
Edgar berjalan menuju meja makan, disana masih ada kedua adiknya yang tengah mengobrol renyah.
"Loh, belum tidur kak?" tanya Satria.
"Belum, laper jadi mau isi bensin dulu." jawab Edgar.
"Maaf ya kak Ed, tadi kakak ipar udah buatin seblak, tapi pas udah jadi malah aku minta soalnya kelihatan enak banget." ucap Cindy merasa bersalah.
"Gapapa Cin, lagian Lea juga bisa buatin lagi kok." ucap Edgar.
Tak lama kemudian Zalea datang membawa semangkuk seblak ditangannya, dia meletakkannya tepat dihadapan Edgar, niatnya Zalea akan kembali ke dapur membersihkan perabot kotor yang sudah ia gunakan. Edgar menarik tangan Zalea untuk duduk disampingnya, dia menyendokkan seblak lalu meniupnya agar tidak panas, setelah itu dia meminta Zalea membuka mulutnya.
"Buka mulutnya, sayang." ucap Edgar.
Deg!
__ADS_1
Siapa yang tidak meleleh di panggil sayang di hadapan yang lain, dengan wajah meronanya Zalea membuka mulutnya. Edgar menyuapkan satu sendok seblak tersebut kedalam mulut Zalea, dia tersenyum melihat wajah Zalea yang memerah terkesan lucu dimatanya.
"Ekkheeemm, kiww..kiwww.. masih nuansa pengantin baru kayaknya nih, ditunggu ponakan barunya." goda Cindy.
"Ayang, kita ke kamar yuk. Kita mesra-mesraannya di kamar aja, sekalian olahraga biar lahirannya lancar." ucap Satria.
"Gas lah papa, jangan jadi nyamuk diantara pasutri baru." seru Cindy.
"Olahraga apa? bukannya ibu hamil gak boleh banyak gerak?" tanya Edgar.
"Kayaknya kak Ed belum tahu deh, olahraga yang aku maksud tuh blaem-blaem kak, kata dokter itu bagus buat mempermudah jalan lahir bayi kak." jelas Satria.
"Iyalah kak Ed, kalau gak percaya tanya aja sama Burhan. " jawab Cindy.
"Wah, berarti perkututnya bisa multifungsi juga ya. Bisa bikin tekdung, bisa buat lancar lahiran, bisa bikin emaknya puas pula." ucap Edgar polos.
__ADS_1
Satria dan Cindy terkekeh mendengar ucapan Edgar, memang ada benarnya juga kalau perkutut itu multifungsi. Zalea menggelengkan kepalanya mendengar kepolosan Edgar, apakah suaminya itu benar-benar tidak tahu caranya mengenai blaem-blaem, dia saja yang umurnya masih muda tahu karena pernah menonton live streaming ayahnya dengan tetangganya dulu.
'Suami gue beneran gak tahu tentang blaem-blaem? please lah woyy, selama ini dia kemana aja? Padahal umurnya udah mateng' batin Zalea.
"Nanti juga kak Ed bakalan ngerti kalau kakak ipar udah hamil, bakal ngerasain juga pusingnya menghadapi ngidamnya, untung aja Cindy gak banyak maunya jadi aku gak kesusahan." ucap Satria.
"Iya dong, kan baby nya kasihan sama papahnya." ucap Cindy.
"Kita pamit ya, mau ngadon." ucap Satria.
"Oke, titip salam sama ponakan dari unclenya yang ganteng." ucap Edgar.
"Bisa diatur." ucap Satria mengacungkan jempolnya.
Satria menuntun Cindy masuk kedalam kamarnya, mereka tidak mau mengganggu kebersamaan Edgar dan Zalea. Edgar kini tengah fokus pada seblak buatan istrinya, rasanya begitu pas dan tidak pedas, ia tak hanya makan sendiri. Edgar juga menyuapi Zalea karena menurutnya istrinya juga harus makan, tidak mungkin dia makan sendirian karena makanan akan terasa nikmat jika makan sepiring berdua.
__ADS_1
'Cinta akan tumbuh kalau kita gak gengsi, mas Al juga dulu nentang banget tidur sekasur, lama kelamaan dia terbiasa. Kalau makan, aku yang menyuapinya, dan kalau dia udah selesai piringnya aku isi lagi dengan nasi tanpa ada rasa jijik. Dari mulai hal kecil cinta bisa tumbuh dihati kita, kebiasaan, perhatian, kasih sayang, rasa nyaman. Semua itu sangat penting, lama kelamaan tanpa terasa kalian akan saling melengkapi dan mencintai'
Kata-kata Adel yang selalu Edgar ingat dalam benaknya, dia ingin mempertahankan rumah tangganya tanpa adanya kata pisah. Zalea bisa melihat ketulusan Edgar, dia juga ingin memantapkan hatinya pada Edgar dan berusaha mencintainya sepenuh hatinya.