GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Pilu


__ADS_3

Dua Hari Berlalu..


"Apa yang kamu katakan itu benar?" Tanya Pak Rudi pada menantunya.


"Benar pah, Aku menyaksikannya sendiri" kata Ameera.


Pak Rudi seakan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ameera saat itu, anaknya Rumi sudah mau memaakam ibu kandungnya.


Sementra Rima, ia yang selalu berkomunikasi dengan ibunya, rasa sayangnya seakan melepas rasa kecewanya itu. Saat ini Rima sudah berada di rumah sakit, setibanya dirumah dan mendapat kabar itu ia langsung menuju Rumah sakit.


"Jam berapa oprasinya?" Tanya Pak Rudi .


"Jam sepuluh, pah.. " kata Ameera seketika pak Rudi melihat jam di tangannya yang menujukkan pukul delapan tiga puluh.


"Yasudah kita ke rumah sakit" kata Pak Rudi.


Ameere melebarkan senyum nya.


"Oke pah ayo.." Ameera begitu bersemangat.


"Loh, mana suamimu?" Tanya pak Rudi.


"Sudah disana bersama Rima, pah.."


*


Empat puluh menit mereka menempuh perjalanan, dan saat ini langkah pak Rudi beriringan dengan detak jantung yang berpacu lebih kencang.


"Mama sudah di ruang persiapan.." kata Rima dengan sikap manjanya ia memeluk sang ayah.


"Papa doakan semua lancar.." kata Pak Rudi yang terlambat untuk menemui ibu Anjani sebelum operasi.


Ameera berdiri di samping suaminya, Rumi merangkulnya membawanya dalam dekapannya.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Ameera karena Rumi meninggalkan rumah tanpa memakan apapun.


"Belum, aku ga nafsu" ucapnya.


"Doakan saja mama yaa, aku yakin pasti ada jalan terbaik untuk mama"


Di perkirakan oprasi itu akan memakan waktu kurang lebih tiga jam. Hati Ameera sebenarnya juga tengah tak tenang, terselip rasa khawatir. Namun ia harus terlihat lebih tegar dari pada suaminya.


Saat itu Mereka memutuskan menuju lantai dasar dimana caffe dan beberapa outlet makanan. Mereka memilih untuk memesan beberapa kopi sesuai keinginan masing-masing sambil berbincang ringan terkait keadaan saat itu.


Tak lama berselang Ameera meraih ponselnya yang bergetar menandakan pesan masuk.

__ADS_1


Dari nomer yang tak di kenal, Rumi meraih ponsel itu dan menolak panggilan itu.


"Jangan suka menerima panggilan dari nomer yang tidak di kenal" kata Rumi yang menyita perhatian Pak Rudi juga Rima.


"Memang belum terungkap, Rum?" Tanya Pak Rudi.


"Belum Pah, semua sangat rapih dan terencana.. " kata Rumi.


"Ingat jangan sampai kecolongan lagi.. papa tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian" ucapnya tegas.


*


Tiga Jam Berlalu..


Pihak kelurga sudah berkumpul di depan ruang oprasi, tak lama berselang dokter keluar dan mengtkan kondisi Ibu Anjani stabil, Ameera dan yang lainnya nampak senang meski belum ada yang bisa menemui Ibu anjani sampai selsai masa observasi kurang lebih dua jam.


"Sayang aku harus pulang dulu.." kata Rumi pada Ameera.


"Loh ada apa mas?" Bingung Ameera.


"Ada berkas yang harus aku diskusikan dengan Victor, rasanya kurang pantas jika membahasnya disini" kata Rumi.


"Kalo begitu aku ikut aja" kata Ameera.


"Iya kalian pulanglah.. papa akan menemani Rima disini.." kata pak Rudi


Setibanya dirumah, Rumi langsung meeting bersama dengan Victor untuk membahas satu dan lain hal terkait pekerjaan, sementara Ameera menuju kamarnya dan bergegas untuk mandi karena merasa gerah.


Tak berselang lama, saat ia menyelesaikan mandinya, Ameera membuka ponselnya dan menerima sebuah pesan sejak 5 menit yang lalu.


Ameera terkejut dan bergetar tubuhnya.


"Mass" teriaknya hingga Rumi yang berada di ruang sebelahnya mendengar suara Ameera meski samar.


"Ada apa?" Ucap Rumi saat ia membuka pintu kamarnya.


Ia melihat Ameera tengah duduk di atas karpet dan menangis tersedu.


Rumi melihat ponsel Ameera yang menyalah, ia terkejut saat melihat si jago merah tengah membakar toko roti peninggalan ibu Fina.


"Den.." Victor masuk dan ia juga terkejut saat menerima laporan serupa saat itu.


"Urus!" Perintah Rumi dengan emosi.


Ia memeluk Ameera dengan erat memberi ketenangan padanya.

__ADS_1


"Apa salah aku? Siapa yang melakukannya?" Kata Ameera menangis di dalam pelukan suaminya.


"Tenang, kita akan usut dan aku tidak akan maafkan dia!" Rumi berjanji dalam hatinya.


Dering ponsel Ameera kini berbunyi, panggilan masuk dari kedua sahabatnya yang mungkin sudah mengetahui hal tersebut.


Ameera menerimanya sambil menangis.


"Disana banyak cerita kecilku dan mama" ucapnya dengan isak tangis yang membuat Rumi semakin emosi.


"Kalian datang dan temani Ameera.." pinta Rumi saat ia meraih ponsel Ameera.


Tidak berfikir panjang, saat itu Keyla dan juga Faiz langsung bergegas menuju kediaman mewah yang Ameera tempati saat ini.


"Kamu tenang yaa, aku janji akan usut masalah ini" kata Rumi menenangkan.


Dua jam kemudian, disaat hari sudah petang.. kediaman Rumi kini mulai berdatangan beberapa petugas kepolisian dan pengacaranya, sementara Ameera berada di kamar tamu di temani oleh Faiz dan Keyla.


"Meer, jujur gue curiga sama Yarra.. lo kan cerita ke gue kalo lo ketemu Yarra? Nah kemungkinan besar ini perbuatan Yarra kan?!" Kata Faiz.


"Alasannya apa? Apa setega itu?" Kata Ameera tak habis pikir.


"Kalo orang udah gila alasan gak logis apapun pasti di anggap benar!" Kata Keyla kesa.


"Kaya lo jatuh cinta sama Argha, yaa kan???" Kata Faiz meledek dengan nyeleneh.


"Yeee itu mah ga sengaja, ibarat kepeleset eh masuk ke hati yang salah" kata Keyla seolah pasrah.


Mereka bertiga tidak bisa memasang telinga mendengarkan perbincangan Rumi dan beberapa petugas penyelidikan.


Jalur kepolisian Rumi tempuh, di luar itu juga Rumi mengerahkan beberapa orang suruhannya agar segera menemukan siapa dalang dari ini semua.


Tak lama berselang Rima mengirim pesan bahwa Ibu Anjani sudah masuk ruang perawatan meski tubuhnya masih memakai beberapa alat.


Di balik rasa sedih yang mendalam Ameera merasa senang dengan keadaan Ibu mertuanya yang menujukan kemajuan.


Saat itu Rumi nampak fokus berbincang, sambil ia menujukkan serta menceritakan beberapa masalah yang berkaitan dengannya dan juga dengan Ameera.


Tak lama kemudian polisi meminta penjelasan Ameera, dengan tangis Ameera menjelaskan beberapa hal terkait Ayah tirinya dan juga Yarra.


Ameera bercerita hal itu bukan berarti ia meyakini mereka pelakunya, namun Rumi lebih dulu membuka cerita tersebut karena kecurigaanya.


Aku mungkin pernah menyakiti Ameera sampai ia menangis.. tapi saat ini saat melihat dia menangis aku ikut merasa sakit.. Aku tidak akan tinggal diam kali ini.. - ucap Rumi dalam hati.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2