GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Ancaman


__ADS_3

Rumi, Victor dan Rima sangat terkejut dengan kenyataan yang menimpah Ameera semasa hidupnya. Tak lama atas pernintaan Rumi dan Rima, akhirnya Keyla dan Faiz datang kerumah sakit.


Dengan rasa kesal, Faiz membuka semuanya di hadapan Victor, Rumi dan Rima.


"Dia berjuang sendiri, untuk tetap hidup dan berniat untuk melakukan bakti pada Ibunya, meski perlakuan Ibunya sangat buruk" ucap Faiz dengan penuh emosional.


"Bagaimana hati kami tidak ikut teriris dalam kepedihan saat kita tau, Ameera harus menikah dengan pria yang tidak bisa menghapus luka masa lalunya, dia malah menambah goresan luka pada diri Ameera" ucap Faiz dengan air mata kesedihannya.


"Faiz.. Keyla.. kenapa kalian tidak bercerita padaku soal ini?" Tanya Rima dengan air matanya yang mengalir deras membasahi pipi.


"Kita menghargai privacy Ameera, dan tentu itu bukan ranah kita untuk berbicara" kata Faiz.


"Dan, Ameera tidak ingin di kasihani atau mungkin ia punya rasa takut, ia sangat takut di sepelekan saat kalian tau keadaan Ameera yang sesungguhnya" tambah Keyla.


"Hei Rumi.. kamu lepaskan saja Ameera, toh kalian juga akan berujung dalam sebuah perceraian kan?!" Ucap Faiz dengan ucapan yang lagsung tertuju pada pokok pembahasan.


"Tinggalkan Ameera, dia nampak tertekan sekali dengan hubungan kalian ini, Ameera sudah berusaha sekali bersikap baik, dan tidak egois ingin menguasai semuanya, jadi.. tolonglah, lepaskan saja Ameera" ucaplagi Keyla semakin mengundang tangis Rima.


Rumi hanya diam, ia tertunduk semakin merasa bersalah atas sikap dan perbuatannya selama ini dengan Ameera.


Dibalik sikap cuek dan acuhnya terhadapku, ternyata dia sangat rapuh.. apa aku harus melepasnya? Membiarkan dia memilih apa yang menjadi pilihannya?? - Batin Rumi.


"Baiklah.. aku akan melepaskan Ameera.." ucap Rumi sambil berdiri lalu ia pergi meninggalkan rumah sakit.


Rima sangat kecewa dengan Rumi, ia menangis penuh dengan penyesalan karena tidak dapat mempersatukan keduanya.


*


Hari itu, adalah hari dimana bom waktu itu meledak hingga menyakiti banyak pihak, hal ini menjdi awal sebuah ke permulaan..


Rumi memutuskan untuk melepas Ameera dengan begitu saja, tidak ada kata terakhir yang Rumi ucapkan pada Ameera saat itu, begitu juga dengan Ameera.


Ameera melepas helaan nafasnya saat kedua sahabatnya bercerita bahwa Rumi dan keluarganya sudah mengetahui kondisi Ameera saat ini.


Rumi akan melayangkan gugatannya selama lima bulan kedepan, selama itu juga Ameera bebas ingin tinggal dimana dan dekat dengan siapa saja.

__ADS_1


Tiga hari Ameera menerima perawatan medis secara intensif, akhirnya ia di perbolehkan untuk pulang.. Ameera memilih untuk tinggal seorang diri toko roti peninggalan Ibu Finna, keputusan Ameera nampaknya sudah bulat, Faiz dan Keyla juga tidak dapat menghalanginya.


Ada hati yang ikut kecewa, yaitu Rima... Rima setiap hari selalu berada di sisi Ameera bersama Faiz dan juga Keyla tentunya. Segala supportnya ia berikan, tak lupa kata maaf atas perlakuan Rumi terus di ucapkan oleh Rima seolah mewakili Rumi.


Ameera dalam lamunanya membayangkan sosok Rumi, dimana dalam beberapa hari yang lalu ia masih bisa menatap wajah Rumi saat sedang makan, bekerja dengan serius dan bahkan Ameera sangat jelas mengingat wajah Rumi saat ia tengah terlelap dalam tidurnya.


Astaga, apa-apaan ini? Kenapa aku harus membayangkan wajahnya? - Ameera membatin dalam hatinya, berusaha ia mengalihkan pusat pikirannya kedalam hal-hal lain.


Di tempat lain pun demikian..


Rumi nampak berdiri di balkon kamarnya, dimana di balkon itu merupakan tempat yang paling di sukai Ameera untuk menghirup udara pagi dan melihat matahari terbenam.


Maafkan aku Ameera, aku bagaikan iblis yang tak memiliki hati karena melukaimu terlalu dalam.. aku tidak pernah tahu seberapa kuat kamu berjuang untuk hidup memperjuangkan kebahagiaan, sementara aku tidak pernah memberikan hal itu.. maafkan aku Ameera..


Lamunan Rumi kala itu harus terhenti karena Victor yang datang menghampiri Rumi.


"Non Rima meminta izin malam ini tidak pulang, ia memilih menginap di toko roti Ameera, menemani Ameera.


"Kenapa tidak tinggal dirumah Ameera saja?" Tanya Rumi.


Rumi mengingat sesuatu, kemudian ia meraih ponselnya dan membuka aplikasi perbank-an onlinenya kala itu.


Ia melihat tidak ada transaksi apapun pada card ATM yang ia berikan pada Ameera..


Bagaimana dia bisa mendapatkan modal usaha sementara uang dalam kartu ATM itu sama sekali belum di pakai.. - Rumi membatin sambil memikirkan keadaan Ameera.


***


Satu Minggu Berlaluā±


Ameera dan Rumi sudah benar-benar tidak melakukan komunikasi satu sama lain.


Ameera berusaha melupakan bayang Rumi begitupun dengan Rumi yang selalu menyibukkan diri dengan segudang pekerjaannya untuk melepas pikirannya dari sosok Ameera.


Hari ini Ameera nampak sangat senang, saat pengajuan judul dan kerangka berfikir tugas akhirnya mendapat persetujuan.

__ADS_1


"Allhamdulillah, aku yakin bulan ini aku bisa menyelesaikannya" ucap Ameera dengan penuh keyakinan, karena ia memang sudah mempersiapkan seluruh materi sejak jauh hari.


Ameera kembali menuju tempat tinggalnya saat ini dengan hati yang senang. Banyak planing yang sudah ia pikirkan untuk ia lakukan kedepan dengan harapan semua bisa terwujud sesuai dengan harapannya.


Ameera sudah tiba di toko roti saat itu, matanya fokus pda sebuah mobil putih yang terparkir di depan toko roti miliknya.


"Siapa ya?" Ucap Ameera kala itu sambil melangkah mendekat.


Ameera nampak terkejut saat seorang wanita keluar dari mobil sambil melepas kacamata hitamnya.


"Apa Kabar?" Ucapnya dengan tatapan penuh keangkuhan.


"Risca..." ucap pelan Ameera.


"Ada apa?" Sambungnya berusaha tenang.


Dengan sikap angkuh Risca menyapu pandangannya ke arah sekitar.


"Pikir deh, seorang menantu Tuan Rudi kini terbuang dan tinggal di toko roti bangkrut ini" ucapnya membuat Ameera tersenyum lebar sambil berusaha menenangkan hatinya.


"Pernah terfikir oleh mu? Perempuan yang rela tidur dengan pria yang bukan suami sahnya, dengan bangga menjadi kekasihnya, tapi berujung dengan???? Perpisahan! Miris.." Ameera berbicara dengan sangat sinis kala itu, tekadnya sudah sangat kuat untuk tidak lemah menghadapi Risca.


"Pergilah... jangan ganggu ketenanganku.. aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni hal gaib seperti mu..." ucap Ameera melanhkah meninggalkan Risca yang tengah di rundung rasa kesal karena Ameera kini semakin berani terhadapnya.


Lihat saja nanti, kamu akan menangis meratapi pedihnya hidupmu yang baru ini...


*


*


*


Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh yaa..


Terimakasih, salam cintaku..

__ADS_1


Mei 🄰


__ADS_2