
Nathan pergi ke kamarnya, dia membuka buku pelajaran sesuai perintah ibunya. Pikiran Nathan tidak fokus karena ia masih terus memikirkan kondisi ibunya, sedangkan Zalea sibuk berkutat di dapur membuatkan bubur untuk ibunya sekalian makan siang untuk semua orang. Edgar menghubungi Burhan untuk memberitahukan bahwa ia akan membawa Naraya ke rumah sakit, dia juga tak lupa menghubungi ayahnya dan memberitahukan kondisi Naraya yang semakin memburuk, kemungkinan besar ia akan jarang pergi ke perusahaan karena ingin ikut menjaga mertuanya.
'Daddy, kondisi ibu Naraya semakin memburuk. Aku akan jarang masuk ke kantor, bisakah daddy membantuku mengurus perusahan bersama Leo?'
'Tentu saja nak, nanti daddy akan menjenguk besan daddy. Semoga dia bisa sembuh kembali ya, kalau begitu daddy akan siap-siap pergi ke kantor, jangan lupa hubungi daddy kalau terjadi sesuatu.'
'Baik dad, terimakasih sudah mau membantu'
'Sama-sama son'
Edgar mematikan ponselnya secara sepihak, dia memutuskan untuk membantu Zalea yang tengah berkutat di dapur. Dilihatnya Zalea begitu fokus memasak, Edgar mengeluarkan ponselnya memotret Zalea senyara diam-diam.
'Cantik, istri idaman' batin Edgar.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Edgar menghampiri Zalea.
"Tidak usah, om tunggu aja di ruang tamu atau di meja makan, kalau udah beres nanti aku panggil." ucap Zalea.
"Lea aku bosan, jadi boleh ya aku membantumu." ucap Edgar.
"Yasudah, aku akan memotong sayuran untuk bikin sup, om bikin telur ceplok aja." ucap Zalea membawa syuran untuk di potongnya.
"Gimana caranya Lea?" tanya Edgar.
"Itu wajannya udah ada diatas kompor, om tinggal kasih minyak dikit aja jangan banyak-banyak, nanti pecahin telornya langsung diatas wajan." jawab Zalea.
"Oh, gampang itu mah, gue sering liat Leo bikin kok." gumam Edgar.
Edgar pun mengikuti arahan Zalea, dia mengambil minyak lalu menuangkannya diatas wajan, Edgar menyalakan kompornya kemudian mendiamkannya sebentar. Setelah dipastikan minyaknya sudah siap, Edgar memecahkan telurnya.
Brusshhh..
"AAARGGHH, MELEDAAK..MELEDAAAKK." teriak Edgar menjauh dari kompor.
__ADS_1
Begitu Edgar memasukkan telurnya kedalam minyak panas, seketika minyaknya menciprat kearahnya karena minyaknya terlalu panas. Zalea segera menghampiri Edgar yang tengah berteriak, dia langsung mengambil spatula untuk membalikkan telurnya.
"Hadeuuhh, sok-sok'an mau bantuin, nyatanya baru nuangin telur aja ramenya melebihi orang yang lagi perang." ejek Zalea.
Edgar menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, dia hanya tersenyum kikuk kearah Zalea. Nathan keluar dari kamarnya karena mendengar suara teriakan Edgar, dia mengedarkan pandangannya mencari apakah ada maling yang masuk kedalam rumah, atau ada barang pecah.
"Kak, tadi aku mendengar ada orang teriak meledak? Apanya yang meledak?" tanya Nathan.
"Itu, tanya orangnya yang teriak-teriak gak jelas." jawab Zalea menunjuk kearah Edgar.
"Gak ada papa kok, cuman kaget aja tadi mau goreng telur minyaknya nyiprat." ucap Edgar tersenyum malu.
"Huuh, kirain Nathan ada apa." ucap Nathan menghembuskan nafasnya pelan.
"Yaudah, kamu balik lagi sana ke kamar, nanti kakak panggil kamu kalau semuanya udah jadi." ucap Zalea.
"Iya kak," sahut Nathan.
Zalea kembali memasak beberapa butir telur kemudian meletakkannya diatas piring, Edgar hanya memperhatikan apa yang tengah Zalea lakukan.
"Ellleeehh, tadi aja teriak-teriak." cibir Zalea.
"Yang gampang aja, jangan yang berhubungan sama minyak takutnya kulit mulus ku terbakar." ucap Edgar.
"Yaudah, om kupasin bawang merah sekalian potongin ya." ucap Zalea.
"Contohin dulu, takutnya salah." ucap Edgar.
Zalea menghela nafasnya panjang, dia mengambil pisau dan juga bawang untuk di kupasnya, kemudian setelahnya Zalea mencuci bawang tersebut lalu mengirisnya tipis-tipis.
"Gampang ini mah." ucap Edgar tersenyum.
"Yaudah nih, awas kalo gak bener motongnya." ucap Zalea.
__ADS_1
Edgar mengupas bawangnya satu persatu. Setelah semua bawang yang harus dikupas sudah bersih, Edgar mencucinya di air mengalir. Edgar mengambil kembali pisaunya, dia memotong bawang merah tersebut seperti yang di contohkan oleh Zalea, awalnya masih biasa saja tidak terjadi apapun. Tetapi, lama kelamaan Edgar mulai merasakan perih di matanya, dia menggosok matanya sambil beberapa kali mengedip karena rasanya sangat perih menusuk mata. Zalea membalikkan tubuhnya menatap kearah Edgar, dia melihat Edgar seperti tengah melakukan sesuatu, Zalea pun menepuk bahu Edgar sampai si empu membalikkan tubuhnya.
"Woaah, Pppffftt." Zalea terkejut refleks menutup mulutnya.
"Lea, perihhhhh.." rengek Edgar.
Zalea menahan tawanya sekuat tenaga melihat penampilan Edgar, ditambah lagi Edgar yang merengek mendekatkan wajahnya keaeah Zalea.
"Utututu, bayi tuanya nangis." ucap Zalea mengusap air mata Edgar.
"Perihh." rengek Edgar lagi.
"Sini, sini, kita cuci dulu mukanya biar gak perih lagi." ucap Zalea menarik tangan Edgar menuju wastafel.
Zalea menyalakan kran air lalu membasuh wajah Edgar, hal yang dilakukan oleh Zalea lumayan membuat mata Edgar merasa lebih baik.
"Gimana om, masih perih?" tanya Zalea.
"Lumayan, kenapa kamu gak bilang kalau potong bawang itu bikin perih?" protes Edgar.
"Om kan gak nanya," kilah Zalea.
"Alesan aja, kalau kamu bilang bisa bikin perih kan aku bisa wanti-wanti." omel Edgar.
"Yakin masih mau bantuin?" tanya Zalea.
"Enggak ah, masih perih." ucap Edgar.
"Yaudah, tungguin aja di meja makan, bentar lagi masaknya selesai kok." ucap Zalea.
Edgar menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia pun melangkahkan kakinya menuju meja makan, niatnya ingin mambantu tetapi dia juga yang kesusahan.
"Gini nih, kurang ilmu dalam hal apapun selain berbisnis sama makan doang." gumam Edgar.
__ADS_1
Zalea kembali berkutat di dapur, dia segera menyelesaikan masakannya kemudian menatanya di piring dan juga mangkuk. Selesai dengan aktifitasnya, Zalea mencuci semua barang yang sudah di gunakannya, setelahnya dia menata semua hasil maskannya diatas meja makan yang di bantu oleh suaminya sendiri. Zalea memanggil Nathan yang masih belajar di dalam kamarnya, dia membawakan semangkuk bubur untuk ibunya makan. Zalea lebih memilih untuk menyuapi ibunya makan ketimbang makan bersama dengan suami dan adiknya, dia harus terus memantau kesehatan ibunya sesuai pesan Burhan.