
Burhan mendapat telepon dari Edgar, dia langsung saja berpamitan pada Nabila untuk lergi ke rumah Naraya. Burhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sudah menganggap Naraya sebagai ibunya sendiri, dia akan merawat Naraya semampunya selama Tuhan masih mengizinkan Naraya untuk tetap hidup.
"Bu, bertahanlah. Aku mohon, jangan sampai kau menyerah begitu saja." gumam Burhan.
Betapa beruntungnya Zalea dan Naraya di pertemukan dengan orang-orang baik di sekelilingnya, tidak ada satupun yang membenci kehadirannya dan keluarganya yang mana membuat Zalea dan yang lainnya merasa nyaman dan aman.
10 menit berlalu.
Burhan langsung masuk kedalam rumah Naraya, dia berjalan ke kamar Naraya saat Edgar tengah menunggu kedatangannya. Naraya masih betah menutup matanya dengan wajah yang masih pucat, Burhan segera memeriksa denyut nadi Naraya kemudian meletakkan statoskop di dada Narya untuk memeriksa keadaanya lebih lanjut.
"Bagaimana keadaan ibu, dok?" tanya Zalea cemas.
"Emm, dia hanya kecapean saja. Untuk kedepannya tolong jangan biarkan dia kecapean, jaga pola makannya dan juga jangan telat untuk meminum obatnya." jelas Burhan.
"Terimakasih dok, aku akan merawat ibu sebaik mungkin." ucap Zalea.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi." ucap Burhan.
Zalea menganggukkan kepalanya, Burhan memegang tangan Edgar memberikan isyarat agar ia ikut dengannya. Edgar pun mengikuti langkah Burhan, kedusnya berjalan keluar dari rumah agar percakapannya tidak bisa di dengar oleh Zalea.
"Kondisi mertuamu semakin memburuk." ucap Burhan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Edgar.
"Kemoterapi." jawab Burhan singkat.
"Apakah dengan kemoterapi bisa sembuh?" tanya Edgar lagi.
"Kemungkinannya kecil, penyakitnya sudah semakin parah Ed, jika saja ada keajaiban aku akan meminta keajaiban itu agar ibu Naraya bisa sembuh kembali." jawab Burhan.
"Lakukan apapun itu demi menyelamatkan ibu, entah itu terapi atau apapun itu aku tidak peduli. Jika pun tidak bisa di sembuhkan setidaknya menambah waktu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti aku menghadapai Zalea." ucap Edgar.
Burhan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tanpa di minta pun ia akan melakukan apapun demi Naraya, dia sebagai dokter pun menginginkan Naraya sembuh, tetapi dia hanya manusia biasa yang hanya mengandalkan kemampuannya serta menyerahkan hasilnya pada yang maha kuasa.
"Tolong bawa dia ke rumah sakit, bujuk dia agar mau melakukan kemoterapi, karena aku yakin bu Naraya pasti akan menolaknya. Tapi tidak ada salahnya kalau di coba, bicaralah dengan perlahan." ucap Burhan.
"Akan aku usahakan." ucap Edgar.
Burhan pamit untuk pulang, Edgar memikirkan ucapan Burhan yang menyuruhnya untuk membujuk Naraya. Bagaimana jika Zalea tahu akan penyakit ibunya, di sisi lain Edgar juga tak ingin Zalea kecewa padanya suatu saat nanti dengan segala kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
Edgar kembali masuk ke dalam rumah, dia berjalan menemui Zalea yang tengah menunggu ibunya sadae daei pingsannya.
"Lea, ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Edgar.
"Katakan saja om." sahut Zalea tanpa mengalihkan pandangannya dari Naraya.
"Kita bicara diluar, kasihan ibu kalau kita bicara disini dia akan terganggu, jadi biarkanlah dia beristirahat." ucap Edgar beralasan.
"Dek, jagain dulu ibunya ya." ucap Zalea.
"Iya kak," sahut Nathan.
Zalea keluar dari dalam kamar Naraya menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu keluar, mereka berjalan kearah ruang tamu dan hanya mereka berdua yang berada disana.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu," ucap Edgar.
"Maaf?" tanya Zalea mengeurtkan keningnya.
"Sebenarnya ibu sakit parah." ucap Edgar jujur.
Deg!
"Aku tahu, kau pasti terkejut bukan?" tanya Edgar.
"Ta-pi, kenapa ibu menyembunyikannya?" tanya Zalea tak percaya.
"Ibu sengaja menyembunyikannya darimu dan Nathan, dia memintaku untuk menyembunyikan semuanya dari kalian, tetapi aku tidak bisa menempati janjiku karena menurutku kalian berhak tahu." jelas Edgar.
Tes.
Air mata mulai turun dari pipi Zalea, dia menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya dari Edgar. Rasanya ini seperti sebuah mimpi yang buruk, bagaimana bisa ia tidak tahu kalau ibunya tengah menghadapi penyakitnya sendirian.
"Ibu sakit apa sebenarnya om?" tanya Zalea sendu.
"Ibu sakit kanker hati, kondisinya sudah memburuk. Bahkan dokter sudah memvonis kalau umurnya tidak akan lama lagi, tadi Burhan mengatakan kalau ibu harus melakukan kemoterapi." jawab Edgar.
"A-apa? Ba-bagaimana bisa hiks, kau bercanda kan om? Om bercandamu tidak lucu sama sekali om." ucap Zalea menangis sejadinya.
"Lea tenanglah, jangan menangis seperti ini kasihan Nathan sama ibu. Kamu harus kuat, mereka membutuhkanmu Zalea." ucap Edgar mendekap tubuh Zalea.
__ADS_1
Zalea menangis dalam diam agar suaranya tidak terdengar oleh adik dan juga ibunya, tetapi siapa sangka Nathan tengah berdiri tak jauh dsri keduanya mendengar semua ucapan Zalea dan Edgar.
"Kak, aku gamau kehilangan ibu, hiks." ucap Nathan menangis.
Zalea melepaskan pelukannya dari Edgar, keduanya menoleh kearah Nathan yang tengah berdiri lengkap dengan air matanya yang bercucuran. Zalea langsung bangkit dari duduknya, dia memeluk adik lelaki satu-satunya.
"Kita gak akan kehilangan ibu, ibu udah janji sama kakak bakalan temenin kita selamanya, kau sendiri mendengarnya bukan ucapan itu waktu kita masih do rumah bapak." ucap Zalea mencoba menenangkan adiknya.
"Tapi Nathan takut kak, hikss.." ucap Nathan kembali menangis.
Samar-samar terdengar suara Naraya yang tengah memanggil nama Zalea, Edgar yang mendengarnya pun mengajak Zalea dan Nathan untuk masuk kedalam kamar. Naraya terlihat tengah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, wajah pucatnya begitu terlihat jelas.
"Ibu." panggil Zalea.
Grepp.
Nathan dan Zalea langsung memeluk tubuh ibunya, sungguh mereka tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis dalam dekapan Naraya.
"Maafkan aku ibu, mereka sudah mengetahui semuanya." ucap Edgar.
"Tidak apa-apa nak, ibu tahu apa yang kamu pikirkan." ucap Naraya tersenyum lemah.
"Kenapa ibu menyembunyikan semuanya dari Lea bu?" tanya Zalea menatap ibunya dalam.
"Ibu sudah terlalu banyak merepotkanmu nak, sekarang ibu hanya ingin menghabiskan sisa waktu ibu bersama anak-anak ibu." ucap Naraya, sambil mengusap rambut kedua anaknya.
"Ibu akan sembuh, kita ke rumah sakit sekarang juga! aku tidak mau ada penolakan dari ibu, pokoknya sekarang kita harus ke rumah sakit." putus Zalea.
"Zalea benar bu, lebih baik ibu melakukan kemoterapi supaya kondisi ibu lebih baik lagi. Bukankah ibu pernah bilang ingin menggendong cucu dari kami, jadi untuk itu ibu harus ikut perawatan di rumah sakit ya." bujuk Edgar.
"Ibu akan pergi ke rumah sakit, untuk sekarang tolong tinggalkan ibu sendirian. Lea kamu masaklah untuk suamimu, Nathan juga pergi belajar ya biar nanti tambah pinter." ucap Naraya.
"Nathan gak mau tinggalin ibu, Nathan bisa bawa buku pelajaran Nathan kesini sambil jagain ibu." tolak Nathan.
"Ibu butuh waktu sendiri dek, tolong mengerti ya." ucap Naraya.
"Dek, kita keluar dulu ya. Kita beri waktu ibu untuk sendirian, kakak juga mau bikin bubur buat ibu." ucap Zalea.
Dengan terpaksa Nathan menuruti permintaan ibunya, dia keluar disusul oleh Edgar dan Zalea membiarkan Naraya sendirian di dalam kamar. Selang kepergian anak dan menantunya, Naraya mengeluarkan sebuah buku dan juga pulpen untuk mencatat sesuatu didalamnya.
__ADS_1