
Rumi baru saja tiba di Jakarta pukul 11 siang, ia membuka chat pada ponselnya yang sejak tadi ia abaikan karena ia masih sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia kerjakan selama perjalanan udara.
Perlahan Rumi membaca satu persatu chat yang masuk, mulai dari chat kekasihnya hingga Rima dan juga Victor.
Rumi Nampak menegerutkan keningnya membaca pesan dari Rima juga Victor dengan intin pesan yang sama.
“Ameera sakit? Mengigau menyebut namaku?” Ucapnya pelan, secperti tak percaya atas pesan yang di kirimkan oleh Rima saat itu.
“Tapi, Victorpun mengatakan Ameera sakit” Ucapnya memastikan dengan membaca ulang chat yang di kirimkan oleh Victor.
Sementara itu, Ameera tengah tertidur dengan tubuh yang masih demam saat itu.
Ameera tidak nafsu untuk makan, tubuhnya benar-benar terasa sakit dan kaku kala itu.
Rima, Keyla dan Faiz sudah kehabisan akal dan rayuan membujuk Ameera untuk makan.
Pukul satu siang, mereka memutuskan untuk membawa Ameera pulang, mereka tengah berkemas namun Ameera melarangnya.
“Aku kan sudah bilang, aku ingin pulang tapi kalian harus stay disini ya? Biar saja Victor yang mengantarku pulang.. “ Pinta Ameera.
“Kita disini juga gak tenang kalo lo sakit, Meer..” Kata Keyla yang tau betul sejak dahulu Ameera selalu merawat dirinya sendiri dikala sakit.
“Sudah, kita pergi Bersama-sama maka kita pulang juga harus Bersama-sama..” Tambah Faiz.
“Masih banyak waktu, kita bisa jadwalkan ulang..” Ucap Rima.
Saat mereka tengah berbincang, pintu kamar itu terbuka. Keyla dan Faiz terkejut melihat sosok pria yang tidak mereka duga datang.
Kedatangan Rumi mengundang senyum lebar Rima..
Akhirnya, kena juga tikus nakal ini kedalam jebakan Rima.. hehe mana ada sih yang bisa lolos dari tipu dayaku dalam mengolah drama kolosal ini.. – ucapnya membatin.
“Ameera sakit? Kenapa gak di bawa kerumah sakit?” Tanya Rumi melihat Ameera tengah terbaring.
“Ameera gak mau, kak.. dia terus menolak, tadi sempat tertidur sambil mengigau..” Ucap Rima.
“Tadi pagi saya sudah belikan juga Obat penurun demam Den, namun hanya sebentar saja turunnya lalu naik lagi..” Ucap Victor yang tadi datang Bersama Rumi.
"Dia begadang semalam.. mungkin masuk angin juga" Tambah Rima.
“Ih kalian ini kenapa sih, aku tidak apa-apa loh.. nanti juga baikkan..” Kata Ameera mendengar keributan itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa gimana? Kamu denam loh sejak semalam, dan mengigau pula" ucap Rima sedikit berdrama.
"Iya kah? Dia mengigau apa, Rim?" Kata Keyla penasaran.
"Sudahlah, hanya aku yang tahu" kata Rima mengalihkan jawaban lain.
“Pulang saja, aku tunggu di depan..” Ucap Rumi cukup tegas.
“ehhhhh” Rima menarik tangan Rumi yang hendak memutar badan itu.
“kakak gendong lah Ameeranya, kita mana kuat, masa harus Victor? Bisa di gantung oleh papa..” Ucap Rima dengan segala akalnya.
“Tunggu.. aku tidak ingin pulang kalo kalian ikut pulang..” Kata Ameera.
“kalian lanjutkanlah liburan ini, jangan sampai karen aku kalian jadi ikut pulang..” Kata Ameera.
“Oke-oke kita gak pulang kok” Kata Rima mengambil alih jawaban. Keyla dan juga Faiz menatap heran Rima, namun mata Rima berkedip tiga kali seolah memeberi sebuah kode pada Faiz juga Keyla.
“Yaa Sudah, kita gak pulang.. tapi lo pulang ya? Istirahat..” Kata Kayla.
Ameera berusaha bangun namun pingang bagian kirinya terasa sakit saat itu hingga ia mengeluh meringis kesakitan.
Rumi yang melihat hal itu langsung saja mendekati Ameera dan mengendongnya
Wajah keyla, Rima, Faiz dan Victor nampk sumringah melihat kejadian tersebut.
“Diam, tubuhmu berat..” Ucap Rumi seketika membuat Ameera terdam sementara Keyla, Faiz, Rima dan Victor terkekeh. Rumi menggendong Ameera yang terlihat menahan sakit pada pingangnya itu.
“Ini pasti kerjaan lo ya? Bagaimana bisa Rumi datang kesini..” Bisik Faiz.
“Apa lo mengancam dia?” Tambah Keyla.
“sudahlah, apa yang gue lakukan ini demi kebagikan mereka, Tuhan sudah Acc tuh..” Kata Rima terkekeh.
*
Selama perjalanan Rumi melihat Ameera Nampak tengah menahan kesakitan.
“Kita mampir nanti kerumah sakit, papa bisa memarahiku kalo tau aku membiarkan kamu sakit tanpa membawa kerumah sakit..” Kata Rumi.
Ameera Nampak terdiam kala itu tanpa menjawab apappun , hingga akhirnya ia terlelap dalam tidurnya , Rumipun di rundung rasa penasarannya.
__ADS_1
Saat mobil berhenti di sebuah rest area karena supir pribadi Rumi hendak ke toilet. Rumi mengangkat sekit baju Ameera di bagian pingang samping yang sejak tadi ia keluhkan sakit.
Rumi terkejut saat ada luka lebam yang cukup lebar di area pingang bagian samping.
“Astaga…” Ucapnya spontan melihat luka itu.
Ameera terkejut, reflek ia berusaha menghindar dari rumi.
“Ngaoain kamu mas?” tanya panik Ameera sambil menahan sakit itu.
“Jelaskan, kenapa bisa memar sampai begini parahnya? Bukannya kamu hanya di selengkat dan tersungkur?” Tanya Rumi dengan nada suara yang cukup tinggi.
“iyaa… tapi di depan aku ada trolly barang yang terkunci sehingga saat aku tersurngkur pinganggku otomatis membentur bagian pinggir trolly yang terlapisi besi..” Jujur Ameera, kejadian itu memang tidak di ketahui secara detai oleh kedua sahabat nya ataupun Rima, pada saat itu Ameera berusaha menahan rasa sakit akibat benturan dengan trolly barang agar tidak terjadi keributan.
“Kenapa baru cerita sekarang? Kalo di tangani dari kemarin mungkin tidak akan selebar ini memarnya..” Ucap Rumi dengan nada kesalnya.
“Keterlaluan Risca! Yasudah empat puluh menit lagi kita akan tiba di rumah sakit, kita periksa apa itu membahayakan atau tidak…” Kata Rumi dengan wajah juteknya.
Dasar aneh, semalam bilang aku harus memaklumi Risca, sekarang baru sadar kalo sundel bolong itu sudah keterlaluan sikapnya!- Batin kesal Ameera.
“Ke klinik saja , Mas.. kenapa harus ke rumah sakit? Pasti ribet prosedurnya..” Keluh Meera membayangkan.
“Kalo begitu apa kamu mau di panggilkan dokter saja kerumah?” Tanya Rumi memberi penawaran.
“Iya, begitu saja, itu lebih baik.” Kata Ameera.
Rumi juga memikirkan kenyamanan Ameera saat itu, maka dengan mempertimbangkan hal tersebut ia menghubungi salah satu temannya yang berprofesi sebagai dokter.
Dalam sisa perjalanan mereka, Rumi sibuk dengan ponselnya, ia tengah bersitegang dengan kekasihnya Risca yang tidak mau mengakui kesalahannya karena sudah mendorong Ameera hingga jatuh tersungkur dan mengenai trolly barang.
Merasa tidak ada pengakuan meski telah menekan Risca untuk mengakui kesalahannya, Rumi terpaksa memblokir nomer ponsel Risca karena merasa percuma melanjutkan chatingan pun tidak menemui titik terang.
Aku harus beri kamu sikap tegas Risca, setidaknya kamu harus tau bagaimana cara mempertahankan sesuatu dengan cara sehat- Batin rumi yang sudah cukup kesal akan sikap Risca.
*
*
*
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
__ADS_1
Terimakasih, salam cintaku..
Mei 🥰