
Rumi merasa ada sesuatu yang menjadi beban di lengan kanan dan juga paha kanannya. Rumi masih sangat ngantuk namun tangan kirinya meraba sesuatu yang tengah membebani dirinya.
“Kenapa ada sensasi empuk dan hangat?” Ucap Rumi samar.
“Manusia kah ini?” ucapnya dengan jiwa yang belum sepenuhnya sadar.
“Bidadari..” Jawab seseorang yang membuat Rumi terdiam.
Merasa sesuatu hal yang aneh, Rumi membuka matanya, begitu juga dengan Ameera..
“AAAAAA…… iyyuuuuuhhhhh..” Ameera berteriak sambil medorong tubuh Rumi sekuat tenanganya.
“Arrgghhhhh sakittttttt!” teriak Rumi tidak kalah heboh.
Tanpa Ameera sadari tumitnya memberi hantaman yang cukup keras kearah sensitive Rumi, hingga Rumi meringkuk mengeluh kesakitan.
Astaga apa yang aku lakukan..
“Mas, maaf.. maaf banget mas…” Ucap Ameera sambil mendekat ke arah Rumi, Ameera melihat wajah Rumi yang nampak merah, saambil meringis menahan sakit.
“Kamu mau merusak masa depanku, hah??” kesal Rumi sambil menahan sakit.
“Aku tidak bermaksud begitu, ya siapa suruh kamu tidur di sampingku.. apa niat mu?” Kata Ameera berusaha membela diri.
“Kamu yang memelukku.. Kamu merugikanku sekali..” Kesal Rumi
“Tidak mungkin, aku pasti dalam keadaan tidak sadar.. kamu jangan kepedean..” tambah Ameera.
Pintu kamar terketuk…
“Kakak… Kakak Ipar? Apa kalian baik-baik saja? Aku mendengar suara jeritan, seperti melihat ular saja…” teriak Rima dari luar kamar.
“Kami baik – baik saja, Rima.. Maaf menganggu tidurmu.. “ Ucap Ameera.
“Ularnya PINGSAN!!” ucap Rumi dengan tekanan persis di depan wajah Ameera sambil beranjak ia berjalan pelan menuju toilet.
“Aku kan tidak sadar, kalo sadar sekalian saja aku buat dia mati..” Ucap pelan Ameera sambil menggerutu.
Di dalam toilet Rumi mansih merasakan linu yang tak tertahankan, ia benar-benar kesal namun tak dapat sepenuhnya marah karena ia juga tahu Ameera masih dalam keadaan yang belum sepenuhya sadar dari tidurnya, begitupun dirinya.
__ADS_1
“Benar-benar mengancam, antara hidup dan mati..” Ucap Rumi sambil menunduk menatap sesuatu yang tengah berdenyut sakit di bawah sana.
Ameera berusaha kabur, kali itu meski hari masih sangat pagi, ia memilih untuk menuju pantry untuk mencari kesibukan di sana demi menghindari Rumi. Terdapat telur, dan beberapa jenis sayuran tersedia disana.
Menu simple sudah terbesit di benak Ameera, ia juga melihat beberapa bahan dan alat membuat roti cukup lengkap tersedia. Seorang diri Ameera menyiapkan menu sarapan yang seharusnya bisa mereka pesan ke pihak pengelola villa.
“Ameera.. Sedang apa kamu?” Tanya Pak Rudi yang sudah rapih dengan pakaian olahraganya.
“Membuat omelet telur dan roti kismis pah..” Ucap Ameera yang tengah menggunakan apron berwarna pink.
“Masya Allah, rajin sekali.. Kita kan bisa pesan saja..” Kata Pak Rudi dengan tatapan bangga.
“Tak apa, pah.. aku juga tidak ada kegiatan lain.. “ Kata Ameera.
“Nah, Rumi mana? Papa mau ajak dia jogging sepertinya berkeliling di Kawasan Villa ini menyenangkan..” Kata Pak Rudi membuat Ameera terdiam sejenak.
“Oh.. anu pah, Mas Rumi masih tidur semalam dia tidur cukup larut..” Ucap Ameera.
“hemm baiklah, kalo gitu papa sendiri saja..” Kata Pak Rudi.
“Hati-hati ya pah..” Kata Ameera.
Satu jam kemudian, roti kismis dan omlate sayur sudah tersedia di atas meja makan bernuansa kayu itu, tak lupa Ameera menyiapkansusu dan air mineral di atas meja makan.
Tiba di kamarnya, Ameera mendapati suaminya tengah berada di balkon kamar sambil berbincang dengan serius melalui sambungan telfon..
“Ini kesempatanku untuk bergegas mandi.. “ Dengan terburu-buru Ameera langsuang menuju kamar mandi.
Setelah setengah jam berlalu, Rumi yang sadar akan keberadaan Ameera memilih untuk melanjutkan meeting melalui aplikasi komunikasi dengan menggunakan video.
Ameera terdiam di kamar mandi, ia melupakan handuk dan pakaian gantinya.
“Duh.. bagaimana ya ini?” Ameera bemonolog bingung.
Tidak ada pilihan lain selain meminta Rumi untuk mengambilkannya handuk karena pakaiannya sudah basah terkena cipratan air saat ia mandi.
Ameera mengencangkan suaranya..
“Maass…” Ucapnya pertama kali tanpa ada jawaban dari Rumi.
__ADS_1
“Mas Rumi.. “
“Mas Rumi, tolong ambilkan handukku Mas…” Ucap Ameera dengan suara yang lebih kencang.
Rumi yang tengah memimpin rapat sedikit tercengang, begitupun peserta rapat lainnya.
“Maaf itu isteri saya..” ucap Rumi menahan malu sambil ia beranjak meraih handuk dan menuju kamar mandi.
“Mas taro saja di pintu..” Kata Ameera.
“Aku sedang rapat, kamu beteriak minta handuk membuatku malu saja” Kesal Rumi sambil menggerutu.
Aduh, salah lagi deh gue..- Ameera membatin.
Handuk yang sudah berada di atas pintu bergegas Ameera raih, ia tutup tubuhnya dengan handuk, dan bergegas ia keluar kamar mandi mengambil bajunya.
Konsentrasi Rumi kembali terganggu saat melihat Ameera yang hanya menggunakan sebuah handuk putih kala itu. Beberapa kali Rumi mengabaikan penjelasan karyawannya dan focus ke Arah Ameera.
Arghh dia sengaja atau bagaimana sih? Apa dia tengah membantuku memulihkan keadaan juniorku? Ah.. tidak mungkin, mana mungkin pikiran dia sampai kesana.. – Rumi membatin sambil focus ke arah Ameera.
Ameera sadar kini dirinya tengah diperhatikan oleh Rumi hingga ia sedikit tergesah-gesa meraih baju gantinya lalu ia berlari kecil menuju toilet guna memakai pakaian lengkapnya. Disaat itulah Rumi kembali tersadar dari lamunannya yang penuh dengan fantasi nakal terhadap isterinya.
“Meeting kita lanjut siang nanti.. saya akhiri dulu..” Ucap Rumi. Rumi berjalan menuju toilet ia dengan sengaja menghadang Ameera di depan pintu kala itu, Ameera terkejut saat keluar dan berhadapan langsung dengan Rumi. Jantungnya berdebar kencang dan tak beraturan kala itu.
Apa yang ingin dia lakukan? Sudah gila kalau dia ingin memperkosaku lagi..- Batin Ameera penuh rasa panik.
“Kamu, sengaja menggodaku?” Tanya Rumi dnegan tatapan penuh arti.
Ameera tidak bisa lengah sedikitpun, ia harus tetap pada pendiriannya maka ia langsung mendorong tubuh Tumi hingga terselip celah untuk langkahnya berjalan melewati Rumi.
“Tunggu.. jawab pertanyaaku.. kamu sengaja sejak semalam menggodaku?” Ucap Rumi sambil menarik lengan Ameera hingga kini keduanya saling berhadapan beradu pandang.
Mereka saling menatap dalam diam, wajah Rumi mulai mendekati wajah Ameera.
Mau apa dia? Pasti dia mau menciumku.. Aku harus menghindar.
Rumi sudah siap mengecup bibir pink Ameera, namun siapa sangka jika Ameera langsung memposisikan diri bersiap dan dengan cepat ia berjongkok lalu melarikan diri dari Rumi.
“Sorry..” Ucapnya sambil melempar handuk setengah basah ke arah Rumi sambil memasang wajah nyeleneh.
__ADS_1
“AMEERAAAA!!” Kesal Rumi membuat Ameera ketakutan dan berlari menuju kamar Rima untuk menyisir rambutnya.
Dasar tupai penggodaaa..!! bisa-bisanya gue di permainkan olehnya..- Batin Rumi kesal, namun jiwanya semakin tertantang dengan sikap acuh penuh penolakan Ameera terhadapnya.