
Bandung..
Ameera dan Rumi memutuskan untuk melajutkan perjalanan mereka menuju Villa pribadi Pak Rudi, sebenarnya dalam batin Ameera ia sudah nyaman berada di hotel tanpa harus melajutkan perjalanan selama satu setengah jam.
Selama perjalanan Ameera nampak melihat wajah sumringah Rumi dengan senyum tipisnya sesekali meski sedang menegendarai mobilnya.
Apa dia kerasukan setan lagi ya? Ahihh astagfirullah.. tidak beres sekali pikiranku ini..
“Mas.. kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Mikirin hal lucu apa?” Tanya Ameera penasaran.
“Tidak ada.. hanya lucu saja membayangi tupai tersiram air..” Ucap Rumi membayangkan wajah cemburu kesal Argha.
Ameera celingukan, “Mana? Dimana?” tanya Ameera melihat ke arah luar mobil.
Rumi semakin tertawa terpingkal-pingkal.. wajahnya sampai memerah melihat aksi polos Ameera saat itu.
“Kamu ini kenapa si? Ga jelas sekali jadi orang.. membuatku pusing saja sih..”Kesal Ameera.
“maaf.. maaf..” Rumi berusaha menahan tawanya saat itu..
“Lima belas menit lagi kita akan sampai, nah kamu mau beli cemilan kah? Karena posisi Villa berada di dalam yang jauh dari keramaian, bahkan warung pun tidak ada..” Kata Rumi.
“Maulah..”jawab Ameera masih dengan nada kesalnya itu.
Rumi akhirnya mengaarahkan mobil ke sebuah minimarket yang ia lewati untuk membeli beberapa stock cemilan.
Ameera terlihat mengambil dua bungkus mie instan super pedas, mata Rumi langsung menegrutkan keningnya.
“Meera, itu pedas sekali, jangan kamu ambil aku gak mau kamu sakit perut..” Kata Rumi sedikit memberi perintah tagas.
“Ihh.. aku sudah biasa kok Mas, ini Mie instan Favoriteku..”Ucapnya.
“jangan samakan di Jakarta dengan disini.. disini suasan sangat dingin, dengan memakan pedas di suasana dingin bisa memicu lebih cepat rasa sakit perut..”Ucap Rumi mencoba menjelaskan.
“Ih.. pelit sekali sih..” Ucap Ameera sambil menekuk wajahnya kesalnya menyaksikan dua bungkus mie instan pedas di kembalikan lagi oleh Rumi ke tempatnya.
Ameera Kembali berkeliling bersama Rumi hingga keduanya merasa cukup membeli cemilan dan kebutuhan lainnya hingga 3 keranjang banyaknya.
“Mau pakai kantong berbayarnya Mba?” Ucap seorang kasir yang suaranya tak asing di telinga Ameera,sambil jantungnya berdebar Ameera mengarakan panadangannya ke arah kasir itu.
__ADS_1
“Astaga..”Ameera melangkah mundur saat itu.
“Loh kenapa?” Rumi menahan tubuh isterinya sambil menetap wajah terejutnya dan menatap kasir yang juga terkejut melihat Ameera.
“Mas.. dia… dia itu Yarra..” Ucap pelan Ameera, Rumi terdiam dalam keadaan spontan ia tidak sepenuhnya menegtahui siapa Yarra, namun samar dalam ingatannya Kembali muncul dan mengingat Yarra adalah nama adik tiri Ameera.
Melihat Ameera terkejut, Yarra berlari kabur bahkan sampai mengundang teriakan teman kerjanya memanggil Namanya.. “RATU.. mau kemana?” Ameera mendengar itu jelas, Namanya Ratu, ia memakai nama panjangnya kala ini meninggalkan nama Yarra.
“Maaf mbak, mas.. saya lanjutkan ya?’ Kata seorang Wanita yang menjadi partner kerja Yarra saat itu.
“mbak.. saya butuh informasi mbak yang kabur tadi..” Kata Rumi mewakili Ameera.
“Ratu?” jawab kasir itu.
“tapi ini jam kerja saya pak, kita tidak bisa ngobrol di luar transaksi dan terkait Ratu, ada apa dengan Ratu? Apa kalian kenal dengan Ratu?” Ucapnya. Rumi mencari cara saat itu.
“Kami akan jelaskan nanti, jam berapa kamu istirahat?” Tanya Rumi.
“Dua puluh menit lagi pak,..” Kata Kasir itu.
Baik, saya tunggu jam makan siangmu..”Kata Rumi sambil mendekap Ameera mencoba menangakannya.
“tenang yaa, kamu jangan memikirkan apapun.. aku tidak ingin kamu terbawa dalam rasa takut..” Kata Rumi melihat Ameera terus melamun sambil bersender di bahu suaminya.
“Aku tidak menyangka dia bisa ada disini, Mas.. dia selama ini menghilang.. bahkan mama meninggal dia tidak hadir.” Kata Ameera lalu ia mengingat sesuatu.
“Mas, iya mass aku boleh minta tolong?” Kata ameera kali ini seolah terpacu semangatnya, Rumi merespon dengan mengangguk tanda mengiyakan.
“Mas.. bolehkah aku tau informasi tentang ayahku yang berada di bui” Kata Ameera penuh rasa penasaran.
“Apa dia masih di dalam Bui?” Tambahnya.
“Masih, Victor dan Pengacara Papa yang handle.. ada apa?” Tanya Rumi penasaran.
“aku ingin tau, apakah Yarra tau keberadan papa di bui?” dalam hatinya bertanya-tanya.
“Yarra adalah anak kandungnya, keterlaluan sekali jika ia tidak mengetahui keadaan ayahnya..” Ucap Rumi mengutarakan pendapatnya.
“Tapi Mas, keadannya berbeda.. Yarra sangat egois selalu memikirkan kemauannya sendiri, belum lagi dia selalu ingin segala sesuatu dalam hidupnya terpenuh..” Ucap Ameera.
__ADS_1
Tak lama berselang, seorang Wanita yang menjadi partner kerja Yarra mengetk, nampaknya ia sudah bersiap untuk menjadi narasumber saat itu.
Beberapa pertanyaan di lontarkan oleh Ameera, hingga ia memutuskan untuk menceritakan saja bagaimana Yarra bisa bekerja bersamanya dan bagaimana penilaiannya terhadap Yarra.
“Begini, dua bulan lalu dia datang mau menjual Kalung emasnya, posisinya dia dalam keadaan yang cukup kacau dan lengannya luka, saat itu ada atasan kami, akhirnya sama atasan kami di introgasi, saya tidak tahu banyak yang saya tahu kalo dia itu di lempar oleh kawannya dari mobil yang tengah melaju.. nah setelah bos saya memastikan kalung itu emas akhirnya di beli, dan uangnya untuk ia mencari tempat tinggal juga baju ganti.. saya sendiri yang menemaninya kala itu mencari kontrakan dan membeli baju ganti..”
“namun saya kadang heran, kenapa mbak ini tidak punya identitas seperti KTP, namun dia punya ponsel bagus yang cukup kekiniaan, saya kan jadi mikir orang ini jujur atau tidak yaa..lama setelah itu dia datang Kembali ingin menjual ponselnya itu dan meminta bantuan agar di carikan pekerjaan.. Yaa sudah akhirnya dia bekerja disini, hanya saja ponselnya tidak dapat di beli bos saya karena harganya yang memang mahal..”
“lalu.. dia tinggal jauh dari sini?” tanya Ameera
“Tidak, di belakang sini di rumah ke empat.. “ Katanya menjelaskan.
“apa selama bekerja dia baik?” Tanya Ameera lagi.
“tidak, dia tidak mau capek, dia hanya mau di kasir tidak mau rolling ganti Menyusun barang atau cek stok barang di Gudang.. dia juga tidak mau.. dia hanya mementingkan dirinya, dan yaa suka se enaknya pada kita, padahal kita jauh lebih lama disini..” Ucap nya namun tidak kaget ameera dengan pernyataan tersebut.
"Kalo boleh tau, kalian mengenal Ratu?" Tanya wanita itu.
"Iya saya mengenalnya.." kata Ameera.
"Mmm mbak, Terimakasih atas waktu dan informasinya.. mbak boleh melanjutkan bekerjanya" kata Rumi to the poin.
Wanita itu pergi namun meninggalkan rasa kesal pada Ameera.
"Masih banyak yang ingin aku tanyakan.." ucap Ameera kesal pada Rumi.
"Untuk apa? Hiraukan saja, dia yang pergi darimu.. dia yang menjauhimu, Meninggalkanmu, buat apa kamu sibuk mencari informasi tentangnya. Kan dia yang ingin lepas darimu" ucap Rumi membuat Ameera terdiam dan merenungi keadaan saat itu.
Aku tidak menyangka Mas Rumi peduli sekali denganku, belum lagi dia juga punya sikap dewasa yang tidak aku sangka sebelumnya..
*
*
*
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
__ADS_1
Mei 🥰