati.. paling juga hanya pegangan tangan, pelukkan, ciuman, hahh..” Ucap Rumi memberi protesnya.


“Astaga, kamu juga suka kan, pegangan, pelukan, ciuman! Protes saja sih..!” Ameera menggerutu kesal sambil menjauh dari Rumi. Rumi jelas terkekeh melihat ekspresi kesal Ameera yang tengah merajuk kesal sambil ia mencoba mendekati lagi isterinya itu.


“Nah.. aku itu gak suka lihatnya aku lebih suka melakukannya, itu sebuah konsep yang berbeda loh..” Ucap Rumi sambil tertawa di hadapan Ameera. Entah mengapa Ameera juga merasa itu sebuah lelucon, hendak tertawa namun rasanya gengsi sekali tertawa disaat ia tengah merajuk seperti itu.


“Haha kamu menahan tawa, ya?” Kata Rumi melihat nya sekilas.


“Bawel ihh.. sudah ah mau ke kamar saaja..” Kata Ameera beranjak pergi, Rumi kemudian menariknya hingga Ameera jatuh dalam pangkuannya.


Mereka kemudian bertatapan lagi dengan sangat dekat, wajah Ameera memerah terlebih Rumi kini Kembali ******* bibir merah Ameera.


Ameera mulai membalas ciuman sensasional itu, semakin Ameera terbawa dalam sensasi yang berbeda Ketika Rumi mulai memberikan sentuhan kea rah tubuh Ameera.


Ameera melepas ciuman panas itu.. “Mas, kan tadi sudah” Kata Ameera malu.


Rumi tersenyum.. “Tidak ada batas maksimalnya, sayang ..” Ucap Rumi


“Disini kedap suara, lagi pula siapa yang berani menganggu kita?” Ucap Rumi yang kemudian ia menekan satu tombol pada Remote untuk mematikan layar besar di hadapannya.


Ameera duduk di atas paha Rumi dengan posisi menghadap ke arahnya, sesuai arahan Rumi.


Rumi Kembali melanjutkan aksinya..Ia benar-benar tengah berada dalam puncak hawa nafsunya dan berusaha membuat Ameera memahami setiap sentuhan dan tindakannya.


Rumi cukup merasa senang saat Ameera mulai mengikuti pergerakanya, memberi sentuhan yang juga menambah gairah Rumi saat itu.


Ameera mulai mengeluarkan suara desahanya, kali ini ia nampaknya menurunkan volume suaranya, di rasanya semakin pelan ******* itu semakin membuat Rumi terpacu untuk melakukan hal lebih.


Setelah pemanasan yang mereka lakukan Rumi kemudian memulainya lagi dengan aksi utamanya, Ameera cukup tegang saat Rumi hendak memulainya, sedikit trauma rasa sakit dan paksaan itu nampaknya masih ada..


Namun ini kali ke tiga ia melakukannya, maka saat Rumi mulai memasukkannya Ameera tidak terlalu merasa kesakitan, ia cukup menikmati pergerakan Rumi dengan suaranya yang Rumi anggap berisik namun memacu gairahnya untuk lebih.


Tiga puluh menit kegiatan inti itu akhirnya berakhir, Ameera yang masih terasa lelah dengan apa yang baru ia lakukan , dengan gaya baru yang Rumi ajarkan.. terbesit rasa malu usai menyelsaikan aksi itu, maka bergegas Ameera menarik selimut yang tidak terlalu tebal untuk menutupi badannya, sementara Rumi masih mengatur nafasnya sambil ia mengusap lembut Perut Ameera.


“Kenapa di usap-usap? Seperti ada bayinya saja..” Ucap ameera.

__ADS_1


“Yaa mungkin suatu saat nanti, bisa saja kan?” kata Rumi santai.


“Aamiin.. maaf karena ku tidak sempurna, mungkin akan sangat sulit, dokter sendiri yang mengatakan hal tersebut ..” Ucap Ameera dengan nada sendunya.


“Hemm.. Aku sudah merasa cukup saat ini, aku juga tidak sempurna, aku nakal bahkan aku ini hina.. jauh dari kata suci..” Ucap Rumi tak kalah sendu.


“Yaa memang tidak ada manusia yang sempurna yaa, nantipun kamu akan menemukan sesuatu yang tidak kamu sukai dari diriku, percaya atau tidak kalo kita bisa saling memahami yaa pasti nanti akan bisa memakluminya kok..” Kata Ameera.


Rumi kemudian mendekat, lalu ia memeluk Ameera dari posisi samping..


Saat ini mungkin aku harus menjaga Ameera, aku harus perbaiki diri, aku tidak pernah menyangka Ameera yang membuka hatiku dari rasa benci terhadap Wanita dan dengannya juga aku paham sekali jika tidak semua perempuan itu sama dengan mama..


Rumi berbicara sendiri dalam batinnya, ia mulai menydari atas apa yang ia lakukan dan perbuat selama ini.


"Kenapa? Kok melamun?" Tanya Ameera.


"Tidak apa-apa .. aku hanya sedang berjanji" kata Rumi sambil tersenyum pada Ameera..


"Janji? Janji apa?" Tanya Ameera .


"Adalah, janji terhadap diriku sendiri.." kata Rumi.


"Kenapa pada dirimu sendiri?" Kata Ameera terus bertanya- tanya.


"Karena pikirku, jika aku berjanji pda diriku sendiri, jika aku ingkar biar saja aku sendirian yang menangung rasa sakitnya, jangan sampai orang lain mengalaminya..." ucap Rumi lalu Ameera tersenyum simpul pada suaminya yang terus mengecup kening Ameera.


*


*


*


Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..


Terimakasih, salam cintaku..


Mei 🥰

__ADS_1


__ADS_2