GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Pelukan


__ADS_3

Di sebuah taman kota di waktu senja..


“Tapi kak, Aku apa yang aku ceritakan pada kaka adalah benar adanya.. memang keadaan sebelumnya tidak seperti saat ini..” Ucap Keyla pada Argha yang tengah berkeluh kesah seakan putus asa untuk kembali mendapatkan Ameera.


“Kak, sudahlah.. aku sudah katakana padamu sejak lama.. apapun dan bagaimanapun keadaan rumah tangga Ameera, nampaknya tidak baik kalo kakak mengharapkan perpisahan di antara mereka.. apalagi saat ini kita sama-sama melihat kini Ameera nampak Bahagia dnegan rumah tangganya, meski yaa harus melewati banyak rintangan termaksud dengan sundel bolong itu..” Kata Keyla berusaha lebih menjelaskan pada Argha.


“Beruntung sekali Rumi bisa memilikinya, padahal dia sangat tidak pantas untuk Ameera yang baik dan penuh ketulusan..”


“Kak, aku kan sudah pernah jelaskan kalau Pak Rudi yang mengharapkan kalau Ameera bisa merubah Rumi jadi pribadi yang lebih baik lagi.. dan menurut Victor, Rumi adalah anak baik kan? Hanya saja keadaan yang mengubah sikapnya melihat dunia luar..Mungkin saja Ameera sudah berhasil untuk merubah itu…”


Kata Keyla dengan segenap harapan agar Argha bisa menerima kenyataan.


“Kak.. coba buka hatimu untuk orang lain.. jika tidak bisa menerima perjodohan kakak dan Kanaya maka bukalah hati kakak untuk orang lain.. jangan memaksakan takdir yang tidak seharusnya, Kak..” Ucap Keyla merasa sudah setengah putus asa membuat Argha untuk move on dan melupakan Ameera dalam sebuah rasa di hatinya.


*


Malam Hari Di Kota Bandung..


Ameera dan Rumi baru saja terbangun pukul delapan malam, dengan keadaan ruangan yang gelap tanpa sebuah pencahayaan karena keduanya lupa menyalahkan lampu sebelum mereka tertidur.


"Aku laperrr.." rengek Rumi.


"Aku juga, Mas.." kata Ameera kemudian keduanya terkekeh bersama.


"Kamu mandi duluan, aku siapkan baju dulu.." kata Ameera berjalan menuju shooping bag dan menyiapkan baju yang baru mereka beli untuk di pakai saat itu.


Tidak menunggu waktu yang lama, Rumi keluar dengan handuk yang ia pakai di setengah badannya. Untuk mempersingkat waktu Ameera bergegas untuk mandi.


Disaat Ameera tengah berada di kamar mandi ponselnya berderinv menandakan panggilan masuk.


Rumi mendekat dan menerima panggilan yang ternyata itu adalah Argha.


"Malam Ameera.." Rumi mendengar suara itu, seketika rasa cemburu mulai meningkat dalam tubuhnya saat itu.


"Ameera sedang mandi, kami akan diner.. ada perlu apa, Argha?!" Ucap Rumi dengan nada tegas datar tak memberi respon baik.


"Oh.. kak Rum.. kak, bagaimana kabar kalian? Apa kalian tengah berlibur?" Argha tak pandai menyembunyikan gugupnya hingga Rumi bergitu kesal dengan sikap basa basi yang Argha ciptakan.


"Apa yang ingin kamu katakan pada Ameera? Langsung saja to the poin.." kesal Rumi masih dengan nada ketus.

__ADS_1


"Tidak kak, aku hanya sedang berkendara di sekitar taman kota.. aku ingat dimana setiap sore kita sering kali berada disini bersama menghabiskan senja.." kata Argha memancing emosi Rumi.


Dari kamar mandi, ameera berteriak meminta bantuan Rumi.. "Mas, tolong ambilkan handuk" teriak Ameera yang lupa meraih handuk yang sebelumnya ia letakkan di area sofa.


Rumi memiliki sebuah ide untuk membalas rasa cemburunya..


"Iya sayang.. apa? Aku tak dengar??" Ucap Rumi sangat jelas terdengar oleh Argha yang tengah tersambung dalam panggilan telfon itu.


Di dalam kamar mandi Ameera terdiam, apa tadi dia bilang?? Apa aku tak salah dengar? Ah salah dengar pasti... - ucapnya membatin.


"Mas Ayolah mana handukku" ucap Ameera lagi kali ini semakin jelas terdengr oleh Argha.


"Argha.. sudah dulu yaa, kamu tentu paham bagaimana terpancing oleh permintaan isteriku.. aku sudahi dulu.. bye"


Rumi langsung terkekeh begitu saja sampai ia melupakan Ameera yang tengah membutuhkan handuk.


"Masssss" teriakan itu menyadarkan tawa Rumi.


"Astaga sampai lupa" ucapnya sambil menepuk keningnya.


Dalam batin Rumi.. mengenal dan bahkan saat ini mungkin aku tengah jatuh cinta padanya menjadikan aku sebahagia ini? Bahkan membuat lelucon yang tidak pernah aku ciptakan sejak lama..


"Kamu kenapa mas? Senyum senyum sendiri" kata Ameera sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Argha menghubungiku, tapi dia nampaknya kesal saat aku yang menerima panggilan telfon itu.. " ucap Rumi sambil terkekeh santai.


"Ada apa Kak Argha telfon?" Ucap Ameera heran, dan terselip rasa khawatirnya memikirkan Argha.


"Mungkin dia masih menyimpan Rasa padamu" ucap Rumi meyakini.


"Aku tidak tahu.. aku mencoba sportif dengan menganggapnya sebagai seorang kakak.. tidak salah kan?" Ucap Ameera.


"Tidak, itu hak kamu dalam merespon rasa dan perasaan.. menurutmu, apa dia menganggap mu adiknya?" Rumi tersenyum sinis terselip rasa cemburu yang tidak ingin ia perlihatkan.


"Entah, itupun hak dia kan? Akhir-akhir ini memang Kak Argha banyak mengorek informasi tentang aku atau mungkin tentang kita, lewat Keyla..."


"Dan kamu hanya diam? Membiarkan sahabatmu mengumbar cerita kita?" Kata Rumi semakin terlihat rasa tak sukanya.


"Mas.. aku sudah berusaha menegur Keyla kemarin, dia pun sudah meminta maaf dan berjanji agar tidak lagi membahas kita pada Argha sekalipun Argha memintanya"

__ADS_1


"Aku malah berfikir.. Keyla menyimpan perasaan pada kak Argha.." tambah Ameera berharap perasaannya kini tak salah menebak.


"Bagus dong, kalo sampai mereka berdua berjodoh.. aku akan hadiahkan mobil mewah untuknya" ucap Rumi seolah bernazar akan harapannya.


Ameera menatap serius suaminya.


"hus kamu ini, bukannya Dokter Naya itu calon isterinya?" Kata Ameera.


"Dulu akupun berpacaran dengan Risca tapi menikah dengan mu.. kenapa sulit berharap kalo Keyla dan Argha bersatu? Hmm apa kamu cemburu??" Ucap Rumi membuat Ameera menatap Rumi dengan membulatkan matanya.


"Sembarangan kamu kalo bicara..."Kesal Ameera.


"Kalo aku berniat menghianati pernikahan kita, sudah sejak awal saja aku tidak memutuskan hubungan ku dengan Kak Argha.." kesal Ameera dengan protesnya.


Rumi terkekeh melihat Ameera yang terlihat sinis dan kesal dari pantulan cermin.


"Oke - oke.. benar juga, berarti kamu sudah naksir aku ya?" Goda Rumi seketika Ameera memutar badannya menatap Rumi yang tengah duduk di kasur.


"Aku naksir kamu? Ihh percaya diri sekali kamu.. kamu itu kaku, pelit senyum, kasar juga sama aku, bagaimana aku bisa naksir? Aneh saja harapanmu itu.." ucap Ameera kesal.


Rumi berdiri menghampiri Ameera lalu berdiri di hadapannya memegang dua bahunya. Menatap langkah Rumi yang semakin dekat, membuat debar jantung Ameera ikut berdebar kencang.


"Karena dulu aku tidak mengenal, siapa kamu dan pikiranku tentu salah menilaimu.. maafkan aku, Ameera" ucap Rumi dengan setulus hati.


Rumi memeluk erat tubuh isterinya dan tidak sama sekali Ameera menolaknya saat itu..


aku senang sekali mendapat pelukan ini, Mas..


*


*


*


Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..


Terimakasih, salam cintaku..


Mei 🥰

__ADS_1


__ADS_2