GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Kejadian Enam Bulan Lalu


__ADS_3

Bisikkan Untuk Kita:


Jangan terlalu banyak Berharap pada manusia, karena akan terselip kekecewaan nantinya. Nyatanya, tidak semua yang dekat itu baik, tidak semua yang baik itu ada pada kedekatan.


*


*


Malam itu juga Ameera bertekat keluar dari kediaman Rumi, ia sudah tidak peduli lagi dengan resiko yang mungkin akan terjadi, Ameera menarik kopernya dengan wajah sembabnya.


Sialnya saat Ameera membuka pintu kamar, ia berpapasan dengan Rumi.


“mau kemana kamu? Jangan membuat sebuah keputusan sendiri, Ameera..” Kata Rumi sambil menutup dan membelakangi pintu.


Ameera berusaha menarik tubuh Rumi sambil menahan tangisnya.


“Aku akan bertangung jawab sendiri atas pilihanku, aku ingin pergi dan kita harus segera bercerai..” Kata Ameera. Rumi bergegas mengunci pintunya.


“Aku tahu mas, kamu mempertahankan aku karena kamu takut semua yang papa berikan akan di Tarik dan kamu tidak punya apa-apa lagi.. itu kan alasan kamu? Sudah sangat mudah untuk aku tebak..” Ameera berbicara dengan tangn yang bergetar, air mata mengalir membasahi pipi berlesungnya.


“Jangan mnuafik.. kamu bisa kan menikmati semuanya?” Ucap Rumi sambil berusaha mencabut kunci pintu kamar itu.


"Hah? Menikmati? Yang mana yang aku nikmati?? Aku lebih baik bekerja dari pagi sampai pagi lagi, dari pada menikmati ini semua tapi sakit hatiku menerima semua kenyataan yang ada… Jadi, lepaskan saja aku..” Ucap Ameera namun Rumi nampaknya masih dengan keegoisannya.


“Mas.. buka..!!” Pinta Ameera sat mengetahui pintu terkunci.


Rumi nampak acuh kala itu, ia tidak sama sekali mengubris ucapan Ameera.


Ameera mengalah dengan keadaan malam itu, ia duduk di sofa sambil menangis dan menahan perih pada perutnya akibat perut yang belum ia isi sejak siang tadi.


Rumi terdiam, ia duduk di kursi meja kerjanya membelakangi posisi Ameera di sofa saat itu.


Aku berharap kamu tertidur mas, dan aku bisa kabur dari rumah ini.. – Ameera membatin.


Ameera manpak kelelahan dalam tangisnya, hingga terpejam matanya di atas sofa malm itu.


Sementara Rumi teridam, pikirannya terbayang jelas jeritan Ameera dan juga Teriskan Rima tadi, ia merasa bodoh karena terlalu hanyut dalam rasa sakitnya di masa lalu yang mengakibatkan kini hidupnya seperti tidak terarah.


Rumi meraih ponselnya lalu ia mencoba mengirimkan pesan pada Risca di tengah malam yang di guyur hujan lebat itu.


Risca, untuk sementara waktu saya harap kamu bisa mengerti dan memahami keadaan. Jangan dulu kamu ganggu saya sampai keadaan benar-benar kondusif, tapi jika kamu tidak bisa menunggu waktu itu tiba, saya bisa melepaskan kamu.


Rumi memblokir nomer ponsel Risca saat itu, ia merasa pening dengan keadaan saat ini. Ia memilih menuju ruang kerja khususnya seorang diri dan meraih beberapa minuman beralkohol yang ia miliki disana. Teguk demi teguk, gelas demi gelas Rumi habiskan dalam waktu semalam.


Ameera terbangun dari tidurnya di waktu yang hampir menujukkan pukul 5 pagi, namun ia harus menelan kekecewaan karena pintu kamar yang masih terkunci.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa keluarrrrrr!!” Ameera Berteriak sambil menangis, tubuhnya juga gemetar saat ia merasakan perutnya terasa sakit.


Ameera memutuskan merebahkna tubuhnya di atas Kasur sambil menutupi tubuhnya yang mulai dingin terasa.


Aku ingin bebas dari masalah ini, Tuhan bantu aku, jika semua harus berakhir maka akhiri dengan ketegaran, jika memang harus berlanjut maka kuatkan aku untuk bertahan.


Mama.. mama lihat Meera sekarang? Kenapa mama berwasiat tentang pernikahan ini mah? Ameera tersiksa, sama rasanya seperti sikap mama dulu terhadap Meera saat itu.


Ameera menagis tersedu-sedu hingga akhirnya ia kelelahan, matanya pun sangat terlihat jelas bahwa ia tengah memikul beban pikiran yang begitu besar.


*


Pukul delapan, Rima mencoba mencari tahu kondisi Ameera dan juga Rumi, senyum wajah Rima seketika melebar saat ia menyadari pintu kamar itu terkunci.


"Mereka pasti tengah asik asik berduaan" ucap Pelan Rima.


Rima memutuskan untuk kembali ke bawah menyantap menu makanan yang sudah di siapkan.


Waktu berjalan sebagaimana mestinya, menghabiskan detik menit hinga tidak terasa waktu sudah cukup siang kala itu. Victor membutuhkan Rumi untuk segera menandatangi beberapa berkas, karena tidak mendapat jawaban dari Rumi, bergegaslah Vicotor menuju kamar Rumi.


Kamarnya terkunci, nampak wajah Victor terlihat cemas tidak seperti biasanya, apalagi semalam tengah terjadi sebuah perdebatan maka kecurigaan Victor membawa langkahnya menuju Ruang kerja Rumi.


Rasa curiga Victor benar, ia melihat Rumi sangat kacau dengan baju yang terangkat memperlihatkan setengah tubuhnya. Di tambah botol dan gelas berserakan di lantai.


"Den Rumi..." ucap Victor bergegas menghampiri Rumi mencoba membangunkannya.


"Victor.. sakit sekali kepalaku" keluh Rumi memegang kepalanya.


"Astaga kamu mabuk?! Lalu dimana Mbak Meera?" Ucap Victor seketika mengingat sosok Ameera.


Rumi melihat beberapa kali ke arah jam dinding yang sudah menujukkan pukul dua siang, dan ia mengingat kalau ia membiarkan Ameera berada di kamar tanpa makan dan minum sejak semalam.


"Victor, Ameera.. Ameera ada di kamar, terkunci" ucap Rumi sambil berusaha berdiri dengan tubuh yang belum stabil dan kepala yang sangat berat.


"Astaga... kita mengira kalian berada di dalam kamar berdua" ucap Victor yang juga beranggapan hal yang sama seperti Rima.


Rumi berhasil berdiri dan berjalan menuju kamar dimana Ameera berada.


Pintu kamar terbuka, terlihat Ameera berbaring dengan tubuh yang hampir sepenuhnya tertutup oleh selimut tebal.


Victor lebih dulu berhadapan dengan Ameera, nampak wajah pucat Ameera kala itu, spontan Victor menyentuh kening Ameera dengan tangan kanannya.


"Astaga, badannya sangat panas" ucap Victor,


Rumi nampak terkejut dan ia memastikan sendiri dengan memegang kening Ameera.

__ADS_1


"Hubungi Arief, suruh dia datang" ucap Rumi penuh kepanikan.


"Saya rasa Mbak Meera harus segera di bawa ke rumah sakit, dia nampaknya dehidrasi dan harus segera dapat pertolongan medis, jika mengandalkan kedatangan Dokter Arief akan memakan waktu yang lebih lama, penanganannya pun tidak semaksimal di rumah sakit.. " Victor memberi pendapatnya, bersyukur Rumi menyetujuinya.


"Aku tidak sanggup menggendongnya.. bawalah dia Victor , aku akan menyusul.. aku harus menyiram tubuhku dengan air dingin terlebih dahulu.. " pinta Rumi.


Victor yang saat itu akhirnya di temani oleh Rima bergegas membawa Ameera kerumah sakit.


Setibanya di sana, beberpa pemeriksaan secara intensive di lakukan.. Dan tak lama berselang Rumi datang dengan keadaan yang lebih baik terlihat kala itu.


"Keluarga Ny. Ameera.." ucap seorang suster.


"Saya suaminya" ucap Rumi Yang baru saja tiba.


"Baik silahkan pak, dokter ingin bicara"


Jangung Rumi berdebar, ia tidak pernah menghadapi seorang dokter untuk berbicara dengan sebuah keseriusan.


Rumi duduk di hadapan dokter yang menangani Ameera, sementara sekilas Rumi melirik ke arah Ameera yang tengah berbaring lemah dengan selang infus yang kini terpasang di tangan kanannya.


"Begini pak, apa Nyonya Ameera tengah melakukan pekerjaan berat?" Tanya Dokter.


"Sepertinya tidak dok, hanya memang kemarin ada insiden kecil saja" ucap Rumi dengan gugup dan merasa tak mengerti maksud dan tujuan dokter.


"Hasil prmeriksaan saya, Nyonya mengalami kelelahan, dehidrasi dan saya curiga ada sedikit masalah di bekas oprasinya.."


"Oprasi usus buntunya, Dok?"


Dokter terdiam mengerutka keningnya.


"Usus buntu?" Sambil membuka riwayat diagnosa Ameera yang tercatat rapih di berkas kepemilikan pasien atas Nama Ameera.


"Pak.. Nyonya melakukan operasi kista dan pengangkatan satu indung telur, enam bulan lalu.."


Deng!!! Rumi nampak terkejut dengan ucapan Dokter saat itu.


*


*


*


Huhhhhh bagaimana selanjutnya? Hehe


Di harapkan untuk sabar yaaa, hehee

__ADS_1


Like komen dan rate nya aku tunggu, supaya langsung up next chapter nih hehee


__ADS_2