
“Kenapa kamu belum bersiap? kita ada penerbangan pukul 19.00 Ameera..” Kesal Rumi kala itu sambil menegur Ameera yang tengah menyantap mie instan seorang diri.
“Aku laper, apa salah aku makan?” Tanya Ameera kesal, siklus datang bulan membuat rasa lapar sering kali muncul.
“Tapi ini sudah pukul lima, kita harus segera berangkat..!” Kesal Rumi mengadapi sikap dingin Ameera.
“Pakai saja jaketmu, kita berangkat sekarang lanjutkan makanmu di mobil..” Kesal Rumi karena Ameera mengabaikan ucapannya.
“Aku belum packing apapun mas…” Kesal Ameera berbicara sambil berdiri.
“Beli…” Ucap Rumi smabil berjalan meninggalkan Ameera.
Ameera meninggalkan mie instannya yang belum ia habiskan, bergegas ia ke kamar memilih beberapa baju. Baru ia memulai, Victor datang dan meminta Ameera bergegas menuju mobil.
“Aku belum siap Victor, aku belum packing apapun..” Kesal Ameera.
“Kata Den Rumi, nanti beli saja.. Sudah, ayok mbak, bawa saja ponsel dan dompet.. kita bisa telat..” Ucap Victor membuat Ameera tidak mempunyai pilihan lain lagi. Ia menarik satu tas mininya yang hanya cukup untuk tempat ponsel dan dompet.
Dengan wajah kesal, Ameera masuk ke dalam mobil pribadi Rumi, Victorpun sudah duduk di kursi kemudi siap menekan pedal gas.
“Dasar perempuan, ribet..” Kesal Rumi.
“Bawel..” Kesal Ameera sambil memasang earphone di telinganya.
Victor mengendarai mobil dengan cepat, hingga satu jam kemudian, mereka tiba di bandara..
“Victor, apa kamu tidak ikut?” Tanya Ameera merasa sedih.
“Tidak, Mbak.. saya mengawasi perusahaan..” Ucap Victor membuat wajah Ameera nampak murung.
“Cepat atau kamu akan tertinggal sendirian disini..” Kesal Rumi menarik kopernya meninggalkan Ameera.
“Sudah, percaya saja semua saya, semua akan baik-baik saja.. tenang saja ya.. cepat susul Den Rumi..” Kata Victor, Melihat Rumi yang semakin jauh Ameera bergegas berlari mengimbangi Langkah Rumi.
Selama di pesawat keduanya saling bungkam, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ameera memilih memejamkan wajahnya sambil mendengarkan music dari ponselnya. Setelah hampir sampai, Rumi lebih dulu mempersiapkan diri, ia melihat Ameera sangat lelap dalam tidurnya, dengan lembut Rumi menyentuh lengan Ameera..
“Bangun sudah sampai..” Ucapnya.
Ameera terkejut, bukan karena suara namun karena sentuhan dari Rumi saat itu. Ameera menatapnya sinis, sambil membasuh lengannya dengan tisu basah.
Kurang ajar anak ini, dia pikir aku ini apa? Kenapa harus di elap begitu..” Kesal Rumi.
Mereka turun pesawat secara beriringan, saat itu mobil jemputan telah menunggu mereka. Rumi dan Ameera bergegas masuk karena hari sudah cukup malam di Bali.
__ADS_1
“Pak, mampir ke outlet pakaian.” Kata Rumi pada supir yang akan membawa mereka menuju villa.
Empat puluh menit, mereka tiba di sebuah outlet yang menjual pakaian serta beberapa perlengkapan lainya.
“Sepuluh menit, atau saya akan tinggal..” Ucap Rumi.
Namun Ameera santai saja mengabaikan ucapan Rumi.
Mana mungkin dia meninggalkan aku, coba saja kalo berani berhadapan dengan papa.. – Ameera membatin sambil menertawakan dalam hati sikap Rumi kala itu.
Dengan santai Ameera mengelilingi otlet itu memilih pakaian mana yang ia suka dan cocok untuk ia kenakan selama di Bali.
Lima belas menit berlalu, Rumi mencari Ameera masuk ke dalam Outlet.
“Lama amat sih, aku udah capek nih..” ucap Rumi kesal.
“Mau aku tinggalin aja ya kamu?” tambah Rumi.
“Silahkan saja..” Ucap santai Ameera.
Astga, mana mungkin aku meninggalkannya, papa pasti akan marah besar – Kata hati Rumi membatin.
Dengan rasa kesal dan terpaksa Rumi menunggu Ameera, tak lama kemudian Ameera menuju kasir bergegas Rumi mengekori Ameera.
“Ya lihatnya bagaimana?” Kesal Ameera.
Rumi menghela nafasnya kesal. “Kenapa ada wanita menyebalkan sepertimu..” Ucapnya pelan.
Rumi membayar semua belanjaan Ameera yang tidak seberapa dibandingkan jika ia membayarkan belanjaan Risca.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Villa yang sudah di reservasi oleh Pak Rudi, keadaan jalan yang sepi dan gelap membuat keduanya sedikit tegang. Konsep villa yang jauh dari keramaian merupakan pilihan yang sengaja dipesan oleh Pak Rudi.
Setelah tiba di Villa, keduanya disambut bahagia oleh Rima dan juga Pak Rudi..
“Haii, selamat datang kakak ipar..” Ucap wanita berambut panjang yang memiliki wajah mirip dengan Rumi.
“Haii.. aku Ameera..” Ucap Ameerah membalas pelukan Rima, adik iparnya.
“Iya, aku sudah tau namamu.. papa banyak bercerita tentangmu..” Kata Rima.
Ameera melepas senyumnya menampakan lesung pipinya.
“Astga, senyum kamu benar-benar menghanyutkan kaka ipar..” Ucap Rima merasa terpesona.
__ADS_1
“Bisa saja.. bagaimana keadaanmu? Apa yang luka karena kecelakaan kemarin?”Tanya Ameera melihat keseluruhan tubuh gadis cantik yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari Ameera.
Hahahaaa – Tawa lepas Rima.
“Dia hanya mengalami luka memar, dia memang senang sekali membuat papanya terkena serangan jantung,..” Sambung Pak Rudi sambil berdecak menggelengkan kepalanya.
“jadi?” Bingung Ameera.
“Hanya luka ringan, hanya rindu papa saja dan ingin memberikan waktu untuk kalian berdua..” Goda Rima pada Ameera dan juga Rumi kala itu.
“Sudah kalian masuklah ke kamar kalian di lantai dua, papa dan Rima akan siapkan menu bbq kita mala mini..” Ucap Pak Rudi.
Apah? Kamar kita? Apa aku akan tidur bersama Rumi? Malas sekali sih- kesal Ameera
“Aku bantu-bantu dulu saja, nanti biar sekalian saja ke kamar saat ingin tidur..” kata Ameera beralasan.
“Baiklah... ayo kakak ipar, di belakang sedang di siapkan loh..” Kata Rima begitu senang menyambut Ameera, ia menarik pelan tangan Ameera.
Pak Rudi tersenyum pada puteranya..
“Lihat adikmu, tercapai impiannya memiliki kakak perempuan..” Ucap Pak Rudi dengan senyum lebarnya.
“Kamu membahagiakan Ameera kan?” Kata Pak Rudi.
Rumi menghela nafasnya menghilangkan rasa gugup karena kesalahannya itu.
“Bahagia itu relative pah, Rumi mana tahu Ameera bahagia atau tidak.. papa tanya saja sendiri..” Kata Rumi dengan gaya bicara yang dingin terhadap ayahnya itu.
“Lalu kenapa kamu membiarkan Victor menemani Ameera kemana – mana? Apa kamu tidak butuh pengawalannya lagi? Atau kamu sengaja, supaya papa tidak bisa mengetahui kenakalanmu di luar sana?” Tanya Pak Rudi.
“Pah.. sampai kapan si papa terus mencurigai Rumi? Sudahlah Pah, percaya saja sama Rumi..” Rumi seolah mengelak kebenaran yang diungkap oleh Pak Rudi kala itu.
“Okehh.. baiklah, papa percaya karena kamu adalah seorang laki-laki dewasa yang sudah memiliki isteri.. papa tunggu anak pertama mu, ya?” Ucap Pak Rudi sambil menepuk lengan puteranya lalu ia beranjak meninggalkan Rumi.
Tidak pernah terbesit di kepalaku bagaimana aku membayangkan aku menjadi seorang ayah, aku belum tertarik.. – Ucap Rumi dalam hatinya. .
*
*
*
Yuhuu.. Selamat hari senin, kita up berap ya hari ini? Jangan lupa yaa vote dan like ny oh ya usai membaca minta tolong kasih 5 bintang nya yaa kawan.. terimakasih ❤️
__ADS_1
Salam cintaku, Mei 🥰