
Rasya masuk kedalam rumah dengan sisa tawanya, Edgar dan yang lainnya menatap heran kepada Rasya yang senyam-senyum sendiri seperti orang gila.
"Kamu kenapa senyam-senyum sendiri?" tanya Indah.
"Aku tadi ketawa denger gerutuan si Lele, tadi dia kan cemberit terus jadi Sya tanya kenapa, dia jawabnya kesel pas di mobil lihat pengantin basi bucin di mobil sambil ci**** sampai suara lucknutnya keluar. Terus dia langsung balik gitu aja, Sya nyusul taunya dia ngomong sendiri 'Haiissshh, Tuhan. Sampai kapan kau sembunyikan jodohku, kenapa dia masih bersembunyi di semak-semak.' dari situ Sya ngakak banget dengernya." jelas Rasya.
Semua orang tertawa kecuali Zalea, dia sangat malu mendengar jawaban Rasya karena ulah suaminya yang tidak tahu tempat. Zalea menatap tajam kearah Edgar, dengan santainya Edgar menunjukkan wajah genitnya.
"Dia kira jodohnya itu sejenis kadal, atau ular pake sembunyi di semak-semak." ucap Adel.
"Siapa tahu, dibalik semak-semak yang di maksud Leo itu ada sungai kayak di film-film, yang ada bidadari lagi mandi." sahut Albert.
"Kelihatan kan kalau kak Al itu udah tua, makanya bayangannya film jadul." ucap Cindy.
"Lain kali hargai yang jomblo Ed, kasihan kan Leo jadi panas dingin liat kamu sama Lea begituan." ucap Rio.
"Sah-sah aja lah dad, kita kan udah nikah. Lagian salah Leo kenapa gak nyari cewek aja dad, meskipun sibuk di kantor seenggaknya dia bisa main media sosial kan zaman sekarang banyak yang dapet jodoh lewat medsos." sahut Edgar.
"Loe gak tahu aja jahatnya efek atau filter di medsos, di hp wajahnya gimana ketemunya gimana. Temen gue pernah jalin hubungan virtual selama 2 tahun, karena jarak antar negara jadi mereka susah buat ketemu dan sama-sama sibuk juga sih, pas ada momen ketika mereka ketemu temen gue syok." ucap Rasya.
"Syoknya kenapa? Bukannya bahagia ya kalau udah ketemu? Kan udah hubungan virtual selama 2 tahun, pastinya saling ngungkapin rindu." tanya Satria penasaran.
"Ya syoklah, orang di hp mukanya kayak abg. Eh pas ketemu ceweknya itu modelan tante girang, mana masih punya suami lagi. Ternyata temen gue sadar kesibukan cewek yang selama ini jadi pacar virtualnya, gimana gak sibuk orang dia ngurusin suami sama anaknya, mana anaknya udah pada gede lagi." jawab Rasya.
"Hahaha, temen kamu kayaknya random semua Sya. Tiap kamu cerita ke mommy soal masalah temen-temen kamu pada lucu semua, makanya mommy suka betah dengerin cerita kamu." ucap Indah tertawa.
"Kalian mau dengerin cerita aku enggak?" tanya Adel.
"Cerita apa dinda?" tanya Albert.
"Enggak jadi deh, nanti aja, hihi." ucap Adel nyengir kuda.
Semua orang memutar bola matanya malas, pasalnya mereka sudah siap-siap mendengarkan cerita Adel, tapi Adelnya sendiri membatalkan ceritanya begitu saja.
*
__ADS_1
*
Di pantai.
Kini Leo dan Luna saling diam satu sama lain, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing setelah kejadian dimana mereka bertukar saliva.
"L-luna." panggil Leo gugup.
"E-eh, i-iya." sahut luna sama gugupnya.
"M-maaf, aku tidak bermaksud." ucap Leo.
"Lupakanlah, anggap saja semuanya tidak pernah terjadi." ucap Luna.
"Tapi tadi ena- , eh maksudku. Tadi kau menangis tanpa bisa di hentikan, jadi aku gak tahu harus gimana lagi, orang-orang ngeliat kearah kita takutnya aku di gebukin dikiranya udah apa-apain kamu." jelas Leo.
"Aduuh, udah jangan di ingetin lagi. Malu tau, aaaa...bibirku sudah tak suci lagi." ucap Luna menangkup wajahnya yang nemerah.
'Hah? Gimana, gimana? Jadi gue yang pertama c**m dia' batin Leo.
"Aku dengar kalau pacarmu itu berselingkuh dengan ibumu? Adel yang mengatakannya." tanya Leo memulia percakapannya kembali.
Luna mengangkat wajahnya menatap kearah Leo, dia tersenyum getir mendapati pertanyaan dari Leo.
"Yang dikatakan Adel itu benar, pria tadi itu dulunya pacarku sewaktu sekolah. Aku menemaninya, membantu membiyai kuliahnya sampai sekarang ia menjadi sarjana, tapi kenyataan pahit aku dapatkan kala dia bergelung dalam selimut yang sama dengan ibuku sendiri." jelas Luna menatap lurus kearah depan.
"Dan dengan bodohnya kau mabuk, hanya karena mereka yang tidak tahu diri itu." ucap Leo.
"Entahlah, saat itu pikiranku seketika menjadi kacai sampai-sampai untuk pertama kalinya aku menyentuh alkohol." ucap Luna.
"Bukannya ayahmu lebih hancur darimu? Apa dia melakukan hal yang sama denganmu?" tanya Leo.
"Tidak, bapak lebih memilih diam. Dia sedang mengajukan surat perceraian ke pengadilan, toh ibu juga lebih milih sama biawak itu." jawab Luna.
"Aku setuju dengan tindakan ayahmu, dia lebih memilih langkah yang menurutnya tepat, daripada melakukan hal yang bodoh dan bisa menyakiti diri sendiri." ucap Leo.
__ADS_1
Luna hanya terdiam mendengar ucapan Leo, dia akui kalau saat itu dirinya melakukan hal yang bodoh, bahkan sempat linglung sampai-sampai ia tidak tahu kemana langkah kakinya membawanya pergi.
Krruuuuukkkkk..
Luna berdecak kesal, perutnya berbunyi disaat yang tidak tepat. Bagaimana tidak, saat ini dia sedang melow tapi perutnya berbunyi dengan begitu nyaringnya sampai Leo menahan tawanya.
"Kalau mau galau isi dulu perutnya, nangis juga butuh tenaga. kalau nanti pingsan emang siapa yang peduli, bahkan orang yang nyakitin aja nanti akan ketawa aja liatnya." sindir Leo.
"Diem napa sih, ah elahh.. tadi keburu kesiangan kerjanya, taunya di tengah jalan malah ketemu mereka." ucap Luna.
"Ayo, makan dulu." ucap Leo bangkit dari duduknya.
"Tapi, aku gak punya uang." cicit Luna.
"Cepet bangun, urusan uang mah belakangan. Paling di suruh cuci piring, atau nyopet dulu aja biar bisa makan." ucap Leo.
"Saran yang sangat menyesatkan." ucap Luna kesal.
Leo terkekeh melihat wajah kesal Luna, dia menarik tangan Luna untuk berdiri, tetapi Luna malah dengan pedenya membersihkan celananya yang kotor karena duduk diatas pasir. Tapi, yang membuat Leo terheran adalah ketika Luna membetulkan celananya yang membuatnya tak nyaman.
"Kau kenapa? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Leo.
"Ck, celanaku nyelepit nih jadi gak enak." jawab Luna berdecak.
"Nyelepit gimana maksudnya?" tanya Leo tidak mngerti.
"Itu loh, dal****nya masuk ke Vhant4t." jawab Luna.
"4ny1133ng." kesal Leo.
"Lah, kok kasar." ucap Luna.
"Au ah, ketemu modelan cewek kok kaya gini." kesal Leo.
Leo meninggalkan Luna begitu saja, dia tak habis pikir mengapa Luna tak ada rasa malunya kala merapikan celananya. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihatnya, mungkin mereka juga akan risih melihat kelakuan Luna yang satu ini. Luna pergi mengejar Leo yang sudah berjalan lumayan jauh darinya, dia tak mungkin pulang sendirian karena jarak pantai ke rumahnya itu cukup jauh, sedangkan dia tidak memegang uang tunai sepeserpun.
__ADS_1