GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Membujuk


__ADS_3

Ameera bangun dari tidurnya di waktu subuh, ia mandi untuk mensucikan diri usai menghabiskan malam bersama suaminya melepas rasa penat keduanya.


Ameera mandi lalu bergegas untuk beribadah. Melihat suaminya masih terlelap Ameera emmutuskan untuk menuju dapur.


Disaat itulah Rumi bergegas untuk mandi dan menunaikan ibadahnya secara tersembunyi dari Ameera.


Sementara itu, Ameera memakai appronnya di arena dapur dan memulai memasak menu sarapan hari iu di bantu beberapa asisten rumah tangga.


Setelah satu jam kemudian, ia Kembali kekamarnya beriniat membangunkan suaminya, namun saat itu ia melihat Rumi tengah duduk di arena balkon sambil memainkan ponselnya.


“Kamu sudah mandi? Kok ga bersiap ke kantor? Astaga.. aku lupa belum siapkan bajumu...Aku siapkan ya bajunya?” Kata Ameera lalu Rumi menahannya dengan memegang tangan Ameera.


“Jangan, aku gak ke kantor hari ini… aku mau kerja dirumah..” Kata Rumi.


“Hmm.. apa keadaan belum aman ya? Apa aku juga gak bisa keluar rumah karena kejadian ini?” Tanya Ameera merasa sedih bercampur rasa takut.


“Tidak, bukan begitu.. aku hanya ingin di rumah saja hari ini.. aku mau request roti buatanmu..” Kata Rumi bermanja dengan Ameera.


“Aku sudah masak nasi goreng lohh..” Kata Ameera.


“Kan bisa untuk cemilan..” Kata Rumi.


“Okelah.. nanti aku buatkan, ya? Kita sarapan dulu saja yuk.. papa dan Rima sudah menunggu di meja makan.” Ajak Ameera.


“Iya baiklah…”Rumi menjawab.


*


Siang itu..


Ameera tengah focus menegerjakan skripsinya yang harus ia revisi, tangan lentiknya menari di atas keyboard dengan lihai, Rumi pun asik melihatnya dari atas kasur, hingga ia tertarik untuk mendekat.


“Fokus sekali sih..” Kata Rumi menegur Ameera.


“Iya, tanggung mas.. sebetar lagi selesai.. kalo sudah selesai kan enkak, mudah-mudahan besok lusa adalah bimbingan terakhirku..” Kata ameera penuh harapan.


“Aamiin.. oh iya sayang, dimana cincin pernikahan kita? Kamu tidak pakai?” Kata Rumi membuat Ameera mengingat sesuatu, jantungnya kini berdebar lebih kencang sambil ia mencari sebuah alas an untuk suaminya.


“kemana ya mas? Hemmm” Ucapnya dengan rasa takut di dada.


“Jujur saja? Kemana? Hilang? Atau kamu tidak pakai?” tanya Rumi dengan harapan Ameera memang menyimpannya.


Aduh.. bagaimana ini? Apa iya aku harus jujur? Kalo aku jujur apa mas Rumi tidak akan marah? – Ameera membatin penuh ragu.


“Aku.. hmm aku lupa mas dimana meletakkannya..” Ucap Ameera beralasan.

__ADS_1


“Cob acari lalu pakai, aku juga kaan pakai..” Kata Rumi berjalan kea rah brangkas yang ia simpan di dalam lemarinya.


Terdengar suara tombol mesin itu, sampai Ameera merasa itu adalah suara yang cukup seram karena ia semakin membuat Ameera berdebar jatungnya cepat.


Apa aku jujur saja? Apa aku harus katakana yang sejujrnya kalau cincin itu aku jual? – batinnya penuh gelisah.


“Aku sudah memakainnya..” Kata Rumi menujukkan cincin yang sudah terpasang di jari manisnya.


“Punya kamu dimana? Di sini yaa?” Rumi berjalan ke arah meja Rias Ameera membuka sebuah laci yang terdapat sebuah kotak perhiasan disana.


“Bukan..” Ameera panik, ia berteriak sambil berlari mendekati Rumi.


“Loh kamu kenapa? Kelihatannya kamu panik begitu..” Kata Rumi penuh rasa curiga.


“Hmm engga mas, aku Cuma mau bilang itu… hemm.. itu cincinnya..” Kata Ameera tak sampai lidahnya berkata yang sejujurnya.


“Ameera, kamu tidak pandai berbohong, wajahmu sangat luguh untuk melakukan hal itu.. apa yang kamu sembunyikan dariku?” Kata Rumi semakin membuat Ameera takut.


Kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku tidak mengingat soal cincin itu dari kemarin- kemarin.. – Ameera membatin.


“Ameera..” Tegur Rumi lagi.


“Mas.. aku Cuma lupa, ya aku Cuma lupa kok..” Kata Ameera semakin membuat Rumi tak percaya.


“Jujur atau yasudah mau tetap menutupi sesuatu dariku?” Kata Rumi sedikit tegas pada Ameera.


“Jika diam dan tetap pada kebohonganmu, maka lanjutkanlah..” Kata Rumi, lalu ia beranjak pergi meninggalkan isterinya seorang diri di kamar.


"Mas.. mau kemana??" Ameera sedikit panik melihat suaminya mendadak cuek pergi meninggalkan Ameera.


Ameera nampak kebingungan, ia menyadari bahwa suaminya tengah merajuk kepadanya. Ameera meraih ponselnya dan menghubngi Faiz, demi emndapatkan sebuah solusi.


“Menurut gue, tu bukan masalah harga, bagi suami lo harga segitu kecil, lo jelaskan saja alas an lo dulu menjualnya untuk apa? Beres kan?” Kata Faiz dalam sambugan telfonnya.


“Masalahnya gue udah terlanjur bilang lupa taro, tapi mas rumi sadar gue bohong. Jadi aja dia ngambek..” Kata Ameera.


“hah lo juga si cari-cari masalah.. suah san acari suami lo jelasin aja sejujurnya, ya?” Kata Faiz lalu mereka mngakhiri panggilan itu.


"Iya gus coba, lo jangan lupa pantau Keyla yaa, gue sedikit khawatir dengan keadaanya.." kata Ameera sebelum ia menutup panggilan itu.


"Lo tenang aja, dia dalam keadaan oke kok bersama ayah bunda nya.." Faiz berkata sejujurnya, ia juga cukup tenang menjelaskan informasi tersebut kepada Ameera.


Ameera kemudian teringat, ia tengah memanggang Roti kesukaan Rumi, dan pasti sudah matang. Ia berniat menyajikan Roti dan kopi sambil menjelaskan yang sejujurnya pada Rumi.


Ameera meuju ruang kerja khusus Rumi sambil membawa secangkir kopi dan roti di atas piring cantik. Ameera berjalan dengan rasa takut, jantungnya ikut berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya.

__ADS_1


“mas, ini kopi dan roti kismis kesukaan kamu..” Kata Ameera menyajikannya di tas meja. Namun tidak ada respon dari Rumi saat itu.


“Mas, aku minta maaf.. aku benar-benar tidak ada niat untuk membohongi kamu.. aku hanya tak—ut”


Ucapan Ameera sejenak tertahan karena dering ponsel Rumi. Ia pun terpaksa untuk diam dulu sejenak.


Ameera duduk di hadapan Rumi,karena ia tahu jika yang menelfon Rumi adalah Victor maka Ameera berusaha membuat Rumi tersenyum padanya.


Ameera memulai aksinya, ia menyanggah dagunya dengan kedua tangannya sambil memperhatikan suaminya, Ameera tersenyum, dan mengedipkan kedua matanya selayaknya gadis kecil tengah bergaya centil.


Dia benar-benar menggemaskan,..


Rumi ingin sekali melepas senyumnya namun gengsi masih menguasainya, namun Ameera tak genatar ia berusaha menggoda suaminya..


“Mas.. sssttt ssttt.. I love you..” Ameera berbicara pelan, Rumi semakin tidak konsentrasi berbincang dengan Victor saat itu lewat panggilan telfon.


Ini kali pertama telingaku mendengar uangkapan itu dari Ameera, kenapa aku jadi salting gini? - Rumi membatin.


"Mas.. wleeeee" Ameera meledek Rumi dengan menjulurkan lidahnya.


Astaga dia benar-benar ingin aku makan.. - Batin Rumi.


"Victor, aku sudahi dulu penggilan ini, aku ingin memakan daging segar di hadapanku." Ucap Rumi sesaat sebelum ia mematikan panggilan telfon itu secara sepihak.


Panggilan telah usai, Lalu ia menatap isterinya balik dengan mendekatkan kepalanya je arah Ameera yang berada di hadapannya.


"Buka bajumu.." kata Rumi membuat Ameera terkejut hingga membulat matanya.


*


*


*


Nahloh mau di apain ya? Hehe


*


Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..


Terimakasih, salam cintaku..


Mei 🥰


Informasi:

__ADS_1


Bagi teman-teman khususnya pembaca setia. silahkan masuk ke Grup Chat yang ada di profil aku ya, dengan Nama MYNAMEI READERS.


Disana nanti akan ada admin yang akan informasikan beberapa dari kalian yang beruntung dapat GA. 😊


__ADS_2