GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Amarah Ameera


__ADS_3

“Mas Rumi, aku mohon jangan..” Pinta Ameera, namun kali ini ucapannya di abaikan.. Rumi menarik kaki Ameera hingga kini ameera berada pada posisi terlentang, Rumi mengunci Tubuh Ameera dengan tubuhnya yang berada di atas tubuh Ameera, kedua tangan Ameera juga berada dalam gengaman Rumi.


Ameera nenangis penuh ketakutan dan ketegangan, hingga rumi membuka baju Ameera dengan kasar. Ameera tak berdaya saat Rumi mulai mencumbunya pebuh nafsu, emngecup leher huingga dada mulus Ameera, terlihat Ameera sudah sangat lemas kala itu, badannya seketika terasa sakit mencoba memberontak amun tenaganya terlalu lemah menahan tubuh Rumi.


Ameera semakin terisak sesaak saat perlakuan rumi kali ini mengingatkannya pada kejadian di kala malam yang merengut kehormatannya.


Aroma tubuh ini... astga, keringat ini..


Ameera tak kuasa melupakan ingatannya ituhingga ia mencapkan seluruh jemarinya di bahu Rumi yang sudah tidak menegenakan sehelai baju.


“Jaaahhaaatttttt” Teriaknya sekuat tenanga hingga Rumi ikut mengerang kesakitan karena cakaran Ameera yang penuh dengan rasa emosi. Seketika itu juga Ameera terdiam lemas, matanya terpejam.


Rumi menatap Ameera, namun tak ada pergerakan apapun.


“Meera, Bangun!!” Ucap Rumi menampar pelan pipi Ameera.


Rumi menyadari saat menyentuh tubuh Ameera, tubuhnya dingin penuh dengan keringat.


“Astga.. dia pingsan?” Ucap Rumi dengan nafas yang belum sempurna beraturan.


“Meera, bangun Meer..” Pinta Rumi mulai panik.


Keringat yang juga mengalir di tubuh Rumi menambah rasa perih yang cukup menganggunya, karena rasa panaiknya, ia mengabaikan lukanya itu, ia memakai pakaianya dan bergegas memakaikan kembali Ameera pakaian.


Rumi keluar kamarnya dengan panik, di lihatnya masih ada kedua sahabatnya..


“Gue gak bisa menceritakan keadaan Ameera saat ini sama mereka, bisa-bisa terbongkar sikap gue sama dia ke papa” Ucap Rumi dengan pelan.


Rumi kembali ke kamarnya, ia membuka ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada victor untuk mengatakan pada Faiz dan Keyla bahwa Ameera tengah melayani Rumi sebagai suaminya.


Mendapatkan pesan singkat itu, Victor mengeerutkan keningnya heran..


Sementara itu, Rumi masih terdiam memandangi Ameera yang tengah tak sadarkan diri. Di pandangnya dengan lekat wajah Ameera yang memucat penuh keringat.


“Apa gue keterlaluan?” Ucap Rumi bermonolog.


Rumi masih menunggu Ameera tersadar dari pingsannya saat itu, sudah sepuluh menit berlalu.. Rumi bergegas meraih minyak kayu putih dan meletakkannya di area lubang hidung Ameera. Bau yang cukup menyengat itu ternyata mampu menyadarkan Ameera.


Melihat sosok Rumi di hadapannya kembali membuat Ameera sangat ketakutan, ia duduk dan bergerak mundur memojokan diri menjauhi Rumi sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan bantal.


“Kamu kenapa? Saya suamimu..” ucap Rumi dengan cukup tegas.


Ameera kembali berkeringat, wajahnya kembali pucat dan terlihat sekali ia sangat ketakutan.


“Oke baiklah, saya akan pergi mejauh.. “ Rumi berdiri beranjak menjauhi Ameera.


Ameera membuang pandangannya, memandang ke sembarang arah, pikirannya kini kembali mengingat kejadian malam itu, suara petir di luar rumanya semakin mempertajam bayangan pada malam itu..


“arrrrrgghh” Jerit Ameera menahan Langkah Rumi yang hendak mebuka pintu kamar itu.

__ADS_1


Kenapa Ameera? Dia seperti orang depresi saja.. – Rumi membatin.


Rumi kembali mendekati Ameera.


“Jangan membuatku takut dan panik.. Oke, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan tadi, tapi percayalah, sebagai suamimu aku memiliki hak atas dirimu..!” Ucap Rumi kemudian ia pergi meninggalkan Ameera yang semakin menangis menjerit seorang diri di kamarnya.


Cengkraman itu, aroma badan dan hembusan nafas itu.. kenapa semua sama? Kenapa semua membuka memoriku pada kejadian malam itu..? Tuhan ada apa ini? Aku mohon untuk hapuskan ingatanku pada kejadian buruk itu.. Aku mohon.. – Ameera membatin sambil menangis penuh emosi, tagisannya mengundang sesak pada dadanya.


Lelah menagis, Ameera terlelap dalam tidurnya kala itu, hingga satujam kemudian ia terbangun.. hari sangat gelap meski masih menujukan pukul lima sore kala itu.


Hujan baru saja berhenti membasahi wilayahnya.


Ameera seolah mendapat energi baru, ia terdiam sejenak menatap cermin. Leher putihnya kini terlihat beberapa tanda kemerahan akibat perbuatan Rumi, pergelangan tangannya juga terada sakit. Ia membuka kancing bajunya, dan ia kembali menemukan beberapa tanda kemerahan di area dadanya.


Kali ini aku sangat yakin- Ameera membatin.


Ameera mengancingkan kembali bajunya, dengan penampilan yang masih terlihat sangat kacau ia keluar dari kamarnya, ia membanting pintu setelah ia keluar, hal itu mengundang kehadiran Rumi yang tengah berada di ruang kerjanya.


Ameera menuruni anak tangga dengan cepat, Rumi yang melihat Ameera Nampak teegesah-gesah bergegas mengikuti Ameera.


“BIBI…..” Teriak kuat Ameera.


“Iya non, ada apa?” Bibi Nampak ketakutan, ia berlari dengan cepat menghampiri Ameera dengan wajah majikannya yang penuh amarah, penampilannya juga sangat kacau.


“Dimana Gudang?” Ucap Ameera membuat bibi bingung!


“Diamana Gudangggg!” teriak Ameera kesal.


“Diam kamu, Mas!” Bentak Ameera.


“Di.. di beakang non..” Ucap Bibi lalu Ameera berjalan cepat di ikuti bibi dan juga Rumi.


“Apa yang mau kamu lakukan Ameera?” Ucap Rumi melihat emosi Ameera tengah memuncak dan tidak stabil.


Ameera masuk kedalam Gudang, ia mencari suatu barang namun tidak dapat ia temukan. Bergegas ia menuju garasi.


Langkahnya kini di ikuti oleh Rumi..


“VICTOORRR” teriak Ameera seketika victor muncul.


“Mana mobil yang sering di pakai Mas Rumi?” Ucap Ameera tegas.


“Aapa maksudmu?” Kesal rumi menarik tangan Ameera, dengan satu hentakkan Ameera menepis tangan Rumi.


“Victor jawab.. atau saya akan hubungi papa sekarang!!” Ancam Ameera.


Victor kemudian menujuk tiga mobil yang biasa di kenakan oleh rumi, mata dan feeling Ameera tertuju ke sebuah mobil Jeep hitam dengan ban besar.


“Buka..!” tegas Ameera berucap sambil menujuk mobil tersebut.

__ADS_1


“Apa-apaan kamu ini, Ameera?!” Ucap Rumi dengan sangat tegas.


“Buka!!” Pintanya pada Victor dan mengabaikan ucapan Rumi.


Mobil itu sudah terbuka, Ameera kemudian mengeledah mobil itu hingga tubuhnya lemas seketika. Ia melempar sebuah barang yang ia temukan persis ke hadapan Rumi berdiri.


“Laki-laki Brengseeekkk!!” Ucap Ameera persis di hadapan Rumi sambil menahan tangis dalam emosinya.


“Apa maksudmu? Hah?!” Kesal Rumi sambil mencengkram lengan kri Ameera.


“Lepas!! Brengsek..!!” Ameera menepis Tangan Rumi.


Kejadian yang di lihat beberapa pekerja di kediaman itu, Ameera tak peduli dengan sikapnya yang tidak terkontrol, ia juga tak kuasa hingga tubuhnya gemetar. Merasa sudah puas dan mendapt jawaban dari semua misteri dalam ketakutannya ia langsung saja berlari menuju kamarnya namun Rumi tak tinggal diam, ia mengekori Ameera.


Rumi melihat Ameera tengah memasukan beberapa pakaian kedalam koper miliknya.


“Apa-apaan kamu, Ameera?? Hey!!” Rumi menarik tubuh mungil Ameera higga ia tersungkur di atas tempat tidurnya.


Tidak ingin terlihat lemah, Ameera berdri menantang Rumi mesk air mata dan isak tak henti.


“Kamu masih tanya mengapa? Masih belum kamu sadari apa yang sudah aku sadari?? Hah??” Ameera membentak Rumi tanpa rasa takut.


Rumi diam, menatap tajam wajah Ameera denga tajam. Ameera membalas tatapan itu dengan sinis penuh kebencia.


“Buka bajumuu.. Buka..!!” Ucapnya lantang sambil mengoyahkan tubuh Rumi.


“BUKAAA…..!!” Teriak Ameera denganjarak lima senti dari wajah Rumi.


*


*


*


Siapa yang tahan napas membacanya? Hehe


aku nulisnya juga emosih nih..


- barang apa yang di lempar Ameera?


- Kenapa Ameera meminta Rumi membuka pakaiannya? Hehe


*


*


*


Terimakasih sudah membaca chapter demi chapter.. aku tunggu absen kalian di kolom komentar berupa komentar positif yaa.

__ADS_1


Thankyou, salam cintaku..


Mei ❤️


__ADS_2