
Sebagai orang terdekat Ameera tentu Faiz dan Keyla sangat terkejut saat kujuran mulai di ungkapkan oleh Ameera, termaksud siapa sosok Wanita yang baru saja menarik rambut Ameera dengan sadisnya.
Terselip amarah namun Ameera memiliki alasan yang kuat untuk menutupi hal buruk yang terjadi di dalam rumah tangganya.
“Nih modelnya mirip nih sama si urusla, model-model ulet bulu gitu..” Kata Faiz kesal.
“yang membedakan warna lipstick aja yaa Iz…
“Ucap Keyla sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hemm ge bingung harus apa? Apa gue harus minta cerai?” Kata Ameera penuh dengan rasa putus asa.
“Astagfirullah.. kalo bisa jangan, apa lo gak mau menikah itu sekali saja seumur hidup?” Ucap Keyla dengan sikap baiknya.
“Ya mau..” Jawab Ameera.
“Begini.. lo kan diminta Pak Rudi untuk membuat Rumi itu jadi lebih baik kan? Nah kenapa gak lo lakukan saja hal itu?” Ucap Faiz.
“Gue gak bisa Iz.. gue sudah terlanjur kecewa dengan sikapnya, bahkan gue juga merasa cukup sadar bagaimana dia hidup bebas dengan para Wanita sebelum gue hadir sebagai isterinya dan gue kayaknya gak bisa untuk itu..” Ucap Ameera mengingat segala perlakuan Rumi yang cukup menores hatinya.
“Terus lo mau apa? Yakin perceraian adalah jalan keluarnya?” kata Keyla menanggapi pernyataan Ameera.
“Gue masih gak tahu, Key..” Ucap Ameera..
“Kalo gue, lebih baik lo buat Rumi tergila-gila dengan lo, lo kalahkan tuh si sundel bolong pake kekuatan seribu angin.. biar hempas sekalian..” Kata Faiz sambil menampakan wajah kesal penuh emosi.
“Nah.. nanti kalo udah tergila-gila tinggal pergi, ya?” Sahut Keyla..
“Nah cocok.. bener tuh Key..” Kata Faiz mengacungkan dua jempolnya.
“Dasar ajaran sesat..” Ucap Ameera terkekeh dengan tingkah kedua sahabatnya malam itu.
*
Malam itu berlalu dengan keheningan usai perselisihan yang terjadi, Ameera masih memutuskan untuk tetap berada di kamar dan sangat menghindari Rumi.
Namun pagi itu Ameera tengah bersiap ke kampus, pintu kamarnya kini terketuk, pikir Ameera itu adalah Bibi yang hendak mengantarkan sarapan pagi seperti biasanya, masih menggunakan tanktop dan celana jeans panjang Ameera membuka pintu kamarnya dengan santai.
Ia terkejut dengan kehadiran Rumi di balik pintu kala itu..
“Astagfirullah….” Ucap Ameera bergegas menutup pintu kamarnya lagi, jantungnya berdebar kencang saat ia menyadari ia belum memakai kemeja, hanya menggunakan tanktop saja.
“Duh.. bodoh banget gue..” Ucap Ameera kesal pada dirinya sendiri.
“Ada beberapa hal yang perlu saya bahas..” Ucap Rumi sedikit berteriak.
__ADS_1
Ameera mendengar, namun ia dengan santai mengabaikan ucapan Rumi kala itu.. ia memakai kemeja berwarna pink, memakai flatshoesnya dan meraih tasnya, dengan santai ia keluar kamarnya.
Sedikit terkejut karena ternyata Rumi masih berada di depan kamar Ameera. Ameera santai saja mengabaikan keberadaan rumi.
“Ameera tunggu, ada yang perlu kita bicarakan..” Kata Rumi menguti Langkah Ameera ke dapur.
“Bi, aku sarapan di jalan saja..” Kata Ameera dengan ramah ke bibi.
“Boleh Non, bibi masukin ke tempat makan.. sebentar yaa..” Ucap bibi.
“Baik.. aku tunggu di mobil, jangan lama-lama ya bi..” Pinta Ameera langsung saja berjalan dnegan santainya, ia benar-benar sangat berani mengabaikan Rumi yang tengah mengekorinya sejak tadi.
“Ameera..” Rumi menahan Ameera dengan mencengkram lengannya.
“Aapasih, lepas!! Sakit tahu!” Kesal Ameera memicingkan matanya.
“Saya ingin bicara!” ucap Rumi tegas.
“Tiga menit, saya sudah telat..!” Kesal Ameera.
“Kamu mengabaikan saya? Jagan pikirkan kuliahmu yang takut terlambat, kampus itu milikku…” Ucap sombong Rumi.
“Milik papahmu.. baik sisah dua menit..” Ucap Ameera memalingkan wajahnya.
Ameera menyungingkan bibirnya, menatap tajam wajah Rumi.
“Urus sesuai keinginanmu.. TERSERAH..!!” Tegas Ameera dengan lirikan matanya yang sangat tajam itu.
Ameera meninggalkan Rumi begitu saja menuju mobil, sekuat tenanga Rumi menahan emosinya mendnegar ucapan Ameera yang terlihat sangat menentangnya.
Ameera mengehela nafasnya sata Victor mulai mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.
Apa yang harus aku lakukan, ya? Rasanya sakit sekali jika aku melihat wajah Rumi, tidak ada celah kebaikannya saat ini.. aku muak melihatnya.. – batin Ameera.
“Apa sudah baikan, Mbak?” tanya Victor.
“Sudah..” kata Ameera.
“Habis Ribut lagi ya dengan Den Rumi?” Tanya Victor membuka pembahasan.
“Entahlah.. aku juga tidak paham, rasanya memang sudah tidak bisa lagi berbicara secara baik-baik dengannya..” Kata Ameera kesal.
“Victor.. nanti antar aku ke toko buku, ya? Aku mau membeli beberapa buku..” Kata Ameera mengalihkan pembicaraanya.
*
__ADS_1
Singkat waktu, Ameera sudah menyelesaikan kuliahnya.. Bersama Victor kali ini ia berencana menuju sebuah toko buku, perjalanan siang itu sangat lancar sehingga Ameera dan Victor sampai dengan waktu yang singkat.
Victor memilih untuk menunggu Ameera di luar sambik ia membakar satu batang rokoknya.
Ameera masuk dan mencari beberapa buku disana.
“Meera..” Sapa seseorang dan dia adalah Argha.
“Astaga.. kak Argha.." Ameera terkejut kala itu..
“Hai.. sndirian? Mana Keyla dan Faiz?” Santai Argha bertanya.
“Hemm mereka ada ursan lain.. maaf kak Argha, aku duluan..” Ucap Ameera berusaha menghindari Argha dna menyelamatkan hatinya gar tidak terhanyut kembali membawa kembali datangnya cinta saat menatap Argha.
“Kenapa kamu menghindar dariku?” Tanya Argha menghadang Langkah Ameera.
“Jangan bilang kalau Mas Rumi yang memintamu untuk menjauhiku?” Tanya Argha.
“Tidak.. dia suamiku, sudah selayaknya aku menjaga kehormataku untuk suamiku dan aku juga harus menjaga hatinya..” Ucap Ameera berdusta, ia benar-benar tak kuasa menhan gejolak rindu berada di dekat Argha, sangat sulit baginya menahan sisah rasanya pada Argha.
“Apa kamu Sudah mencintainya? Sampai kamu mngabaikan aku?” Ucap Argha yang mansih menuntut penjelasan Ameera.
“Biarlah hanya hati saya yang tau sudah belun besar kecil saya mencintai seseorang.. Maaf kak Argha, tolong hargai saya sebagaimana saya adalah seorang isteri dari sepupu Kak Argha, maka bantu saya untuk menjaga nilai kehormatan kita Bersama..” Ucapan Ameera sangat tegas penuh kedewasaan dan mampu membuat Argha diam penuh kesedihan.
Aku masih mencintaimu, Ameera.. sakit jika aku membayangkan kamu berada di sisi Mas Rumi, tertawa, canda penuh cinta.. seperti apa yang pernah kita lakukan dulu.. – ucap Argha membatin.
Sementara itu dengan teruru-buru Ameera bergegas meninggalkan toko buku itu.
Jujur, kali ini bukan aku ingin menghargai Mas Rumi yang sama sekali tidak menghargaiku.. tapi aku lebih menghargai diriku, aku tidak ingin di nilai seperti orang yang berkhianat… aku harap kamu menegerti kak Argha, meski jika kau tanya cinta di hatiku, iya...masih tersipan cinta.. – ucap Ameera membatin kala itu.
*
*
*
"Aku terlalu cintaaa, Diaaaa" hehehe
Sudah Up dua today, masih mau lagi? Atau besok aja? Hehehe
Like komen dulu kalo good ku up lagi hehe❤️
Salam Cintaku,
Mel❤️
__ADS_1