
Halimah berjongkok tepat di hadapan Rena, dia mengulurkan tangannya membantu Rena agar berdiri. Rena menyambut uluran tangan Halimah, dia duduk di sebuah kursi yang di tarik oleh Halimah.
"Duduklah." Titah Halimah.
Rena mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang sudah Halimah sediakan, dia menatap heran pada Halimah yang tersenyum penuh arti padanya.
"Jangan memandangiku seperti itu. Aku tahu kalau kau adalah pria yang normal, hanya karena kau membenci seorang wanita lantas kau berpindah haluan dengan menyukai seorang pria. Kau mengubah penampilanmu agar ada lelaki yang tertarik denganmu, aku mohon kembalilah pada jati dirimu yang sebenarnya. Kau sidha membuat calon suamiku ketakutan, bahkan setiap wanita yang dekat dengannya kau singkirkan. Orangtuamu sedih melihat keadaan anaknya yang melawan takdir, carilah kebahagiaanmu dengan menjadi diri sendiri, aku tidak berniat melukaimu hanya saja aku ingin memberikan dirimu pelajaran saja agar kau sadar." Tutur Halimah.
"Kau tidak perlu mengguruiku, apapun langkah yang aku ambil iti bukan urusanmu!" Ucap Rena dengan tatapan tidak sukanya.
"Tuhan lebih memahami sifat hambanya, ia juga maha mengampuni. Bukankah kau juga memiliki saudara? Bagaimana jika saudaramu berada di posisi Rasya? Bagaimana nanti orangtuamu mempertanggung jawabkan apa yang telah kau perbuat? Aku yakin di dalam hatimu tersimpan rasa kasih sayang yang begitu besar untuk kedua orangtuamu, berubahlah sebelum semuanya terlambat." Ucap Halimah dengan lembut.
Rena memalingkan wajahnya yang sudah berkaca-kaca, ucapan Halimah memang ada benarnya bahkan mampu menyentuh hatinya. Jauh dari dalam lubuk hati yang paling dalam, Rena begitu menyayangi keluarganya. Halimah memegang tangan Rena dengan lembut, dia menyunggingkan senyumnya yang indah.
"Aku yakin kau bisa, kembalilah pada jalan takdirmu." Ucap Halimah.
"Maukah kau membantuku?" Tanya Rena.
"Selagi aku bisa, aku akan membantumu." Jawab Halimah.
"Pulanglah, biar aku yang akan membereskan kekacauan ini." Ucap Rasya.
"Rasya, maafkan semua kesalahanku." Ucap Rena dengan tulus.
"Aku akan memaafkanmu, dengan catatan kau harus kembali menjadi pria sejati." Ucap Rasya.
"Aku akan berusaha." Ucap Rena.
Halimah dan Rasya membantu memapah tubuh Rena keluar dari dalam restoran, mereka mengantar Rena menuju mobilnya.
"Terimakasih." Ucap Rena.
"Sama-sama." Sahut Halimah dan Rasya bersamaan.
"Aku tunggu undangan kalian." Ucap Rena.
"Secepatnya." Ucap Rasya.
Rena menyalakan mesin mobilnya, dia melambaikan tangannya kearah Halimah dan juga Rasya sebagai tanda perpisahannya. Mobil yang di tumpangi Rena semakin jauh dari pandangan Rasya dan juga Halimah, mereka masuk kembali kedalam restoran membayar kerugian atas kekacauan yang sudah terjadi. Setelah urusannya beres, Rasya melanjutkan makannya bersama Halimah sebelum mereka menemui Nisa di apartemen milik Rasya.
*
*
Di mansion Giomani.
Leo melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion megah milik keluarga Giomani, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
"Boss." Panggil Leo saat melihat Edgar menuruni tangga.
"Ngapain lu kesini?" Tanya Edgar.
"Ada perlu sama daddy, btw daddy kemana?" Jawab Leo.
"Ada di kamarnya." Sahut Edgar.
__ADS_1
Leo pergi meninggalkan Edgar begitu saja setelah mendapati jawaban dari Edgar, karena tingkat ke kepoannya tinggi. Edgar menyusul ke kamar Rio, dia melihat dua orang tengah duduk di sofa dengan wajah yang serius.
"Dad, aku boleh minta tolong gak?" tanya Leo.
"Minta toling apa?" Tanya balik Rio.
"Minta tolong buat lamar Luna, Leo serius sama Luna dad. Bukannya niat baik tidak boleh di tunda-tunda, apalagi kita juga sudah memiliki rasa yang sama." Jelas Leo.
"Syukurlah, daddy dukung niat baikmu nak. Kapan rencananya kau akan melamar Luna?" Ucap Rio.
"Besok dad, aku udah persiapkan segalanya. Besok daddy tinggal ikut Leo ke kediaman orangtua Luna." Ucap Leo.
"Widihh, gercep banget perjaka tua satu ini." Ledek Edgar.
"Nimbrung aja, emangnya si boss aja nih yang boleh nikah? Gue juga mau lah, semua orang punya keinginan membangun keluarga cemara." Seru Leo.
"Iya deh iya, nanti gue siapin kado nikahan buat lu." Ucap Edgar dengan senyum misteriusnya.
"Wah, perasaan gue gak enak nih." Ucap Leo.
"Edgar, jangan aneh-aneh deh. Kamu tuh udah tua loh, malahan sebentar lagi punya buntut." Tegur Rio.
"Siapa yang bercanda sih dad?" Tanya Edgar.
"Awas aja kalau kamu sampe macem-macem." Ucap Rio dengan wajah seriusnya.
"Tenang daddy, cuman satu macem kok. Iya kan bro?" Ucap Edgar meninju pelan lengan Leo.
Dari atas Zalea turun menyusuri tangga mencari suaminya, Edgar mengalihkan pandangannya kala suara hentakan kaki terdengar dari arah tangga. Secepat kilat Edgar berdiri dari duduknya, dia berlari menghampiri istrinya takut terjadi sesuatu padanya.
"Sayang, kenapa gak panggil mas kalau butuh sesuatu? Gimana kalau bayinya kenapa-napa? Aku gak mau terjadi sesuatu sama kalian berdua, aduuhh kamu ini kenapa ngeyel banget dahh aahhh.." Cecar Edgar dalam satu tarikan nafas.
Hhaaaaapppppp... Fyuuuuhhhh...
"Sabar Lea, Sabaaaarr.. Orang sabar V4nt4tnya lebar." Cicit Zalea.
"Dengarkan saya baik-baik Raden Edgar Giomani, Putra Rio Giomani. Saya wis mau minum, nungguin Raden kembali itu sudah memakan waktu yang cukup lama. Masnya mau bayinya kehausan, ibunya dehidrasi menunggu kakang mas datang." Ucap Zalea.
"Iya kan bisa nelpon yang, jangan dibikin sudah dan ribet deh." Ucap Edgar kekeh.
"Coba lihat ponselnya sayangku, ada berapa panggilan yang masuk?" Ucap Zalea dengan senyum yang di paksakan.
Edgar merogoh saku celananya, dilihatnya sebuah layar yang menampilkan banyak panggilan dan juga pesan yang tak di jawab oleh Edgar. Zalea menaikkan satu alisnya kearah Edgar, dengan ekspresi menjengkelkannya Edgar cengngesan sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana sayangku?" Tanya Zalea dengan gemas.
"Mwehehehe.. Hp nya di silent, maaf ya." Ucap Edgar cengengesan.
Zalea mendengus kesal. Dia berjalan melewati suaminya begitu saja, bagaimana ia tidak kesal pada Edgar. Suaminya sendiri yang tidak memperbolehkan Zalea memanggil pelayan selaginada dirinya di dalam mansion, sedangkan sekalinya Zalea membutuhkan sesuatu Edgar pula yang lupa akan ucapannya itu.
"Huru-hara di mulai." Ucap Leo menatap dari kejauhan.
"Hissshh, kamu ini." Tegur Rio.
"Si boss sih malah ikut nimbrung, ngambek kan bumilnya." Ucap Leo.
__ADS_1
"Kamu mau langsung pulang gak?" Tanya Rio.
"Emangnya kenapa dad?" Tanya Leo balik.
"Kita nonton drama Edgar, gak seru kalau sendirian. Cindy sama Satria lagi berkunjung ke mansion Wiguna, tenang aja nanti daddy bawain cemilan." Ucap Rio.
"Ide bagus tuh dad." Ucap Leo dengan bersemangat.
Leo mengira kalau Rio hanya bercanda saja, ternyata dugaannya salah. Rio meminta kepala pelayan membuatkan jus dan juga membawakan cemilan untuk berdua, mereka menatap dua pasangan yang tengah dimabuk rasa kesal.
"Mas, bisa gak sih gak usah buntutin aku kemanapun aku pergi?" Tanya Zalea dengan kesal.
"Maafin mas dulu, janji deh bakalan gercep kalau kamu mau sesuatu." Ucap Edgar.
"Udah Lea maafin kok, sekarang mas diem aja. Lea mau bikin makanan, nanti mas yang harus makan." Ucap Zalea.
"Emang mau bikin apa?" Tanya Edgar.
"Kejutan." Jawab Zalea singkat.
Glek.
Edgar menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana tidak, perasaannya menjadi tidak enak begitu melihat Zalea mulai bertempur dengan alat masaknya. Lama berkutat di dapur, akhirnya masakan Zalea pun berhasil di buat.
"Nasi goreng petenya sudah siap." Seru Violetta dengan wajah yang berseri.
"Hah?" Edgar tersentak melihat taburan petai menghiasi nasi goreng buatan Zalea.
"Selamat makan." Ucap Zalea meletakkan nasi gorengnya diatas meja makan.
"Aku gak suka pete." Ucap Edgar.
"Tapi mas, ini kemauan bayi kita." Ucap Zalea mengelus perut ratanya.
Fyuuhhhhh..
Edgar menghela nafasnya panjang, apalah daya jika Zalea sudah membawa-bawa nama anaknya. Dari kejauhan Leo dan Rio terkikik geli, seumur hidup Edgar tidak pernah makan makanan yang bernama pete dan jengkol. Yang Edgar tahu adalah steak, pizza dan makanan mewah lainnya yang selalu di hidangkan oleh chef rumah.
Hap.
Edgar memasukkan satu sendok nasi goreng pete buatan istrinya, ternyata rasanya tidak seburuk yang dia pikirkan. Edgar kembali menyendokkan nasi ke mulutnya, dia memakannya dengan lahap sampai nasi tersebut habis tak tersisa. Zalea hanya menatap Edgar tanpa ingin merecokinya, dia senang karena Edgar selalu menuruti kemauannya yang tidak menentu dan tidak tahu waktu.
Eeeeuuuggggg..
"Mantap!" Seru Edgar mengacungkan dua jempolnya.
"Yeeaaayyy, habis." sorak Zalea.
Edgar bahagia melihat istrinya puas karena ia menghabiskan nasi goreng buatannya, dia mengelus surai Zalea dengan lembut.
"Makasih sayang." Ucap Edgar.
Zalea langsung menutup hidungnya saat mencium aroma dari mulut Edgar, perutnya terasa bergejolak karena baunya sangat menyengat.
"Euuhhmm, bauuuuu!!" Pekik Zalea menutup hidungnya.
__ADS_1
"Buahahaaa..." Suara tawa pecah yang berasal dari Rio dan Leo.
"Cobaan apa lagi ini Tuhan." Lirih Edgar.