
Bisikkan untuk kita:
Cobalah untuk bersahabat dengan secangkir kopi. Dengan begitu kamu akan mengerti bahwa tidak segala bentuk rupa selalu sama dengan keterlihatannya. Jadilah apa adanya, Tanpa berpura-pura untuk terlihat istimewa.
*
Rumi tengah focus mengerjakan pekerjaanya di kantor bersama dengan Victor siang itu, memang sudah masuk jam istrahat namun Rumi di tuntut untuk menyelesaikan beberapa berkas Kerjasama segera.
Rumi dan Victor menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka begitu saja tanpa terketuk terlebih dahulu.
“Risca..” Ucap Rumi pelan dengan ekspresi yang menujukkan keterkejutannya.
Victor langsung berdiri memasang badan untuk berjaga-jaga.
Kenapa dia bisa masuk? Kemana Novi dan security ..- Batin Victor bertanya tentang keberadaan sekertaris dan satpam yang harusnya berjaga di depan ruangan Rumi.
“Siang Mas.. Apa kabar?” Kata Risca dengan sangat tenang.
“Ada apa, jangan banyak basa- basi, aku sedang banyak pekerjaan..” Kata Rumi.
“aku hanya rindu padamu, bis akita ngobrol berdua?" Kata Risca melirik sinis ke arah Victor.
Rumi berfikir sejenak, lalu ia memutuskan memberi sedikit waktu untuk Risca berbicara.
“Victor, biarkan aku dan Risca berbicara dulu sepuluh menit.. jika sudah sepuluh menit kamu masuk dan kita lanjutkan Kembali pekerjaan kita..” Ucap Rumi pada Victor, lansung saja Victor memenuhi perintah Rumi saat itu.
“kenapa hanya sepuluh menit?” Kata Risca kesal.
“kan aku sudah bilang, aku sedang banyak pekerjaan.. jadi, langsung saja pada intinya” Rumi nampak enggan berbasa basi dengan Risca saat ini, setelah hampir dua minggu mereka tidak melakukan komunikasi.
“Baiklah, aku ingn menanyakan kelanjutan hubungan kita.. aku mau kamu bertangung jawab atas semua ucapanmu yang ingin menikahiku..” Kata Risca langsung pada intinya.
Rumi menghela nafasnya kesal.
“Aku masih memiliki status yang sah dengan Ameera, dan di saat perceraian kami nanti, kemungkinan besar keadaanku akan jauh berubah, aku tidak di posisi saat ini…” ucap Rumi apa adanya saat itu, nampaknya Risa tidak mudah pecaya.
“Sebegitunya kah orang tuamu? Pikir saja sayang, mana bisa perusahaan ini berdiri tanpa ada kamu yang menggerakkan, adikmu? Mana paham dia mengelolah semua ini..” Risca mulai meremehkan.
Rumi sedikitnya kaget dengan ucapan Risca kala itu.
“Perusahaan ini bergerak tidak hanya dengan kedua tanganku saja, banyak penggerak yang bisa di andalkan.. justru kamu yang tidak menegrti apa-apa makanya ucapanmu begitu..” Kata Rumi.
Risca terdiam saat itu..
__ADS_1
“Hmm, yasudah aku hanya ingin sebuah kepastian saja, bagaimana nasib hubungan kita kedepannya dan bagaimana nasibku dengan keadaan aku yang sudah tak gadis lagi” Ucap Risca yang di anggap lelucon oleh Rumi.
“HAHAHA” Rumi tertawa jahat.
“Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan.. Gadis?! Risca.. ingatlah, bukan aku yang pertama yang melakukan itu padamu, dan tentu bukan aku yang merenggut kesucianmu, untuk apa kamu menuntut hal itu padaku?? Dan selama ini juga kamu selalu memasang alat pengaman kan di rahimmu agar mencegah kehamilan, karena kamu tidak ingin hamil, bagimu hamil akan merubah tubuhmu kelak..” Ucap Rumi terkekeh. Bagai buah simalakama, Rima terperangkap dengan ucapannya waktu itu demi menyamakan dengan ketidak siapaan Rumi dalam memiliki keturunan.
“Dan kamu juga tidak ingin memiliki keturunan kan??? Makanaku mengimbangimu saat itu...” Ucap Rima mengulas Kembali ucapan Rumi.
“Aku hanya mengatakan belum siap, bukan tidak mau .. berbeda dengan statement kamu yang mengatakan tidak ingin hamil karena tubuh indahmu akan berubah karena melahirkan..tapi sudahlah Risca.."
Rumi menahan ucapannya, sambil ia berdiri dari kursinya.
"Jujur saja, aku jadi muak dengan segala perkataanmu sejak tadi, Risca.. Maka aku putuskan saja saat ini untuk tidak ada kata bersama lagi di antara kita..”
Rumi berbicara cukup tegas, Risca juga mendengar dengan jelas sehingga ia nampak terkejut dan tidak menyangka Rumi bisa memutuskan hubungannya.
“Loh mas, gak bisa gitu dong.. aku gak setuju..” Kata Risca mulai panik.
“Aku tidak meminta persetujuanmu.. Itu keputusanku, tidak peduli kamu setuju atau tidak.. pergilah dengan kebebasanmu, aku juga akan menjalani semuanya kedepan dengan keputusanku ..” Kata Rumi.
Di waku yang pas, Victor masuk Kembali kedalam ruangan sambil ia memasang wajah sangat sangar..
“Sudah sepuluh menit, silahkan keluar Nona Risca..” Victor membuka lebar-lebar pintu ruang kerja Rumi, Satu security juga sudah berdiri tegak bersiap untuk mengusir Paksa Risca jika ia tak juga meninggalkan ruangan Rumi.
“Pergi, aku benar-benar muak membahas soal hubungan percintaan dengan siapapun itu..” Ucap Rumi dengan sangat tegas.
Victor memberi kode pada security itu hingga gerak langkah satpam membuat Risca akhirnya memutusan untuk pergi dengan amarahnya.
“Aku akan membalas rasa sakit ku, RUMI..!” Ucap Risca dengan ancamannya.
Rumi menghela nafasnya kasar kala itu sambil memandang sendu wajah Victor.
“Seperti bom waktu yang sudah saya prediksi akan meledak dalam waktu dekat..." Ucap Victor seperti meluapkan bisikan hatinya.
“Entahlah, Victor.. aku pusing sekali dengan masalah yang membuatku tak berselera melakukan apapun..” Ucap Rumi dengan penuh kepenatan.
“Perbaiki secepatnya, jangan sampai nanti Den Rumi yang semakin hancur..” Ucap Victor semakin membuat Rumi bingung, raganya seolah tak lagi berada dalam tubuhnya.
“Kita istirahat dulu sejenak, mau makan apa? Biar aku minta Novi menyiapkannya..” Ucap Victor yang menyadari kondisi Rumi memang sedang tidak baik-baik saja.
“Aku tidak ingin makan, tolong pesankan saja Roti untukku..” Kata Rumi sambil ia memijat kepala bagian kirinya yang terasa sakit berdenyut.
“hemm.. Roti kismis atau coklat keju..” Tanya Voctor.
__ADS_1
“Keduanya, tapi jangan beli di tempat biasa, beli di toko roti baru, yang kemarin Rima beli..” Ucap Rumi masih terbayang dengan kelembutan Roti yang membuat dirinya ingin kembali menikmatinya.
“Dimana?” Tanya heran Victor.
“Toko Roti Cinta? Entahlah apa itu Namanya tanya saja pada Rima.. aku ingin merokok..”Ucap Rumi sambil ia berjalan menuju ruangan khusus ia beristrahat sambil merokok.
Victor mencoba mencari toko roti tersebut di ponselnya namun tidak juga ia temukkan, dengan terpaksa ia menghubungi Rima untuk mendapat jawabannya. Betapa terkejutnya Victor saat tau kalo saja itu adalah Ameera yang membuatnya. Agar tidak terselip kecurigaan, Rima menghubungi Ameera segera kala itu, beruntungnya Rima, Ameera baru saja membuat beberapa Roti dengan banyak toping untuk ia titipkan di kantin kampusnya besok.
"Untuk siapa Rim?" Tanya Ameera saat Rima berkata bahwa ia benar-benar membutuhkan roti itu.
"Untuk temanku, dia sedang ngidam.." Alasan Rima nampak masuk akal, maka dengan mudah Rima mendapatkan roti-roti itu untuk Rumi.
Satu jam berlalu, Rima datang membawa beberapa jenis Roti untuk ia berikan pada Rumi, di tengah jam kerja Rumi yang padat, Rumi menyempatkan diri untuk mengisi perutnya.
“Enak kak?” Tanya Rima.
“yaa enak, mungkin karena aku lapar..” Kata Rumi.
“Namanya Roti Cinta, kak.. masa iya tidak enak.. " Kata Rima terkekeh.. Victor juga ikut terkekeh dengan ledekan Rima pada kakaknya itu, dan lagi-lagi Rumi masih belum menyadari jika itu adalah Roti buatan Ameera.
*
*
*
INFORMASI PENTING UNTUK PARA PEMBACA GPLP.
Haii semua, Terimakasih aku ucapkan pada kalian yang membaca GPLP, memberikan support berupa like, komentar membangun, rate, vote dan juga gift berupa mawar atau kopi..
Atas rasa terimakasihku, aku ingin memberikan sedikit kenang-kenangan untuk kalian.
Siapa sih yang berkesempatan mendapatkan gift dari aku?
Yapss, kalian yang aku follow segera followback yaa, tentu aku akan segera menghubungi kalian (chat) guna meminta alamat untuk pengiriman tanda cinta dariku..
SEMOGA BERUNTUNG 🥰
*
Terimakasih yang sudah membaca, like komen dan rate sebagai bentuk suport kamu terhadap karya ini ya.. vote, mawar dan juga kopi pun boleh..
Terimakasih, salam cintaku..
__ADS_1
Mei 🥰