
Ameera sudah terbaring di kamarnya setelah Rumi menggendongnya dari mobil hingga lantai dua kamarnya. Rumi Nampak terengah- engah, ia duduk di tepi Kasur sambil meraih ponselnya.
“Lo dimana?” Ucapnya dalam sambungan telfon.
Mandengar ucapan Rumi Ameera perlahan membuka matanya dan bergerak sedikit, agar terasa nyaman dalam berposisi.
Rumi berdiri dari duduknya .. “Dokternya sudah mau sampai, kamu mau makan apa?” Tanya Rumi sambil membuka kancing kemejanya.
Mata Ameera nampak memicing sinis.
Mau apa dia? Membuka kncing kemejanya di hadapanku - Batin Ameera .
“Kenapa kamu melihatku sinis sekali? Aku hanya ingin ganti baju..” Ucap Rumi.
Ameera hanya terdiam dan malu dengan dirinya sendiri atas prasangkanya terhadap Rumi.
“Mau makan apa? Biar bibi siapkan?” Tanya Rumi mengulangi pertanyaannya.
“Hemm mungkin makanan yang berkuah lebih enak..” Ucapnya menambhakan.
“Oke..” Rumi mengangkat telfon yang berada di kamarnya lalu mengatkan apa yang Ameera inginkan saat itu.
Tidak lama berselang dokter yang nampak masih sangat muda itu datang dan bersiap memeriksa Ameera.
"Permisi, hai salam kenal ya" ucap dokter itu dengan ramah tamah menyapa Ameera.
"Hai, aku Ameera " ucap Ameera tersenyum menampakkan lesung pipinya.
"Manisnya bini orang" ucap pelan dokter itu.
Rumi langsung memberi pukulan di lengan dokter itu.
"Jangan jelalatan! Periksa pingangnya, ada memar cukup lebar.." kata Rumi.
“Memar? Lo mainnya gimana, samapai isteri lo memar begini?” Ucap Doketer yang di panggil Arief oleh Rumi.
“Periksa saja yang benar jangan banyak bicara” Ucap Rumi.
“Oke, akum au izin yaa boleh sedikit buka bajunya? Aku mau melihat Luka memarnya..” Kata Arief pada Ameera, belum sempat Ameera menjawab Rumi lebih dulu menghampiri Ameera dan duduk di tepi Kasur.
“Wiss gerak cepat ya?” Goda Arief.
Rumi hanya terdiam sementara Ameera memandang heran Rumi kala itu dengan sikap Protective Rumi yang menjaga kehormatan Ameera.
“Luka terbentur benda tumpul?" Tanya Dokter arief lalu Ameera mengangguk.
"Benturannya kencang sekali kayaknya sampai biru pekat begini, dan melebar..” Kata Dokter Arief.
“Terus? Perlu rontegen? Atau ada Tindakan medis Khusus?” Tanya Rumi.
“Gak ada sih, Hanya perlu obat oles aja untuk menghilangkan kebiruan ini dan ada obat minum untuk memulihkan dari dalam.. kalo tiga hari msih terasa nyeri, bengkak dan keluhan lainnya bisa kita check lebih lanjut..” Kata Dokter Arief.
__ADS_1
“Oke, Mana obatnya?” Tanya Rumi cepat.
“Mana gue bawa, lo tebus sana.. kebiasaan deh apa-apa maunya tersedia, cepat dan pas..” Goda arif sambil terkekeh..
“Yasudah cepat resepkan? Jika Sudah sana pergi..Thanks” Ucap Rumi
“Segitunya lo yaa.. mentang-mentang udah sah..” Tambah arief menggoda sambil ia Mencatat resep.
“Diam.. atau gue benar-benar panggil satpam untuk mengusir lo!” Ancam Rumi.
“Oke – oke fine.. ini resep yang harus lo tebus ya? Gue permisi dulu kalo gitu..” Ucap dokter Arief kala itu.
Rumi nampak memotret selembar resep itu pada seseorang, lalu ia kembali ke meja kerjanya melanjutkan pekerjaannya.
“Aku harus meeting sebentar secara online.” Ucap Rumi pada Ameera.
Ameera terdiam mendengar ucapan Rumi.
Dia kenapa sok manis sekali terhadapku? Pasti sok tebar-tebar pesona.. hmm pesonamu sudah melempem dimataku, Mas.. – Batin Ameera.
Pintu kamar mereka terketuk, Rumi melihat Ameera nampaknya terlelap menunggu makan malam siap dan obatnya datang. Bergegas Rumi melangkahkan kakinya membuka pintu, Ternyata bibi dating membawa makanan dan obat untuk Ameera.
Rumi memilih untuk memakaikan obat oles di area yang memar itu, perlahan ia mengangkat baju yang Ameera kenakan, pergerakan itu tentu membuat Ameera terbangun.
“Diam jangan banyak protes..” Ucap Rumi yang melihat Ameera sudah membuka matanya.
“Sakit ga?” Tanya Rumi mengoleskan gel bening dengan sangat lembut.
Rumi menahan tawanya mendengar ucapan Ameera kala itu..
Haha itu baru satu jariku saja dia sudah merasa geli, bagaimana kalo sepuluh jarikumenari di atas tubuhnya.. – Batin Rumi dengan pikiran negative nya.
Tangan jahil Rumi mulai brtaksi hingga terlihat perut bagian depan Ameera, dengan cepat Ameera menurunkan Kembali bajunya.
“Jangan macam-macam kamu!” Kata Ameera kesal dan terkejut.
“Aku hanya ingin memastikan kalau tidak ada luka lainnya.. tapi itu tadi bekas luka apa? Apa kamu pernah operasi?” Tanya Rumi melihat bekas luka di bagian perut kanan Ameera samar, karena posisinya berlawanan dengan luka memar yang berada di sebelah kiri.
DENG…! Ameera terkejut mendengar pertanyaan Rumi kala itu.
Astaga Aku harus jawab apa? – Batinnya ketakutan.
“Usus buntu, ya? Sama seperti Rima..” Ucap Rumi dengan tebakkannya, Ameera tidak menjawab iya atau tidak. Sikap diam Ameera kala itu tidak mengndang kecurigaan Rumi sedikitpun, membuat Ameera Nampak bernafas lega.
Allhamdulillah, mas Rumi tidak bawel bertanya ini dan itu.. - Batin Ameera lega.
“Ada sup, selagi hangat makanlah..” Ucap Rumi.
“Iyaa..” Jawab Ameera sambil berusaha duduk Melihat Ameera sedikit kesusahaan Rumi membantunya dam membuat sandaran dengan tumpukkan bantal.
Sikap Rumi sangat manis kala itu, membuat Ameera banyak menaruh kecurigaan…
__ADS_1
Pasti ada motif lain yang dia harapkan di balik sikap manisnya padaku ..
Ucap Ameera melihat rumi tengah membawa nampan berisi makanan untuk Ameera.
“Kamu gak makan?” Tanya Ameera pada Rumi.
“Nanti dibawah.. kamu makanlah dulu..” Ucap Rumi.
Ameera berusaha untuk segera menghabiskan menu makanannya agar ia dapat meminum beberapa obatnya dan bisa beristirahat. Saat itu Ameera makan sambil sesekali melirik kearag Rumi yang nampaknya tengah focus dengan laptopnya.
Dia memang tampan, tapi kenapa kalo sudah memasang wajah jutek mukanya mirip sekali limbad? Astagfirullah, aku sepertinya ketularan Faiz dan Keyla, jadi gemar mengibaratkan seseorang gini.. -Batin Ameera melanjutka makannya.
Kenapa gue merasa Ameera memperhatikan gue ya? Apa karena olesan gel tadi yang membuatnya merasa geli? Hahaha – Batin Rumi tertawa dengan pemikirannya.
Di tengah lamunannya, dering telfon di kamar itu berbunyi.. Ameera melihat Rumi tengah focus, maka ia segera mengangkatnya karena ia dapat menjangkau dengan tangannya.
“Iya Haloo” Ucap Ameera, kemudian Rumi melihat ke arah Ameera, bahkan saat ini Ameera terlihat bingung tak mengatakan apapun.
“Ada apa?” Tanya Rumi mendekati Ameera.
Ameera menutup telfon itu.
Aduh.. bagaimana ini? Ada apa pula dia datang kesini malam-malam? – Batin Ameera Nampak bingung.
“itu mas, hemm..”Ameera menahan ucapannya karena terselip rasa takut.
“Haa hemm haa hemm, ada apa?” Rumi sedikit kesal kala itu.
“Itu Mas, di bawah ada Kak Argha..” Ucap Ameera pelan, Rumi agak sedikit heran karena kedatangan Argha di waktu yang cudah cukup malam.
Ada apa Argha malam-malam begini datang kesini? Kenapa dia tidak menghubungiku? – Batin Rumi merasa heran .
“Mau bertemu aku atau kamu?”tanya Rumi dengan sinis.
“kamu dan aku..” Ucap Ameera jujur menyampaikan pesan bibi..
“Aku saja yang mewakili, aku gak sanggup kalo harus menggendongmu naik dan turun..” ucap Rumi dengan juteknya.
Ameera hanya diam kala itu sambil membatin..
Mulai deh wajah seperti limbadnya keluar, lagian dia bisa lewat lift kan? Kenapa harus capek-capek melewati tangga? Dasar aneh.. – Ameera membatin kala itu.
*
*
Kira-kira Argha mau ngapain ya? Hehe
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
__ADS_1
Mei 🥰