Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Pindah


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Sudah satu minggu Naraya pergi, kini Zalea dan Nathan tengah mengemasi barang-barang mereka untuk pindah ke mansion Edgar. Awalnya, Zalea menolak permintaan Edgar untuk pindah, tetapi setelah di jelaskan mengapa Edgar memintanya pindah alhasil Zalea pun mengikuti ucapan Edgar, bukannya tanpa alasan Edgar meminta Zalea pergi. Ada musuh yang mengincar semua aset yang dimiliki oleh Edgar, dari mulai perusahaan sampai mansion pun jadi sasarannya, tak hanya sampai disitu mereka juga mengancam keselamatan anggota keluarga Edgar, maka dari itu ia harus memastikan istri dan juga yang lainnya dalam keadaan aman.


"Udah beres?" tanya Edgar masuk kedalam kamar Zalea.


"Udah om." jawab Zalea.


"Yasudah, kamu tunggu diluar. Aku akan membawa semua barangmu, ajak sekalian Nathan." ucap Edgar.


"Iya," sahut Zalea.


Sejak kepergian ibunya seminggu yang lalu, Zalea seringkali berbicara irit dan menjadi pendiam, begitupun dengan Nathan yang lebih memilih mengurung dirinya dikamar dibandingkan bermain dengan teman sebayanya. Zalea keluar dari dalam kamarnya, ia berjalan menuju kamar Nathan yang ternyata adik lelakinya sudah siap untuk berangkat.


"Dek," panggil Zalea.


"Iya kak?" sahut Nathan.


"Gapapa kan, kalau kita tinggal di rumah daddy Rio?" tanya Zalea.


"Gapapa kak, dimana pun Nathan tinggal selama itu bareng kakak, Nathan gak masalah." ucap Nathan.


"Baiklah, sebelum pergi kita ke kamar ibu dulu ya," ucap Zalea.


"Iya kak," ucap Nathan menganggukkan kepalanya.


Zalea membawa tas Nathan yang berisikan pakaian, sedangkan Nathan membawa buku lengkap dengan ransel yang sudah menempel di punggungnya. Keduanya berjalan menuju kamar Naraya, kamar yang menjadi saksi perjuangan sang ibu melawan penyakitnya, Zalea masuk terlebih dahulu kedalam kamar Naraya. Ari mata keduanya mulai mengembun, tetapi sebisa mungkin mereka menahannya, selama satu minggu pula mereka tak pernah memasuki kamar Naraya karena hati keduanya pasti akan merasakan sesak dan teriris.


"Gak kerasa ya dek, ternyata ibu udah seminggu ninggalin kita." ucap Zalea.


"Iya kak, sebelum pergi. Aku mau bawa foto ibu, buat jadi obat kalau aku lagi males belajar." ucap Nathan.


"Ambillah dek," ucap Zalea tersenyum.


Nathan berjalan menuju laci disamping tempat tidur, dia membuka laci tersebut berniat mengambil sebuah foto, tetapi netranya justru menangkap sebuah amplop putih yang dibawah figura.


"Kak, ada amplop." ucap Nathan.


"Amplop?" tanya Zalea mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Zalea mendekat kearah Nathan, dia mengambil amplop yang di beritahukan oleh Nathan, sedangkan Nathan sendiri mengambil foto ibunya lalu memasukkannya kedalam ransel.


"LEA, NATHAN, KALIAN DIMANA?" teriak Edgar.


Zalea dan Nathan mendengar suara Edgar yang memanggil namanya, mereka langsung merapikan tasnya dan memasukkan amplopnya kedalam tas kemudian berjalan keluar dari kamar Naraya.


"Kalian dari kamar ibu? Pantesan aku nyariin gak ada." tanya Edgar.


"Maaf mas, kita tadi liat kamar ibu soalnya udah lama juga gak kesana." ucap Zalea.


"Yasudah, sekarang kita ke mansion. Soalnya hari ini kan weekend, yang lain udah pada kumpul disana katanya mau makan-makan." ucap Edgar.


"Oke, ayo kita pergi." ajak Zalea.


Edgar menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia menggandeng tangan Nathan dan juga Zalea keluar rumah. Ketiganya masuk kedalam mobil secara bersamaan, setelah dipastikan semuanya siap Edgar pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Naraya yang sudah di titipkan pada orang kepercayaan Edgar.


.


.


Di mamsion Giomani.


"Kok si Lea lama banget ya?" gumam Adel.


"Mungkin mereka kejebak macet, tahu sendiri kan kalo weekend tuh jalanan agak padet." sahut Indah berjalan kearah Adel.


"Iya juga ya." ucap Adel.


Tak lama kemudian mobil Edgar sudah sampai di halaman mansion, dia memberikan kunci mobilnya pada bodyguard yang berada di depan. Kepala pelayan datang menghampiri Edgar bersama pelayan lainnya, mereka membawa semua barang bawaan Zalea dan juga Nathan ke dalam kamarnya masing-masing.


"Kita langsung ke belakang saja." ucap Edgar.


Nathan dan Zalea hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Zalea dan Nathan menatap takjub melihat mansion Edgar yang begitu mewah dan megah, keduanya berjalan mengikuti langkah Edgar yang membawanya menemui anggota keluarga yang lain. Dari kejauhan Adel melihat kedatangan tiga orang yang di tunggu-tunggu, ia melambaikan tangannya pada Zalea untuk ikut bergabung dengan yang lainnya. Berhubung semua orang sudah kumpul, Indah mengajak yang lainnya untuk menikmati hidangan yang sudah di sajikan.


"Ayo guys, kita makan dulu." seru Adel.


Semua orang tampak menikmati makan siangnya yang hanya beralaskan tikar, rumput yang hijau serta ada beberapa pogon yang berdiri membuat suasana lebih sejuk. Beberapa menit berlalu, semua orang menyelesaikan makan siangnya, Zalea hendak membereskan piring kotor yang sudah di pakai, namun Indah langsung mencegahnya, kemudian memanggil maid untuk membereskannya.


"Eeuuumm, syegarnyaa." ucap Cindy senang.

__ADS_1


"Makan buah apa dek?" tanya Rasya.


"Buah anggur, jeruk, strawberry, sama apel." jawab Cindy mengabsen semua buah-buahan yang ada di piringnya.


"Ini, ada nanas kalian mau gak?" ucap Rio menawarkan sepiring nanas pada yang lainnya.


"Enggak ah dad, takut keguguran." celetuk Edgar.


Byuurr..


Uhukk..Uhukkkk..


Leo dan Albert menyemburkan minumannya, mereka sontak memelotot kearah Edgar yang membuat keduanya tersedak air.


"Najis!" cibir Rasya.


"Lambemu Ed." protes Albert.


"Perutmu emang buncit bos, gak mungkin cuman gara-gara makan nanas jadi keguguran, dasar pe'a." omel Leo.


Entah mengapa Zalea terkekeh mendengar celetukan Edgar, sudah lama Zalea terlihat murung dan irit bicara, tetapi sekarang semua orang melihat ia tersenyum kembali.


"Berani banget ngatain pe'a sama boss sendiri, perlu di potong berapa persen gajimu Lele?" protes Edgar.


"Eng-gak, enggak, sorry boss gak ada maksud." ucap Leo panik.


"Urusan gaji aja, langsung ciut." ejek Edgar.


"Ssstt, jangan berisik! Si kembar mau tidur, awas aja ada yang ganggu." ucap Adel menempelkan jari telunjuk di mulutnya.


Si kembar sudah mulai mengantuk karena kekenyangan, setiap sudah makan dan meminum asi bisa dipastikan si kembar akan menjelajahi mimpi.


"Ssstt, diem semuanya. Jangan sampai si madam tantrum, aku gak mau kena imbasnya." ucap Edgar pelan.


'Apalagi ini bahasanya? Tantrum? Hahaha, dasar om-om stress' batin Zalea.


Zalea menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, sungguh dia tidak habis pikir celetukan Edgar mampu membuat perutnya tergelitik. Tertawa dalam diam itu sangat menyiksa, wajah Zalea sampai memerah di buatnya, sedangkan untuk yang lain celetukan Edgar sudah menjadi hal yang biasa jika sudah berkumpul bersama.


Untuk beberapa hari ini, aku gak bisa banyak update. Kemarin kondisinya drop sampai di infus, author harap kalian gak kecewa ya 🙏🤧🤗

__ADS_1


__ADS_2