GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Yang Terbaik Versi Tuhan


__ADS_3

Bisikkan Untuk Kita:


Dalam sebuah hubungan, apapun itu. Bersikap mempercayai adalah keputusanku, namun untuk membuktikan keputusanku salah adalah pilihanmu... 😊


*


Malam itu hujan deras mengguyur kota Jakarta, Ameera dan Rumi tengah bersantai di kamar mereka berdua.


Ameera memilih menonton drama korea yang tengah hits. Sementara Rumi baru saja menyelesaikan mandinya langsung duduk di samping Ameera lalu mencuri kecupan singkat di pipinya.


“Mas Rumi.. apa-apaan sihhh..” Ameera terkejut, jantungnya berdebar kencang menerima kecupan manis di pipinya.


“hehee” Rumi nampak malu..


“Aku gemassss melihat kamu terlalu focus dengan filem itu..” Kata Rumi yang tidak menegtahui apa yang tengah Ameera tonton.


“Menganggu saja ih, diam dulu.. ini sedang seru..”Ucap Ameera Kembali memfokuskan diri menonton film tanpa jeda iklan itu.


Merasa Ameera begitu cuek Rumi merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponslnya, ia membaca satu persatu pesan yang masuk terutama pesan singkat dari Victor.


Kita sudah kecolongan, Risca menjual mobil dan menyewakan Apartemennya selama lima tahun kedepan dengan harga yang cukup fantastis.


Menjadi seorang sales Property tentu mudah saja bagi Risca melakukan hal itu.


Kurang ajar, lalu kemana dia pergi?- ucap Batin Rumi sambil mengetih blasan pesan pada Victor sesuai dengan kata batinnya.


“aku kebawah sebentar ya? Ada yang mau aku bicarakan oleh Victor..” Ucap Rumi yang merasa tak sabar ingin segera mendengar langsung cerita dari Victor.


“Iya.. oh iya, jangan lupa tanyakan juga kabar laptopku ya mas? Ucap Ameera yang masih memikirkn dimana keberadaan laptop dan berkas-berkasnya.


Rumi turun ke lantai dasar dengan perasan kesal dan marah pada sosok Risca yang berani, beraninya menyewakan dan menjual mobil hasil pemberian dari Rumi.


“Mobilnya sudah di jual beberapa hari yang lalu den..” Kata Victor memberi beberapa penjelasan pada Rumi.


“Itu mungkin tidak seberapa bagi kakak kan? Tapi dengan perlakuan dia terhadap Ameera harusnya membuat kakak membuka mata dan hati kakak lebar-lebar, mana yang lebih menyakitkan? Di hianati oleh Mak lampir itu atau malah lebih sakit saat Ameera terluka?” Kata Rima pada Rumi dengan snagat berani membuat Rumi terpojok.


Yaa jelas aku lebih sakit dan marah saat Ameera terluka karena perbuatannya, itu jelas aku rasakan perbedaanya dari pada Risca pergi membawa kabur uangku.. – Rumi hanya membatin, entah mengapa ia enggan memberi bisikan suara hatinya di depan Rima juga Victor.


“Hemm.. Risca harus mempertangung jawabakan perbuatannya, terutama perbuatannya terhadap Ameera..” Rumi berucap cukup tegas.


Halah dasar gede gengsi , kenapa gak kamu katakana saja kak kalo kamu lebih sakit hati atas perbuatan Risca terhadap Ameera dari pada Risca yang pergi dengan membawa pundi-pundi rupiahmu..- Rima membatin terkekeh menertawakan sikap Rumi yang nampaknya masih sangat gengsi untuk menujukkan perasaanya terhadap Ameera.


Disaat yang bersamaan ponsel Victor berdering, beberapa anak buahya sudah mencari Risca namun nihil.. Dari mulai segala transportasi umum setidaknya ada pemebelian tiket atas nama Risca.


“cerdik sekali dia, nampaknya di pergi dengan identitas baru..” Ucap Victor yang juga di Yakini oleh Rima dan juga Rumi.

__ADS_1


“Kita lihat saja, seebrapa lama Risca bisa bersembunyi.. Uang pasti akan habis kak, tugas kakak saat ini adalah pastikan dia kesulitan mencari pekerjaan dimanapun..” Ucap Rima dengan santainya.


“Benar itu..saya akan lakukan itu.." sahut Victor.


“Hemm… sudahlah aku ingin Kembali tidur, sudah kaka kembali saja ke kamar, jagalah kakak iparku ya?” Kata Rima bergegas meninggalkan Rumi dan Victor dengan wajah yang terlihat cukup kelelahan.


Rumi kemudian memutuskan Kembali ke kamarnya karena hari juga sudah cukup malam di tambah hujan di luar cukup deras terdengar.


"Kamu sedang apa, Ameera? Menangis?" Tanya Rumi melihat Ameera tengah menangis.


"Tidak apa-apa" ucap Ameera menghapus air matanya.


"Jujur, ada apa? Apa lukanya sakit lagi?" Tanya Rumi dengan rasa panik.


"Bukan mas.." singkat Ameera menjawab.


"Ya lalu kenapa? Coba tolong kamu ceritakan dulu kamu kenapa?" Kata Rumi mengengam satu tangan Ameera.


"Kangen mama.." ucap Ameera lirih, seketika dia memeluk suaminya.


Rumi terkejut atas pergerakan cepat Ameera, sambil ia membalas memeluk erat Ameera.


"Doakan saja ya?" Singkat Rumi menjawab.


"Mas, aku mau ke makam mama besok boleh?" Tanya Ameera melepas pelukan itu.


Rumi terdiam sejenak..


"Boleh, aku temani besok" ucap Rumi mengusap lembut pucuk kepala Ameera.


"Kamu ga kerja besok?" tanya Ameera meski ia sudah tahu bahwa Rumi memutuskan untuk bekerja dirumah esok.


"Tidak.. besok aku akan menemanimu, ya?" Ucap Rumi.


"Kalo begitu, aku juga mau ke toko ya?"


"Tidak.. aku tidak izinkan kamu tinggal disaana" ucap Rumi tegas.


"Ih kamu ini, aku cuma bilang ingin ke toko loh bukan kembali tinggal disana.. aku hanya ingin mengambil beberapa buku" ucap Ameera menjelaskan kesalah pahaman itu.


"Oh aku pikir kamu akan kembali tinggal disana, jelas aku tidak izinkan" ucap Rumi yang sangat membuat riang gembira Hati Ameera.


Di tengah obrolannya, ponsel Ameera menyalah menandakan pesan masuk.. Rumi menoleh dan langsung berekspresi kesal kala itu.


Ameera meraih ponselnya dan melihat pesan yang masuk ternyata dari Argha.

__ADS_1


Duh ada apa Kak Argha chat aku.. - Ameera membatin sambil menatap wajah kesal Rumi.


"Buka, kenapa menatapku begitu" kata Rumi pada Ameera.


"Kamu yang kenapa hayo? Kok kesal gitu wajahnya? Apa kamu dan Kak Argha punya masalah?" Tanya Ameera heran.


"Tidak, yaa Hanya saja aku kesal selalu di banding-bandingkan dengan Argha, dia lebih soleh, baik, rajin, taat akan perintah, katanya itu bertolak belakang dengan aku.. hem" Rumi berucap menjukkan rasa kesal dalam hatinya.


"Yaa memang sih, kalo aku lihat ya memang begitu" ucap Ameera terlalu polos berbicara apa adanya.


Rumi sinis menatap Ameera.


"Apa kamu juga sama seperti mereka yang ingin membanding-bandingkan aku suamimu dengan Argha mantan pacarmu??" Kesal Rumi.


Waduh, aku salah bicara rupanya.. dia nampak tersingung ... aku harus apa ya? - Batin Ameera sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"Hemm.. Mas, aku bukan membandingkan tapi aku ini hanya berbicara sesuai penilaianku" ucap Ameera semakin ia berkata jujur semakin Rumi terlihat kesal.


"Kenapa kamu tidak menikah saja dengan dia??" Ketus Rumi berbicara.


"Yaa karena takdirku membawa keputusan untuk menerima pernikahan ini, entah akan berakhir seperti apa nanti..." ucap Ameera.


"Apa yang kamu harapkan?" Tanya Rumi.


"Aku mengharapkan yang terbaik versi Tuhan.." ucap Ameera lalu Rumi terdiam sejenak.


Apa aku harus mengatakannya sekarang??? Apa ini waktu yang tepat untuk berbicara pada Ameera?? - Rumi membatin.


"Mas.. kenapa diam??" Tanya Ameera melepas lamunan Rumi.


*


*


*


Nah kenapa diam tuh si Rumi?


Kira-kira apa yang mau di ungkapkan Rumi?? Ada yang bisa tebak? Hehehe


Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..


Terimakasih, salam cintaku..


Mei 🥰

__ADS_1


__ADS_2