Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Membanngunkan Zalea dan Edgar


__ADS_3

Tess..


Air mata Cindy langsung berjatuhan, tubuhnya bergetar di dalam dekapan suaminya. Rasa bersalah seketika menyeruak kedalam relung hatinya, demi menyelamatkannya dan juga kedua putranya Zalea rela mempertaruhkan nyawanya, dia semakin merasa bersalah karena ia bahagia diatas penderitaan orang lain.


"Aku ingin menemui kakak ipar, hiks. Aku disini berbahagia atas kelahiran putraku, tapi kakak ipar tengah terbaring lemah dan dinyatakan koma selama satu minggu ini." pinta Cindy menangis sesenggukkan.


"Tenangkan dirimu, kita akan pergi menemui kakak ipar tapi dengan syarat kau harus jaga emosimu, pikirkan anak-anak kita." ucap Satria.


Cindy pun menganggukkan kepalanya dengan kepala tertunduk, entah bagaimana nasib Zalea setelah kejadian dimana ia dihadang, pantas saja semua orang terlihat anaeh ketika Cindy menanyakan Zalea. Kala Cindy bertanya keadaan Zalea, yang ia dapati hanya jawaban 'Zalea tengah sakit dan tinggal diapartemen' selalu saja begitu, karena harus fokus pada kesehatannya dan juga kedua putranya Cindy tak lagi bertanya karena semuanya akan berakhir sama.


Krriiinngggg


Ponsel Satria berdering menandakan panggilan masuk, diambiknya hp dari saku celananya. Disana tertera nama sang ayah yang tengah menghubunginya, Satria segera mengangkat panggilan tersebut.


[Hallo, daddy]


[Dek, daddy hanya ingin memberitahukan kabar kalau Lea sudah sadar]


[Benarkah daddy? Syukurlah, aku akan kesana bersama Cindy, dia ingin melihat kondisi kakak ipar]


[Baiklah, hati-hati di jalannya nak]


Tutt.


Satria langsung memeluk tubuh Cindy, dia turut bahagia mendengar kabar Zalea sadar dari komanya.


"Ayang kenapa? Ada apa dengan kakak ipar?" tanya Cindy mengerutkan keningnya.


"Kakak ipar sudah sembuh ayang, tadi daddy memberitahukannya padaku." jawab Satria.


"Benarkah? Aaaa... Aku senang sekali." ucap Cindy menangis bahagia.


*


*


2 jam berlalu.


Tanpa kedua sejoli sadari, hospital bed yang tengah mereka tiduri di pindahkan ke ruang VIP rumah sakit. Mereka berdua masih saja tertidur dengan pulasnya, orang-orang sedang menatap kearah keduanya yang masih nyaman dengan poisisi saling berpelukan, Cindy dan Satria juga sudah berada di rumah sakit.


"Kapan mereka bangun?" tanya Rasya melipat kedua tangannya diatas sofa.


"Dokter aja udah dua kali dateng kesini, mereka masih aja ngorok." ucap Adel.

__ADS_1


"Udah biarin aja, maklum aja pengantin baru ditinggal koma seminggu udah kayak setahun gak mau lepas." ucap Rio.


"Bangunin aja, kasihan Lea harus makan. Begitupun dengan Edgar, dia sudah satu minggu kurang makan bahkan beberapa hari tidak menyentuh makanan sama sekali." ucap Albert.


"Mom, bangunin gih." ucap Cindy mendorong tubuh ibunya.


"Loh, kok mommy yang harus bangunin?" heran Indah.


"Soalnya kalau ibu negara udah bertindak, gak ada yang bisa berkutik." ucap Rasya.


Akhirnya, Indah mendekat kearah hospital bed milik Zalea. Dia mengguncangkan tubuh Edgar dan juga Leo dengan pelan, Indah takut sekaligus kasihan karena mereka belum makan.


"Edgar, Zalea. Yuk bangun dulu, kalian belum makan loh." ucap Indah.


Eeeuunggghhh


Zalea melenguh, dia perlahan membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam matanya. Pergerakan Zalea membuat Edgar terusik, kinu keduanya sudah bangun dan terkejut melihat anggota keluarga sudah berkumpul disana.


"Loh, kenapa banyak penonton disini?" tanya Edgar dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Emmh, njir. Daritadi nungguin orang sableng bangun, malah dikatain penonton." gerutu Rasya.


"Loe lagi konser Ed, makanya banyak penongon yang liat kebucinan loe." timpal Adel.


"Maaf ya, mommy bangunin kalian. Soalnya tadi dokter udah kesini dua kali, tapi kata daddy kalian jangan diganggu dulu kasihan, tapi di sisi lain kalian juga butuh asupan." ucap Indah.


Zalea meminta bantuan Edgar untuk mengubah posisinya menjadi duduk, dengaj gerakan cepat Edgar membantu Zalea yang kesusahan karena luka tembakannya masih belum mengering. Selesai membantu Zalea, Edgar menguap dengan begitu lebarnya tanpa di tutup.


Hooaaaammmm..


"Kalau nguap tuh di tutup Ed, ntar banyak lalat yang masuk." tegur Rasya.


"Tinggal di kunyah, apa susahnya." sahut Edgar.


"Iyyuuhhh, menjijikan." ucap Rasya bergidik.


"Albert tolong panggilkan dokter, biar luka Zalea di periksa lagi." titah Indah.


"Baik mom" sahut Albert.


Albert pergi meninggalkan ruangan Zalea, dia menyusul dokter yang menangani Zalea sesuai perintah ibunya. Satria dan Cindy berjalan mendekat kearah Zalea, Cindy langsung memegang tangan Zalea dengan mata yang sudah berembun.


"Kakak ipar, maafkan aku. Gara-gara aku kau terluka, aku tidak tahu kalau kau koma dan terkena luka tembak." ucap Cindy.

__ADS_1


"Kak Cindy bilang apa sih? Aku aja yang kurang hati-hati, pas para penjahat itu berhasil aku kalahkan, gak taunya ada yang nembak aku dari belakang." ucap Zalea.


"Tetap saja, kau terluka demi menyelamatkan aku dan juga anak-ankku." kekeh Cindy.


"Kita ini keluarga, sudah semestinya saling melindungi satu sama lain. Oh ya, bagaimana keadaan bayinya kak?" tanya Zalea.


"Mereka semua baik-baik saja, berkat pahlawan sepertimu kini mereka lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun." jawab Cindy.


"Mereka? Bayinya kembar?" tanya Zalea.


"Iya, mereka twins dan keduanya laki-laki." jawab Cindy.


"Wah selamat ya kak, apa mereka primagro?" tanya Zalea lagi.


"Hah? Gimana, gimana? Primagro?" Cindy bingung.


"Kan katanya kalau kembar itu biasanya suka ada yang primagro, bayi kakak primagro tidak?" ucap Zalea.


Adel yang sudah mengerti maksud Zalea pun seketika emosi mendengarnya, dia menghela nafasnya panjang mengatur nafasnya yang naik turun.


"Bukan primagro Lea, tapi PREMATUR. Arrgghh, gue sleding juga loe." kesal Adel.


Cindy dan yang lainnya pun menepuk keningnya secara bersamaan, sedangkan Zalea sendiri tersenyum kikuk.


"Hehe, itu maksud Lea." ucap Lea nyengir kuda.


"Lain kali kalau mau nanya, jangan dihadapan si madam. Liat aja wajahnya, kalau dia kesel berubah jadi hulk." celetuk Edgar.


"Yaakkk, Edgar lu ngatain gue hulk?!" sewot Adel.


"Ngapa sih marah-marah mulu? Lagi hamil ya?" tanya Edgar.


"Emang Adel lagi hamil, makanya dia gampang kepancing emosi." ucap Indah.


"Wwiiddihhh, si kembar mau punya adek lagi nih. Uhhhuuyyy, selamat ya madam." ucap Rasya heboh.


"Anjay, anjay, status siaga ini mah bro." ucap Edgar panik.


Rasya langsung terdiam setelah menyadari sesuatu, dia dan Edgar saling pandang satu sama lain, kemudian keduanya pun menelan ludahnya dengan kasar.


"TIDAK!" teriak Edgar dan Rasya.


Indah dan yang lainnya pun terkekeh mendengar teriakan Edgar dan Rasya, pasalnya kehamilan Adel yang pertama itu membuat keduanya kesusahan, setiap kali Adel menginginkan sesuatu pasti mereka lah yang kena. Zalea yang tidak mengerti pun mengendikkan bahunya, sedangkan Adel sendiri tersenyum puas karena bisa mengerjai dua biangkerok.

__ADS_1


'Gue harus cepet-cepet cetak gol, biar si madam gak berkutik' batin Edgar.


'Gue harus pepet terus bebeb Halimah, menyibukkan diri lebih baik dari pada di sibukkan oleh orang hamil' batin Rasya.


__ADS_2