Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Jelek


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Selama satu minggu Edgar tetap mejaga Zalea tak berniat meninggalkannya walaupun sejenak, tubuhnya kini kurus tak terurus, dia tak mau makan jika memang makanannya bukan hasik tangan istrinya.


"Lea sayang, ayo bangun. Sudah satu minggu loh kamu tidur, kasihan Nathan." ucap Edgar.


Tes..


Air mata Edgar kembali menetes, dia mengecupi tangan Zalea dengan air mata yang berderai. Tanpa Edgar sadari jari jemari Zalea mulai bergerak, perlahan Zalea membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam matanya.


Eeuunnggghh...


Refleks Edgar mengalihkan pandangannya, dia segeral mengelap air matanya menatap Zalea yang sudah mulai membuka matanya.


"Lea! Kau bangun, aku akan panggilkan dokter!" ucap Edgar heboh.


Edgar menekan tombol di yang berada di sebelah Zalea, karena tak kunjung ada dokter yang datang Edgar memutuskan untuk berlari keluar memanggil dokter untuk memeriksa Zalea.


"DOKTER..DOKTEERRR.." teriak Edgar.


Rio dan beberapa orang yang tengah menunggu di luar pun seketika panik mendengar teriakan Edgar, Indah langsung menghamliri Edgar dengan wajah cemasnya.


"Ed, ada apa nak? Kenapa kau berteriak seperri orang kerasukan?" tanya Indah cemas.


"Lea udah sadar mom, di membuka matanya." ucap Edgar dengan mata yang berkaca-kaca.


Tak lama kemudian donter datang bersama seorang perawat, Edgar mempersilahkan dokter dan perawat tersebut masuk kedalam ruangan. Zalea kini tengah menjalani pemeriksaan oleh dokter, dia memegangi kepalanya yang terasa pusing karena tidur terlalu lama.


"Syukurlah, pasien kini sudah melewati tidur panjangnya. Kondisinya juga kini sudah stabil, tolong jangn diajak banyak bicara dulu karena tubuhnya perlu menyesuaikan kembali setelah melewati masa kritis." jelas dokter.


"Baik, terimakasih dokter." ucap Edgar.


"Apa ada yang sakit lagi?" tanya dokter pada Zalea.


"Kepala saya pusing, punggung saya juga nyeri." jawab Zalea.


"Kepala pusing adalah hal yang wajar nona, karena nona tak sadarkan diri sudah satu minggu lamanya. Untuk nyeri di punggung andaa, saya akan meresepkan obat pereda nyeri dan juga salep agar lukanya cepat mengering." jelas dokter.


"Mwo!? Satu minggu?" tanya Zalea terkejut.


"Iya sayang, udah satu minggu kamu tidur." jawab Edgar.


"Kalau begitu, saya permisi. Nanti suster akan menbawakan obatnya, karena kondisi nona sudah stabil saya akan kembali melanjutkan pekerjaan saya memeriksa pasien yang lain." ucap dokter.

__ADS_1


"Baik dok, terimakasih banyak." ucap Rio.


Dokter dan suster pun keluar dari ruangan Zalea, dengan mata yang basah Edgar memeluk tubuh Zalea dengan erat. Edgar menumpahkan kerinduannya pada istri kecilnya, Rio dan yang lainnya menatap haru melihatnya.


"Alhamdulillah, akhirnya Lea sadar juga." ucap Adel mengucap syukur.


"Aku turut bagahagia melihatnya." ucap Albert.


Zalea menepuk punggung Edgar meminta suaminya itu melepaskan pelukannya, dadanya terasa sesak karena Edgar memeluknya dengan erat.


"Om, lepasin dulu engap nih." protes Zalea.


"Habisnya kangen sih, lagian kenapa sih gidurnya lama banget?" kesal Edgar.


"Yaelah, siapa juga yang mau kayak gini." ucap Zalea.


Edgar mengusap air matanya mengunakan tangannya, Zalea berusaha mengubah posisinya untuk duduk, melihat Zalea kesusahan Edgar dan Indah langsung membantunya.


"Aku haus." pinta Zalea.


Edgar dengan cepat mengambilkan air minum untuk istrinya, Zalea menerima air yang di berikan oleh Edgar kemudian menenggaknya sampai habis. Zalea menatap wajah Edgar dari dekat, dia menelisik wajah suaminya yang terlihat jauh berbeda.


"Ini om Edgar kan? Suami Lea?" tanya Zalea.


"Ya beneran lah, kenapa? Baru ngeuh?" tanya Edgar balik.


Penampilan Edgar tidak bersih seperti biasanya, tubuhnya terlihat kurus, wajahnya juga di tumbuhi rambut-rambut halus yang menghiasi dagu serta kumisnya. Zalea sampai tak mengenali suaminya sendiri, ia terus menatap Edgar sampai si empu mendekat kearah Zalea.


"Kayak bapak-bapak." celetuk Zalea.


"Pppuuffttt.." Albert dan yang lainnya menahan tawanya.


Tuing..


Edgar menoyor kening Zalea pelan, baru saja sadar dari komanya Zalea langsung mengajaknya ribut. Tapi, meskipun begitu Edgar tetap mensyukurinya, karena memang itulah yang ia harapkan daripada melihat Zalea yang terbaring lemah.


"Emang penampilanku jelek ya?" tanya Edgar.


"Jujur sih, iya. Aku gak pernah lihat om kumisan sama brewokan, lebih ganteng bersih." jawab Zalea.


"Nanti aku cukur, ini semua akibat ulahmu. Aku khawatir karena kau lama bangunnya, makanya aku sampai gak fokus rawat diri aku sendiri." ucap Edgar.


"Om khawatir sama Lea?" tanya Zalea.

__ADS_1


"Am-om am-om aja manggilnya, gue c*p*k tau rasa juga lu. Jelas khawatir lah, orang kstrinya lagi koma, gimana sih?" kesal Edgar.


"Aaaa, co cweeett." ucap Zalea merasa tersentuh.


"Ed, biarkan Zalea istirahat. Ingat kata dokter, Lea ga boleh diajak banyak bicara dulu." ucap Rio.


"Gak mau dad, aku mau tetep disini nemenin Lea takutnya dia butuh sesuatu." ucap Edgar.


"Yasudah, daddy sama yang lain tunggu diluar aja." putus Rio.


Rio tahu kalau anaknya tengah berbahagia, dia tidak ingin mengganggu waktu keduanya untuk saling melepas rindu. Indah dan yang lainnya pun keluar dari dalam ruangan Zalea, melihat semua orang sudah pergi Edgar pun naik keatas hospital bed.


"Loh, mas mau ngapain?" tanya Zalea.


"Mau tidur, sini peluk suamimu ini." ucap Edgar merentangkan tangannya.


"Tapi kan ini sempit?" protes Zalea.


"Cukup kok, sini peluk. Aku gak bisa tidur selama satu minggu ini, sekarang kamu udah sadar jadi temenin aku tidur sekalian kamu juga istirahat." rengek Edgar.


"Yaudah deh iya, aku juga belum pengen makan. Masih pengen istirahat, kepalanya masih pusing." ucap Zalea.


"Nah makannya, mending tidur." ucap Edgar.


Zalea mengatur posisinya supaya mendapatkan kenyamanan, Edgar membantu Zalea tidur menyamping dan meletakkan tangannya sebagai bantalan untu istrinya. Alhasil, keduanya kini tidur diatas hospital bed dengan posisi saling memeluk, Edgar merasakan kenyaman yang sempat hilang, dia memeluk tubuh Zalea sambil tersenyum bahagia begitupun Zalea.


*


*


Cindy sudah di perbolehkan pulang ke mansion setelah 5 hari di rumah sakit, sampai saat ini ia belum mengetahui keadaan Zalea yang sebenarnya karena semua orang menyembunyikannya darinya.


"Ayang, kok di mansion pada sepi? Yang lain pada kemana?" tanya Cindy.


"Emm, yang bisa kita bicara sebentar? Tapi kamu harus janji gak boleh marah sama mas?" ucap Satri hati-hati.


"Bicara apa mas? kenapa keliatanyya serius banget?" tanya Cindy.


"Janji dulu." ucap Satria.


"Oke, aku janji gak bakalan marah." ucap Cindy.


"Emm, sebenernya sudha satu minggu Zalea koma di rumah sakit." ucap Satria..

__ADS_1


Deg!


Cindy langsung mematung di tempatnya, lidahnya terasa kelu mendapati kenyataan yang baru saja suaminya katakan. Satria langsung mendekap tubuh istrinya, dia yakin Cindy pasti syok mendengar kebenaran yang sebenarnya.


__ADS_2