
Bisikkan Untuk Kita:
Ucapan Selamat Tinggal Hanya Ada Untuk Mereka Yang Mencintai Dengan Mata, Karena Tidak Ada Perpisaahan Bagi Mereka Yang Mencintai Dengan Hati dan Jiwa, Sekalipun Kematian.
*
Rumi tengah menunggu Ameera mandi, dengan suara gemericik air yang membuatnya harus menahan pikirannya kotornya untuk tidak membayangkan aktivitas Ameera di dalam sana.
Sepuluh menit Rumi menunggu, Ameera keluar dengan rambut yang tebungkus oleh handuk.
“Ameera aku lapar, adalah makanan atau cemilan yang bisa mengisi perutku?” Ucap Rumi merasakan getar di perutnya karena cacing yang tengah berdemo ria.
“Tidak ada, tapi aku punya stock mie instan dan telur.. kamu mau?” Ucap Ameera mencoba menawarkan.
Tidak pikir lama, Rumi mengangguk mau dan ia menemani Ameera memasak dengan cahaya lilin seadanya.
Kebersmaaan mereka justru melupakan Victor yang tak kunjung kembali membawa lilin atau penerang lainnya.
Lima menit berselang, dua mangkuk mie instan Ameera sajikan di atas meja makan. Mereka makan berdua dalam cahaya indah lilin yang menerangi.
"Ameera .. uhuk uhuk uhu”" Rumi tersedak ketika ia menyeruput kuah hangat mie instan itu.
"Minum.. uhuk uhuk.."
Ameera bergegas memberikan segelas air mineral untuk melegakan tenggorokan Rumi.
“Pelan-pelan makan nya.. aku gak akan meminta jatah mie instanmu kok”
Ucap Ameera meledek Rumi.
Rumi tersenyum usai meneguk air mineralnya.
Rumi melihat Ameera makan dengan lahap, hingga Ameera tidak menyadari cipratan kuah mengenai pipi berlesung nya.
“Kalo makan itu pelan-pelan.. yang manis dan anggun sedikit lah..” ucap Rumi meledek Ameera sambil mengusap wajah Ameera dengan tisu kering.
Ameera nampak tersipu malu akan sikap manis Rumi yang tidak pernah Rumi lakukan sbelumnya.
Mereka saling bertukar pandang dengan rasa cangung jika tatapan itu.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya sudah di rundung rasa kantuk.
“Mas, hubungi Victor, ini sudah sangat larut kenapa belum datang menjemputmu..”Kata Ameera usai menarik bantal sofa lalu mendekapnya.
“Entah, aku sudah hubungi tapi ponselku mati kehabisan daya..”Ucap Rumi.
“Tapi aku sudah ngantuk... ponselku tidak ada signal jika listrik padam.. " Kata Ameera jujur.
“Yasudah tidur saja di kamarmu, berani kan?” Kata Rumi terkekeh.
“Memangnya aku anak kecil, sudahlah aku tunggu disini saja sampai Victor datang” Kata Ameera.
__ADS_1
Suara petir nampaknya belum usai, suara sambar menyambar silih berganti terus terdengar hingga Ameera sulit untuk terlelap nyenyak dalam tidurnya.
Rumi melihat kegelisahan Ameera saat itu, reflek Rumi mendekat dan membawa Ameera dalam dekapannya, tidak ada perlawanan apapun saat itu dari Ameera, mungkin saja dia sudah terlalu kantuk untuk merespon perlakuan Rumi terhadapnya.
Hujan Nampaknya tak kunjung reda, Rumi juga nampaknya sudah tak tahan menahan kantuknya sementara posisinya di sofa sangat tidak nyaman untuk keduanya tidur.
Rumi akhirnya berinisiatif memindahkan Ameera ke kamarnya, perlahan Rumi menggendong Ameera dan meletakkannya di Kasur dengan sangat hati-hati.
Disaat bersamaan suara petir menegjutkan Ameera hingga ia Kembali menarik tangan Rumi hingga Rumi yang tidak siap itu terhuyung dan hampir saja meniban tubuh Ameera, berutung Rumi masih mampu menumpuh tubuhnya dengan kedua tangannya hingga kini ia berada persis di atas tubuh Ameera.
Ameera dan Rumi saling bertatapan dalam gelap, Ameera merasakan hembusan nafas Rumi yang terasa sangat hangat.
Sepertinya ini adalah moment yang pas untuk aku mengatakan semuanya.. – Batin Rumi.
“Ameera.. Maafkan aku..” Ucap Rumi pelan.
Ameera terdiam, tertegun tak mampu ia berkata apapun saat ini..
“Aku salah, aku tidak banyak mengetahui tentangmu.. aku keterlalaun dalam bersikap.. akhir-akhir ini aku merasa di hantui rasa bersalah setelah apa yang pernah aku lakukan padamu..” Ucap Rumi dengan sangat lembut dan hembusan nafas yang sangat terasa di sekitarbibir Ameera.
“Aku tidak menegrti..” Ucap Ameera guup.
“kamu berhasil membuat aku terus membayangi setiap lekuk senyum mu, semua kesalahanku juga seolah hantu dalam diriku..” Ucap Rumi dengan tulus.
Ameera terdiam beberapa detik, karena gugup dan tak tahu harus berkata apa..
“Aku sudah memaafkanmu..”Ucap singkat Ameera, yang tidak mampu berkata apa-apa karena gugup dengan posisi keduanya saat ini.
Muach.. kecupan hangat itu mendarat di kening Ameera, seketika Ameera mematung tak mampu bergerak menerima kecupan itu dari Rumi.
Rumi merubah posisinya, ia berbaring di samping tubuh Ameera saat itu dengan santainya, ia juga menarik pelan tubuh Ameera agar mampu bergeser dengan mudah.
Malam itu, di tengah derasnya hujan dengan suara petir menyambar silih berganti, hanya cahaya lilin yang menerangi kamar, Ameera dan Rumi tidur dalam satu ranjang yang sama, dengan posisi Rumi memeluk Ameera, dan dengan sengaja Rumi kembali memberi kecupan hanggatnya untuk Ameera.
*
Pagi hari Ameera terbangun dengan posisi tubuhnya yang masih berada dalam pelukan Rumi..
Kenapa nyaman sekali.. – ucapnya membatin sambil ia memberi sedikit pergerakan.
Rumi pun sebenarnya sudah terbangun, namun kenyamanan itu membuatnya harus berpura-pura tidur seolah tak ingin melepaskan Ameera dalam pelukkannya.
Ameera teringat saat ia harus datang ke kampus untuk melakukan bimbingan tugas akhirnya.
Ameera membuka matanya perlahan ia mencoba melepaskan dekapan itu. Rumi Kembali menarik tubuh Ameera saat itu dan mendekapnya dengan cukup erat.
“Mass..” terkejutnya Ameera.
“Hemm mau kemana kamu..” Kata Rumi mencegah Ameera beranjak jauh darinya.
“Ih.. ini sudah pukul enam, aku harus bersiap untuk pergi ke kampus, aku mau bimbingan..” Ucap Ameeera berusaha melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
“Gampang itu, siapa nama dosenmu? Bisa aku aturr..” Ucap santai Rumi.
Kesal mendengar itu reflek Ameera mencubit pingang Rumi, hingga Rumi mengeluh kesakitan.
“Aku ingin lulus secara murni tanpa bantuan siapapun.. Minggir akum au mandi..” Ucap Ameera sambil ia beranjak pergi mengambil handuk dan bajunya lalu ia menuju kamar mandi yang berada di luar kamarnya.
Rumi celingukan, matanya menyapu pandangan ke arah sekitar, pandangannya melihat sebuah buku berwarna merah, di raihnya oleh Rumi lalu ia membacanya.
Yaa itu adalah buku catatan beberapa resep peninggalan Ibu Finna, disana juga tertempel foto Ameera saat ia masih kecil.
“Manis sekali…” Ucap Rumi melihat senyum manis Ameera dengan lesung pipinya.
Rumi kemudian beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar, dengan keadaan terang ia dapat melihat sekeliling Toko Roti yang cukup modern, bersih dan juga luas.
Rumi melihat ke arah luar terparkir mobilnya disana.
“Victor? Dia tidur di luar?” Ucapnya sambil berjalan menghampiri Victor.
Rumi melihat Victor tengah tertidur pulas saat itu dengan jendela mobil yang terbuka setengah.
Rumi akhirnya membangunkannya.
“Kamu disini? Saya kira kamu pulang..” Ucap Rumi heran.
“Saya cari lilin, terjebak macet dan banjir.. saya tiba disini pintu terkunci, yasudah saya tidur di mobil saja.. den Rumi juga saya hubungi tidak bisa..
“Ponsel saya mati, kehabisan daya.. ada stock baju gantiku kah? Aku ingin mandi..” kata Rumi tanpa berbasa basi.
Victor menahan tawanya..
“Den Rumi abis apa? Sampai tak sabar ingin mandi..” Ledek Victor membuat mata rumi memicing sinis.
“Gerahh.. hanya ada kipas disini..!” ucapnya namun tawa meledek victor seperti menandakan bahwa ia tidak percaya akan alasan Rumi.
Halah gerah, jelas gerahlah mungkin olahragamu terlalu keras pagi ini.. otak mesum sepertimu tidak mungkin membiarkan kesempatan dalam kegelapan... - Batin Victor.
*
*
*
Guys.. Mohon Maaf yang terdalam dariku, jika banyak kata typo, salah penulisan nama, dan lain sebagainya. Aku akan perbaiki yaa perlahan.. Terimakasih koreksinya 🥰🙏🏻
*
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
Mei 🥰
__ADS_1