Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten

Gadis Tomboy Vs Tuan Impoten
Makan siang


__ADS_3

Edgar dan Zalea kini sudah sampai di hotel yang berada di soul, mereka berdua melemparkan tubuhnya keatas ranjang dengan saling pandang satu sama lain. Keduanya mengulas senyumnya, tersirat kebahagiaan tang terpancar dari kedua wajahnya. Edgar menarik Zalea kedalam pelukannya, ia juga mengecupi seluruh wajah Zalea dan juga rambut sang istri.


"Sayang, apa kau sudah siap menjadi seorang ibu?" tanya Edgar.


"Harus siap dong, aku juga pengen keluarga kecil kita seperti keluarga yang lainnya. Ada seorang anak diantara kita, katanya anak itu pengawet dalam rumah tangga loh." jawab Zalea.


"Kalau begitu, ayo gas kita membuatnya."ucap Edgar bersemangat.


"Kan baru sampai mas, main gas aja." protes Zalea.


"Kamu gatau aja, sebelum kita berangkat kesini aku udah nahan sebisaku buat gak nyentuh kamu sesuai kesepakatan kita, sekarang aku gak bisa nahan lagi sayang." keluh Edgar.


Belum juga Zalea membuka suaranya, Edgar sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan c****n yang hangat lengkap dengan tangannya yang tak bisa diam. Sentuhan Edgar seakan menjadi listrik yang mengalir di seluruh tubuh Zalea, lenguhan yang terdengar merdu di telinga Edgar membuat gairahnya semakin memuncak sehingga ia tak sabar ingin segera memanjakan perkututnya.


"Aaakkhh, i love you." lenguh Edgar.


"I love you more, emmhh." balas Zalea.


Edgar tetap melakukan pemanasan sebelum perkututnya di lesatkan, setelah dirasa cukup ia melepaskan seluruh pakaian yang menutupi tubuh Zalea sehingga tak tersisa sehelai benang pun. Edgar menelan ludahnya dengan kasar, dia menatap setiap inci tubuh Zalea yang begitu ia rindukan, karena sudah tak sabar Edgar langsung merobek kemejanya sendiri dan melemparnya ke bawah. Terjadilah pertarungan yang sudah sangat Edgar rindukan, tak ayal Zalea pun menginginkannya, tapi gengsi yang membuatnya tak berani mengatakannya pada suaminya itu.


"Aakkhh, rasanya aku bisa gila." racau Edgar.


Edgar terus memimpin permainan, sedangkan Zalea ia pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Keduanya melakukannya berkali-kali sampai berpindah tempat, kini keduanya tenagah berada di dalam kamar mandi melanjutkan permainannya.


*


*


Di perusahaan.


Satria dan Leo tengah mengerjakan berkas perusahaan di dalam ruangan Edgar, kini tibalah jam makan siang dikantornya. Cindy datang membawa bekal makan siang untuk suaminya, sedangkan Leo lebih memilih makan di luar karena otaknya perlu suasana baru.


"Kak Leo, kau mau kemana?" tanya Cindy.


"Aku mau makan diluar, butuh udara segar." jawab Leo.


"Yasudah, hati-hagi ya." ucap Cindy.


"Ajak aja ceweknya, biar ada yang nemenin." goda Satria.


"Cewek yang mana Sat? Perasaan gak punya pacar deh." tanya Leo.


"Emangnya kamu pikir aku gak tahu, beberapa hari terakhir kau sering keluar bersama Luna." jawab Satria.

__ADS_1


"Benarkah? Luna bestieku bukan yang?" tanya Cindy.


Satria menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Cindy menatap Leo dengan tatapan seakan menuntut penjelasan.


"Waktu itu gak sengaja liat dia berdebat sama ibunya, ada mantan pacarnya juga tuh yang selingkuh sama nyokapnya. Akhirnya, aku bawa Luna pergi ke pantai biar dia merasa lebih baik, ya dari situ kita kadang gak sengaja ketemu atau janjian bareng buat makan doang." jelas Leo.


"Kak Leo suka sama Luna?" tanya Cindy.


"Ya gak tau juga, orang aku gak pernah ngerasain yang namanya pacaran, jadi aku gak tahu aku suka atau sekedar ngaggap temen aja." jawab Leo.


"Yah, padahal nih ya. Kalau kak Leo suka sama Luna aku bakalan dukung 100% , aku yakin Luna bakal bahagia kalau punya pasangan kayak kak Leo yang bisa jagain dia dari orang-orang yang suka dzolim sama dia." ucap Cindy bersemangat.


"Aku juga dukung, malah ngedukung banget." tambah Satria.


"Tau lah, dah ya aku mau pergi mamam dulu, byeee.." ucap Leo pergi sambil melambaikan tangannya kearah Satria dan juga Cindy.


"Lebay." ejek Cindy.


Leo keluar dari dalam perusahaannya, dia berjalan sambil mengeluarkan ponselnya menghubungi Luna untuk mengajaknya makan siang.


Tutt.


[Hallo]


[Lun, udah makan siang belum?]


[Ini lagi makan]


[Makan apa?]


[Makan terasi]


[Segitu laparnya sampai makan terasi? Udah ikut gue aja, kita makan ke restoran yang enak.]


[Apaan sih gajelas, makan terasi juga gak bikin gue mati lah. Orang uangnya lagi di kumpulin buat bapak naik haji, biar gak galau lagi.]


[Emang udah ke kumpul berapa?]


[Dua rebu, hehehe]


[Loe dimana sekarang? Biar gue jemput]


[Lagi di kontrakan temen, mau cari kerjaan yang gajinya lebih gede daripada di cafe.]

__ADS_1


[Share lock, gue kesana sekarang]


[Woke]


Tut.


Leo melihat notifikasi pesan yang masuk kedalam hp nya, dia langsung masuk kedalam mobilnya membelah jalanan, entah apa yang tengah ia rasakan saat ini. Setiap kali ia bersama Luna rasanya hidupnya lebih berwarna, sikap Luna yang lah yang membuatnya nyaman berada di dekatnya. Meskipun seringkali ia ribut akan hal sepele, tapi itulah yang ia sukai walau kadang kepalanya hampir pecah melihat tingkah konyol yang di lakukan oleh Luna.


Beberapa menit kemudian.


Leo sudah sampai di sebuah kontrakan yang di beritahukan oleh Luna, dia bisa melihat Luna dari jarak yang lumayan jauh tengah tertawa lebar bersama temannya, posisinya Luna tengah duduk di bangku luar kontrakan bersama dua temannya. Leo berjalan menghampiri Luna dan kedua temannya yang menatap tak berkedip melihat kedatangan Leo, Luna menatap Leo yang tengah tersenyum kearahnya.


"Tumben senyum? Lagi kesambet kah?" tanya Luna heran.


Pletak..


Leo menyentil kening Luna sampai berwarna ke merahan, ia tak habis pikir dengan Luna yang setiap kali ia melakan apapun tak lepas dari komentarnya.


"Senyum salah, cemberut salah, dingin apalagi." keluh Leo.


"Ya tidak biasanya lah bapak Leo." ucap Luna sambil mengusap keningnya.


"Lun, siapa dia? Ganteng banget cuy." bisik salah satu teman Luna.


"Loe mau? sok ambil aja." ucap Luna.


"Buat gue aja lah." sahut teman satunya lagi.


"Bapak Leo yang terhormat, ini dua temen saya demen sama bapak Leo." ucap Luna mengadukannya pada Leo.


"Maaf, saya sudah lunya calon istri." ucap Leo datar.


"Lolololo, gak bahaya ta." ucap Luna.


Kedua teman Luna pun langsung ledu mendengarnya, sedangkan Luna sendiri kebingungan saat ini.


"Apanya yang bahaya?" tanya Leo.


"Hey bapak Leo, kenapa tadi ngajak saya makan kalau udah punya calon istri, apa kata orang kalau saya pergi sama calon suami orang? Emangnya tampang saya ada aura pelakornya apa? Saya gak mau ah, mending saya kelaparan daripada nemenin calon suami orang makan." ucap Luna.


"Udah ngomongnya? Orang calon istri saya itu kamu." ucap Leo sambil menarik tangan Luna untuk ikut dengannya.


Luna tampak tersentak mendengar ucapan Leo, dia mengikuti langkah Leo dengan sedikit berlari karena sulit menyeimbangi langkah panjangnya Leo sendiri.

__ADS_1


__ADS_2