
Selesai makan dan mengobrol sebentar Edgar dan Zalea masuk kedalam kamarnya, Zalea mengganti celananya menggunakan hotpants yang awalnya ia pakai sebelum turun ke dapur. Sedangkan Edgar memangku laptopnya duduk diatas sofa, dia mengerjakan sebagian pekerjaannya untuk esok hari karena jadwalnya yang semakin padat merapat.
"Mas, aku tidur duluan ya." ucap Zalea.
"Hemm." sahut Edgar tanpa mengalihkan pandangannya.
Zalea meregangkan tangannya, dia menutup mulutnya yang menguap dengan begitu lebarnya. Edgar masih fokus dengan laptopnya, sedangkan Zalea langsung merebahkan tubuhnya masuk kedalam selimut. Selama pernikahan mereka berdua hanya sekali tidur dalam satu ranjang, sampai saat ini mereka tidak pernah tidur bersama lagi. Tetapi, Edgar akan merubah semuanya seperti saran sang guru, yaitu Adelia.
'Ed, jujur sama gue. Lu udah unboxing si Lea belum?'
'Apaan sih unboxing? Emangnya kado apa di unboxing?'
' Wah, bener-bener lu ya. Apa jangan-jangan lu gak tidur seranjang lagi sama si Lea?'
'Emang iya'
'Gimana bakalan ada getaran cinta kalau lu berdua nyiptain jarak? Saran gue nih ya, lu jangan kalah sama bocil. Suami istri itu wajib hukumnya tidur dalam satu selimut yang sama, meskipun gak ada yang namanya cinta. Orang yang ta'aruf aja kayak temen gue, dia tidur ya berdua aja gak ada acara pisah ranjang. Mereka cuman ketemu sekali sebelum menikah karena punya kesibukan masing-masing, dan lu tau mereka kagak kenal sama sekali, otomatis cinta belum tumbuh dihatinya. Tapi, seiring berjalannya waktu mereka makin deket, suami menafkahi, istri melayani, dari mulai mata terbuka sampai tertutup mereka melakukan kewajibannya masing-masing meskipun awalnya canggung, akhirnya cinta tumbuh. Mereka menerima takdir, memiliki anak dan menjadi keluarga yang sakinnah mawaddah warohmah.'
Edgar menutup laptopnya kala mengingat percakapannya dengan Adel saat berada di halaman belakang, dia masih mengingat betul setiap ucapan Adel yang menurutnya sangat masuk diakal. Edgar segera bangkit dari duduknya, dia menyimpan laptopnya kemudian berjalan ke walk in closet guna melepaskan pakaiannya. Sebenarnya, Edgar memiliki kebiasaan hanya memakai b*x*r ketika tidur, tetapi jika di apartemen dia pastikan memakai pakaian lengkap kalau memang ada Leo bersamanya. Terkadang Leo dan Edgar bermain game sampai larut malam bersama Leo, tetapi jika tidak, mereka akan tidur di tempat yang terpisah.
"Gue bakalan malu gak ya? Emm, gapapalah udah sah ini kenapa harus malu." gumam Edgar.
Dengan santainya ia masuk kedalam selimut yang sama dengan Zalea, dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Zalea yang tidur membalakanginya. Edgar mencium wangi di kepala Zalea, dia sangat menyukai aroma tubuh Zalea yang selalu bisa membuatnya rileks.
"Umm, wanginya." ucap Edgar sambil memejamkan matanya.
Edgar membalikkan tubuh Zalea agar menghadap kearahnya, beruntungnya Zalea tidak terganggu sekalipun karena dia sudah tidur dengan nyenyak menjelajahi alam mimpinya. Meskipun Zalea memakai baju oversize, tetap saja dua gundukannya terlihat jelas di mata Edgar. Buah melon yang bergelantung bertubrukan dengan dada Edgar, aliran darah Edgar terasa seperti tersetrum sehingga ia menahan gairahnya yang seakan ingin dituntaskan saat itu juga. Perkutut yang sedari tadi tidur pun mendadak menggeliat, meronta-ronta meminta menemui sarangnya.
"Ssshh, Emmmh." desah Edgar.
__ADS_1
Entah dorongan dari mana, Edgar mendekatkan b*b*rnya pada b*b*r Zalea sehingga mendarat sempurna. Edgar memejamkan matanya, dia m*l*m*t b*b*r Zalea dengan lembut, Zalea yang tengah tertidur pun merasakan ada benda kenyal dan juga basah tepat di bagian b*b*rnya. Perlahan Zalea membuka matanya, begitu matanya terbuka alangkah terkejutnya ia melihat Edgar tengah menc****ya.
"Ha_ emmhhh."
Saat hendak melepaskan diri dari Edgar, justru suaminya itu malah memperdalam c***m*nnya, Zalea belum pernah melakukan hal tersebut meskipun ia telah lama menjalin hubungan dengan Zafier. Edgar memberikan kelembutan pada Zalea sampai istrinya itu terbuai tanpa memberontak, ia terlihat menikmati apa yang tengah suaminya lakukan tanpa membalasnya. Sensasi baru yang dirasakan oleh Zalea, lama kelamaan c****n itu semakin panas, dengan mengikuti naluri lelakinya Edgar bermain diatas buah melon yang ukurannya lumayan besar.
"Emmmh," lenguh Zalea.
Suara yang begitu merdu di telinga Edgar, ia semakin dibuat menggila kala mendengar lenguhan sang istri. Edgar kembali melancarkan aksinya menjadi lebih jauh lagi, dia melepaskan pakaian Zalea hanya dalam satu tarikan sampai terlihat jelas bongkahan yang begitu berharga tertutupi oleh pelindungnya. Ia kembali m*l*m*t b*b*r Zalea dengan lembut, tangannya mulai menyusuri lembah yang sudah siap tempur.
"Aiihh, eemmh.." Zalea melenguh.
Edgar mengeluarkan perkututnya yang sudah gagah perkasa, ia juga melepaskan pelindung yang menutupi bagian berharga Zalea. Tetapi, sedetik kemudian dia lupa bagaimana cara membawa perkututnya masuk, dia terdiam sejenak memikirkan bagaimana caranya sampai akhirnya dia.
Glubrakk..
"Auuhhh.." ringis Edgar.
"Mas kenapa?" tanya Zalea.
Edgar melihat Zalea yang masih memakai pakaiannya utuh, dia juga melihat tubuhnya sendiri yang ternyata masih berada di atas sofa.
'Guoobblookksss, jadi ternyata tadi mimpi? Aaiisshh, kenapa kayak nyata banget, kenapa juga gue ketiduran di sofa sih? Eh tapi, kayaknya ada sensasi aduhai deh pas mau blaem-blaem, jadi pengen nyoba deh.' batin Edgar menggerutu.
"Aaiihh, sakit sekali. Kakiku ketiban laptop, kayaknya tadi ketiduran terus laptopnya jatuh." jawab Edgar mengelus-elus ibu jarinya yang terasa sakit.
"Lagian sih, waktunya tidur masih aja ngurusin kerjaan." omel Zalea.
"Jangan ngomel dong, jadi tambah sakit ini." protes Edgar.
__ADS_1
"Yaudah, tunggu dulu. Aku mau ambil kotak obat dulu," ucap Zalea langsung berjalan mencari kotak obat.
Zalea kembali dengan membawa kotak obat, dia mengobati ibu jari Edgar yang terasa kebas serta berwarna kebiruan, di ujung kukunya juga mengeluarkan sedikit darah.
"Kenapa bisa sampai berdarah seperti ini?" tanya Zalea.
"Ya enggak tahu, kan aku gak lihat proses jatuhnya gimana? Orang lagi tidur kok, gak mungkin juga pas tahu laptopnya jatuh langsung slowmotion biar aku bisa liatin proses jatuh ke kakinya gimana." jawab Edgar nyerocos.
Happ.
Zalea menyumpal mulut Edgar menggunakan kasa, telinganya terasa berdengung kala mendengar Edgar berbicara layaknya wanita. Padahal Zalea tidak tahu saja seperti apa Edgar jika sudah berada di perusahaan, perbandingannya akan membuatnya melongo, hanya dengan Zalea lah dia berani mengomel layaknya ibu-ibu komplek.
"Udah selesai, sekarang mas tidur gih. Kerjaannya ditunda dulu, percuma meskipun banyak kerjaan tapi kurang istirahat, bukannya beres kerjaannya malah tambah numpuk aja nantinya." ucap Zalea.
Edgar melepaskan kasa yang menyumpal mulutnya, dia melemparnya ke sembarang arah, Edgar menatap Zalea dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Sama suami gak ada romantis-romantisnya, malah di sumpel pake kasa." protes Edgar.
"Ya maaf, habisnya mulutnya udah kayak emak-emak, nyerocos aja kaya beo." ucap Zalea.
"Tau ahh, bete pokoknya." ucap Edgar jutek.
"Lah, udah tua pake ngambek segala." ledek Zalea.
"Lama-lama aku tukerin juga sama ciki nih perempuan," kesal Edgar.
"Nyenyenyenye.. Wleee.." ejek Zalea.
Dengan kesal Edgar menarik tubuh Zalea sampai menubruk tubuhnya sendiri, posisiya kini Zalea duduk di pangkuan Edgar dengan wajah saling pandang satu sama lain. Dan..
__ADS_1
Cup.