
Edgar tengah tidur dengan posisi tengkurap, badannya sangatlah lelah karena harus memenuhi permintaan bumi yang sudah mulai beragam macamnya.
"Mas, bangun hikss." ucap Zalea menggoyangkan tubuh Edgar agar terbangun dari tidurnya.
Mendengar tangisan Zalea membuat Edgar langsung terjaga, dia segera mengubah posisinya menjadi duduk menghadap kearah istrinya yang sudah berlinang air mata.
"Sayang, kenapa lagi?" tanya Edgar dengan sabar.
"A-aku pengen liat kamu foto pake baju kostum kelinci yang gede, kayak jungkook huhu.." ucap Zalea sambil menangis sesenggukan.
"Sayangπ." ucap Edgar dengan suara tertahan.
Sejak dinyatakan tengah mengandung Zalea jadi lebih mudah menangis, mungkin karena hormon kehamilannya dia menjadi seperti itu. Edgar harus extra menyiapkan stok kesabaran untuk menghadapi istrinya, saat ini ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa berat bahkan sangat amat berat.
"Aku mau kamu kayak gini, iiiiii lucu banget." ucap Zalea dengan nada gemasnya menunjukkan sebuah foto pada Edgar.
Fyuuuhhhh...
Edgar menghela nafasnya panjang, Zalea terus menatap layar ponselnya begitu lama dan bahagia. Entah mengapa dia sangat menginginkan Edgar memakai kostum tersebut, mau tidak mau Edgar menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Aku akan coba cari kostumnya." ucap Edgar.
"Makasih papa." ucap Zalea menirukan suara anak kecil sambil mengusap perut ratanya.
"Sama-sama anak papa." balas Edgar ikut mengelus perut rata Zalea.
Jika Zalea sudah menirukan suara anak kecil, disitu pertahanan Edgar runtuh seketika. Dengan langkah gontai Edgar keluar dari kamarnya, dia menelpon Leo untuk mencarikan kostum sesuai yang Zalea inginkan.
"Semoga si lele dapet tuh kostum, njir kek gini amat punya bumil." keluh Edgar.
"Kenapa lagi Ed?" tanya Rio tiba-tiba datang menghampiri Edgar.
"Lea mau aku pakai kostum kayak gini, malah nangis-nangis lagi bilangnya." ucap Edgar memperlihatkan foto yang tadi di perlihatkan oleh Zalea.
__ADS_1
Rio mengambil hp di tangan Edgar, dia melihat sebuah gambar kostum kelinci berwarna abu yang besar. Setelah melihat gambar di hp Edgar Eio lantas mengembalikannya, dia tersenyum kearah putra sulungnya sambil menepuk bahunya dengan pelan.
"Nikmati semuanya agar tidak terasa berat, setiap ibu hamil memiliki kemauan yang berbeda-beda. Kau juga tahu sendiri bagaimana Adel sewaktu mengandung si kembar, belajarlah dari sana karena kau juga yang harus menuruti kemauannya bukan? Dulu, ibumu juga seeingkali menginginkan hal yang bermacam-macam." ucap Rio.
"Emang waktu ibu hamil, dia ngidam apa?" tanya Edgar.
"Dia mau daddy mencuri mangga tetangga dan gak boleh minta, benar-benar harus mencuri. Katanya dia ingin katak panggang, buah raibow, semangka bertulang. Apa kau bisa membayangkan bagaimana semangka bertulang?" jelas Rio.
Edgar menggelengkan kepalanya pelan, dia penasaran dengan cerita ngidam ibunya, Edgar menatap sang ayah yang tengah memutar memori masa lalu yang lernah ia lalui bersama ibunya.
"Daddy harus beli semangka yang besar, di potong beberapa bagian sedangkan kulitnya harus di bentuk seperti tulang manusia. Bahkan bentuk semangkanya harus benar-benar mirip struktur tubuh manusia sampai daddy frustasi di buatnya, dan akhirnya daddy gagal karena semangkanya hancur tak terbentuk, hihi." ucap Rio dengan sedikit terkekeh.
"Terus ibu marah atau enggak sama daddy? Secara kan semangkanya hancur?" tanya Edgar.
"Ya, daddy tidur diluar π." jawab Rio tertawa lebar.
"Mengerikan." ucap Edgar bergidik.
"Ya begitulah, banyak orang diluaran sana yang tidak sabar menghadapi tingkah laku istrinya yang tengah mengandung. Mereka lebih memilih menghabiskan waktunya bersama wanita lain, tidak memikirkan bagaimana perasaan istrinya yang kesusahan akibat dari ulahnya sendiri yang membuatnya sampai hamil. kau tahu, kenapa banyak wanita tangguh diluaran sana?" ucap Rio .
"Enggak tahu, mungkin karena mereka tidak ingin dianggap lemah." jawab Edgar.
"Iya juga sih dad," Ucap Edgar setuju dengan ucapan ayahnya.
*
*
Di perusahaan Wiguna.
Rasya tengah mengotak-atik ponselnya sambil duduk di kursi singgasananya, salah seorang mulai berani mengusi ketenangannya dan juga ingin memisahkan dirinya dengan Halimah.
Ceklek.
"Kak." panggil seseorang begitu masuk kedalam ruangan Rasya.
__ADS_1
Tatapan Rasya beralih menatap seseorang yang tengah berdiri diambang pintu lengkap dengan wajah khawatirnya, dia berjalan mendekat kearah Rasya yang tengah duduk dengan tenang seraya tersenyum melihat kedatangannya.
"Sayang, kenapa tidak mengabariku jika kau ingin berkunjung kesini?" Tanya Rasya.
"Bagaimana kau bisa setenang ini kak? Damian mengancam keluargaku, terutama Nisa. Dia adikju satu-satunya kak, aku tidak mau terjadi sesuatu padanya." Ucap Halimah dengan cemas.
"Duduklah dulu sayang, kau terlalu berpikir berlebihan." Ucap Rasya menuntun Halimah duduk di sofa panjang di ruangannya.
"Bagaimana aku bisa ten-" Ucap Halimah terpotong.
"Sssttt, biarkan aku yang mengurus semuanya." ucap Rasya menyimpan jari telunjuknya di depan mulutnya.
Halimah pun mengatupkan bibirnya menatap Rasya dengan lekat, tak bisa di pungkiri bahwa kecemasan dan juga rasa takut menghantui pikirannya. Damian adalah orang yang paling nekat menurutnya, tanpa dia tahu sikap Rasya yang sebenarnya.Jika di depan Halimah Rasya memperlihatkan kekonyolan dan juga kebucinannya, maka berbeda jikalau di berhadapan dengan musuhnya.
"DIFA." Panggil Rasya dari dalam.
Difa langsung masuk kedalam ruangan Rasya begitu mendengar panggilan Rasya, dia juga membawa semua bukti yang di butuhkan oleh majikannya.
"Ini semua bukti yang di butuhkan tuan, keluarga nona Halimah juga sedang di perjalanan menuju mansion Wiguna." Lapor Difa.
"Kerja bagus." ucap Rasya. Seraya mengambil semua bukti yang di dapatkan dari orang kepercayaannya.
"Kamu menjemput ayah sama ibu?" tanya Halimah.
"Iya, sekalian minta restu." jawab Rasya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rasya menyembunyikan sesuatu dari Halimah yang pastinya akan membuat calon istrinya itu syok, selama ini diam-diam Rasya memantau pergaulan adiknya Halimah dan juga calon mertuanya. Dengan pelan Rasya berjalan mendekat kearah Halimah, dia duduk di samping calon istrinya dan menatapnya dengan lekat.
"Aku lihat calon istriku ini sangat khawatir pada adiknya, begitu sayangnya kamu sama adik kamu? Kalau dia ngecewain kamu gimana? Apa kamu akan marah sayang?" Tanya Rasya.
"Tentu saja aku khawatir, dia adalah adikku satu-satunya. Kalau aku sih mikirnya gini, dia ngecewainnya karena apa dulu?" Jawab Halimah.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, aku harap kau tidak akan begitu terkejut mendengar semua ini." Ucap Rasya.
"Kok perasaanku jadi gak enak ya." Ucap Halimah.
__ADS_1
"Nisa Hamil." Ucap Rasya.
DEGG!