
Ameera melihat mobil suaminya sudah terparkir rapih di garasi, ia sadar akan mendapat sebuah masalah.
Matilah akuuuu.. - Batinnya.
"Siang non, mau di siapkan makan siangnya?" Tanya Bibi pada Ameera.
"Mas Rumi apa mau makan sekarang?" Tanya Ameera.
"Katanya nanti.." jawab bibi.
"Yaudah aku juga nanti" kata Ameera, lalu ia bergegas menuju kamarnya.
Ameera menaiki anak tangga sambil berharap Rumi tidak akan marah besar saat itu, meski rasanya itu sedikit mustahil.
Ameera masuk kedalam kamar dan melihat Rumi nampak berdiri menghadap balkon sambil menggulung lengan bajunya.
"Assalammualaikum.." kata Ameera pelan sambil melangkah masuk.
"Waalaikumsalam.." jawab Rumi sambil ia memutar badan lalu bertolak pingang dengan wajah menantang.
"Dari mana?" Kata Rumi ketus.
"Tadi mau ke kampus.." jawab Ameera dengan debar jantung kian lama terasa semakin cepat.
"Nyatanya kemana?" Tanya Rumi semakin menekan Ameera.
"Maaf .. " Ameera tertunduk takut.
"Aku tidak mengharapkan kata maaf, aku tanya? Nyatanya kamu pergi kemana?" Rumi semakin membuat Ameera tegang.
"Iya maaf Mas, aku tadi mampir ke caffe tapi aku tidak menyangka disana ada Argha.. dia meminta waktuku sebentar.. hanya itu, Mas"
"Meminta Waktumu sebentar? Kamu berikan?" Rumi berjalan pelan mendekati isterinya.
"Meera.. aku sudah peringatkan! Jangan sekali pun kamu membantah? Berapa kali aku katakan? Jangan kamu pergi tanpa seizinku.." kesal Rumi.
"Kamu lupa dengan komitment kita? Kamu lupa dengan apa yang sudah kita sepakati?"
"Mas, tapi kamu juga melangar hal itu?!" Kata Ameeea yang merasa berhak meluapkan kekesalan di hatinya.
"Aku? Mana ada..!" Rumi tak menyadari hal itu.
"Begitulah kamu! Selalu tidak ingin di salahkan! Dan tidak menyadari kesalahanmu.." kini poisinya Ameera pun merasa kesal dan marah pada Rumi.
"Ya apa? Bisa kamu jelaskan? Kalo kamu kan jelas! Kamu pergi tanpa pamit bahkan kamu bertemu dengan laki-laki lain!" Kata Rumi membentak Ameera.
"Kamu? Kamu kemana saja beberapa hari ini? Pergi pagi-pagi sekali, lalu pulang sangat larut?! Apa yang kamu sembunyikan dariku?! Ibu mu?????!"
Deng!!! Rumi merasa sangat terkejut mendengar hal itu, batinnya bertanya-tanya dari mana Ameera mengetahui hal tersebut.
"Diam?! Kenapa diam?! Bingung?!" Ameera menahan air matanya.
__ADS_1
"Soal kepergianku tanpa izin, aku minta maaf, aku mengakui kesalahanku dan aku tidak akan mengulanginya lagi.." Ameera yang rendah hati mencoba meminta maaf lagi pada Rumi.
Setelah itu, Ameera hendak pergi meninggalkan Kamar itu namun Rumi menahannya.
"Mau kemana?" Kata Rumi menarik tangan Ameera.
"Menyiapkan makan siang" singkat Ameera menjawab sambil mengusap Air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Maaf.." ucapan itu keluar dari mulut Rumi, sontak membuat Ameera terkejut dan terdiam.
"Maaf aku menutupi semuanya.." kata Rumi dengan nada biacara pelan.
"Kalo menurutmu aku tidak berhak untuk tau, tidak apa-apa.." kata Ameera lalu ia melepas gengaman tangan Rumi dan bergegas pergi.
Dengan perasaan kecewa Ameera menahan tangis, ia menuju dapur untuk menyiapkan makan siang untuk suaminya.
Beberapa makanan sudah tersaji setelah tiga puluh menit. Ameera hendak memanggil Rumi di kamar, namun Rumi sudah lebih dulu untuk turun.
Rumi nampaknya sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian casual santai, celana pendek kaos berkerah dan sandal casualnya.
"Mau makan pakai apa?" Tanya Ameera dengan lemah lembut berusaha menutupi rasa kecewa di hatinya.
"Udang dan capcay saja" kata Rumi, Ameera mengambilkannya di atas piring Rumi lengkap dengan nasi sesuai dengan porsi Rumi.
"Sedikit sekali makanmu" kata Rumi saat melihat isi piring Ameera.
"Nanti aku bisa nambah" kata Ameera yang kehilangan selera makan.
Mereka melanjutkan makan dalam diam, keduanya tidak mengeluarkan satu patah kata apapun saat makan.
"Engga.. nanti saja" kata Rumi menolak.
"Meera, ganti baju dan ikut aku.." kata Rumi menyambung ucapannya.
"Kemana?" Tanya Ameera.
"Ke sebuah tempat, pakai saja pakaian santai" kata Rumi.
Ameera tidak ingin banyak bertanya, ia menuju kamarnya, ia memutuskan untuk mandi kilat dan memakan pakaian yang santai sesuai dengan apa yang Rumi pakai.
Celana 7/8 cream dengan baju hitam di tambah tas mungil Ameera.
Suara sepatu sandal Ameera membuat Rumi menoleh ke arah datangny Ameera sambil berusaha membuat Ameera tersenyum padanya.
Lebih mudah menaklukan anak harimau, dari pada menaklukan perempuan yang tengah merajuk.. - Rumi membatin.
"Sudah siap?" Kata Rumi.
Ameera tengah memakai jam tangannya hanya mengangguk.
Selama perjalanan Ameera hanya diam, ia tidak berbicara jika Rumi tidak bertanya.
__ADS_1
Aneh sekali wanita itu, harusnya aku yang marah karena dia tidak izin saat keluar rumah, tapi kenapa sekarang jadi dia yang marah kepadaku? Entah keanehan apa saja nanti yang akan muncul, ini saja sudah membuatku sakit kepala! Bahkan berbohongpun rasanya sulit .. - Rumi membatin hampir frustasi
Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit mereka tiba di sebuah rumah sakit.
"Kok kesini? Siapa yang sakit?" Tanya Ameera.
"Mau menjenguk ibunya Victor?" Tambah Ameera mengingat Victor.
"Bukan.. ibunya Victor berada di rumah sakit pinggir kota" kata Rumi menejlaskan.
"Lalu?" Bingung Ameerah.
"Apa kamu siap bertemu seseorang yang mungkin akan sangat asing bagimu.." ucap Rumi begitu serius di hadapan Ameera.
Ameera meleas seat beltnya lalu bergeser sedikit menghadap ke arah Rumi.
"Ibumu?" Ucap Ameera dan yaa, tebakan Ameera tepat! Rumi mengangguk saat itu.
"Ibu mu sakit? Sakit apa?" Tanta Ameera begitu prihatin.
"Aku tidak tahu banyak! Aku begitu membencinya sampai rasanya sangat mustahil mataku melihatnya"
"Astagfirullah, Mas..." Ameera nampak terkejut mendengar pernyataan Rumi.
"Aku bicara begitu karena dia sendiri yang menoreh luka padaku dan Rima..terlebih papa.." kata Rumi kesal.
"Mas.. apapun itu, maafkan ibumu.." pinta Ameera dengan lembut sambil ia menatap manis suaminya.
"Sulit! Dia wanita yang tak memiliki hati, Dia membuat papa sakit-sakitan lima tahun lamanya, papa memendam sendiri rahasia isterinya, hingga papa sakit, penghianatan itu aku lihat secara jelas, perselingkuhan itu nyata di mataku! Dan saat mama menginginkan perpisahan papa terkena serangan jantung dan keritis selama tiga belas hari! Kamu bisa bayangkan? Rima masih sangat kecil tapi wanita itu tega meninggalkan Rima dengan pria berkebangsaan singapura, yang tak lain adalah rekan bisnis papa"
Ameera terkejut, shock dan tak habis pikir saat ini suaminya bercerita begitu penuh luka, terlihat dari raut wajahnya.
"Mass.." Ameera mencoba menenangkannya saat itu, matanya masih penuh dengan amarah dan kebencian.
"Sekarang dia datang, dalam keadaan sakit.. dia ingin di hari- hari terakhirnya bisa bersama aku dan Rima.. tapi itu tidak mungkin..!!" Kata Rumi dengan tegas!
"Mas Istigfar.." Ameera mencoba memberi ketenangan pada suaminya, ia mengecup pungung tangan suaminya berulang kali lalu mengengamnya erat sambil sesekali ia mengusapnya.
"Mama sakit apa? Boleh aku tau?" Pelan Ameera bertanya.
"Kanker payudarah stadium akhir.."
"Astagfirullah.." Ameera seketika menitihkan air matanya .
"Kita turun yuk, kenalkan aku pada mamamu.." kata Ameera lembut.
"Bahkan aku tidak mengenalnya, bagaimana bisa aku mengenalkannya denganmu.."
"Mas.. tunjukkan baktimu, kamu tidak akan merugi.. lupakan ingatan itu perlahan"
"Baktiku? Cukup aku membayar biaya perawatannya disini.. aku membencinya, aku habiskan hari-hariku untuk bekerja agar aku lupa dengannya!!"
__ADS_1
"Sadar mas, kamu menyibukkan diri untuk melupakan keadaan ibumu? Kamu menghindari takdir!! Aku mohon ikuti kata hatimu.. tidak mudah itu pasti, tapi mencoba itu tidak ada salahnya.." Ameera masih mencoba meyakinkan suaminya, ia memgenggam tangan Rumi sambil mengecupnya sesekali.
Akankah Rumi membuka hatinya? Memaafkan ibunya???