
Leo menyunggingkan senyumnya melihat wajah pucat Iren saat ini, tangan Iren terkepal dengan kuat karena kebusukannya telah di bongkar oleh Leo tanpa ada yang terlewat.
"Sepertinya orangtuamu sedang kesusahan sekarang, tidak maukah kau membantunya?" ucap Leo.
"Apa yang kau lakukan sekarang, hah?!" bentak Iren.
"Ya bermain lah, bukannya kau mengajakku bermain sebelumnya? Sekarang aku ikuti permainanmu, gimana? Seru bukan?" ucap Leo dengan sinis.
"Bedebah!" geram Iren.
Luna berdiri dari duduknya melayangkan tangannya kearah wajah Iren, karena Leo sudah menghapus sebuah video yang Iren gunakan untuk mengancamnya, jadi dia tidak perlu takut lagi pada Iren malahan dia ingin sekali menghajarnya.
PLAK..
Sebuah tamparan yang begitu kuat mendarat di pipi Iren, para pengunjung cafe menatap kearah meja dimana Luna, Leo dan Iren tempati.
"Apa yang kalian lihat? BUBAR!" ucap Leo menaikkan suaranya.
Leo mengusir semua pengunjung cafe yang sedang duduk di masing-masing mejanya, ia tidak mau keributan yang ia ciptakan di saksikan oleh orang lain terlebih lagi sampai ada yang mendokumentasikannya lewat sebuah rekaman Video.
"Selama ini aku diam bukan berarti aku lemah, kau mengancamku dengan ancaman akan menjebloskan bapakku yang tengah sakit-sakitan hanya karena tak sengaja menabrak mobilmu, kau juga ingin menyebarkan video perselingkuhan ibuku dengan mantan kekasihku! Aku memang membenci ibuku sendiri, tapi bukan berarti aku ingin melihat dia di permalukan di depan khalayak masyarakat karena seburuk apapun yang ia lakukan, ibuku tetaplah ibuku!" ucap Luna dengan lantang mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya.
Setelah mengetahui kalau Leo tengah dekat dengan Luna, Iren melancarkan aksinya mencari tahu tentang Luna lebih dalam, dia membayar seseorang untuk mendapatkan sebuah Video dimana Tia yang tak lain ibu Luna tengah bercumbu dengan Dodi mantan kekakih Luna. Sebuah kebetulan yang pastinya memberatkan Luna, ayahnya yang tengah mengendarai sebuah motor tak sengaja menabrak bagian belakang mobil Iren yang tengah terparkir di depan cafe berniat menjemput Luna, ayah Luna ketakutan karena kerusakaannya cukup parah. Iren menggunakan kesempatan tersebut untuk membuat Luna menjauh dari Leo, tapi dia tidak tahu jika Leo peka terhadap sikap Luna yang tiba-tiba menjauh darinya, sejak saat itu Leo mulai menyelidiki semua tentang Luna dan juga motif Iren yang ingin masuk kedalam kehidupannya.
"Beraninya kau menamparku dengan tangan kotormu?!" bentak Iren.
Iren hendak melayangkan tangannya membalas apa yang di lakukan oleh Luna, tapi bukan Luna namanya jika harus terima begitu saja perlawanan Iren, dia menendang meja sampai Iren terjatuh dan tertimpa meja tersebut.
"Awssshh." ringis Iren sambil berusaha menyingkirkan meja dari atas tubuhnya.
"Aku tekankan sekali lagi! Tidak ada yang harus aku takuti darimu, maka sekarang aku akan melakukan apa yang sudah aku tahan selama ini." tekan Luna.
Luna menyingkirkan meja yang menindih tubuh Iren, dengan gerakan cepat Luna menarik rambut Iren sampai terjadi perkelahian antara dirinya dan jugaIren yang melawan. Para karyawan cafe hanya melijat kejadian tersebut dari kejauhan tanpa berniat memisahkan, Leo meringis melihat kemarahan Luna yang ternyata dua kali lebih menyeramkan dari yang dia perkirakan.
Bug.
__ADS_1
Luna menendang perut Iren sampai terjatuh keatas lantai, meskipun dirinya sama-sama mendapatkan luka, tetapi itu membuatnya puas dan merasa lega. Iren sudah tak mampu lagi berdiri karena tubuhnya sudah babak belur akibat amukan Luna, tak berapa lama kemudian polisi datang menangkap Iren atas laporan si botak dan juga si ompong yang tentunya atas perintah Leo.
"Anda kami tangkap, atas laporan pembunuhan dan juga percobaan pembunuhan pada pria yang bernama Nicholas. Anda juga menggunakan obat-obatan terlarang, untuk itu anda harus ikut kami ke kantor polisi." ucap salah seorang polisi.
Iren langsung di pasangkan borgol di lengannya, dia tak bisa memberontak ataupun mencoba kabur karena kondisi tubuhnya yang lemah. Leo tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Iren menatap tajam kearah Leo dan juga Luna yang tengah tersenyum puas.
'Berbahagialah, aku tak akan membiarkan kalian menang bergitu saja' batin Iren.
Setelah kepergian Iren, Leo menghampiri Luna dan menarik tangannya keluar dari dalam cafe. Luna mengikuti kemana Leo akan membawanya, nyatanya Leo membawa dirinya masuk kedalam mobil.
"Masuklah, dasar gadis nakal." titah Leo.
"Apa sih bapak Leo." ucap Luna dengan malas.
Luna masuk kedalam mobil Leo, melihat Luna sudah duduk Leo langsung menyusul masuk kedalam mobilnya kemudian mengambil kotak obat yang selalu ia simpan di dalam mobil.
"Ngadep sini, aku obatin dulu lukanya." ucap Leo.
Luna menuruti ucapan Leo, ia pun membalikkan tubuhnya menghadap Leo sampai pandangan mereka bertemu.
Deg! Deg! Deg!
"Ce-cepetan, ka-katanya mau ngobatin." ucap Luna dengan terbata.
Tak mendapatkan jawaban dari Leo, Luna pun memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena Leo tak berhenti menatap kearahnya.
"Kenapa malah liat ke depan, bukannya liat masa depan." protes Leo.
"Ya habisnya, madep ke bapak Leo malah diem aja kan jadi gak aman jantungnya ini." ucap Luna.
"Sini, dasar anak nakal." omel Leo.
Leo memegang wajah Luna agar menghadap kearahnya, dia mengobati sudut bibir Luna yang sedikit robek dan mengeluarkan darah. Sesekali Luna meringis karena sensasi perih dari luka yang tengah Leo obati, Leo meniup-niup luka Luna agar tidak terlalu perih tapi apa yang ia lakukan malah menimbulkan masalah bagi jantung Luna karena jaraknya semakin dekat.
Cup.
__ADS_1
"Lama-lama gereget Gusti." gemas Leo mengecup pipi Luna.
"Sopankah begitu." protes Luna dengan kening yang saling bertaut.
"Hehe, sorry bablas." ucap Leo cengengesan.
'Aaahhh.. Lagi dong 😝' batin Luna.
"Terima kasih." ucap Luna.
Leo menaikkann sebelah alisnya mendengar ucapan terimakasih dari Luna, sedangkan Luna sendiri menmpilkan senyumnya ke arah Leo.
"Lun, pegang deh dadaku." ucap Leo meraih tangan Luna dan menempelkannya di dadanya.
"Kenapa emangnya?" tanya Luna.
"Jantungnya jedag-jedug, hatinya meleleh melihat senyum manismu, rasanya aku ingin menyetubuhimu." ucap Leo.
"@su!" sentak Luna segera menarik tangannya dari dada Leo.
Leo terkekeh melihat wajah kesal Luna, rasanya sangat menggemaskan ketika melihat Luna cemberut ataupun sedang kesal padanya.
"Berchandyaaa, berchandyaaa.." ledek Leo.
"Gak lucu tau gak, bapak Leo gak tau aja kalau aku lagi marah kayak gimana." sewot Luna..
"Tau kok, kaya singa lagi puber hahahhaa." ucap Leo terbahak.
"Lama-lama gue jadi gila deket nih orang, nyebelinnya minta di nikahin." gerutu Luna.
"Ayo aja kalo mau nikah mah, pekerjaan udah oke, muka apalagi, usia sudah matang dan siap untuk menjadi suami idaman." sahut Leo
"Apaan sih, maksudnya minta ampun bukan minta di nikahin. Mulutnya keseleo, jadi salah ngomong." kilah Luna.
"Biasanya kalo orang lagi ngomong terus alasannya ke seleo, itu berarti dia sedang mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya." ucap Leo.
__ADS_1
"Gustiii! Bunuh orang dosa, gak gue bunuh ni orang randomnya minta gue uyel-uyel." ucap Luna frustasi.
Bagimana reaksi Leo?dia tertawa terbahak-bahak, baru kali ini dia melihat Luna se frustasi itu menghadapi dirinya. Luna mengatur nafasnya yang naik turun karena emosi, pantas saja sahabatnya Adel seringkali mengeluhkan kelakuan Leo, ternyata dia sekarang tau kalau Leo semenyebalkan itu dan sialnya dia malah jatuh hati.