GADIS PEMILIK LESUNG PIPI

GADIS PEMILIK LESUNG PIPI
Ibu Anjani


__ADS_3

Ameera sedikit mengenal bagaimana suaminya memiliki sifat keras kepala namun di balik itu terselip hati yang baik, hanya karena luka di masa lalu Rumi sempat marah dengan keadaan dan membuat dirinya menjadi sedikit berantakan, mempermainkan banyak wanita yang ia anggap semua sama.


Ameera melangkah seorang diri setelah suaminya Rumi mengizinkannya untuk turun dari mobil dan menemui ibunya.


"Permisi suster, boleh saya tanya pasien atas nama Ibu Anjani.." kata Ameera di meja informasi rumah sakit.


Petugas memberi informasi pada Ameera.


"Lima dua belas.." Ameera berucap sesekali mengingat ruangan dimana ibu Anjani menerima perawatan medis.


Tiba di koridor itu, izin pun Ameera lakukan pada petugas yang berjaga di lantai itu.


Ameera mengetuk pintu lalu terdengar kata "silahkan masuk" membuat Ameera melangkah masuk kedalam sambil mendorong pintu.


Wanita dengan alat bantu nafas yang masuk ke kedua lubang hidungnya, tak hanya itu wajahnya juga terlihat sangat pucat.


"Kamu siapa?" Tanya nya sambil menegaskan pandangannya saat Ameera melangkah maju.


"Mah.." suara Ameera bergetar mengucapkan kata itu.


"Astaga, ka.. kamu?? Menantuku?" Ucap Ibu Anjani mengingat wajah cantik Ameera di beberapa media informasi bisnis yang ia baca.


Ameera meraih tangan Ibu Anjani dan mengecupnya sebagai tanda hormatnya.


"Iya, aku Ameera isteri Mas Rumi.."


"Ya Tuhan Nak.. kamu bisa sampai sini? Dari mana tahu? Dan bagaimana bisa kamu disini.."


Ameera tersenyum..


"Mas Rumi yang bercerita, dia juga yang antar.. tapi Mas Rumi masih ada urusan lain, nanti pasti akan kesini kok"


Ameera tidak ingin membuat rasa sedih ibu Anjani, ia memilih untuk berbohong sedikit agar tidak melukai hati Ibu Anjani.


"Hmm boleh kan aku panggil mama?" Tanya Ameera saat ibu Anjani hanya terdiam.


"Boleh, nak.. nama kamu Ameera?" Kata Ibu Anjani memegang tangan Ameera.


"Betul, namaku Ameera.." Ameera melepa senyumnya.


"Cantik sekali, mama yakin Rumi sangat menyayangi kamu, ya?" Kata Ibu Anjani.


"Allhamdulillah mas Rumi baik dan begitu menyayangiku.." kata Ameera.


"Oh iya, mama belum makan ya? Kok aku lihat makanan mama masih utuh?" Kata Ameera yang saat masuk melihat makanan pasien masih tertutup rapat dengan palastik wrap.


"Mama tidak nafsu.. mama rindu Rumi dan Rima.." kata ibu Anjani sendu.

__ADS_1


Ameera merasa ikut teriris hatinya, ingin sekali ia menitihkan air matanya namun ia menahan sebisa ia menahannya.


"Mah.. nanti Mas Rumi dan Rima kesini kok, mama makan dulu ya, harus makan biar ada tenanganya.. "


Ameera tak kuasa menahan air matanya, ia menuju meja makan diruang perawatan itu sambil mengusap terus air mata yang mengalir.


"Sebentar ya mah, Meera cuci tangan dulu" ameera kembali berbohong ia berusaha melepas tangisnya saat itu di toilet saat itu.


Yaa Allah, kenapa aku ingat mamaku.. Disaat-saat terakhir aku melihat mama disaat itu pula Allah memisahkan kita, dan sekarang keadaan itu seperti terulang.


Saat Ameera menangis agar lega terasa pintu toilet terbuka, Ameera terkejut saat ia melihat suaminya.


Ameera berlari memeluk Rumi.


"Aku ingat mama, aku ga kuat Mas.." ucap Ameera pelan.


Feelingku benar! Ameera pasti mengingat situassi saat itu..-Rumi membatin.


"Maafkan aku ya? " kata Rumi berbisik mendekap isterinya.


Ameera melepas pelukan itu, ia mengengam kedua tangan suaminya dan menatapnya dengan air mata yang tak henti.


"Mas, aku mohon.. buka pintu maafmu.. kamu akan menyesal jika nantinya.. kita sudah di ujung pilihan, memulai atau penyesalan akan menghantui mu seumur hidup.." kata Ameera meyakinkan Rumi.


Rumi tersenyum tipis sambil mendekap Ameera.


"Hapus Air matamu.." pinta Rumi dan rasa lega itu membuat Ameera membentangkan senyum manisnya.


"Ayok jawab Mas, ayo kita kesana" kata Ameera begitu antusias.


Mereka jalan beriringan, sambil Rumi berkata..


"Iya ini Rumi" jawabnya


Tangis itu pecah, haru itu tampak jelas menyentuh keadaan saat itu.


Rumi mencium tangan Ibu Anjani setelah Ameera berbisik memerintah Rumi.


Ameera merasa senang bahagia melihat itu, meski tak ada air mata membasahi pipi Rumi namun Ameera yakin Rumi ingin sekali menangis, ia tengah berusaha menahan air mata itu.


"Maafkan mama, maafkan mama.. mama salah mama begitu berdosa.. maafkan mama.." Ibu Anjani memeluk Rumi berbicara dengan isak tangis yang pada akhirnya membuat Rumi menitihkan airmatanya.


Ameera memilih mengalihkan pandangannya, ia berjalan ke arah meja makan dan menangis disana mendengar percakapan Rumi dan Ibunya.


*


"Terimakasih telah hadir untuk Rumi.. mama yakin kamu akan segera di beri keturunan, nak" kata Ibu Anjani setelah Ameera bercerita banyak tentangnya.

__ADS_1


"Aamiin.. kalo begitu, mama mau ya di oprasi?" Tanya Ameera membujuk.


Ibu Anjani menoleh ke arah sudut ruangan dimana Rumi tengah menerima panggilan telfon dari Victor.


"Mah, kita harus ikhtiar.." kata Ameera mencoba membujuk Ibu Anjani.


"Sebelum operasi, mama ingin minta maaf pada papamu.." ucapnya membuat Ameera terkejut begitu juga dengan Rumi.


Astaga apakah papa mau..


Rumi mematikan panggilan itu dan mendekat..


"Apa mama yakin?" Tanya Rumi.


"Mama yakin.. " kata ibu Anjani.


"Oke kalo begitu, biar aku yang urus soal ini.. mas kamu fokus saja mengatur jadwal mama untuk operasi sesuai saran dokter" kata Ameera begitu antusias.


Rumi tersenyum "baiklah... aku percaya padamu" kata Rumi di akhiri dengan kecupan di kening Ameera.


Malam itu, Ameera dan Rumi memutuskan untuk bermalam di rumah sakit untuk menemani ibu Anjani. Tentu itu menambah rasa senang Ibu Anjani saat itu.


"Kenapa harus bermalam disini sih, kita kan jadi gak bisa......" Rumi berbisik pada isterinya di atas tempat tidur pendamping pasien yang di sediakan di kelas vvip.


"Bisa apa?" Polos Ameera.


"Ingat kamu masih punya hutang satu kali presentasi" kata Rumi berbisik.


"Ngacoo" Ameera reflek memukul paha suaminya.


"Astaga, sakitt sayang!" Kata Rumi terkejut kesakitan.


"Bagus saja tidak kena juniorku" kata Rumi yang tak bisa membayangkan betapa sakitnya jika terkena.


"Rumi, Ameera.. ada apa?" Teriak ibu Anjani.


"Tidak mah bukan apa-apa.. maaf yaa mah, mama lanjut istirahat saja" Ameera berbicara menahan tawa nya.


"Pokoknya dirumah kamu harus bayar! Tiga ronde" kata Rumi membuat Ameera membulatkan matanya.


"hah? Kapan selesainya itu?" Kata Ameera dengan kepolosannya.


"Pagi juga gak masalah kan?" Kata Rumi terkekeh sementara Ameera tengah membayangkan 3 kali dalam semalam.


Dua aja capek yaa? Hahaha


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2